Beranda / Young Adult / Gejolak Berbahaya Anak Bos. / Bab 4. Apa yang sedang kamu pikirkan

Share

Bab 4. Apa yang sedang kamu pikirkan

Penulis: Bulandari f
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-24 22:57:14

Bab 4

Delon menatap layar ponselnya cukup lama, seolah pesan itu bisa berubah kalau ia menunggu.

Tapi tetap sama.

"Jam tujuh pagi kamu sudah harus tiba di villa ku."

“Villa? Villa mana lagi…” gumam Delon kesal, mulutnya mencebik, napasnya berat. “Cewek itu makin hari makin aneh… ngatur-ngatur seenaknya.”

Belum sempat rasa kesalnya hilang, ponselnya kembali berbunyi.

"Besok pagi kamu tunggu di depan rumahmu. Akan ada yang jemput."

Delon menutup matanya.

Satu detik. Dua detik.

Tiga detik kemudian ponselnya sudah melayang ke sofa.

“Sialan…” geramnya. “Seenaknya banget dia atur hidup orang.”

Ia ingin marah, ingin teriak, ingin bilang “tidak”—tapi bahkan itu pun tidak bisa.

Bukan sekarang.

Bukan ketika biaya obat-obatan ibunya sudah hampir tidak bisa ia tutupi.

Delon memijit batang hidungnya, mencoba menekan perasaan yang muncul. Marah, kecewa, takut… bercampur jadi satu. Ia tahu persis kondisi dirinya sekarang: dia tidak punya ruang untuk memilih.

“Demi ibu… aku nggak bisa lawan dia.”

Suara itu keluar lirih, hampir seperti bisikan yang ia ucapkan kepada dirinya sendiri.

"Maafkan aku, Bu. Aku terpaksa menjual harga diriku demi uang," ujarnya penuh dengan penyesalan, karena paginya ia sudah ditunggu oleh seorang pria berpakaian rapi berdiri di depan rumah.

Pria itu mengetuk pintu rumah Delon dengan sekali sampai tiga kali ketukan, dan itu benar-benar membuat Delon terpanjat dari tempat duduknya. "Sepagi ini?" tanyanya dengan bola mata melotot. "Aku belum menyelesaikan sarapan ku," lanjutnya sedikit kesal. "Ah." sampai ia membuang nafas kasar, karena mau gak mau dia harus berdiri dan membukakan pintu. "Apa gak bisa menunggu sebentar?" Delon langsung melempar pertanyaan, tapi si pria langsung menoleh ke arah jam tangannya. "Jam tujuh pas, Bu Gelora sudah menunggu," kata-kata yang dikeluarkan oleh si pria.

Delon ingin membantah, tapi tidak tahu harus berkata apa, karena si pria langsung menyuruh Delon masuk ke dalam mobil .

Kaca jendela belakang turun, dan muncul wajah yang sudah ia duga.

Gelora.

Dengan kacamata hitam yang menutupi setengah wajahnya, rambut rapi, dan sikap arogan yang seperti sudah menyatu dengan dirinya.

“Masuk,” katanya singkat.

Tidak ada salam.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada nada ramah.

Hanya *perintah*.

Delon mengembuskan napas panjang, membuka pintu mobil, lalu duduk tanpa komentar. Ia tidak menatap Gelora—tidak sanggup. Karena setiap kali ia menatap gadis itu, ia selalu merasa seperti sedang ditarik ke jurang yang sama sekali tidak ingin ia masuki.

Ketika mobil mulai melaju, Delon akhirnya bicara.

“Kenapa harus ke villa? Ada apa sebenarnya?”

Gelora menurunkan kacamatanya sedikit, menatapnya dari atas bingkai kacamata.

Tatapan itu seperti mengukur Delon, dari kepala sampai kaki.

“Ada yang perlu kita bicarakan,” jawab Gelora santai. “Dan aku nggak suka bicara di tempat ramai.”

Lalu ia melanjutkan, nada suaranya tajam tapi terdengar… rapuh?

“Lagi pula, kamu butuh aku.”

Delon menoleh cepat. “Apa?”

“Kamu butuh uang, Delon.”

Gelora menatap lurus ke depan. “Kamu butuh pekerjaanmu… kamu butuh tetap di perusahaan papaku. Kamu butuh tetap di posisi aman.”

Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya.

Delon mengepalkan tangan, menahan amarah.

“Jadi kamu pikir aku ikut karena takut? Karena aku nggak punya pilihan?” tanya Delon, suaranya bergetar.

Gelora tidak langsung menjawab. Ia menoleh pelan, menatap Delon lebih lama dari biasanya. Tatapan itu aneh… campuran antara ingin marah, ingin memeluk, dan ingin lari di saat yang sama.

“Kamu ikut karena aku bilang begitu.”

Lembut, tapi tegas.

Delon memalingkan wajah, rahangnya mengeras.

Ia benci cara Gelora bicara.

Benci caranya menguasai.

Benci caranya muncul seenaknya dalam hidup Delon.

Tapi pada saat yang sama… ia tidak pernah benar-benar bisa membenci gadis itu sepenuhnya.

Ada sesuatu di balik sikap kasar dan nakalnya.

Sesuatu yang Gelora sembunyikan, bahkan dari dirinya sendiri.

Dan setiap kali Gelora bicara dengan Delon, ada getaran halus di udara—getaran yang tidak pernah muncul ketika ia bersama laki-laki lain yang ia gonta-ganti.

Delon tahu itu.

Gelora tahu itu.

Mereka berdua hanya pura-pura tidak sadar.

Perjalanan terasa panjang sebelum mobil memasuki kawasan villa milik keluarga Gelora—tempat mewah, luas, sepi, terlalu sunyi untuk seseorang seperti Delon.

Sebelum turun, Gelora mendekat sedikit. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter.

Suara Gelora terdengar rendah dan berbahaya.

“Mulai hari ini…”

Ia menahan napas sebentar.

“…aku nggak mau kamu jauh-jauh dari aku.”

Delon merasakan dadanya mengencang. “Kenapa?”

Gelora tersenyum tipis, senyum yang justru terlihat menyakitkan.

“Karena kalau kamu pergi…” ia berhenti, suaranya bergetar sangat halus. “Aku nggak suka.”

Delon menatapnya lama.

Ada ribuan kata yang ingin ia ucapkan.

Tapi ia sadar:

Gelora belum siap mengakui apa pun.

Dan Delon tidak punya kekuatan untuk meninggalkan.

Tidak sekarang. Tidak ketika hidupnya sedang berada di ujung tanduk.

Delon akhirnya menghela napas.

“Setidaknya berikan aku sedikit penjelasan, pekerjaan apa yang kamu tawarkan ke aku?"

Gelora tersenyum simpul, sedikitpun tidak terlihat raut marah di wajahnya yang cantik, hanya tersisa kan raut ketertarikan yang sulit ia ungkapkan ke Delon.

"Apa perlu aku jelaskan?"

Delon menganggukkan kepala. "Yah perlu," lanjutnya.

Gelora tidak buru-buru menjawab, ia justru menyibukkan diri dengan ponselnya. Sampai berbicara dengan seseorang lewat sambungan teleponnya. "Malam ini aku gak bisa, apa? Malam besok?" matanya sesekali menoleh ke arah Delon. "Aku tidak janji juga," lanjutnya.

Delon tidak tahu dengan siapa Gelora bicara, tapi yang Delon tahu yang menelpon seorang pria. Tapi Delon sempat menebak di dalam hatinya. Kalau pria itu adalah pria penghibur Gelora, tapi Delon memilih diam. Hingga akhirnya Gelora berkata ke Delon. "Mereka terlalu obsesi dengan tubuh ku."

Delon melirik sekilas, tidak ada ketertarikan di mata Delon menatap Gelora. "Bagaimana menurut mu, Delon?" Gelora akhirnya bertanya, tapi Delon justru memalingkan wajah.

Gelora kesal, hingga dia menarik badan Delon. "Aku sedang bertanya!" suara Gelora sedikit tegas.

Delon memperbaiki posisi duduk, menatap kornea mata Gelora dengan lekat, tanpa berkedip, seakan tatapan mata itu menunjukkan ketegasan yang sulit dijelaskan oleh kata-kata. "Justru, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ku?"

Gelora kebingungan, tapi akhirnya memahami. "Oh, soal pekerjaan mu?"

Delon menganggukkan kepala.

"Kamu tidak usah kuatir, selagi kamu membuatku senang. Aku pastikan kamu akan mendapatkan apapun yang kamu mau."

Kata-kata membuat ku senang itu justru bergema di pikiran Delon. "Apa dia akan memintaku untuk melayaninya?"

Pikirannya jadi kacau, sampai tidak berani menatap Gelora, tidak sama seperti Gelora yang justru menggenggam erat tangan Delon, membuat jantung Delon berdetak kencang.

"Kamu kenapa, Delon? Kenapa kamu diam?"

Pertanyaan sederhana itu justru membuat Delon langsung mengendikkan bahunya. "Aku tidak bekerja sebagai pria pemuas, kan?"

Gelora membulatkan matanya. "Apa yang sedang kamu pikirkan?"

bersambung

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 51 Cahaya Setelah Badai

    Bab 51Cahaya Setelah BadaiHujan belum benar-benar reda ketika malam itu mereka duduk berhadapan di ruang kerja yang selama ini terasa seperti batas tak kasatmata di antara mereka.Meja kayu besar memisahkan Delon dan Gelora—seperti simbol dari pernikahan mereka selama dua tahun terakhir.Tanpa cinta.Tanpa kejujuran sepenuhnya.Dan penuh perhitungan.Kini, tidak ada lagi yang tersisa untuk disembunyikan.“Apa lagi yang belum kamu ceritakan padaku?” tanya Delon tenang, tetapi suaranya mengandung tekanan.Gelora mengusap wajahnya yang basah air mata.“Aku bertemu Andre satu bulan setelah kontrak pernikahan kita ditandatangani,” ucapnya pelan. “Dia bilang dia tidak akan mengganggu kalau aku memberinya akses proyek ekspansi luar negeri. Aku menolak.”“Lalu?”“Dia menunjukkan bukti transaksi lama Papa yang hampir bermasalah pajak. Itu belum diproses hukum, tapi cukup untuk menjatuhkan reputasi perusahaan.”Delon terdiam.Jadi ini bukan sekadar ambisi.Ini pemerasan berlapis.“Aku pikir k

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 50 Bayangan di Balik Hujan

    Bab 50Bayangan di Balik HujanHujan turun semakin deras ketika mobil Delon melaju membelah malam.Wiper bergerak cepat, tetapi pandangan di kepalanya jauh lebih kabur daripada kaca depan yang terus disapu air. Di sampingnya, Gelora duduk kaku. Ia bersikeras ikut, meski Delon sempat menolaknya.“Aku harus tahu kondisi Ibu,” kata Gelora pelan tadi sebelum mereka berangkat. “Dan… kalau ini memang ada hubungannya dengan Andre… aku tidak akan bersembunyi lagi.”Delon tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu mobil untuknya.Kini, keheningan di antara mereka terasa seperti retakan yang membentang panjang—tidak terlihat, tetapi jelas memisahkan.Pak Rahman tidak ikut. Ia memilih tinggal untuk menghubungi tim hukum secara diam-diam, seperti rencana yang mereka sepakati. Namun sebelum Delon pergi, pria itu sempat menahan lengannya.“Jangan ambil keputusan gegabah,” ucap Pak Rahman tegas. “Kalau ini benar ulah Andre, berarti dia ingin memancing emosi.”Delon hanya mengangguk.Emosi.Itulah satu-s

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 49 Retakan yang Tak Terlihat

    Bab 49Retakan yang Tak TerlihatKeheningan setelah pertanyaan Delon terasa jauh lebih mencekam daripada bentakan apa pun.Tatapan pria itu tajam menembus Gelora, seolah ingin menguliti semua dinding yang selama ini ia bangun rapat. Tidak ada lagi nada dingin yang biasa ia gunakan sebagai pelindung. Kali ini yang muncul adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya—ketegasan bercampur luka.Gelora menelan ludah. Dadanya terasa berat seperti ditindih batu.“Kalau begitu… coba kamu ceritakan sekarang… sebenarnya rahasia apa lagi yang kamu sembunyikan dariku, Gelora?”Suara Delon tenang. Terlalu tenang.Pak Rahman berdiri beberapa langkah dari mereka. Wajah pria paruh baya itu masih dipenuhi emosi yang belum sepenuhnya reda, tetapi kini sorot matanya berubah menjadi waspada—seolah ia juga takut dengan jawaban yang mungkin keluar.Gelora menunduk. Jemarinya saling mengunci erat.“Aku…” suaranya serak.Delon menunggu. Tidak menyela. Tidak mendesak. Namun justru itu membuat tekanan terasa lebih

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 47. Rahasia yang Terbuka

    Bab 48 Badai yang Mulai Meledak Suasana kamar masih terasa pengap setelah telepon dari Andre berakhir. Tidak ada yang berbicara. Hanya suara napas berat yang saling bersahutan di antara tiga orang yang berdiri dalam ketegangan. Gelora menatap lantai, jemarinya saling mencengkeram hingga buku jarinya memutih. Sementara Delon berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya keras, tetapi matanya jelas dipenuhi pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Pak Rahman akhirnya memecah keheningan. “Apa maksud Andre dengan permainan belum selesai?” Gelora langsung mengangkat wajah. “Aku tidak tahu, Pa.” Pak Rahman mendengus. “Kamu yakin?” “Aku bilang aku tidak tahu!” suara Gelora meninggi, emosinya mulai meledak. Delon menoleh pelan ke arahnya. “Gelora… kamu masih berhubungan dengan dia?” “Tidak!” jawab Gelora cepat. “Jangan jawab cepat. Jawab jujur,” suara Delon datar, tapi tajam seperti pisau. Gelora terdiam sesaat. Matanya mulai memerah. “Aku… sudah memutuskan semuanya sejak aku menik

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 46

    Bab 46Peran yang Terlalu Nyata**Kalimat Gelora terhenti di udara.“Tapi Delon, apa kamu…?”Ia tidak menyelesaikannya. Bibirnya bergetar, dadanya naik turun. Pertanyaan itu terlalu berat untuk diucapkan penuh, seolah jika diteruskan, sesuatu yang rapuh akan runtuh selamanya.Delon menatapnya. Lama. Tatapan itu bukan tatapan marah, bukan pula dingin. Ada kelelahan yang dalam di sana—lelaki yang terlalu lama menahan beban, terlalu sering menjadi kuat padahal hatinya tidak pernah benar-benar pulih.“Apa?” tanya Delon akhirnya, suaranya pelan tapi waspada.Gelora mengangkat wajahnya. Matanya merah, bukan hanya karena tangis, tapi karena luka yang belum pernah benar-benar sembuh.“Apa kamu akan benar-benar pergi… kalau suatu hari aku berhenti pura-pura kuat?” tanyanya lirih.Delon terdiam.Pertanyaan itu sederhana, tapi menghantam lebih keras dari tuduhan apa pun.Ia memalingkan wajah sesaat, lalu kembali menatap Gelora. “Showing weakness isn’t the problem, Gel,” katanya pelan. “Yang aku

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 45

    Bab 45Sunyi menyelimuti kamar itu setelah pintu tertutup keras. Hanya isak Gelora yang tersisa, memantul di dinding-dinding dingin yang selama ini menjadi saksi pernikahan tanpa cinta.Gelora masih terduduk di lantai, memeluk lututnya. Dadanya naik turun, napasnya tidak teratur. Amarah, kecewa, dan harga diri yang tercabik bercampur jadi satu.Beberapa menit berlalu.Pintu kamar terbuka kembali.Gelora mendongak cepat. Delon berdiri di ambang pintu. Wajahnya lelah, matanya merah, namun langkahnya mantap saat mendekat.“Apa lagi?” suara Gelora serak, dingin, penuh pertahanan.Delon berhenti di hadapannya. Ia menghela napas panjang, lalu menunduk sedikit agar sejajar dengan tatapan Gelora.“Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. “Aku minta maaf… kalau aku salah di matamu.”Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Gelora terdiam.Amarah yang sejak tadi membara seolah kehilangan bahan bakarnya. Gelora menelan ludah, matanya berkedip beberapa kali, berus

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status