Share

Bab 2

Auteur: Shirley
Obat itu terasa seperti mencabik-cabik seluruh sistem sarafku.

Setiap detak jantung terasa seperti ledakan di dadaku.

"Terus pantau kondisinya," kata Darren sambil membenarkan kancing lengan kemejanya, suaranya dingin. "Kalau efeknya mulai hilang, langsung beri dia dosis lain. Dalam keadaan apa pun, anak haram itu nggak boleh lahir sebelum anak Anggi."

"Pewaris Keluarga Pandita haruslah putra Anggi, anak berdarah murni."

"Baik, Bos," jawab Dokter Russo sambil membungkuk hormat.

Mereka bersiap pergi.

Aku menggigit lidahku sendiri, rasa darah yang menyebar di mulut mengejutkanku hingga tersadar sejenak. Dengan sisa tenaga terakhir, aku berteriak, "Darren! Dia anakmu! Aku bisa membuktikannya dengan tes darah!"

Dia berhenti dan perlahan menoleh.

"Kamu pikir aku nggak tahu soal itu?" Dia mencibir. "Kamu memang licik. Memalsukan bukti itu keahlianmu, 'kan?"

Pintu dibanting keras.

Obat itu membuat tangan dan kakiku terasa seperti diberi pemberat timah. Bayi di dalam rahimku seolah-olah merasakan bahaya, kaki kecilnya menendang-nendang dengan panik ke tulang rusukku.

Seakan-akan dia bertanya, "Ibu, kenapa aku nggak boleh keluar?"

Langkah kaki kembali terdengar. Suara sepatu hak tinggi seorang wanita.

Anggi mendorong pintu dan masuk. Dia mengenakan gaun sutra putih, tangannya mengusap lembut perutnya yang membuncit. Dia tampak begitu suci, begitu tak berbahaya.

Namun, aku tahu dia bukan seperti itu. Tidak ada seorang pun yang memercayaiku.

"Kasihan sekali kamu, Scarlett," katanya lembut sambil melangkah pelan mendekat. "Kamu kelihatan sangat kesakitan."

Suaranya manis seperti madu, tetapi dia bahkan tidak berusaha menyembunyikan niat jahat di matanya.

Aku berjuang mengangkat kelopak mataku yang terasa berat untuk menatapnya. Usia kehamilannya tidak sejauh punyaku, tetapi perutnya justru terlihat lebih besar. Pipinya merona, wajahnya memancarkan vitalitas. Jelas dia mendapatkan perawatan medis terbaik.

"Seorang ibu yang setia rela menanggung penderitaan apa pun demi kehormatan keluarga," katanya sambil berjongkok di hadapanku. "Scarlett, kamu selalu ingin membuktikan bahwa kamu nggak bersalah, 'kan? Inilah yang harus kamu tanggung."

Aku ingin berteriak, tetapi lidahku terasa kebas.

Aku hanya mampu memaksakan suku kata yang terputus-putus. "Ter ... ternyata .... Kamu yang menjebakku ...."

Anggi mendekatkan bibirnya ke telingaku, napasnya hangat. "Ya, memang aku. Terus kenapa?"

Dia tersenyum manis. "Tapi Darren percaya padaku."

"Jangan khawatir. Aku akan melahirkan pewaris Keluarga Pandita yang sesungguhnya. Yang darahnya murni."

Tangannya membelai pipiku dengan sentuhan lembut, tetapi kata-kata berikutnya membuat darahku membeku.

"Sedangkan kamu dan anak harammu, akan dilupakan."

"Maafkan aku," katanya dengan nada manis penuh kepalsuan. "Aku mengandung masa depan keluarga ini. Aku nggak bisa berlama-lama di tempat sekotor ini."

Anggi berbalik dan pergi, meninggalkanku tergeletak di lantai yang dingin.

Aku seperti mayat hidup, bahkan tak mampu menggerakkan satu jari pun. Namun, aku masih bisa merasakan gerakan di perutku. Bayiku belum menyerah.

Jangan takut, Nak. Ibu akan melindungimu.

Tak lama kemudian, aku mendengar suara Darren dari balik pintu. "Suntik dia setiap empat jam."

Suara Dokter Russo menyusul. "Bos, dengan dosis seperti ini, itu bisa ...."

"Aku sudah bilang, aku nggak peduli efek sampingnya," potong Darren. "Aib itu nggak boleh lahir."

"Gandakan dosisnya. Aku nggak mau mendengar satu suara pun lagi darinya."

Dokter Russo mengangguk hormat. "Baik, Bos."

Silvia tampak hampir bergetar karena kegirangan, suaranya dipenuhi suka cita yang tak disembunyikan.

"Biar aku yang mengawasi jalang ini, Kak."

"Terserah kamu. Aku harus memastikan Anggi melahirkan dengan selamat."

Setelah menerima perintahnya, Silvia melenggang masuk. Senyum di wajahnya sama sekali tidak bisa disembunyikan. Dia membawa setumpuk surat, masih beraroma parfum pria.

"Lihat ini, kakak ipar manisku." Dia berlutut di hadapanku, menyebarkan kertas-kertas itu. "Anggi menemukan harta-harta kecil ini di meja riasmu."
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 13

    EpilogSudut Pandang Darren:Peluru itu menembus dadaku. Darah mengucur deras dari luka itu, mewarnai lantai dengan warna merah. Aku terhempas ke beton dingin, kesadaranku perlahan memudar.Namun anehnya, di saat itu, pikiranku justru terasa sangat jernih. Kabut yang selama ini menyelimuti segalanya lenyap.Akhirnya, aku melihat kebenaran.Scarlett tidak pernah mengkhianatiku. Surat-surat itu, foto-foto itu, semuanya adalah tipu daya Anggi.Akulah orang paling bodoh di dunia.Aku teringat Scarlett saat dia hamil. Dia selalu mengusap perutnya dengan lembut, berbicara pelan pada anak kami."Sayang, Papa bekerja sangat keras, tapi dia sangat mencintai kita. Nanti kalau kamu lahir, kita bertiga akan sangat bahagia."Matanya dipenuhi mimpi tentang masa depan. Bagaimana mungkin aku pernah berpikir bahwa kebahagiaan itu palsu?Aku teringat bagaimana dia bangun di tengah malam untuk membuatkan camilan untukku. Meski sedang hamil dan sulit bergerak, dia tetap bersikeras merawatku."Kamu bekerja

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 12

    Malam itu, seluruh bisnis Keluarga Pandita diserang secara bersamaan. Dermaga-dermaga diledakkan, kasino-kasino dihancurkan, dan semua usaha yang biasa membayar uang perlindungan memutuskan hubungan.Darren bersembunyi di sebuah rumah aman, sementara anak buahnya pergi satu per satu, meninggalkannya. Pada akhirnya, hanya sopir setianya, Leo, yang tersisa."Bos, kita harus pergi," desak Leo. "Seluruh orang sedang memburu kita.""Nggak." Darren menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa pergi. Aku harus menebus kejahatanku."Dia menatap foto putranya yang telah disobeknya dari laporan DNA. "Aku membunuh anakku, Leo. Aku membunuh satu-satunya darah dagingku."Leo menghela napas. "Bos, Anda ditipu. Tapi saat itu, Nyonya benar-benar putus asa. Dia sangat terluka.""Bukan ditipu. Tapi bodoh." Suara Darren parau. "Kecurigaanku dan ketidakmampuanku sendiri yang menghancurkan segalanya."Menjelang tengah malam, rumah aman itu dikepung. Yang datang bukan polisi, melainkan para pembunuh bayaran dari k

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 11

    "Bos Stephan, aku salah. Aku benar-benar salah." Darren berlutut di lantai, suaranya bergetar. Darah menetes dari sudut mulutnya, menodai setelan mahal yang dikenakannya.Stephan menatapnya dingin. "Baru sekarang kamu menyadarinya?""Aku bisa jelaskan ...." Darren mendongak, matanya dipenuhi ketakutan. "Aku nggak tahu kalau Scarlett adalah adikmu.""Kalau aku tahu, aku nggak akan pernah ....""Nggak akan pernah apa?" potongku. "Nggak akan pernah menyuntikkanku racun? Nggak akan pernah mengurungku di ruang bawah tanah sampai mati?"Darren menatapku, secercah harapan muncul di matanya. "Scarlett, kita masih punya perasaan satu sama lain.""Aku mencintaimu. Kamu tahu itu."Aku menyeringai. "Cinta?"Vincent mendekat dan berbisik di telingaku. "Bu, kami mendapat kabar penting."Aku mengangguk dan Vincent mengumumkan dengan suara lantang, "Kekasih Anggi, Carlo Baskara, telah diyakinkan ... untuk berbicara. Dia mengaku semuanya.""Mengaku apa?" Wajah Darren langsung berubah.Aku mengeluarkan

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 10

    Darren begitu murka melihat senyum dinginku sampai tak mampu berkata apa-apa. Rahangnya mengatup keras.Aku menatapnya dengan pandangan meremehkan."Cukup," kataku dingin. "Vincent, antar tamu kita keluar.""Nggak ada yang bisa mengusirku," geram Darren, cengkeramannya menguat. "Kamu ikut denganku."Vincent mengeluarkan pistolnya lagi, larasnya diarahkan tepat ke belakang kepala Darren. "Lepaskan Bu Marina."Antonio, bos Keluarga Romana, ikut berdiri, tangannya bertumpu di pinggang. "Pak, kamu sedang mengancam konsultan kami."Bos-bos keluarga lainnya bangkit serempak. Suasana di ruangan itu langsung dipenuhi niat membunuh.Darren menoleh ke sekeliling lalu menyeringai. "Kalian semua total sekali ya. Akting kalian hampir meyakinkan."Tiba-tiba, dia menarikku kasar ke arah pintu. "Tapi aku nggak percaya."Vincent mengokang pistolnya, tetapi aku mengangkat tangan, menghentikannya. "Biarkan dia mencoba."Darren tersenyum penuh kemenangan. "Aku masih yang paling mengenalmu, Scarlett. Kamu

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 9

    "Akhirnya aku menemukanmu." Suara Darren menggema di seluruh ruang konferensi.Semua bos mafia seketika menegang, tangan mereka refleks bergerak ke arah senjata di pinggang masing-masing.Darren melangkah masuk dengan langkah lebar, tatapannya terkunci padaku. "Delapan bulan, Scarlett. Kamu bersembunyi dengan sangat rapi."Aku berdiri perlahan, suaraku tetap tenang. "Pak, kamu salah masuk ruangan.""Salah ruangan?" Darren menyeringai sinis. "Nggak. Justru inilah tempat yang seharusnya."Antonio, bos Keluarga Romana, melirik gugup ke arah penyusup itu, lalu ke arahku. "Bu Marina, apakah kami perlu ... membereskan penyusup ini untukmu?"Dahi Darren langsung berkerut saat mendengar sebutan itu. "Bu Marina?" Dia menatap Antonio tajam. "Kamu panggil dia apa?"Menyadari kesalahannya, Antonio buru-buru menutup mulut.Namun, bos keluarga lain sudah lebih dulu berdiri dan membungkuk hormat ke arahku. "Bu Marina, apa sebaiknya kami meninggalkanmu untuk menyelesaikan urusan ini?"Pupil mata Darre

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 8

    Aku memilih sebidang makam di sebuah pulau untuk bayi kecilku yang telah meninggal. Pulau itu dikelilingi laut yang tenang, damai, dan terasa bebas.Di sana berdiri sebuah nisan marmer putih yang berukir sebuah kalimat. "Pangeran Kecil Keluarga Marina. Dicintai Selamanya."Aku berlutut di hadapan makam itu, jemariku mengusap pelan batu nisan yang dingin. "Maafkan Mama karena nggak bisa melindungimu," bisikku, air mataku menetes membasahi marmer. "Tapi Mama akan membalaskan dendammu."Sejak saat itu, aku menanggalkan seluruh kepolosanku dan mulai belajar mengelola bisnis keluarga dari kakakku. Aku adalah satu-satunya kerabat yang masih hidup. Suatu hari nanti, masa depan Keluarga Marina akan berada di tanganku.Kini aku tak lagi punya gangguan apa pun. Begitu tubuhku pulih sepenuhnya, aku akan resmi masuk ke lingkaran inti.Stephan adalah guru yang keras. Dia tak pernah mengizinkanku menunjukkan kelemahan. "Emosi adalah belenggu bagi yang lemah. Akal adalah senjata bagi yang kuat." Itu

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status