LOGINAnoman yang dipercaya kembali oleh Batara Geni memimpin pertarungan terakhir tersebut muncul di atas kubah merah raksasa. Tampangnya yang penuh wibawa itu membuat semua mata tertuju kepadanya.
"Saudara-saudaraku sekalian yang sudah hadir di sini, aku sebagai penengah sekaligus Pembawa acara yang dipercaya oleh Mahadewa Batara Geni, menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran para tamu undangan dari berbagai tempat yang tak bisa aku sebutkan satu persatu. PertaTubuh Gong Yi sempat menempel pada penghalang raksasa Poseidon yang berdiri megah dan mendominasi pandangan semua orang di arena, sebelum akhirnya jatuh dengan keras ke lantai arena yang dingin dan keras. Dalam keberanian yang tersisa dalam dirinya, tangannya masih bergerak berusaha untuk bangkit dari posisi jatuhnya. Namun begitu, dia merasakan rasa sakit yang luar biasa di perutnya, seakan-akan bagian tubuh itu telah hancur berkeping-keping, membuat dirinya benar-benar tak berkutik dan lumpuh oleh rasa sakit yang menular sampai ke seluruh tubuhnya. Perasaan putus asa dan ketidakberdayaan menyelimuti dirinya, menyadari betapa sulitnya untuk bangkit kembali dari kondisinya yang parah tersebut.. Akhirnya dia memilih untuk menyerah karena dirinya tidak bisa bangkit untuk melanjutkan pertarungannya lagi. "Aku kalah hanya dengan satu pukulan saja... Apa-apaan orang ini..." batin Gong Yi. "Pemenang di pertarungan kedua babak satu lawan satu kembali di menangkan Bara Sena dari Kahyangan
Blam! Tubuh Ning Yi menghantam lantai arena dengan keras. Bara Sena masih melayang di udara sambil menatap kearah wanita tersebut. Beberapa bagian tulang belakang wanita itu patah oleh serangan darinya. Semua dewa yang ada disana menyaksikan aura merah menyelimuti tubuh Ning Yi. Tulang yang patah itu secara aneh tersambung kembali membuat mereka semua menatap takjub tak terkecuali dengan Bara Sena yang ada di arena tersebut. "Inikah kekuatan Tiga Teratai Kehidupan?" ucap Dewa Cahaya tersebut. "Benar. Kemampuan ini sangat unik. Bisa menyembuhkan luka separah apa pun dalam waktu singkat selama dia masih menggunakan jurus tersebut. Jadi, selain kecepatan dan serangan yang meningkat hingga tiga kali lipat, kemampuan penyembuhan diri miliknya juga sama. Melawan orang-orang dari Keluarga Ning Yi sangat merepotkan." kata Jiao Fang. "Kemampuan Ning Yi saja sudah sehebat ini, bagaimana dengan para leluhurnya? Pasti tak kalah hebatnya," kata Bara. "Benar Tuan. Leluhur Ning Yi yang sudah m
Sepuluh Dewa itu saling berhadapan di pinggiran arena. Sun Wukong yang menjadi ketua dari kelompok kahyangan utara tertegun menatap kearah Bara dan kawan-kawan nya. "Sepertinya kita sedang bernasib sial... Kalau melawan Kahyangan Timur atau Kuil Naga Api, mungkin kita masih ada sedikit harapan. Tapi... Kenapa kita harus melawan orang-orang gila ini...?" gumam Sun Wukong. "Apakah kita akan menyerah? Sepertinya, melawan satu orang saja akan sulit bagi kita. Apalagi melawan mereka berlima. Kita sudah tahu, seperti apa kekuatan Bara Sena dan Sukma Geni," sahut Hong Xuan berbisik. Dia tak mau ada yang mendengar percakapan memalukan tersebut. Karena secara tidak langsung Hong Xuan telah mengakui kekuatan lawan dan merendahkan dirinya sendiri. Hal itu bukan tanpa sebab. Karena sebelumnya Hong Xuan pernah dipecundangi oleh Bara Sena padahal waktu itu dirinya sudah bersekutu dengan Triton dan Musai. Namun tetap saja, mereka semua tunduk di kaki sang Dewa Cahaya. "Menyerah? Apa itu terlihat
Dua kelompok yang tengah bertarung memperebutkan nilai, saat ini saling berhadapan di tengah arena pertarungan. Oge, Kong Li dan Yukari berdiri di depan Empat dewa naga petir yang tentu saja memiliki kekuatan misterius. Alessa dengan kemampuan berpindah tempat secara singkat, dan tiga rekannya masih menjadi pertanyaan bagi Oge dan rekan-rekannya. "Pertarungan kelompok, DIMULAI!" seru Poseidon. Alessa yang sudah sejak tadi memendam kekesalan, tanpa banyak berpikir langsung melesat kearah Oge yang berada di posisi paling depan. Dewa Kerbau Gila itu menyeringai lebar kemudian mengeluarkan senjata andalan miliknya berupa gada bulat raksasa. Wung! Gada bulat itu menghadang pergerakan Alessa. Namun tiba-tiba saja wanita itu lenyap tepat disaat gada itu menerjang. Dum! Dentuman dahsyat mengawali pertarungan antar kelompok tersebut. Yukari yang merupakan Dewi Phoenix Biru segera merapal kekuatan miliknya untuk melacak tubuh Alessa. Lingkaran biru raksasa pun tercipta setelah mantra s
Tinju Raksasa Basundari menghujam ke lantai arena dengan keras, menciptakan dentuman yang mengguncang dan menyebar ke seluruh penjuru. Suara tersebut menggema dengan dahsyat, diikuti oleh gelombang kekuatan yang sangat kuat sehingga seolah-olah menyeret semua yang ada di sekitarnya, menyapu hingga ke tiap sudut arena pertarungan itu sendiri. Kejadian ini menambah ketegangan dari suasana pertandingan yang sudah mencekam, membuat setiap penonton menahan napas. Alessa yang saat itu tengah berdiri dengan penuh keberanian, langsung merasakan tekanan dahsyat yang tak terhingga dari Medan Pembunuh milik Dewi Raksasa tersebut, seolah-olah ada kekuatan luar biasa yang mendesak dirinya dari segala arah dan membuat udara di sekitarnya menjadi berat dan mencekam. Efek dari kekuatan ini menciptakan suasana yang menakutkan, menimbulkan kengerian yang mengguncangkan jiwanya, seperti berada di bawah bayang-bayang ancaman yang tak terlihat namun sangat nyata."Medan Pembunuh ini tidak hanya mengurang
Aung Ma menatap kearah Alessa yang sudah berada di dalam arena pertarungan. Seringai menghiasi bibir pria tersebut. "Cih, kau sama sombongnya dengan teman bodohmu itu." ucapnya dengan nada sinis.Tak ada suara, tiba-tiba tubuh Alessa lenyap dari pandangan mata membuat Aung Ma terkejut dan langsung menciptakan perisai api yang mengelilingi dirinya.Duar!Terdengar suara ledakan keras dari arah atas perisai. Aung Ma terkejut dan menatap kearah atas. Namun ledakan kembali terjadi di sisi sebelah kanan. Duar!Aung Ma kembali terkejut kemudian menoleh. Namun lagi-lagi dia tak bisa melihat keberadaan lawan. Yang ada hanyalah aura petir di sekitar bekas ledakan."Apa yang tengah dia lakukan dasar bodoh! Serangan mu tak akan mempan pada perisai api milikku!" ucap Aung Ma.Alessa terus menyerang dari berbagai arah dan berbagai titik membuat para penonton bingung dengan apa yang tengah wanita itu lakukan.Berbeda dengan para penonton yang tidak tahu siasat apa yang Alessa rencanakan. Batara
Bara Sena menceritakan semua hal tentang dirinya kepada Dewi Perang Athena. Setelah mendengar hal itu, wanita tersebut tak bisa berkata-kata. Dia sama sekali tak pernah menyangka, dirinya akan berhubungan dengan sosok yang memiliki pengaruh sangat besar di Kahyangan Barat tersebut. Tak hanya di Kah
Bara Sena menatap kearah puncak menara yang tingginya menyentuh awan. Dari jarak sejauh itu, dia bisa melihat satu sosok berpakaian merah, berambut merah panjang tengah membidik kan panah kearah mereka."Serangan datang lagi!" seru Bara membuat semua pengikutnya terkejut.Sosok di atas menara terse
Bara Sena dengan cepat membentuk perisai cahaya di sekelilingnya yang berguna sebagai benteng pelindung dari serangan yang dilancarkan oleh sekumpulan sosok aneh. Blar! Blar! Blar! Dentuman keras terdengar saat tombak-tombak berwarna merah menyala melesat dan menghantam perisai yang bercahaya itu
Dewi Hijau Hamsika berhasil dikalahkan dengan cukup mudah oleh Bara Sena meski wanita itu sudah bersatu dengan ribuan leluhur Dewi Hijau untuk memperoleh kekuatan Ranah Alam Nirwana. Wanita itu akhirnya mau mengakui pemuda tersebut sebagai tuannya yang baru.Dan karena tujuan Bara adalah mencarikan







