Share

Bab 6. Pamit yang Bikin Merinding

Penulis: Liymochiyo
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-11 19:55:08

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden tipis kamar kos Rania. Udara pengap bercampur aroma kayu tua membuatnya perlahan mengerjapkan mata.

“Aduh… kepalaku…” Rania merintih sambil menekan pelipis. Rasa pusing dan perut mual sisa mabuk semalam masih membekas. Ia berusaha duduk, namun tubuhnya terasa berat.

Begitu kepalanya menoleh ke samping, jantungnya langsung melompat.

Di kursi kayu sempit, seorang pria bersetelan rapi meski kusut Leodric terlihat tertidur. Garis rahangnya tegas, wajahnya dingin walau dalam keadaan terpejam.

“M-mimpi buruk apa lagi ini?!” bisik Rania panik.

Ia buru-buru menyingkap selimut, lalu pelan-pelan turun dari ranjang. Pikirannya hanya satu: kabur.

Namun baru beberapa langkah ia melangkah ke pintu, suara berat dan dingin menyambar telinganya.

“Mau kemana pagi-pagi begini?”

Rania langsung terlonjak. Ia menoleh dengan wajah pucat. Leodric sudah membuka mata, menatapnya dengan sorot tajam yang membuat bulu kuduknya berdiri.

“J-jangan nakutin gitu dong!” seru Rania gugup.

Leodric berdiri, merenggangkan bahunya yang kaku. “Kamu pikir aku akan tidur nyenyak di kursi keras semalaman? Jangan mimpi. Satu-satunya alasan aku ada di sini, karena pintumu macet.”

“Kenapa nggak bilang dari tadi?!” Rania berusaha membela diri, meski suaranya bergetar.

“Mau teriak? Tengah malam? Biar semua orang kosan ini lihat aku keluar dari kamarmu? Bagus sekali kalau kamu ingin dihujat satu kos,” balasnya dingin.

Rania menelan ludah, wajahnya makin panas.

“I-ih… galak banget sih! Kamu sengaja ya pura-pura tidur biar aku malu?!”

Leodric mendekat perlahan, tatapannya menusuk. “Kalau kamu tahu malu, seharusnya kamu juga tahu cara menjaga diri. Mabuk sampai muntah di jalan bukan salah siapa-siapa selain dirimu.”

Rania terdiam, tak bisa membalas. Pipi pucatnya memerah karena malu sekaligus tersinggung.

“Sudah. Mandi sana. Bau alkoholmu mengganggu.” Nada suaranya terdengar seperti perintah, dingin tanpa ampun.

Rania mendengus kesal, lalu buru-buru masuk kamar mandi dengan wajah merah padam. Pintu kamar mandi tertutup keras.

Leodric menghela napas, mengusap wajahnya dengan kasar. “Dasar gadis merepotkan…”

Beberapa menit kemudian, Rania keluar dengan rambut basah yang diikat seadanya. Ia berharap Leodric sudah pergi. Tapi pria itu masih duduk di kursi dengan wajah sama dinginnya.

“Kamu… masih di sini?!” Rania nyaris menjerit.

"Tentu saja masih di sini.Pintumu macet,tidak bisa dibuka.Sebelum kamu masuk kamar mandi,kamu belum membukakannya.Aku terjebak semalaman... atau jangan-jangan kamu memang tidaj ingat?" ucap leodric dengan kesal

Rania panik, lalu buru-buru mengambil sendok dari meja. Krek! Sekali gerakan, pintu terbuka dengan mudah.

“Lho, gampang kok.”Ucap rania dengan polosnya

Leodric terdiam, lalu menatapnya tajam. “Jadi semalaman aku sia-sia di sini… sementara kamu bisa membukanya hanya dengan sendok?”

Rania hanya bisa nyengir kaku. “Hehe…”

Wajah Leodric menegang, jelas ia menahan emosi. Rania buru-buru mencoba menebus kesalahannya. “Eh… kamu mau mandi dulu? Biar seger gitu…”

Leodric langsung menyilangkan tangan di dada. Tatapannya mencemooh. “Apa maksudmu? Kau mau mengintip?”

“APA?!” Rania melongo.

“Kalau ya, bilang saja. Biar aku sekalian laporkan pegawaiku sendiri yang punya pikiran kotor.” Nada suaranya dingin, tapi ada sindiran halus yang membuat Rania ingin menjerit karena malu.

“Dasar narsis! Nih, pake kaosku aja, biar bajumu nggak kusut lagi!” Rania melemparkan kaos putih oversize.

Leodric menatap kaos itu dengan wajah tak bersahabat. “Bagus. Kalau aku pakai ini, jangan salahkan aku kalau kaosmu berubah jadi kain lap.”

Rania mendengus. “Terserah!”

Tak lama, suara air berhenti. Leodric keluar dengan rambut basah, mengenakan kaos putih Rania yang jelas kebesaran di bahu, tapi tetap menempel di tubuh bidangnya.

Rania refleks menoleh, lalu buru-buru memalingkan wajah. “Um… aku bikinin sarapan. Jangan salah paham, aku cuma kasihan aja.”

Di meja kecil, ada telur dadar, nasi hangat, dan teh manis.

Leodric duduk, menatap makanan itu sebentar, lalu mengambil sendok. Setelah satu suap, ia mendengus pelan. “Telurnya gosong di pinggir. Tehnya terlalu manis. Dan nasinya… keras.”

Rania ternganga. “Hei! Itu sudah susah payah aku bikin!”

Leodric menatapnya dingin, menyendok lagi dengan tenang. “Diam saja. Kalau aku masih mau makan, berarti masih bisa ditoleransi.”

Rania mendidih menahan emosi, tapi diam-diam jantungnya berdegup kencang melihat pria itu makan sarapannya dengan tenang meski mulutnya judes.Ia menikmati sarapan sederhana itu, meski mulutnya terus saja mengeluarkan komentar ketus. Rania yang sejak tadi berdiri di dekat meja akhirnya menghela napas panjang.

“Kalau nggak suka, nggak usah dimakan!” omelnya sambil manyun.

Namun, alih-alih berhenti, Leodric justru mengambil suapan lagi. Gerakannya santai, seakan tidak peduli dengan protes Rania.

Rania mengamati wajahnya diam-diam. Rambut hitamnya masih sedikit basah, kaos putih oversize itu tampak ketat di dadanya, dan entah kenapa, melihat pria itu sarapan dengan tenang justru membuat hatinya berdebar aneh.

Tanpa sadar, ia meraih gelas teh dan menyodorkannya. “Nih, minum dulu… biar nggak keselek.”

Leodric menoleh sekilas. Tatapan tajamnya membuat tangan Rania hampir gemetar. Tapi ia sudah terlanjur menyodorkan gelas itu, jadi mau tidak mau ia harus tetap bertahan.

Pria itu menerima gelasnya, meneguk sedikit, lalu mengangguk pelan. “Lumayan. Masih bisa diminum.”

Rania mendengus. “Dasar mulutnya susah dikasih manis.”

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Leodric terangkat samar. Rania kaget bukan main. Jantungnya berdebar keras melihat senyuman tipis itu, dan wajahnya langsung panas.

“Eh, aku… aku cuci piring dulu deh!” katanya gugup, berlari ke wastafel kecil di pojok kamar.

Dengan kikuk, Rania mencuci piring yang baru saja dipakai Leodric. Ia berusaha keras agar wajahnya tidak terlihat merah padam. Tapi saat ia menoleh, ternyata pria itu masih menatapnya.

“Kenapa lihat-lihat?!” protesnya cepat, mencoba menutupi rasa gugup.

Leodric bersandar santai di kursi, tangannya terlipat di dada. “Aku hanya heran. Seorang gadis ceroboh yang bisa mabuk sampai muntah di trotoar… ternyata tahu caranya menyiapkan sarapan, mencuci piring, dan… merawat tamunya.”

Rania terdiam. Hatinya menghangat mendengar kalimat itu. Untuk sesaat, ia merasa Leodric tidak sedingin biasanya.

Ia memberanikan diri tersenyum tipis. “Yah… aku kan nggak seburuk itu. Kadang bisa juga jadi manis, tahu.”

Leodric berdiri. Langkahnya pelan tapi pasti mendekati Rania. Ia berhenti tepat di belakangnya. Rania bisa merasakan hawa tubuhnya begitu dekat, membuat bulu kuduknya meremang.

“Manis, ya?” bisik Leodric rendah di telinganya. “Kalau memang manis… jangan sampai suatu hari ada yang tergoda mencicipinya.”

Rania membeku di tempat. Tangan yang memegang piring hampir terlepas karena merinding hebat. Ia menoleh cepat, tapi Leodric sudah melangkah ke arah pintu, meninggalkannya dengan wajah merah padam sekaligus jantung berdebar tak karuan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   BAB 24.Sisa Malam yang Terbawa Pagi

    Senin datang tanpa basa-basi.Gedung kantor kembali dipenuhi ritme yang sama, bunyi kartu akses, langkah cepat, suara lift yang naik turun. Namun ada sesuatu yang terasa… salah. Seolah sisa malam di resort belum sepenuhnya tertinggal di sana.Leodric tiba lebih pagi dari biasanya.Wajahnya datar. Rahangnya mengeras. Jasnya rapi, tapi auranya tidak. Ia melangkah melewati lobi tanpa menoleh pada siapa pun, tanpa sapaan singkat yang biasanya masih ia berikan.Dan semua orang merasakannya.Satu per satu karyawan yang berpapasan refleks menunduk. Ada yang pura-pura sibuk dengan ponsel, ada yang mendadak mengingat sesuatu lalu berbelok arah.Tidak ada yang menyapa.Tidak ada yang berani.Pintu ruangannya tertutup dengan bunyi yang tidak keras, namun cukup tegas untuk menjadi peringatan.Di dalam, Leodric meletakkan tasnya, membuka laptop, lalu menatap layar tanpa benar-benar membaca. Pikirannya masih berisik. Tangannya mengepal sebentar, lalu mengendur.Bad mood itu belum pergi.Dan ia tid

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   Bab 23. Di antara api unggun dan bayangan

    Di Tempat yang Seharusnya Jauh Akhir tahun datang dengan keputusan mendadak dari manajemen. Liburan bersama tim inti. Alasannya sederhana: evaluasi santai, bonding, sekaligus “penyegaran” setelah tekanan panjang. Tidak ada yang bisa menolak tanpa alasan kuat. Termasuk Rania. Termasuk juga Leodric. Resor itu terletak di pinggir kota,tenang, jauh dari gedung kaca dan rutinitas kantor. Udara lebih dingin, langit lebih lapang. Namun jarak yang mereka bawa… tetap ikut. Rania datang bersama beberapa rekan kerja. Ia mengenakan sweater sederhana, rambut terikat rapi. Senyumnya sopan, profesional, sama seperti di kantor. Leodric tiba tak lama kemudian. Tatapannya sempat mencari satu wajah tertentu, lalu berhenti seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka saling melihat. Saling menatap walaupun Sebentar. Lalu berpaling. Suasana siang hari ramai. Beberapa karyawan tertawa, mengambil foto, bercanda,tertawa lepas, seakan melepas semua penat yang terjadi di kantor. Davin ikut di

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   BAB 22.Di Antara Profesionalisme

    Pagi datang tanpa kejutan.Kantor kembali berjalan seperti biasa terlalu biasa, bahkan. Rania duduk di mejanya, rapi, fokus, dan tenang. Leodric keluar dari ruangannya dengan langkah terukur, wajah datar, aura atasan yang tak memberi celah untuk ditebak.Tak ada sapaan pribadi.Tak ada tatapan terlalu lama.Namun jarak itu… nyata. Meeting pagi dimulai tepat waktu.Rania mempresentasikan laporan dengan suara stabil. Slide berganti rapi, data tersusun jelas. Leodric mendengarkan sambil sesekali memberi catatan singkat.“Di bagian ini, tolong perjelas asumsi angkanya,” ucap Leodric, profesional.“Baik, Pak. Akan saya revisi,” jawab Rania tanpa ragu.Mereka bekerja seperti dua profesional yang sempurna.Tidak dingin.Tidak hangat.Netral.Namun bagi mata yang jeli, ada sesuatu yang berbeda, tidak ada lagi senyum kecil, tidak ada lagi bahasa tubuh yang lunak. Semua tertata, semua dibatasi.Clara memperhatikan dari sudut ruangan.Ia tersenyum tipis.Setelah meeting usai, Rania membereskan

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   Bab 21. Yang Tersembunyi

    Hari itu kantor kembali dipenuhi ritme biasa suara keyboard, telepon yang berbunyi, dan langkah-langkah orang yang lalu lalang. Namun bagi Rania, semuanya terasa lebih… penuh.Pekerjaan menumpuk. Laporan bulanan, revisi legal, meeting dadakan,semuanya datang bersamaan seperti gelombang. Tapi ia fokus. Terlalu fokus.Lebih dari biasanya.Rania menunduk pada layar, jarinya bergerak cepat, menghitung, menulis, mengetik, memeriksa ulang tanpa jeda. Pandangannya tajam, ekspresinya serius. Ia tidak sedang menghindari siapa pun.Ia hanya… mencoba hidup normal lagi.Atau setidaknya berpura-pura.---Di sisi lain ruang kerja…Leodric sedang membaca laporan klien, namun matanya tidak benar-benar mengikuti kalimat di hadapannya. Ia mengetuk meja dengan ujung pena kebiasaan yang hanya muncul ketika pikirannya kacau.Ia mencoba terlihat fokus.Coba tetap jadi atasan yang profesional.Namun setiap kali ia mengalihkan pandangan, matanya selalu… selalu kembali ke arah meja tertentu.Meja yang hari it

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   BAB 20. Jarak yang Sengaja Diciptakan

    Sehari setelah kejadian itu, kantor terasa berbeda.Bukan karena banyak pekerjaan…Bukan karena suasana lebih sunyi…Tapi karena Rania dan Leodric berjalan melewati satu sama lain tanpa sedikit pun kontak.Rania datang lebih pagi dari biasanya. Ia meletakkan tasnya, menyalakan komputer, dan langsung bekerja tanpa mengangkat kepala. Senyum sopan yang biasanya muncul setiap kali ia melihat orang lewat, hari itu hilang.Ia menjaga wajahnya tetap datar.Tidak menunjukkan ekspresi kecewa, marah, apalagi sakit hati.Rania resmi membangun tembok.---“Ran, ini dokumen buat divisi legal,” kata Siska sambil menaruh setumpuk berkas di meja Rania. “Kamu yang revisi ya.” Ucap Siska lagi, sebelum ia menanyakan dengan sikap Rania yang menurutnya aneh.“Siap,” jawab Rania cepat, nada suaranya datar, tanpa ekspresi.Siska mengerutkan dahi. “Kamu nggak apa-apa? Kok kayak… ga bersemangat gitu.”Rania memaksakan senyum, tipis, hambar.“Aku cuma capek.” Jawab Rania dengan datar.Siska menatapnya sejenak,

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   Bab 19. Perang Dingin

    Pagi itu datang terlalu cepat.Rania mengerjapkan mata pelan. Punggungnya terasa hangat… anehnya. Saat ia mengangkat kepala dari lengannya, selimut tipis itu melorot perlahan dari pundaknya.Rania membeku.Selimut?Ia bahkan tidak mengambil selimut semalam.Jantungnya berdetak panik ketika ia melihat layar monitor yang masih menyala. Jam kecil di pojok kanan menunjukkan 05:42.“Ya Tuhan…” bisiknya. “Aku ketiduran?”Ia buru-buru merapikan kertas yang berserakan. Tangannya baru menyentuh stabilo saat sesuatu di samping keyboard membuatnya terdiam.Segelas kopi dingin dalam kaleng... masih meninggalkan embun samar.Rania mengerutkan kening.Itu bukan punyaku…Sebelum pikirannya melayang lebih jauh, terdengar suara pintu dari arah ruang kerja Leodric.Rania langsung menegang.Perlahan seperti adegan yang muncul di kepalanya, yang justru ingin ia hindari, pintu itu pun terbuka. Leodric keluar sambil merapikan kemejanya. Rambutnya sedikit kusut, ekspresi lelah, namun ada sesuatu yang tersis

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status