LOGINSuara mesin mobil sport itu berhenti di halaman luas rumah keluarga Angkasa. Rega turun dengan langkah mantap, jas kerjanya masih rapi, wajahnya tetap dingin dan tanpa senyum. Rumah besar yang dulu terasa seperti istana, kini baginya hanya bangunan yang dingin tanpa kehangatan yang pernah ia rasakan ketika ibunya masih hidup.
Dari arah ruang makan, terdengar suara lembut yang memanggilnya. Tanpa menoleh ia tahu siapa wanita yang memanggilnya itu. Dia adalah Fatma. Ibu tiri Rega sekaligus ibu kandung Vano. Ayahnya, Pak Hartawan menikah lagi setelah ibunya meninggal. Dan sampai detik ini ia tidak pernah menganggap Fatma ibunya. “Rega... kau sudah pulang?” Bu Fatma, wanita paruh baya berwajah cantik yang masih terlihat muda di usianya segera berdiri menyambut kedatangan Rega. Sementara Pak Hartawan sedang minum air putih miliknya. "Kebetulan kau datang, ayo kita makan bersama," ajak Bu Fatma antusias, tangannya melambai ke arah Rega yang masih berdiri acuh. “Papa sudah lama menunggumu, Nak. Kita makan bersama ya. Mama masak makanan kesukaanmu malam ini,” ucap Bu Fatma manis sambil menepuk pelan lengan suaminya, seolah ingin menunjukkan bahwa ia adalah istri yang penuh kasih. Namun tidak ada ekspresi tertarik di wajah Rega. Dia hanya melirik sekilas ke arah mereka dengan tatapan dingin. “Aku sudah makan, kalian makan saja tanpaku seperti biasanya. Tidak usah sok peduli.” Nada suaranya datar, tapi cukup membuat udara di ruangan itu menegang. Pak Hartawan mengalihkan pandangannya ke arah Rega, menatap anaknya dengan alis berkerut. “Rega! Jangan bicara seperti itu pada ibumu!" Rega berhenti di anak tangga pertama, lalu menoleh pelan. Tatapan tajamnya menembus seperti bilah baja. “Dia bukan ibuku,” ucapnya dingin. Wajah Bu Fatma menegang sepersekian detik, tapi dengan cepat ia pasang lagi senyum lembutnya. “Rega, Mama tahu kau masih belum bisa menerima Mama, tapi—” “Sudah malam. Aku capek. Aku mau istirahat.” Rega memotong, suaranya rendah tapi tajam. “Sikap kamu itu tidak bisa dibiarkan terus, Rega! Fatma itu istri Papa. Kamu harus hormat padanya!” Pak Hartawan berdecak kesal, wajahnya masam. Rega memutar bola matanya jengah, dengan enggan ia kembali menoleh pada ayahnya. "Dia memang istri Papa tapi dia bukan ibuku, dan itu tak akan pernah berubah sampai kapanpun," tegas Rega tanpa bisa dibantah lagi. Suasana ruangan hening sesaat. Hanya terdengar helaan napas berat dari Pak Hartawan yang jelas-jelas menahan emosi. "Sudahlah Mas, jangan dipermasalahkan lagi. Aku mengerti kalau Rega masih belum bisa menerima kehadiranku di rumah ini." Bu Fatma berkata lembut dan mengusap punggung suaminya untuk memenangkan. "Anak itu makin kurang ajar,” gumamnya. Bu Fatma menunduk sedikit, wajahnya menampilkan kesedihan. “Sudahlah, jangan diambil hati. Aku yakin suatu hari nanti, Rega akan sadar kalau aku tulus sayang sama dia.” Pak Hartawan menarik napas panjang. “Aku lelah dengan sikapnya. Tapi ya sudahlah, mungkin kau benar. Aku juga sudah tua, tidak mau meributkan soal ini." Bu Fatma mengangguk, duduk di sebelah suaminya. Setelah beberapa detik, ia menatap pelan wajah Pak Hartawan. “Mas...” suaranya pelan tapi penuh perhitungan. “Aku kepikiran, bagaimana kalau kita mulai memberi Vano tanggung jawab lebih di kantor? Dia anak yang sopan, rajin, dan bisa dipercaya. Aku lihat akhir-akhir ini kau makin sibuk, sementara Rega... ya kau tahu sendiri, dia susah diatur.” "Akan aku pikirkan nanti." Pak Hartawan menatapnya dengan ekspresi datar. "Aku mengerti, Mas. Tapi kalau kau memberi dia kesempatan, aku yakin dia bisa membuktikan kalau dia mampu. Dia selalu berusaha keras untuk bisa diakui olehmu." Pak Hartawan diam, tidak langsung menjawab. Ia meneguk air di gelasnya, lalu berdiri. “Kita bahas itu nanti saja, Fatma. Aku mau istirahat.” “Baik, Mas,” jawab Bu Fatma lembut, menunduk sopan. Tapi begitu pria itu berjalan menuju kamarnya, senyum di bibir Bu Fatma berubah perlahan, menjadi senyum dingin penuh perhitungan. Tangannya mengusap lembut permukaan meja makan sambil berbisik pelan, hampir seperti diri sendiri. “Tenang saja, sayang... cepat atau lambat, semua yang Rega punya akan jadi milikmu, Vano.” Lampu ruang makan meredup, meninggalkan bayangan wajah wanita itu yang tersenyum licik di balik topeng kelembutan. --- Suasana pagi di lantai tertinggi kantor Angkasa Group terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Langit Jakarta masih diselimuti kabut tipis, tapi jantung Lilyan berdetak kencang seolah ia sedang berlari. Hari ini, ia resmi bekerja sebagai sekretaris pribadi Rega Angkasa. Namun sialnya dia malah bangun kesiangan padahal pagi ini Rega ada rapat dengan para staff. Lilyan menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu ruang CEO itu. Tok… tok… tok. “Masuk,” suara berat itu terdengar dari dalam. Ia membuka pintu perlahan. “Selamat pagi, Pak,” ucap Lilyan hati-hati. Rega menoleh sekilas, lalu duduk di kursinya tanpa menjawab sapaan itu. “Kau datang terlambat. Duduk.” Nada suaranya datar. Lilyan duduk di kursi seberang meja. Tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Ia berusaha keras menahan diri untuk tidak terlihat gugup. "Maaf, saya ada urusan mendadak tadi." Lilyan memberi alasan. "Kau kira aku akan menerima alasan klise itu? Kau sudah menghambat jadwal rapatku." “Maaf Pak Rega, saya sudah kirimkan jadwal rapat hari ini ke email Anda, Pak,” ucapnya pelan. "Tapi tetap saja, itu bukan alasan kau bisa datang terlambat ke kantor. Aku paling tidak suka dengan karyawan yang sering telat." Rega mendengus pelan. "Baru kali ini saya telat Pak Rega." Lilyan menggigit bibirnya. Dia kesal kenapa tadi malam dia tidak bisa tidur? Bayangan wajah Rega selalu saja menghantuinya. "Oke, kali ini kau kumaafkan tapi jika lain kali kau telat lagi maka akan ada hukuman buatmu." "Hukuman apa? Apa gaji saya akan dipotong?" Lilyan membelalak. Rega tersenyum miring. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Lilyan. Gadis cantik itu mengangkat wajahnya dan menghalau tatapan tajam Rega yang kini berdiri bersandar pada meja di dekatnya. "Aku tidak peduli soal uang. Ada hukuman yang lebih pantas untuk kau dapatkan." "Hukuman apa maksud Bapak?" Alis Lilyan terangkat dengan wajah bingung. "Kau harus mau aku cium." Dengan entengnya Rega berkata membuat kedua pipi Lilyan memerah. "Jangan ngaco Pak, saya tidak akan pernah mau melakukan itu." Lilyan mendengus pelan. Ia bediri dan bermaksud pergi dari hadapan Rega. Namun tangan Rega menahannya dengan cepat. Menghentaknya dengan cukup kencang hingga tubuh Lilyan membentur dada bidang pria itu. Kedua mata Lilyan membola saat beradu dengan mata emang Rega. "Le—lepaskan saya Pak!" Lilyan berkata lirih. "Aku bisa membaca sorot matamu Lilyan, sebenarnya kau menyukaiku kan?" Tebak Rega. DEG! Jantung Lilyan berdebar tak karuan. Tidak mungkin dia menyukai Rega. "Jangan ngaco! Saya tidak mungkin menyukai Bapak." Setelah kesadarannya pulih, Lilyan pun segera menyangkal. Rega tersenyum tipis mendengarnya. Lalu tangannya mengangkat dagu gadis cantik itu. "Apa kamu yakin tidak mau menerimaku? Aku lebih baik dari Vano."Vano berdiri di balik meja kerjanya yang luas, menatap pantulan dirinya di dinding kaca ruang direksi. Jas mahal itu terasa pas di tubuhnya, seolah kursi direktur utama memang sudah lama menunggunya. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya—senyum kemenangan yang selama ini ia impikan. Rapat dewan direksi baru saja usai. Tak satu pun dari mereka membantah keputusannya. Bahkan beberapa anggota dewan yang dulu terang-terangan mendukung Rega kini mulai condong padanya. Vano tahu, kepercayaan itu belum sepenuhnya tulus, tapi cukup untuk membuatnya berkuasa. “Keputusan yang berani, Pak Vano,” ujar salah satu direktur senior sebelum meninggalkan ruangan. “Perusahaan butuh pemimpin yang fokus, bukan yang sibuk dengan urusan pribadi.” Vano hanya mengangguk tenang, meski di dalam dadanya ada kepuasan yang membuncah. Nama Rega tak lagi disebut dengan hormat—melainkan sebagai contoh kegagalan. Dan itu membuatnya semakin percaya diri. Begitu pintu ruang rapat tertutup, Vano melonggarkan das
Apartemen itu masih sama, megah dan dingin, tetapi bagi Lilyan rasanya begitu asing. Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti sejenak. Kenangan lama menyeruak. Dimana ia pernah menghabiskan waktunya bersama Rega di apartemen mewah itu. Dan kali ini dia kembali menjejakkan lagi kakinya di sana. Sebagai kekasih resmi Rega. "Masuklah dan tinggallah di sini, jangan pergi lagi." Rega membawa Lilyan masuk ke dalam. “Pelan,” ucap Rega lirih. “Dokter bilang kamu belum boleh banyak bergerak.” Lilyan mengangguk, meski sebenarnya ia ingin berkata bahwa ia baik-baik saja. Tapi kali ini ia tak boleh egois, mungkin ia kuat tapi bayi dalam kandungannya belum tentu. Bu Laras ikut masuk di belakang mereka. Matanya menyapu apartemen luas itu dengan perasaan campur aduk. Ia masih sulit mencerna kenyataan bahwa putrinya mengandung anaknya Rega. Sebuah kenyataan yang masih sulit ia terima. Saat Rega meminta dirinya ikut tinggal sementara, Bu Laras tak sanggup menolak—demi Lilyan, demi cucuny
Sore itu, Gina duduk di salah satu sudut restoran favoritnya dengan Vano. Sore itu ia sengaja ingin bernegosiasi lagi dengan Vano. Tak lama kemudian, Vano datang dengan ekspresi datar. Ia melangkah menuju meja tempat Gina duduk dan langsung menjatuhkan diri ke kursi di depannya. Tatapannya dingin, tidak ada senyum, tidak ada sapaan hangat. “Ada apa?” tanya Vano sambil membuka jasnya. Gina menelan ludah. Ia mencoba tersenyum, meski gugup tak tertahankan. “Aku sebentar lagi mau melahirkan Mas,” ucapnya akhirnya, lirih tapi jelas. Ia menatap wajah Vano, mencoba menangkap reaksi yang akan keluar dari sana. Namun, bukannya terkejut atau bahagia, Vano malah mengernyit. Wajahnya berubah gelap, dan dagunya terangkat tinggi. "Terus, apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Vano dengan sikapnya yang masih dingin. Gina menahan napasnya sejenak. Melihat sikap Vano yang seperti ini ia ragu apakah ini saat yang tepat untuk meminta pertanggung jawaban atau bukan. Namun Gina masih ingin ber
Mobil ambulans rumah sakit swasta itu melaju dengan pengawalan ketat. Rega duduk di samping ranjang dorong Lilyan, matanya tak lepas dari wajah pucat wanita yang selama berbulan-bulan ia cari tanpa henti. Tangannya menggenggam jemari Lilyan erat, seolah takut jika ia lengah sedikit saja, Lilyan akan kembali menghilang dari hidupnya. Begitu tiba, tim medis langsung bergerak cepat. Lilyan segera dipindahkan ke ruang perawatan intensif khusus ibu hamil berisiko tinggi. Rega terpaksa melepaskan genggaman tangannya ketika dokter meminta keluarga menunggu di luar. Langkah Lilyan menjauh di balik pintu kaca itu membuat dada Rega terasa seperti diremas kuat. Ia berdiri kaku di lorong rumah sakit yang dingin. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rega berdoa dengan sungguh-sungguh. Bukan untuk perusahaan, bukan untuk jabatannya, melainkan untuk dua nyawa yang kini menjadi segalanya baginya. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dan menjelaskan kondisi Lilyan. Tubuhnya sangat kelelahan
Tangannya menerima sebuah kartu identitas yang sedikit lecek. Rega hampir saja menyerahkannya kembali tanpa membaca, namun entah kenapa pandangannya tertahan pada satu foto. Foto Lilyan yang begitu jelas. Dunia seolah berhenti berputar. Jari-jarinya bergetar hebat saat membaca ulang nama itu, memastikan matanya tidak salah. Alamat kontrakan, usia, dan keterangan lain terasa kabur, seolah huruf-hurufnya menari di depan mata. Tapi satu hal tak terbantahkan—nama itu adalah nama yang selama berbulan-bulan ia cari sampai hampir kehilangan kewarasan. “Ini… pasiennya?” suaranya serak, nyaris tak keluar. Petugas mengangguk cepat. “Iya, Pak. Kondisinya lemah sekali. Hamil besar, kemungkinan dehidrasi dan kurang nutrisi. Kami sedang berusaha menstabilkan.” Kata hamil menghantam Rega tanpa ampun. Dadanya sesak, napasnya tercekat. Kakinya terasa lemas, namun ia memaksa bergerak. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Rega berlari menyusuri lorong rumah sakit, mengikuti arah tandu yang b
Beberapa bulan kemudian. Hari itu udara terasa lebih berat dari biasanya ketika Lilyan melangkah keluar dari sebuah klinik kandungan sederhana di sudut kota. Bau obat-obatan masih menempel di hidungnya, bercampur dengan rasa sesak yang sejak tadi menekan dadanya. Tangannya menggenggam erat hasil pemeriksaan yang baru saja ia terima, kertas tipis yang seolah memiliki bobot jauh lebih berat dari seharusnya. Dokter tadi berbicara dengan nada hati-hati, namun setiap kata tetap terasa seperti pukulan. Bayinya kekurangan nutrisi. Kondisi tubuh Lilyan terlalu lelah, terlalu dipaksa bekerja, hingga berdampak pada kesehatan janin yang dikandungnya. Ia disarankan untuk banyak istirahat, memperbaiki asupan makanan, dan mengurangi aktivitas berat. Saran yang terdengar mustahil bagi Lilyan. Langkahnya terhenti di pinggir trotoar. Ia menunduk, satu tangannya perlahan menyentuh perutnya yang mulai membesar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, satu demi satu, tanpa suara.







