Share

Bab 3

Author: umi roihan
last update Last Updated: 2022-03-02 16:14:55

"Mi, aku berangkat kuliah dulu ya," ucap Nadia setelah selesai membantu Astri mencuci piring.

"Nggak mau bareng sama mami?"

"Emang Mami mau kemana?"

"Kamu gimana sih Sayang, kemarin 'kan mami udah bilang mau ke konveksi."

Nadia menepuk keningnya pelan.

"Oh iya, aku lupa Mi, maaf ya."

"Iya, nggak papa. Kamu udah selesai beres-beresnya? Lihat lagi, siapa tahu ada yang ketinggalan."

Nadia membongkar kembali ranselnya dan menghitung buku dan juga tugasnya.

"Udah semua, Mi. Mau berangkat sekarang?"

"Yuk, mami udah pesen taksi."

"Mi, padahal kita naik angkot aja nggak papa."

"Sekali-sekali, Sayang. Mami juga pengen bahagiain kamu kayak dulu."

"Mi, aku bahagia selama Mami ada di samping aku. Kalau Mami ninggalin aku, aku pasti akan sedih banget."

"Mami nggak akan mungkin ninggalin kamu, Nad. Mami sayang sama kamu. Nggak ada alasan apapun yang membuat mami harus ninggalin kamu. Malah mungkin kamu yang nanti ninggalin mami kalau udah nikah."

"Mami ih, kok bahas nikah. Aku tuh masih kecil Mi, aku pengen kuliah dulu, pengen kerja dulu. Pengen bahagiain mami. Harusnya Mami udah nggak kerja lagi, diem di rumah. Sekarang malah harus pergi ke konveksi."

"Sayang, kalau mami nggak ke sana nanti kliennya marah. Beliau cuma mau ketemu sama mami sebagai pemilik konveksi itu. Memang ada asisten mami tetapi mami juga harus sekali-sekali mengontrol kinerja mereka kan?"

"Iya Mi, itu taksinya udah dateng. Let's go kita berangkat."

Astri hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putri tersayangnya. Andai Dafa ada di sini juga, pasti aku akan lebih bahagia. Entah seperti apa wajahnya sekarang. Ibu merindukanmu, Daf.

Taksi berhenti di depan kampus tempat Nadia menimba ilmu. Gadis itu meraih tangan Astri dan mencium punggung tangan maminya takdzim.

"Mi, aku masuk dulu ya, Mami jangan sampai kecapekan. Kan udah ada mbak Aini yang bisa ngawasin karyawan Mami."

"Iya Sayang, kamu tenang aja. Udah sana, nanti keburu telat."

Nadia mencium kedua pipi Astri sebelum keluar dari taksi. Tak lupa, ia melambaikan tangan pada sang mami.

***

"Nad, coba lihat deh. Pak Awan dari tadi ngeliatin kamu terus."

"Masa' sih Sal, kamu salah liat kali."

"Ih, coba aja kamu noleh ke pak Awan, pasti dia langsung ngalihin pandangan."

Nadia percaya perkataan sahabatnya karena saat itu juga dosen yang sedang mengajar mereka tampak salah tingkah begitu Nadia menatapnya lama.

"Udah, jangan diliatin terus. Ntar lama-lama jatuh cinta."

"Apaan sih Sal, nggak usah aneh-aneh deh. Lagian tuh ya pak Awan pasti sudah punya istri. Kalo nggak ya pacar lah."

"Yee, siapa tahu aja dia jodoh kamu."

"Jangan ngarang ah."

"Ehemm, sudah selesai diskusinya?"

Rasanya jantung Nadia berhenti berdetak saat itu juga. Suara sang dosen yang tadi terlihat di depan sana, kini terdengar sangat dekat.

"Kalian berdua kalau hanya mau mengobrol, sebaiknya di luar, jangan di kelas saya."

"Maaf Pak," ucap kedua sahabat itu.

"Baiklah, kita akhiri saja kelas kita hari ini. Sampai jumpa minggu depan dan jangan lupa tugas yang sudah saya berikan."

Seluruh mahasiswa di kelas itu baru bisa menghembuskan nafas lega ketika dosen yang disebut-sebut dosen paling tampan di kampus itu keluar ruangan.

"Kalian sih berisik banget," tegur Alan, sang ketua kelas.

"Ya maaf, kita nggak sengaja. Padahal tuh ya, kita ngomongnya udah bisik-bisik tapi tetep aja tuh dosen tahu."

"Capek juga ya tiap pertemuan dikasih tugas. Kapan kita bisa hangout," keluh Shilla, cewek manja yang terkenal dari keluarga kaya.

"Kamu sih enak Shil, tinggal bayar orang buat ngerjain tugas dari pak Awan. Lah kita, harus muter otak tiap hari. Mana kadang tugasnya susah banget lagi."

"Udah, udah, yang penting kita udah berusaha semaksimal mungkin mengerjakannya. Kalau masalah hasil, kita serahin aja gimana pak Awan menilainya."

"Ke kantin yuk Sal," ajak Nadia.

Mereka berdua berjalan santai menuju kantin di lantai satu yang mengharuskan mereka melewati ruangan dosen fakultas ekonomi. Tak sengaja kedua mata bening Nadia bersitatap dengan dosen yang tadi mengajar di kelasnya. Dosen yang banyak digandrungi mahasiswi itu. Nadia tersenyum kemudian mengangguk sopan walaupun tak mendapat tanggapan dari dosen itu. Hanya tatapan datar tanpa ekspresi berarti ditunjukkan oleh dosen yang baru satu tahun bergabung di universitas tempat Nadia kuliah.

"Kenapa Nad?" tanya Salsa saat sahabatnya itu mengedikkan bahu.

"Ah, nggak papa kok. Yuk, lanjut ke kantin aja," sahut Nadia cuek.

"Beneran? Tapi kamu kayak yang lagi bete gitu. Ada apaan sih?" Salsa masih tak percaya dengan kata-kata Nadia.

Nadia menghembuskan napas panjang kemudian menatap Salsa.

"Itu tadi aku nggak sengaja tatapan sama pak Awan, ya aku senyum lah, sebagai rasa hormat aku sama dosen. Eh, dianya boro-boro bales senyum, sekedar ngangguk aja kagak." Nadia menghentakkan kakinya kesal.

"Lah, kok jadi marah. Jangan-jangan kamu naksir ya sama pak Awan?"

"Apaan sih, masa' aku naksir sama dosen pelit senyum kayak gitu. Bukan tipe aku banget. Aku tuh pengen punya cowok yang baik, ramah, dan sayang sama aku. Bukan yang jutek kayak gitu."

"Awas, jangan sampai rasa nggak suka kamu berubah jadi rasa cinta."

"Nggak mungkin lah. Aku pengen punya cowok yang seumuran atau kalaupun lebih tua juga nggak tua-tua amat. "

***

"Saya mau yang warna biru dongker tapi dikombinasikan dengan warna biru terang ya, Bu."

"Baiklah, bu Aisyah. Nanti saya dan Aini sendiri yang akan datang ke rumah ibu untuk mengambil ukuran ibu-ibu yang mau membuat seragamnya."

"Iya bu Astri. Pokoknya saya percayakan semuanya sama bu Astri. Saya sudah membuktikan kalau semua pakaian yang dibuat oleh konveksi bu Astri kualitasnya bagus."

"Terima kasih pujiannya, bu Aisyah, saya sangat tersanjung mendengarnya. Kami hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk para pelanggan kami."

Tak terasa sudah dua jam kedua ibu yang hampir seumuran itu berbincang.

"Ya sudah kalau begitu, saya pamit dulu. Ini anak sulung saya sudah menunggu di luar. Saya tunggu kedatangannya ya, Bu."

"Iya Bu, insyaallah beberapa hari lagi saya ke rumah Ibu. Nanti saya kabari lagi waktunya."

"Saya pamit dulu, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Astri menghela napas pelan kemudian duduk kembali di kursi kerjanya. Konveksi yang dibangunnya sejak lima tahun lalu kini semakin banyak pelanggan. Berbekal dari keahliannya menjahit, Astri membuka jasa jahit baju di rumah hingga akhirnya bisa membangun sebuah konveksi dengan sepuluh orang karyawan dan satu orang mandor yang telah dia percayai. Setelah papanya Nadia meninggal, tak ada lagi yang bisa diharapkan. Dia harus berjuang keras menghidupi gadis kecil yang baru saja lulus SMP. Tapi, Astri selalu berusaha menunjukkan bahwa ia mampu dan bisa bertahan bersama putri semata wayangnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gara-Gara Utang   Bab 50

    Awan memutuskan tatapan mereka karena tak ingin perasaannya pada Nadia semakin dalam. Nadia menundukkan kepalanya merasa salah tingkah. Bisa-bisanya dia terpesona pada Awan. "Ayo!" Nadia mengangguk dan mengikuti langkah Awan kelhar dari apartemen. Hilanglah sudah segala kekesalan yang dirasakannya tadi. Jantungnya berdegup kencang tak terkendali. Namun kali ini, Nadia menjaga langkahnya agar tak sampai tersandung kakinya sendiri. Bisa malu dia nanti kalau Awan tahu pesonanya menggelitik hati Nadia. Awan berjalan lurus tanpa sedikit pun menoleh ke arah Nadia. Tak bisa dipungkiri jika hatinya berdebar tak karuan. Semakin lama, Awan semakin menyadari akan perasaannya terhadap Nadia. Perasaan yang seharusnya tak boleh tumbuh. Sepanjang perjalanan ke rumah Astri, tak ada percakapan di antara Awan dan Nadia. Hanya ada suara musik dari radio yang disetel Awan agar perjalanan mereka tak terlalu hening. Sayangnya, musik yang diputar di radio kebanyakan tentang indahnya jatuh cinta. Astri m

  • Gara-Gara Utang   Bab 49

    "Duduk dulu, Nad."Nadia menggeleng pelan."Barang-barang Mas, mana yang mau dikemas?""Emang kamu nggak capek habis kuliah?""Sejam doang, mana mungkin capek. Udah ah, sini bajunya keluarin biar aku masukin koper. Eh iya, sama kopernya dong, Mas."Awan mengangguk dan mengambil koper yang tersimpan di atas lemari. Kemudian, lelaki itu membuka pintu lemari dan mengambil beberapa pakaiannya.Awan meletakkan pakaian miliknya di atas kasur yang kemudian dirapikan oleh Nadia ke dalam koper."Aku tinggal mandi dulu nggak papa, Nad?"Nadia yang sedang asyik dengan kegiatannya mendongak ke arah Awan. Gadis itu mengangguk dan membiarkan Awan berlalu menuju ke kamar mandi di pojok ruangan."Kira-kira, mas Awan pernah ngajak cewek main ke sini nggak ya? Duh, malah jadi overthinking gini. Sadar Nad, kamu harus sadar. Bagi mas Awan, kamu itu bukan siapa-siapa. Hanya seorang istri yang dinikahinya secara terpaksa. Kamu nggak boleh berharap lebih."Nadia mengetuk-ngetuk dahinya, berusaha menyadarkan

  • Gara-Gara Utang   Bab 48

    Nadia mengangguk dan berlari kecil menuju mobil Awan. Kepalanya menoleh ke kanan kiri mengamati jika ada orang yang ia kenali. Nadia mengusap dada merasa lega kemudian masuk mobil Awan dan menutup pintunya. Sementara Salsa yang masih memperhatikan sahabatnya, terkikik geli melihat tingkah Nadia. Kayak orang lagi pacaran backstreet aja takut ketahuan padahal mereka udah sah menikah.Setelah Nadia memasang sabuk pengamannya, Awan melajukan mobilnya kembali. Lelaki itu membunyikan klakson tanda pamit pada Salsa yang kemudian melambaikan tangan pada mereka.Suasana canggung terjadi di dalam mobil hitam yang sedang melaju di antara kemacetan lalu lintas itu."Kamu mau makan siang dulu, Nad?""Bentar Mas, aku telepon mami dulu. Takutnya mami nungguin aku buat makan siang."Awan mengangguk dan kembali fokus pada kemudi."Halo, Mi.""Assalamualaikum, Sayang.""Hehe, waalaikumsalam Mi, maaf lupa.""Bukan lupa, kamu emang kebiasaan kayak gitu.""Iya Mi, maaf. Mami udah makan belum?""Udah barus

  • Gara-Gara Utang   Bab 47

    Awan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku setelah selesai melakukan panggilan. Diliriknya pergelangan tangan kirinya yang dihiasi jam tangan berwarna hitam."Sudah hampir jam satu. Nadia sudah selesai belum ya, kuliahnya?" tanya Awan pada dirinya sendiri.Awan beranjak dari duduknya dan menunggu Nadia di parkiran. Awan duduk di kursi samping kemudi dengan pintu mobil yang terbuka. Tak lama, tampaklah Nadia dan Salsa yang berjalan beriringan menuju gerbang kampus. Awan membuka ponselnya dan melakukan panggilan pada gadis itu. Nadia berhenti berjalan karena merasakan getaran pada ponselnya di dalam tas."Sal, bentar dulu, ada yang telpon.""Eciee, siapa tuh?"Nadia mengedikkan bahu. "Mami mungkin," sahut Nadia cuek sambil mengambil ponselnya. Saat melihat nama pemanggil sontak Nadia melotot dan melihat sekeliling."Kenapa, Nad?" tanya Salsa kemudian."Mas Awan," ucap Nadia tanpa suara karena banyak orang di sekitar mereka."Angkat aja."Dengan ragu, Nadia menggeser layar ponselnya

  • Gara-Gara Utang   Bab 46

    Awan memasuki ruangan dosen yang sedang sepi karena beberapa di antara mereka sedang mengajar. Hanya ada dua orang dosen yang mejanya terletak jauh dari Awan. Lelaki itu menganggukkan kepalanya sekilas sambil tersenyum menyapa kedua rekannya. Hari ini sebenarnya Awan tak ada jam mengajar, tapi daripada dia harus menunggu Nadia di taman yang banyak mahasiswa berlalu lalang, lebih baik dia menunggu di ruangan dosen.Awan merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Diusapnya layar ponsel dan mencari nama seseorang di sana. Awan menempelnya benda persegi panjang itu ke telinga kanannya begitu terdengar nada dering dari telepon seberang. Sampai dering ketiga belum juga diangkat tapi Awan tetap sabar menunggu."Assalamualaikum.""Waalaikumussalam, maaf Tante, apa aku ganggu?""Nggak kok, kamu nggak ganggu. Ada apa? Mau bicara sama ayah kamu?""Emm, sama tante aja lah. Nanti tolong tante yang sampein sama ayah.""Nak, sampai kapan kamu bersikap seperti ini sama ayah kamu? Tante tahu, kamu

  • Gara-Gara Utang   Bab 45

    "Mas, sampai halte aja, ya," pinta Nadia saat mobil yang dikendarai Awan hampir sampai ke area kampus. Awan mengernyitkan dahi sambil menoleh sekilas. Kemudian Awan menepikan mobilnya sejenak."Kenapa kamu mau turun di sini?" tanya Awan sambil memiringkan badannya menghadap Nadia."Aku nggak mau jadi bahan gosip di kampus, Mas. Mas Awan kan udah janji mau nyembunyiin hubungan kita. Aku belum siap jadi sorotan, Mas. Selama ini hidup aku tenang-tenang aja jadi aku nggak mau sampai tiba-tiba bikin banyak orang penasaran. Kalau aku turun dari mobil Mas Awan dan ada yang mergokin apalagi kalau orang itu fans beratnya Mas Awan, bisa-bisa hidup aku nggak tenang. Aku mau orang mengenalku sebagai Nadia yang biasa, bukan karena Nadia yang dekat sama dosennya."Awan mengangkat tangan hendak mengusap surai hitam Nadia tetapi tangannya hanya menggantung di udara. Awan merasa ragu bahkan takut kalau Nadia malah marah dengan perlakuannya."Maaf ya Nad, aku malah buat kamu jadi serba salah.""Bukan s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status