Share

Bab 2

Author: umi roihan
last update Last Updated: 2022-03-02 15:14:37

Petir menggelegar di tengah malam disertai hujan deras. Astri terbangun dari tidurnya. Ditengoknya jam dinding berwarna hijau yang ternyata menunjukkan waktu dini hari.

Kakinya menuruni ranjang menuju kamar mandi. Berwudhu lalu menunaikan shalat sunnah dua rakaat yang menjadi kebiasaannya.

Tangan menengadah, kaki bersimpuh dengan berurai air mata. Teringat akan putranya yang telah lama tak ditemui. Mungkin sekarang sudah dewasa. Bukan Astri tak mau menemuinya, tapi dia tak sanggup jika Dafa membenci ibu yang telah meninggalkannya dua puluh tahun lamanya. Entah bagaimana dia sekarang. Apakah dia tumbuh menjadi lelaki yang tampan seperti ayahnya? Masihkah Dafa ingat pada Astri setelah sekian lamanya tak bertemu? Akankah nasib mempertemukan mereka kembali suatu saat nanti?

"Ya Allah, jagalah selalu putra hamba dimanapun dia berada. Semoga hidupnya selalu dilimpahi kebahagiaan walau tanpa ada hamba di sisinya. Hamba sangat merindukannya, ya Allah. Hamba ingin bertemu dengannya walau hanya sekali saja sebelum hamba meninggalkan dunia ini. Hamba ingin melihatnya, melihat darah daging hamba, melihat anak yang telah hamba perjuangkan dengan taruhan nyawa. Ampuni hamba ya Rabb, ampuni hamba yang telah meninggalkannya dulu. Hamba tak bisa memutar waktu, hamba juga tak mungkin berandai-andai karena semua ini sudah dalam ketentuan-Mu. Hamba hanya berharap bisa bertemu lagi dengan putra hamba tercinta."

Dibukanya kitab suci dan membaca lembar demi lembar untuk menenangkan hatinya yang gundah. 

"As, aku tak sanggup jika harus berpisah denganmu. Tolong, jangan dengarkan permintaan ibu untuk pergi dari sini. Kita pasti bisa menghadapi semuanya. Aku sangat mencintaimu, As."

"Aku yang merasa tak sanggup, Mas. Janganlah menentang keinginan ibu. Kamu anak yang berbakti. Seorang laki-laki akan tetap menjadi milik ibunya sampai kapanpun. Aku berterima kasih atas segala cinta kasihmu selama ini. Aku yang telah menghancurkan semuanya. Mungkin selama ini akulah penghalang rejekimu sehingga hidup kita selalu pas-pasan bahkan kurang. Aku yang tak pandai mengatur keuangan sehingga berutang kesana kemari. Aku akan berusaha melunasi semua utang itu."

"As, tolong jangan pikirkan masalah itu. Aku tak mempermasalahkanmu yang berutang karena semua juga salahku yang tak mampu bekerja lebih giat."

"Tidak Mas, kamu sudah berusaha sekuat tenaga untuk menafkahi kami. Aku yang salah."

"Jangan salahkan dirimu sendiri, As. Aku juga ikut andil di sini. Sekarang, kita harus memikirkan bagaimana membayar hutang pada tante Hamidah. Aku akan bekerja lebih keras lagi, As. Aku janji."

Astri menggeleng. Air mata telah berjatuhan di wajah wanita beranak satu itu.

"Mas, jatuhkanlah talak padaku, aku tak ingin ibu juga membencimu. Cukup aku saja yang beliau benci."

"As, sadarkah kamu dengan apa yang kamu ucapkan? Atau kamu sudah mempunyai kekasih lain sehingga begitu mudahnya meminta cerai dariku?"

"Mana mungkin aku mempunyai lelaki lain sedangkan kamu tahu sendiri aku selalu ada di sampingmu? Aku hanya tak ingin menghancurkan hubunganmu dengan ibu. Biarlah aku saja yang mengalah, aku pergi dari kehidupan kalian. Carilah penggantiku yang bisa menyayangi Dafa dan sesuai dengan kriteria idaman ibu. Jangan cari wanita yang bermasalah sepertiku. Aku mencintaimu, Mas. Aku tak ingin kamu semakin durhaka jika tetap mempertahankanku. Tolong, aku mohon, kalau mas Is juga mencintaiku, tolong lepaskan aku. Biarkan aku pergi seperti keinginan ibu."

"As ...."

"Mas, aku mohon ...." Astri menyatukan kedua tangan di depan dadanya.

"Baiklah As, aku akan berikan apa yang kau minta," Ismail memejamkan mata sejenak. Tangan kanan diletakkannya di atas kepala istri yang sangat ia cintai. "Hari ini dengan sadar, aku Ismail bin Dahlan menjatuhkan talak satu kepada kamu Astri Widyani binti Soleh."

Ismail memejamkan mata kembali sambil mengusap pelan rambut hitam istrinya-ralat mantan istrinya.

"Maaf As, maafkan aku." Ismail tergugu dan memeluk Astri. Hatinya tak rela melepaskan wanita yang telah menemani hidupnya selama beberapa tahun.

Astri balas memeluk Ismail erat. Mungkin sebagai pelukan perpisahan antara mereka.

"Aku juga minta maaf Mas, selama ini aku selalu menyusahkanmu. Aku selalu jadi beban untuk dirimu."

"Jangan katakan itu lagi As, aku sangat mencintaimu tapi aku juga tak sanggup jika harus kehilangan orang tuaku."

"Aku paham Mas, aku mengerti. Tak usah khawatirkan diriku. Mas tetap menjadi orang yang berarti dalam hidupku. Terima kasih, telah memberikan talak padaku, setidaknya kakiku lebih ringan melangkah. Aku akan mencari pekerjaan agar bisa membayar utang-utangku pada tante Hamidah. Aku akan menemui beliau dulu sebelum pergi."

Ismail hanya mengangguk-angguk sambil berderai air mata. Tanpa mereka sadari, ada bocah berumur 7 tahun yang menyaksikan semuanya. Walau tak paham keseluruhan pembicaraan orang tuanya, tapi bocah itu tahu kalau esok hari keluarganya takkan lagi sama. Dia yang bernama Dafa Darmawan, anak sepasang suami istri yang kini tak bisa bersama.

Tersadar saat azan subuh berkumandang. Astri segera beranjak menunaikan kewajibannya pada Sang Pencipta. Setelah melipat mukena dan menyimpannya di atas lemari kecil, Astri menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.

Dua tangan mungil melingkari perutnya saat sampai di dapur.

"Pagi mamiku sayang," ucap gadis pemilik tangan itu.

"Pagi cantiknya mami. Udah sholat belum?"

"Udah barusan Mi, kan tadi aku bangun jam empat buat ngerjain tugas."

"Kamu ini suka menunda-nunda tugas yang dikasih dosen ya, kebiasaan," ucap Astri sambil mencubit sayang hidung mancung putrinya.

"Aww, sakit tahu Mi."

"Halah, dicubit gitu aja masa' sakit sih."

"Hehe, mami mau masak apa buat sarapan biar aku bantuin."

"Nasi goreng aja biar cepet. Mami mau ke konveksi pagi-pagi. Mau ada yang pesen buat seragam arisan katanya."

"Alhamdulillah, semoga rejeki Mami makin lancar ya, Mi."

"Iya sayang, semua ini kan buat masa depan kamu juga."

"Aku bantuin apa Mi?"

"Irisin timun aja buat pelengkap. Mami udah bikin bumbunya kok tinggal digoreng aja nasinya."

"Siap Mi," ucapnya sambil mengangkat tangan ala hormat tentara.

Astri tergelak melihat tingkah gadis yang mewarnai hari-harinya beberapa tahun itu. Tapi tak lama karena dilihatnya gadis itu memakan sebagian besar timun yang telah diirisnya.

"Nadia, kok kamu habisin timunnya."

Nadia nyengir sambil mengangkat dua jarinya.

"Hehe, peace Mi, aku kan suka sama timun. Lagian masih ada kok buat Mami."

"Iya, iya, gimana kamu aja lah," kata Astri sambil menaruh piring berisi nasi goreng di atas meja makan minimalis.

"Kamu mau sarapan dulu apa mandi dulu?"

"Kita sarapan dulu aja ya Mi, aku udah laper."

Kedua ibu dan anak itu saling berhadapan menikmati nasi goreng sambil bersenda gurau. Tatapan sendu kadang menghiasi pelupuk mata Astri karena tak bisa memberikan kemewahan seperti dulu ketika masih ada papanya. Hanya sekedar bisa memberikan biaya kuliah dan tempat tinggal sederhana untuk gadis yang waktu kecil dimanjakan dengan materi itu. Untunglah Nadia bukan gadis yang manja sehingga ketika perubahan dalam hal ekonomi terjadi, Nadia bisa menerimanya dengan sabar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gara-Gara Utang   Bab 50

    Awan memutuskan tatapan mereka karena tak ingin perasaannya pada Nadia semakin dalam. Nadia menundukkan kepalanya merasa salah tingkah. Bisa-bisanya dia terpesona pada Awan. "Ayo!" Nadia mengangguk dan mengikuti langkah Awan kelhar dari apartemen. Hilanglah sudah segala kekesalan yang dirasakannya tadi. Jantungnya berdegup kencang tak terkendali. Namun kali ini, Nadia menjaga langkahnya agar tak sampai tersandung kakinya sendiri. Bisa malu dia nanti kalau Awan tahu pesonanya menggelitik hati Nadia. Awan berjalan lurus tanpa sedikit pun menoleh ke arah Nadia. Tak bisa dipungkiri jika hatinya berdebar tak karuan. Semakin lama, Awan semakin menyadari akan perasaannya terhadap Nadia. Perasaan yang seharusnya tak boleh tumbuh. Sepanjang perjalanan ke rumah Astri, tak ada percakapan di antara Awan dan Nadia. Hanya ada suara musik dari radio yang disetel Awan agar perjalanan mereka tak terlalu hening. Sayangnya, musik yang diputar di radio kebanyakan tentang indahnya jatuh cinta. Astri m

  • Gara-Gara Utang   Bab 49

    "Duduk dulu, Nad."Nadia menggeleng pelan."Barang-barang Mas, mana yang mau dikemas?""Emang kamu nggak capek habis kuliah?""Sejam doang, mana mungkin capek. Udah ah, sini bajunya keluarin biar aku masukin koper. Eh iya, sama kopernya dong, Mas."Awan mengangguk dan mengambil koper yang tersimpan di atas lemari. Kemudian, lelaki itu membuka pintu lemari dan mengambil beberapa pakaiannya.Awan meletakkan pakaian miliknya di atas kasur yang kemudian dirapikan oleh Nadia ke dalam koper."Aku tinggal mandi dulu nggak papa, Nad?"Nadia yang sedang asyik dengan kegiatannya mendongak ke arah Awan. Gadis itu mengangguk dan membiarkan Awan berlalu menuju ke kamar mandi di pojok ruangan."Kira-kira, mas Awan pernah ngajak cewek main ke sini nggak ya? Duh, malah jadi overthinking gini. Sadar Nad, kamu harus sadar. Bagi mas Awan, kamu itu bukan siapa-siapa. Hanya seorang istri yang dinikahinya secara terpaksa. Kamu nggak boleh berharap lebih."Nadia mengetuk-ngetuk dahinya, berusaha menyadarkan

  • Gara-Gara Utang   Bab 48

    Nadia mengangguk dan berlari kecil menuju mobil Awan. Kepalanya menoleh ke kanan kiri mengamati jika ada orang yang ia kenali. Nadia mengusap dada merasa lega kemudian masuk mobil Awan dan menutup pintunya. Sementara Salsa yang masih memperhatikan sahabatnya, terkikik geli melihat tingkah Nadia. Kayak orang lagi pacaran backstreet aja takut ketahuan padahal mereka udah sah menikah.Setelah Nadia memasang sabuk pengamannya, Awan melajukan mobilnya kembali. Lelaki itu membunyikan klakson tanda pamit pada Salsa yang kemudian melambaikan tangan pada mereka.Suasana canggung terjadi di dalam mobil hitam yang sedang melaju di antara kemacetan lalu lintas itu."Kamu mau makan siang dulu, Nad?""Bentar Mas, aku telepon mami dulu. Takutnya mami nungguin aku buat makan siang."Awan mengangguk dan kembali fokus pada kemudi."Halo, Mi.""Assalamualaikum, Sayang.""Hehe, waalaikumsalam Mi, maaf lupa.""Bukan lupa, kamu emang kebiasaan kayak gitu.""Iya Mi, maaf. Mami udah makan belum?""Udah barus

  • Gara-Gara Utang   Bab 47

    Awan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku setelah selesai melakukan panggilan. Diliriknya pergelangan tangan kirinya yang dihiasi jam tangan berwarna hitam."Sudah hampir jam satu. Nadia sudah selesai belum ya, kuliahnya?" tanya Awan pada dirinya sendiri.Awan beranjak dari duduknya dan menunggu Nadia di parkiran. Awan duduk di kursi samping kemudi dengan pintu mobil yang terbuka. Tak lama, tampaklah Nadia dan Salsa yang berjalan beriringan menuju gerbang kampus. Awan membuka ponselnya dan melakukan panggilan pada gadis itu. Nadia berhenti berjalan karena merasakan getaran pada ponselnya di dalam tas."Sal, bentar dulu, ada yang telpon.""Eciee, siapa tuh?"Nadia mengedikkan bahu. "Mami mungkin," sahut Nadia cuek sambil mengambil ponselnya. Saat melihat nama pemanggil sontak Nadia melotot dan melihat sekeliling."Kenapa, Nad?" tanya Salsa kemudian."Mas Awan," ucap Nadia tanpa suara karena banyak orang di sekitar mereka."Angkat aja."Dengan ragu, Nadia menggeser layar ponselnya

  • Gara-Gara Utang   Bab 46

    Awan memasuki ruangan dosen yang sedang sepi karena beberapa di antara mereka sedang mengajar. Hanya ada dua orang dosen yang mejanya terletak jauh dari Awan. Lelaki itu menganggukkan kepalanya sekilas sambil tersenyum menyapa kedua rekannya. Hari ini sebenarnya Awan tak ada jam mengajar, tapi daripada dia harus menunggu Nadia di taman yang banyak mahasiswa berlalu lalang, lebih baik dia menunggu di ruangan dosen.Awan merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Diusapnya layar ponsel dan mencari nama seseorang di sana. Awan menempelnya benda persegi panjang itu ke telinga kanannya begitu terdengar nada dering dari telepon seberang. Sampai dering ketiga belum juga diangkat tapi Awan tetap sabar menunggu."Assalamualaikum.""Waalaikumussalam, maaf Tante, apa aku ganggu?""Nggak kok, kamu nggak ganggu. Ada apa? Mau bicara sama ayah kamu?""Emm, sama tante aja lah. Nanti tolong tante yang sampein sama ayah.""Nak, sampai kapan kamu bersikap seperti ini sama ayah kamu? Tante tahu, kamu

  • Gara-Gara Utang   Bab 45

    "Mas, sampai halte aja, ya," pinta Nadia saat mobil yang dikendarai Awan hampir sampai ke area kampus. Awan mengernyitkan dahi sambil menoleh sekilas. Kemudian Awan menepikan mobilnya sejenak."Kenapa kamu mau turun di sini?" tanya Awan sambil memiringkan badannya menghadap Nadia."Aku nggak mau jadi bahan gosip di kampus, Mas. Mas Awan kan udah janji mau nyembunyiin hubungan kita. Aku belum siap jadi sorotan, Mas. Selama ini hidup aku tenang-tenang aja jadi aku nggak mau sampai tiba-tiba bikin banyak orang penasaran. Kalau aku turun dari mobil Mas Awan dan ada yang mergokin apalagi kalau orang itu fans beratnya Mas Awan, bisa-bisa hidup aku nggak tenang. Aku mau orang mengenalku sebagai Nadia yang biasa, bukan karena Nadia yang dekat sama dosennya."Awan mengangkat tangan hendak mengusap surai hitam Nadia tetapi tangannya hanya menggantung di udara. Awan merasa ragu bahkan takut kalau Nadia malah marah dengan perlakuannya."Maaf ya Nad, aku malah buat kamu jadi serba salah.""Bukan s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status