Share

Bab 3

Penulis: Shirley
Aku berjuang memusatkan pandangan, tetapi obat itu membuat segalanya kabur.

Aku masih bisa mengenali tulisan tanganku sendiri.

Silvia mulai membacakan dengan suara nyaring dan menusuk telinga.

"Marco tersayang, Darren ada rapat lagi malam ini, jadi akhirnya kita bisa berdua saja ...."

"Nggak ...." Aku berhasil menggeleng pelan, lidahku masih kebas. "Aku nggak menulis itu ...."

"Anak kita akan mewarisi kecerdasanku dan ketampananmu, jauh berbeda dari si bodoh Darren itu ...."

"Bulan depan, kita akan membawa bayi ini dan kabur dari sini, memulai hidup baru di Piras ...."

"Semua itu nggak benar!" Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk membantahnya.

"Masih berpura-pura?" Silvia mencibir. "Anggi sendiri yang memberikannya padaku. Katanya kamu menyembunyikannya dengan rapi, tapi rahasia selalu punya cara untuk terbongkar."

Dia mengeluarkan sebuah kancing lengan emas milik pria. Di atasnya terukir sebuah inisial yang tidak kukenal.

"Ini ditemukan di laci meja riasmu," katanya sambil mengayunkannya di depan mataku. "Ini milik Marco Japardi. Kata Anggi, kalian sering bertemu di sini saat Darren nggak ada."

"Apa yang kamu bicarakan! Aku bahkan nggak pernah bertemu Marco mana pun!"

Silvia berdiri lalu menendang tulang rusukku. Rasa sakit yang tajam membuatku meringkuk.

"Jadi kamu mau bilang kalau ini palsu?" Suaranya setajam pisau. "Kalau begitu, jelaskan kenapa ada barang pria lain di meja riasmu? Jelaskan kenapa surat-surat ini ditulis dengan tulisan tanganmu!"

Aku ingin membantah, tetapi kata-kataku tersangkut di tenggorokanku.

Rekayasa Anggi terlalu sempurna.

"Berapa banyak tradisi keluarga yang dilanggar kakakku demi kamu?" Silvia terus menendang. "Dia memberimu hidup terbaik, penghormatan tertinggi! Dan untuk apa?"

Suaranya makin histeris. Aku hanya bisa melindungi perutku.

Waktu terus berlalu. Tidak ada yang datang menyelamatkanku, hingga Dokter Russo muncul lagi. Kali ini, suntikan di tangannya berisi cairan merah tua.

"Formula yang ditingkatkan. Atas permintaan khusus Bos."

Jarum itu kembali menusuk pembuluh darahku. Kali ini, obatnya terasa jauh lebih panas, seperti lava yang mengalir di dalam darahku. Detak jantungku menjadi kacau, dadaku naik turun dengan hebat.

"Dokter Russo ...." Aku terengah. "Ada yang ... nggak beres ...."

Dia memeriksa nadiku dan mengernyit. "Tenang saja, kamu nggak akan mati. Cuma agak nggak nyaman. Kamu harus menahannya."

Setelah suntikan itu, gelombang penderitaan yang belum pernah kurasakan menghantamku. Kulitku memerah dan terasa terbakar. Napasku menjadi pendek dan tersengal.

"A ... apa yang terjadi padanya?" Silvia mundur beberapa langkah.

Dokter Russo memeriksa mataku. "Reaksi alergi parah."

Tubuhku mulai kejang, busa keluar dari mulutku. Aku takut ....

"Selamatkan ... bayiku ...." Aku berhasil mengeluarkan suara tercekat.

Silvia menatap penderitaanku, sempat ragu sejenak, tetapi dia sudah mendengar dokter berkata aku tidak akan mati.

"Kamu pantas mendapatkannya!" Dia menyeringai. "Dasar pelacur!"

Dia menjambak rambutku dan menginjak tanganku dengan tumit sepatunya. Rasa sakit seperti disobek menjalar ke seluruh tubuhku. Aku ingin melawan, tetapi aku sudah tidak punya tenaga. Tubuhku terlalu lemah.

"Satu-satunya tugasku hari ini adalah memastikan kamu nggak melahirkan. Pewaris Keluarga Pandita nggak boleh anak haram."

"Dia bukan anak haram!" Dengan sisa tenaga terakhir, aku memeluk perutku. "Aku sudah bilang, dia anak Darren ...."

Aku merasakan cairan hangat mengalir di antara kakiku.

Itu darah. Darah yang sangat banyak.

"Hentikan ... tolong, hentikan ...."

Dia tidak menghiraukanku, terus menendang dan memukul.

"Garis keturunan Keluarga Pandita nggak boleh ternoda!"

Keputusasaan menyelimutiku. Aku tahu bayiku tidak akan bertahan.

Aku pun sepenuhnya kehilangan kesadaran.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 13

    EpilogSudut Pandang Darren:Peluru itu menembus dadaku. Darah mengucur deras dari luka itu, mewarnai lantai dengan warna merah. Aku terhempas ke beton dingin, kesadaranku perlahan memudar.Namun anehnya, di saat itu, pikiranku justru terasa sangat jernih. Kabut yang selama ini menyelimuti segalanya lenyap.Akhirnya, aku melihat kebenaran.Scarlett tidak pernah mengkhianatiku. Surat-surat itu, foto-foto itu, semuanya adalah tipu daya Anggi.Akulah orang paling bodoh di dunia.Aku teringat Scarlett saat dia hamil. Dia selalu mengusap perutnya dengan lembut, berbicara pelan pada anak kami."Sayang, Papa bekerja sangat keras, tapi dia sangat mencintai kita. Nanti kalau kamu lahir, kita bertiga akan sangat bahagia."Matanya dipenuhi mimpi tentang masa depan. Bagaimana mungkin aku pernah berpikir bahwa kebahagiaan itu palsu?Aku teringat bagaimana dia bangun di tengah malam untuk membuatkan camilan untukku. Meski sedang hamil dan sulit bergerak, dia tetap bersikeras merawatku."Kamu bekerja

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 12

    Malam itu, seluruh bisnis Keluarga Pandita diserang secara bersamaan. Dermaga-dermaga diledakkan, kasino-kasino dihancurkan, dan semua usaha yang biasa membayar uang perlindungan memutuskan hubungan.Darren bersembunyi di sebuah rumah aman, sementara anak buahnya pergi satu per satu, meninggalkannya. Pada akhirnya, hanya sopir setianya, Leo, yang tersisa."Bos, kita harus pergi," desak Leo. "Seluruh orang sedang memburu kita.""Nggak." Darren menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa pergi. Aku harus menebus kejahatanku."Dia menatap foto putranya yang telah disobeknya dari laporan DNA. "Aku membunuh anakku, Leo. Aku membunuh satu-satunya darah dagingku."Leo menghela napas. "Bos, Anda ditipu. Tapi saat itu, Nyonya benar-benar putus asa. Dia sangat terluka.""Bukan ditipu. Tapi bodoh." Suara Darren parau. "Kecurigaanku dan ketidakmampuanku sendiri yang menghancurkan segalanya."Menjelang tengah malam, rumah aman itu dikepung. Yang datang bukan polisi, melainkan para pembunuh bayaran dari k

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 11

    "Bos Stephan, aku salah. Aku benar-benar salah." Darren berlutut di lantai, suaranya bergetar. Darah menetes dari sudut mulutnya, menodai setelan mahal yang dikenakannya.Stephan menatapnya dingin. "Baru sekarang kamu menyadarinya?""Aku bisa jelaskan ...." Darren mendongak, matanya dipenuhi ketakutan. "Aku nggak tahu kalau Scarlett adalah adikmu.""Kalau aku tahu, aku nggak akan pernah ....""Nggak akan pernah apa?" potongku. "Nggak akan pernah menyuntikkanku racun? Nggak akan pernah mengurungku di ruang bawah tanah sampai mati?"Darren menatapku, secercah harapan muncul di matanya. "Scarlett, kita masih punya perasaan satu sama lain.""Aku mencintaimu. Kamu tahu itu."Aku menyeringai. "Cinta?"Vincent mendekat dan berbisik di telingaku. "Bu, kami mendapat kabar penting."Aku mengangguk dan Vincent mengumumkan dengan suara lantang, "Kekasih Anggi, Carlo Baskara, telah diyakinkan ... untuk berbicara. Dia mengaku semuanya.""Mengaku apa?" Wajah Darren langsung berubah.Aku mengeluarkan

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 10

    Darren begitu murka melihat senyum dinginku sampai tak mampu berkata apa-apa. Rahangnya mengatup keras.Aku menatapnya dengan pandangan meremehkan."Cukup," kataku dingin. "Vincent, antar tamu kita keluar.""Nggak ada yang bisa mengusirku," geram Darren, cengkeramannya menguat. "Kamu ikut denganku."Vincent mengeluarkan pistolnya lagi, larasnya diarahkan tepat ke belakang kepala Darren. "Lepaskan Bu Marina."Antonio, bos Keluarga Romana, ikut berdiri, tangannya bertumpu di pinggang. "Pak, kamu sedang mengancam konsultan kami."Bos-bos keluarga lainnya bangkit serempak. Suasana di ruangan itu langsung dipenuhi niat membunuh.Darren menoleh ke sekeliling lalu menyeringai. "Kalian semua total sekali ya. Akting kalian hampir meyakinkan."Tiba-tiba, dia menarikku kasar ke arah pintu. "Tapi aku nggak percaya."Vincent mengokang pistolnya, tetapi aku mengangkat tangan, menghentikannya. "Biarkan dia mencoba."Darren tersenyum penuh kemenangan. "Aku masih yang paling mengenalmu, Scarlett. Kamu

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 9

    "Akhirnya aku menemukanmu." Suara Darren menggema di seluruh ruang konferensi.Semua bos mafia seketika menegang, tangan mereka refleks bergerak ke arah senjata di pinggang masing-masing.Darren melangkah masuk dengan langkah lebar, tatapannya terkunci padaku. "Delapan bulan, Scarlett. Kamu bersembunyi dengan sangat rapi."Aku berdiri perlahan, suaraku tetap tenang. "Pak, kamu salah masuk ruangan.""Salah ruangan?" Darren menyeringai sinis. "Nggak. Justru inilah tempat yang seharusnya."Antonio, bos Keluarga Romana, melirik gugup ke arah penyusup itu, lalu ke arahku. "Bu Marina, apakah kami perlu ... membereskan penyusup ini untukmu?"Dahi Darren langsung berkerut saat mendengar sebutan itu. "Bu Marina?" Dia menatap Antonio tajam. "Kamu panggil dia apa?"Menyadari kesalahannya, Antonio buru-buru menutup mulut.Namun, bos keluarga lain sudah lebih dulu berdiri dan membungkuk hormat ke arahku. "Bu Marina, apa sebaiknya kami meninggalkanmu untuk menyelesaikan urusan ini?"Pupil mata Darre

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 8

    Aku memilih sebidang makam di sebuah pulau untuk bayi kecilku yang telah meninggal. Pulau itu dikelilingi laut yang tenang, damai, dan terasa bebas.Di sana berdiri sebuah nisan marmer putih yang berukir sebuah kalimat. "Pangeran Kecil Keluarga Marina. Dicintai Selamanya."Aku berlutut di hadapan makam itu, jemariku mengusap pelan batu nisan yang dingin. "Maafkan Mama karena nggak bisa melindungimu," bisikku, air mataku menetes membasahi marmer. "Tapi Mama akan membalaskan dendammu."Sejak saat itu, aku menanggalkan seluruh kepolosanku dan mulai belajar mengelola bisnis keluarga dari kakakku. Aku adalah satu-satunya kerabat yang masih hidup. Suatu hari nanti, masa depan Keluarga Marina akan berada di tanganku.Kini aku tak lagi punya gangguan apa pun. Begitu tubuhku pulih sepenuhnya, aku akan resmi masuk ke lingkaran inti.Stephan adalah guru yang keras. Dia tak pernah mengizinkanku menunjukkan kelemahan. "Emosi adalah belenggu bagi yang lemah. Akal adalah senjata bagi yang kuat." Itu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status