LOGIN“Surat Perintah – Penunjukan Sekretaris Pribadi CEO”.
Lilyan menahan napas saat membaca surat perintah tersebut. Ia resmi diangkat menjadi sekretaris pribadi Rega. Hatinya berdebar. Ini berarti ia akan lebih sering berinteraksi dengan Rega, bahkan tiap hari. "Ada apa Ly, apa isi surat itu?" suara Vano terdengar tegang. Matanya menatap surat yang ada di tangan Lilyan. "Pak Rega mengangkatku jadi sekretaris pribadinya," jawab Lilyan dengan tegang. “Apa maksudnya? Kamu jadi sekretaris pribadi Rega?!” Lilyan menoleh, gugup. “Ya, sayang., aku juga tidak tahu kenapa Pak Rega memilihku." "Aku tidak terima Ly... Bagaimanapun juga kau adalah sekretarisku, Rega tidak bisa seenaknya saja mengambil sekretarisku!" Vano menahan geram. Dia berdiri dan melangkah keluar dari dalam ruangan Lilyan. "Mau kemana, Mas?" Lilyan berteriak pelan namun Vano tidak menggubrisnya. Lelaki itu berjalan cepat menuju ruangan Rega. BRAAKK! Dengan penuh amarah Vano membuka pintu, Namun sepertinya Rega tidak terkejut sama sekali. "Rega! Kenapa kau seenaknya saja menunjuk Lilyan sebagai sekretaris pribadimu?! Kau tahu kan kalau dia sekretarisku?" Napas Vano memburu menahan amarah. Rega yang duduk di belakang mejanya menatap Vano dengan mata tajam, dingin dan menusuk. Tidak ada sedikit pun rasa takut atau bersalah. Ia menekankan setiap kata dengan nada tegas dan tenang. "Aku CEO perusahaan ini, Vano. Aku berhak menunjuk siapa pun untuk menjadi sekretaris pribadiku. Kebetulan posisi itu sedang kosong, dan aku memilih Lilyan untuk mengisinya." Vano terkejut, wajahnya memerah oleh rasa marah dan frustrasi. Ia melangkah lebih dekat pada pada Rega. "Tapi ini tidak adil! Aku tidak bisa menerima ini!” Rega bersandar di kursinya, matanya menatap Vano dingin seperti es. Suara yang keluar rendah, tenang dan penuh wibawa. “Kalau kau bersikeras menolak, silakan mengundurkan diri dari perusahaan ini. Aku tidak butuh orang yang membangkang perintahku." "Kau tidak boleh berbuat senakmu, Rega! Akan aku laporkan hal ini pada Papa!" teriak Vano tak terima. Dalam sekejap, ketegangan memenuhi ruangan. Rega berdiri, tubuh tegap, aura dominannya begitu jelas membuat Vano sedikit gentar. "Silakan saja, tapi aku rasa Papa tidak akan masalah jika aku menjadikan Lilyan sebagai sekretarisku." Rega tersenyum tipis, penuh kemenangan. Vano menghela napas, menatap Rega penuh kebencian. Ia tahu Rega tidak mungkin mengubah keputusannya begitu saja. Rega keras kepala dan sulit untuk dihadapi. “Kau selalu… merasa lebih berkuasa dari orang lain, Rega,” ucapnya dengan nada getir. "Kenyataannya memang begitu, bukan?" Rega mengangkat sebelah alisnya. Tersenyum tipis dan dingin. Vano kehilangan kata-katanya. Ia tak mungkin menang melawan Rega. Akhirnya ia berbalik badan dan pergi dari ruangan itu. "Sialan! Awas saja kalau kau berani merebut Lilyan dariku," gerutu Vano penuh amarah. Di ruangan lainnya, Lilyan masih terpaku menatap surat penugasan itu. Masih tak percaya kalau ia akan menjadi sekretaris pribadi Rega, apalagi setelah kejadian malam itu. "Tidak bisa, aku harus bicara dengannya." Lilyan berdiri dan bergegas menuju ruangan Rega. Suasana ruangan CEO itu begitu tenang, namun juga menegangkan. Dinding kaca memantulkan cahaya matahari pagi, dan Rega sudah berkutat dengan pekerjaannya sepagi itu. “Pak Rega, saya ingin bicara...” suara Lilyan terdengar pelan tapi tegas. "Silakan." Rega mengangkat wajahnya, dia nampak tenang sekaligus dingin menyeramkan. Lilyan menelan ludah, menahan getaran di suaranya. "Begini Pak, saya tidak siap untuk menjadi sekretaris pribadi Bapak. Saya menolak tegas pengangkatan ini." Dengan berani Lilyan angat bicara. Alis Rega terangkat sedikit. Ia tak percaya pada penolakan yang dilakukan oleh Lilyan. “Menolak?” “Ya,” jawab Lilyan cepat. “Saya… saya hanya ingin memastikan bahwa keputusan itu tidak ada hubungannya dengan kejadian tadi malam.” Hening. Ruangan seolah membeku sesaat. Tatapan Rega berubah tajam, namun bibirnya tersungging samar. Bukan senyum hangat, melainkan senyum tipis yang sulit diartikan. Ia menatap Lilyan cukup lama, lalu akhirnya bersuara pelan, dalam, tapi tegas. “Kalau kau berpikir aku melakukan ini karena kejadian tadi malam, maka kau salah besar, Lilyan.” Ia berhenti sejenak, memberi jeda di antara napas. “Aku hanya menunjuk seseorang yang kuanggap kompeten. Tidak lebih, tidak kurang," lanjutnya lagi. Lilyan menunduk, mencoba menyembunyikan rona merah di wajahnya. “Tapi—” “Dan bukankah kau sendiri yang memintaku untuk melupakan kejadian malam itu? Untuk menganggap seolah tidak pernah terjadi apa pun di antara kita?” Rega memotong cepat, suaranya rendah tapi menusuk. Kata-kata itu menghantam Lilyan seperti sembilu. Dadanya terasa sesak, jantungnya berdetak cepat. Ia tak menyangka, mendengar kalimat itu justru membuat hatinya mencelos begitu dalam. Entah kenapa, bagian dirinya yang paling rapuh seolah menolak untuk mendengar Rega benar-benar melupakannya. Namun ia segera menegakkan bahu, menahan emosi yang bergejolak. "Baik, kalau begitu… saya mengerti.” "Bagus,” katanya datar. “Mulai hari ini, pindahkan semua barangmu ke ruangan barumu. Aku ingin kau mulai bekerja sebagai sekretarisku saat ini juga.” Lilyan mengangguk pelan. “Baik, Pak.” Langkah kakinya terdengar pelan saat ia berbalik meninggalkan ruangan itu. Tapi setiap langkah terasa berat, seakan ada beban besar yang ia pikul di pundaknya. Rega menyandarkan tubuhnya di kursi, menghela napas panjang. Ekspresi dinginnya perlahan memudar, berganti dengan seringai tipis yang samar. "Lilyan, kita akan lihat sampai dimana kau akan bertahan," gumam Rega pelan penuh arti. Jemarinya berketuk pelan di atas meja. Pria itu menghela napasnya, tak sabar ingin memulai harinya bersama Lilyan. Sementara itu, Lilyan mulai mengemas barangnya. Rasanya aneh jika harus bekerja sebagai sekretaris pribadi calon kakak ipar sendiri. Apalagi setelah kejadian malam itu, ia yakin hubungan mereka tak akan lagi sama. "Kau tenang saja Ly, aku akan cari cara untuk membatalkan keputusan ini," ucap Vano yang tiba-tiba datang dari arah belakang. Lilyan hanya tersenyum tipis. Ia ragu kalau usaha Vano itu akan berhasil. Rega benar, ia punya hak untuk menunjuk siapapun untuk jadi sekretarisnya, termasuk dirinya. "Terima kasih sebelumnya Mas, aku ke ruanganku dulu." Lilyan mengangkat sebuah bok besar berisi barang-barang miliknya dan pergi meninggalkan Vano yang masih berdiri kaku menatapnya.Vano berdiri di balik meja kerjanya yang luas, menatap pantulan dirinya di dinding kaca ruang direksi. Jas mahal itu terasa pas di tubuhnya, seolah kursi direktur utama memang sudah lama menunggunya. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya—senyum kemenangan yang selama ini ia impikan. Rapat dewan direksi baru saja usai. Tak satu pun dari mereka membantah keputusannya. Bahkan beberapa anggota dewan yang dulu terang-terangan mendukung Rega kini mulai condong padanya. Vano tahu, kepercayaan itu belum sepenuhnya tulus, tapi cukup untuk membuatnya berkuasa. “Keputusan yang berani, Pak Vano,” ujar salah satu direktur senior sebelum meninggalkan ruangan. “Perusahaan butuh pemimpin yang fokus, bukan yang sibuk dengan urusan pribadi.” Vano hanya mengangguk tenang, meski di dalam dadanya ada kepuasan yang membuncah. Nama Rega tak lagi disebut dengan hormat—melainkan sebagai contoh kegagalan. Dan itu membuatnya semakin percaya diri. Begitu pintu ruang rapat tertutup, Vano melonggarkan das
Apartemen itu masih sama, megah dan dingin, tetapi bagi Lilyan rasanya begitu asing. Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti sejenak. Kenangan lama menyeruak. Dimana ia pernah menghabiskan waktunya bersama Rega di apartemen mewah itu. Dan kali ini dia kembali menjejakkan lagi kakinya di sana. Sebagai kekasih resmi Rega. "Masuklah dan tinggallah di sini, jangan pergi lagi." Rega membawa Lilyan masuk ke dalam. “Pelan,” ucap Rega lirih. “Dokter bilang kamu belum boleh banyak bergerak.” Lilyan mengangguk, meski sebenarnya ia ingin berkata bahwa ia baik-baik saja. Tapi kali ini ia tak boleh egois, mungkin ia kuat tapi bayi dalam kandungannya belum tentu. Bu Laras ikut masuk di belakang mereka. Matanya menyapu apartemen luas itu dengan perasaan campur aduk. Ia masih sulit mencerna kenyataan bahwa putrinya mengandung anaknya Rega. Sebuah kenyataan yang masih sulit ia terima. Saat Rega meminta dirinya ikut tinggal sementara, Bu Laras tak sanggup menolak—demi Lilyan, demi cucuny
Sore itu, Gina duduk di salah satu sudut restoran favoritnya dengan Vano. Sore itu ia sengaja ingin bernegosiasi lagi dengan Vano. Tak lama kemudian, Vano datang dengan ekspresi datar. Ia melangkah menuju meja tempat Gina duduk dan langsung menjatuhkan diri ke kursi di depannya. Tatapannya dingin, tidak ada senyum, tidak ada sapaan hangat. “Ada apa?” tanya Vano sambil membuka jasnya. Gina menelan ludah. Ia mencoba tersenyum, meski gugup tak tertahankan. “Aku sebentar lagi mau melahirkan Mas,” ucapnya akhirnya, lirih tapi jelas. Ia menatap wajah Vano, mencoba menangkap reaksi yang akan keluar dari sana. Namun, bukannya terkejut atau bahagia, Vano malah mengernyit. Wajahnya berubah gelap, dan dagunya terangkat tinggi. "Terus, apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Vano dengan sikapnya yang masih dingin. Gina menahan napasnya sejenak. Melihat sikap Vano yang seperti ini ia ragu apakah ini saat yang tepat untuk meminta pertanggung jawaban atau bukan. Namun Gina masih ingin ber
Mobil ambulans rumah sakit swasta itu melaju dengan pengawalan ketat. Rega duduk di samping ranjang dorong Lilyan, matanya tak lepas dari wajah pucat wanita yang selama berbulan-bulan ia cari tanpa henti. Tangannya menggenggam jemari Lilyan erat, seolah takut jika ia lengah sedikit saja, Lilyan akan kembali menghilang dari hidupnya. Begitu tiba, tim medis langsung bergerak cepat. Lilyan segera dipindahkan ke ruang perawatan intensif khusus ibu hamil berisiko tinggi. Rega terpaksa melepaskan genggaman tangannya ketika dokter meminta keluarga menunggu di luar. Langkah Lilyan menjauh di balik pintu kaca itu membuat dada Rega terasa seperti diremas kuat. Ia berdiri kaku di lorong rumah sakit yang dingin. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rega berdoa dengan sungguh-sungguh. Bukan untuk perusahaan, bukan untuk jabatannya, melainkan untuk dua nyawa yang kini menjadi segalanya baginya. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dan menjelaskan kondisi Lilyan. Tubuhnya sangat kelelahan
Tangannya menerima sebuah kartu identitas yang sedikit lecek. Rega hampir saja menyerahkannya kembali tanpa membaca, namun entah kenapa pandangannya tertahan pada satu foto. Foto Lilyan yang begitu jelas. Dunia seolah berhenti berputar. Jari-jarinya bergetar hebat saat membaca ulang nama itu, memastikan matanya tidak salah. Alamat kontrakan, usia, dan keterangan lain terasa kabur, seolah huruf-hurufnya menari di depan mata. Tapi satu hal tak terbantahkan—nama itu adalah nama yang selama berbulan-bulan ia cari sampai hampir kehilangan kewarasan. “Ini… pasiennya?” suaranya serak, nyaris tak keluar. Petugas mengangguk cepat. “Iya, Pak. Kondisinya lemah sekali. Hamil besar, kemungkinan dehidrasi dan kurang nutrisi. Kami sedang berusaha menstabilkan.” Kata hamil menghantam Rega tanpa ampun. Dadanya sesak, napasnya tercekat. Kakinya terasa lemas, namun ia memaksa bergerak. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Rega berlari menyusuri lorong rumah sakit, mengikuti arah tandu yang b
Beberapa bulan kemudian. Hari itu udara terasa lebih berat dari biasanya ketika Lilyan melangkah keluar dari sebuah klinik kandungan sederhana di sudut kota. Bau obat-obatan masih menempel di hidungnya, bercampur dengan rasa sesak yang sejak tadi menekan dadanya. Tangannya menggenggam erat hasil pemeriksaan yang baru saja ia terima, kertas tipis yang seolah memiliki bobot jauh lebih berat dari seharusnya. Dokter tadi berbicara dengan nada hati-hati, namun setiap kata tetap terasa seperti pukulan. Bayinya kekurangan nutrisi. Kondisi tubuh Lilyan terlalu lelah, terlalu dipaksa bekerja, hingga berdampak pada kesehatan janin yang dikandungnya. Ia disarankan untuk banyak istirahat, memperbaiki asupan makanan, dan mengurangi aktivitas berat. Saran yang terdengar mustahil bagi Lilyan. Langkahnya terhenti di pinggir trotoar. Ia menunduk, satu tangannya perlahan menyentuh perutnya yang mulai membesar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, satu demi satu, tanpa suara.







