Share

Bab 5.Iblis jahat itu bosku

Author: Liymochiyo
last update Last Updated: 2025-10-11 19:55:05

Udara malam cukup dingin ketika Rania berjalan sempoyongan keluar dari restoran. Kakinya goyah, sesekali hampir tersandung pot tanaman di pinggir trotoar.

“Duh… bumi ini kenapa muter-muter, sih?!” gerutunya sambil menepuk-nepuk dinding.

Belum sempat ia jatuh, sebuah tangan sigap meraih lengannya.

“Rania!”

Rania mendongak dengan mata setengah terpejam. Begitu melihat siapa yang menahannya, ia langsung cemberut.

“Haaah… Iblis jahat! Lepasin aku!”

Leodric menghela napas dalam, mencoba sabar. “Jangan aneh-aneh. Kamu hampir jatuh barusan.”

“Aku nggak mau ditolong sama kamu,” Rania mengibaskan tangannya, meski gerakannya malah bikin dirinya hampir tersungkur lagi. “Kamu itu… bos kejam. Iblis jahat bersetelan jas! Hahaha…” Rania cekikikan sendiri, lalu menepuk dada Leodric seenaknya.

Leodric terdiam, urat di pelipisnya menegang. “Rania…” suaranya dalam, mengandung peringatan.

“Apa-apaan sih? Jangan ‘Rania’… ‘Rania’! Suaramu tuh kayak alarm kebakaran. Bikin deg-degan nggak jelas!” oceh Rania sambil mendorong dada Leodric pelan.

Leodric menahan bahu Rania agar tetap seimbang. “Diam, jangan berisik. Aku antar kamu pulang.”

“Nggak mauuu!” Rania menggeleng keras, rambutnya berantakan. “Aku bisa pulang sendiri. Aku… aku punya kaki! Nih, liat…” Ia mencoba melangkah lurus, tapi malah goyah seperti kepiting mabuk.

Leodric langsung menahan pinggangnya sebelum jatuh. “Kamu mau jatuh di jalan?!” nada suaranya naik, tapi sorot matanya lebih khawatir daripada marah.

Rania terkekeh sambil menatap wajahnya dari dekat. “Ih… kalo kamu marah tuh serem. Tapi…

kamu punya mata bagus ya, Pak Iblis? Eh… jangan senyum-senyum. Aku nggak suka. Dasar jahat!”

Leodric menutup mata sejenak, menahan kesal sekaligus pusing menghadapi tingkah polos gadis itu.

“Ya Tuhan… kenapa aku harus repot sama gadis keras kepala begini…” gumamnya lirih.

“Karena… kamu iblis jahat! Jadi harus tanggung jawab kalau bikin orang nangis…” jawab Rania asal, lalu tiba-tiba menyender ke dada Leodric, membuat pria itu kaku di tempat.

Untuk pertama kalinya, Leodric tidak tahu harus bersikap bagaimana.

___

“Ran, hati-hati—”

Belum sempat Leodric menyelesaikan kalimatnya, Rania tiba-tiba berhenti melangkah, menunduk, lalu

“Uuurrghhh…!”

Rania muntah di pinggir trotoar, membuat beberapa orang yang lewat menoleh jijik.

Leodric refleks menahan rambut Rania agar tidak berantakan. Wajahnya berubah serius, jelas ia mulai panik.

“Ya ampun… dasar merepotkan.”

Rania yang sudah lemas mendongak dengan mata berair. “Ih… liat kan, gara-gara kamu aku mabuk. Iblis jahat… huhuhu…” Suaranya sengau, seperti anak kecil yang ngambek.

Leodric mendesah berat, melepas jasnya untuk menutupi bahu Rania yang gemetar. “Sudahlah. Nggak ada pilihan lain.”

Dengan gerakan tegas, ia merunduk dan mengangkat Rania ke dalam gendongan bridal style. Rania menjerit kecil lalu terkekeh.

“Waaaah… aku digendong iblis jahat! Hahaha… jangan gigit aku yaa…”

Leodric mengetatkan rahangnya, tapi wajahnya memerah tipis karena malu. “Diam, atau kutinggal di sini.”

“Jangan~ nanti aku kesepian…” Rania menempelkan wajah ke dada Leodric, membuat langkah pria itu semakin kaku.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di mobil. Leodric dengan hati-hati membaringkan Rania di kursi belakang, lalu segera melajukan mobil menuju kosannya.

Sesampainya di depan kos, Leodric memapah Rania yang sudah setengah pingsan naik ke lantai dua. Ia mengetuk pintu kamar Rania, tapi tak ada yang keluar.

“Ran, kuncinya mana?” tanyanya.

Rania merogoh tas dengan asal, lalu menyodorkan kunci ke Leodric. Setelah berusaha sebentar, pintu berhasil terbuka. Leodric membaringkan Rania di ranjang kecil dengan selimut seadanya.

Baru saja hendak pergi, ia menarik gagang pintu.

KREKK!

Pintu itu tersangkut. Leodric mencoba lagi, tapi hasilnya sama. Pintu tua itu benar-benar macet.

“Serius?” gumamnya dengan wajah masam. Ia menoleh ke arah Rania yang sudah terlelap dengan napas berat.

Leodric mendekat ke jendela, sempat berpikir untuk memanggil ibu kos atau tetangga. Tapi begitu ia membayangkan wajah mereka yang pasti akan salah paham melihatnya keluar dari kamar Rania tengah malam… ia langsung mengurungkan niat.

“Bagus sekali. Bos besar terjebak di kamar kos pegawainya sendiri.” Ia menepuk kening, frustasi.

Sambil duduk di kursi kayu dekat ranjang, Leodric menghela napas panjang. Tatapannya melembut, meski bibirnya masih menggerutu.

“Dasar gadis merepotkan… bikin aku pusing, bikin aku kesal, tapi juga bikin aku nggak tega ninggalin.”

Rania bergumam dalam tidurnya, “Iblis jahat… jangan pergi…” sambil menggenggam ujung jas Leodric yang tergeletak di kasur.

Leodric terdiam, dadanya bergetar aneh. Ia menunduk, lalu menghela napas berat sekali lagi.

“Terserah. Malam ini aku pasrah jadi tahanan kosanmu, Rania.”

Malam itu pun berlalu dengan Leodric yang terjebak—antara pintu kosan yang macet dan perasaan yang semakin sulit ia kendalikan.

___

Leodric duduk di kursi kayu dengan wajah lelah. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel, dan menyalakannya. Suasana kamar kos yang sepi hanya ditemani suara kipas angin tua yang berdecit pelan.

Ia membuka aplikasi Bubble Gum. Pesan terakhirnya pada martabakmanis_extrakeju masih terbuka di layar.

PangeranBerkudaPutih: “Kamu sibuk ya hari ini?”

Biasanya, balasan dari gadis itu selalu cepat. Entah hanya stiker lucu atau ocehan panjang yang kadang membuatnya tersenyum tanpa sadar. Tapi malam ini… hening. Tidak ada balasan sama sekali.

Alis Leodric berkerut. “Tumben. Biasanya cerewet sekali.”

Ia menunggu sebentar, menatap layar ponsel yang bercahaya, lalu melirik sekilas ke arah Rania yang tidur dengan wajah tenang, seakan tidak ada beban.

Leodric mengembuskan napas. “Sudahlah.”

Ia menaruh ponsel di meja kecil, menyandarkan tubuh di kursi kayu yang keras. Niatnya hanya memejamkan mata sebentar sambil menunggu pintu bisa diperbaiki esok pagi.

Namun, rasa kantuk yang berat menekannya. Tanpa sadar, kepala Leodric terkulai ke samping, napasnya teratur, dan ia pun tertidur di kursi kayu, tepat di sisi ranjang tempat Rania terlelap.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   BAB 24.Sisa Malam yang Terbawa Pagi

    Senin datang tanpa basa-basi.Gedung kantor kembali dipenuhi ritme yang sama, bunyi kartu akses, langkah cepat, suara lift yang naik turun. Namun ada sesuatu yang terasa… salah. Seolah sisa malam di resort belum sepenuhnya tertinggal di sana.Leodric tiba lebih pagi dari biasanya.Wajahnya datar. Rahangnya mengeras. Jasnya rapi, tapi auranya tidak. Ia melangkah melewati lobi tanpa menoleh pada siapa pun, tanpa sapaan singkat yang biasanya masih ia berikan.Dan semua orang merasakannya.Satu per satu karyawan yang berpapasan refleks menunduk. Ada yang pura-pura sibuk dengan ponsel, ada yang mendadak mengingat sesuatu lalu berbelok arah.Tidak ada yang menyapa.Tidak ada yang berani.Pintu ruangannya tertutup dengan bunyi yang tidak keras, namun cukup tegas untuk menjadi peringatan.Di dalam, Leodric meletakkan tasnya, membuka laptop, lalu menatap layar tanpa benar-benar membaca. Pikirannya masih berisik. Tangannya mengepal sebentar, lalu mengendur.Bad mood itu belum pergi.Dan ia tid

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   Bab 23. Di antara api unggun dan bayangan

    Di Tempat yang Seharusnya Jauh Akhir tahun datang dengan keputusan mendadak dari manajemen. Liburan bersama tim inti. Alasannya sederhana: evaluasi santai, bonding, sekaligus “penyegaran” setelah tekanan panjang. Tidak ada yang bisa menolak tanpa alasan kuat. Termasuk Rania. Termasuk juga Leodric. Resor itu terletak di pinggir kota,tenang, jauh dari gedung kaca dan rutinitas kantor. Udara lebih dingin, langit lebih lapang. Namun jarak yang mereka bawa… tetap ikut. Rania datang bersama beberapa rekan kerja. Ia mengenakan sweater sederhana, rambut terikat rapi. Senyumnya sopan, profesional, sama seperti di kantor. Leodric tiba tak lama kemudian. Tatapannya sempat mencari satu wajah tertentu, lalu berhenti seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka saling melihat. Saling menatap walaupun Sebentar. Lalu berpaling. Suasana siang hari ramai. Beberapa karyawan tertawa, mengambil foto, bercanda,tertawa lepas, seakan melepas semua penat yang terjadi di kantor. Davin ikut di

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   BAB 22.Di Antara Profesionalisme

    Pagi datang tanpa kejutan.Kantor kembali berjalan seperti biasa terlalu biasa, bahkan. Rania duduk di mejanya, rapi, fokus, dan tenang. Leodric keluar dari ruangannya dengan langkah terukur, wajah datar, aura atasan yang tak memberi celah untuk ditebak.Tak ada sapaan pribadi.Tak ada tatapan terlalu lama.Namun jarak itu… nyata. Meeting pagi dimulai tepat waktu.Rania mempresentasikan laporan dengan suara stabil. Slide berganti rapi, data tersusun jelas. Leodric mendengarkan sambil sesekali memberi catatan singkat.“Di bagian ini, tolong perjelas asumsi angkanya,” ucap Leodric, profesional.“Baik, Pak. Akan saya revisi,” jawab Rania tanpa ragu.Mereka bekerja seperti dua profesional yang sempurna.Tidak dingin.Tidak hangat.Netral.Namun bagi mata yang jeli, ada sesuatu yang berbeda, tidak ada lagi senyum kecil, tidak ada lagi bahasa tubuh yang lunak. Semua tertata, semua dibatasi.Clara memperhatikan dari sudut ruangan.Ia tersenyum tipis.Setelah meeting usai, Rania membereskan

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   Bab 21. Yang Tersembunyi

    Hari itu kantor kembali dipenuhi ritme biasa suara keyboard, telepon yang berbunyi, dan langkah-langkah orang yang lalu lalang. Namun bagi Rania, semuanya terasa lebih… penuh.Pekerjaan menumpuk. Laporan bulanan, revisi legal, meeting dadakan,semuanya datang bersamaan seperti gelombang. Tapi ia fokus. Terlalu fokus.Lebih dari biasanya.Rania menunduk pada layar, jarinya bergerak cepat, menghitung, menulis, mengetik, memeriksa ulang tanpa jeda. Pandangannya tajam, ekspresinya serius. Ia tidak sedang menghindari siapa pun.Ia hanya… mencoba hidup normal lagi.Atau setidaknya berpura-pura.---Di sisi lain ruang kerja…Leodric sedang membaca laporan klien, namun matanya tidak benar-benar mengikuti kalimat di hadapannya. Ia mengetuk meja dengan ujung pena kebiasaan yang hanya muncul ketika pikirannya kacau.Ia mencoba terlihat fokus.Coba tetap jadi atasan yang profesional.Namun setiap kali ia mengalihkan pandangan, matanya selalu… selalu kembali ke arah meja tertentu.Meja yang hari it

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   BAB 20. Jarak yang Sengaja Diciptakan

    Sehari setelah kejadian itu, kantor terasa berbeda.Bukan karena banyak pekerjaan…Bukan karena suasana lebih sunyi…Tapi karena Rania dan Leodric berjalan melewati satu sama lain tanpa sedikit pun kontak.Rania datang lebih pagi dari biasanya. Ia meletakkan tasnya, menyalakan komputer, dan langsung bekerja tanpa mengangkat kepala. Senyum sopan yang biasanya muncul setiap kali ia melihat orang lewat, hari itu hilang.Ia menjaga wajahnya tetap datar.Tidak menunjukkan ekspresi kecewa, marah, apalagi sakit hati.Rania resmi membangun tembok.---“Ran, ini dokumen buat divisi legal,” kata Siska sambil menaruh setumpuk berkas di meja Rania. “Kamu yang revisi ya.” Ucap Siska lagi, sebelum ia menanyakan dengan sikap Rania yang menurutnya aneh.“Siap,” jawab Rania cepat, nada suaranya datar, tanpa ekspresi.Siska mengerutkan dahi. “Kamu nggak apa-apa? Kok kayak… ga bersemangat gitu.”Rania memaksakan senyum, tipis, hambar.“Aku cuma capek.” Jawab Rania dengan datar.Siska menatapnya sejenak,

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   Bab 19. Perang Dingin

    Pagi itu datang terlalu cepat.Rania mengerjapkan mata pelan. Punggungnya terasa hangat… anehnya. Saat ia mengangkat kepala dari lengannya, selimut tipis itu melorot perlahan dari pundaknya.Rania membeku.Selimut?Ia bahkan tidak mengambil selimut semalam.Jantungnya berdetak panik ketika ia melihat layar monitor yang masih menyala. Jam kecil di pojok kanan menunjukkan 05:42.“Ya Tuhan…” bisiknya. “Aku ketiduran?”Ia buru-buru merapikan kertas yang berserakan. Tangannya baru menyentuh stabilo saat sesuatu di samping keyboard membuatnya terdiam.Segelas kopi dingin dalam kaleng... masih meninggalkan embun samar.Rania mengerutkan kening.Itu bukan punyaku…Sebelum pikirannya melayang lebih jauh, terdengar suara pintu dari arah ruang kerja Leodric.Rania langsung menegang.Perlahan seperti adegan yang muncul di kepalanya, yang justru ingin ia hindari, pintu itu pun terbuka. Leodric keluar sambil merapikan kemejanya. Rambutnya sedikit kusut, ekspresi lelah, namun ada sesuatu yang tersis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status