Home / Romansa / Gelora Berbahaya sang CEO / Bab 3 Hukuman untuk Lilyan

Share

Bab 3 Hukuman untuk Lilyan

Author: Rein Azahra
last update publish date: 2025-10-27 09:45:38

Suara mesin mobil sport itu berhenti di halaman luas rumah keluarga Angkasa. Rega turun dengan langkah mantap, jas kerjanya masih rapi, wajahnya tetap dingin dan tanpa senyum. Rumah besar yang dulu terasa seperti istana, kini baginya hanya bangunan yang dingin tanpa kehangatan yang pernah ia rasakan ketika ibunya masih hidup.

Dari arah ruang makan, terdengar suara lembut yang memanggilnya. Tanpa menoleh ia tahu siapa wanita yang memanggilnya itu.

Dia adalah Fatma. Ibu tiri Rega sekaligus ibu kandung Vano. Ayahnya, Pak Hartawan menikah lagi setelah ibunya meninggal. Dan sampai detik ini ia tidak pernah menganggap Fatma ibunya.

“Rega... kau sudah pulang?” Bu Fatma, wanita paruh baya berwajah cantik yang masih terlihat muda di usianya segera berdiri menyambut kedatangan Rega.

Sementara Pak Hartawan sedang minum air putih miliknya.

"Kebetulan kau datang, ayo kita makan bersama," ajak Bu Fatma antusias, tangannya melambai ke arah Rega yang masih berdiri acuh.

“Papa sudah lama menunggumu, Nak. Kita makan bersama ya. Mama masak makanan kesukaanmu malam ini,” ucap Bu Fatma manis sambil menepuk pelan lengan suaminya, seolah ingin menunjukkan bahwa ia adalah istri yang penuh kasih.

Namun tidak ada ekspresi tertarik di wajah Rega. Dia hanya melirik sekilas ke arah mereka dengan tatapan dingin.

“Aku sudah makan, kalian makan saja tanpaku seperti biasanya. Tidak usah sok peduli.” Nada suaranya datar, tapi cukup membuat udara di ruangan itu menegang.

Pak Hartawan mengalihkan pandangannya ke arah Rega, menatap anaknya dengan alis berkerut.

“Rega! Jangan bicara seperti itu pada ibumu!"

Rega berhenti di anak tangga pertama, lalu menoleh pelan. Tatapan tajamnya menembus seperti bilah baja.

“Dia bukan ibuku,” ucapnya dingin.

Wajah Bu Fatma menegang sepersekian detik, tapi dengan cepat ia pasang lagi senyum lembutnya.

“Rega, Mama tahu kau masih belum bisa menerima Mama, tapi—”

“Sudah malam. Aku capek. Aku mau istirahat.” Rega memotong, suaranya rendah tapi tajam.

“Sikap kamu itu tidak bisa dibiarkan terus, Rega! Fatma itu istri Papa. Kamu harus hormat padanya!” Pak Hartawan berdecak kesal, wajahnya masam.

Rega memutar bola matanya jengah, dengan enggan ia kembali menoleh pada ayahnya.

"Dia memang istri Papa tapi dia bukan ibuku, dan itu tak akan pernah berubah sampai kapanpun," tegas Rega tanpa bisa dibantah lagi.

Suasana ruangan hening sesaat. Hanya terdengar helaan napas berat dari Pak Hartawan yang jelas-jelas menahan emosi.

"Sudahlah Mas, jangan dipermasalahkan lagi. Aku mengerti kalau Rega masih belum bisa menerima kehadiranku di rumah ini." Bu Fatma berkata lembut dan mengusap punggung suaminya untuk memenangkan.

"Anak itu makin kurang ajar,” gumamnya.

Bu Fatma menunduk sedikit, wajahnya menampilkan kesedihan.

“Sudahlah, jangan diambil hati. Aku yakin suatu hari nanti, Rega akan sadar kalau aku tulus sayang sama dia.”

Pak Hartawan menarik napas panjang. “Aku lelah dengan sikapnya. Tapi ya sudahlah, mungkin kau benar. Aku juga sudah tua, tidak mau meributkan soal ini."

Bu Fatma mengangguk, duduk di sebelah suaminya. Setelah beberapa detik, ia menatap pelan wajah Pak Hartawan.

“Mas...” suaranya pelan tapi penuh perhitungan. “Aku

kepikiran, bagaimana kalau kita mulai memberi Vano tanggung jawab lebih di kantor? Dia anak yang sopan, rajin, dan bisa dipercaya. Aku lihat akhir-akhir ini kau makin sibuk, sementara Rega... ya kau tahu sendiri, dia susah diatur.”

"Akan aku pikirkan nanti." Pak Hartawan menatapnya dengan ekspresi datar.

"Aku mengerti, Mas. Tapi kalau kau memberi dia kesempatan, aku yakin dia bisa membuktikan kalau dia mampu. Dia selalu berusaha keras untuk bisa diakui olehmu."

Pak Hartawan diam, tidak langsung menjawab. Ia meneguk air di gelasnya, lalu berdiri.

“Kita bahas itu nanti saja, Fatma. Aku mau istirahat.”

“Baik, Mas,” jawab Bu Fatma lembut, menunduk sopan. Tapi begitu pria itu berjalan menuju kamarnya, senyum di bibir Bu Fatma berubah perlahan, menjadi senyum dingin penuh perhitungan.

Tangannya mengusap lembut permukaan meja makan sambil berbisik pelan, hampir seperti diri sendiri.

“Tenang saja, sayang... cepat atau lambat, semua yang Rega punya akan jadi milikmu, Vano.”

Lampu ruang makan meredup, meninggalkan bayangan wajah wanita itu yang tersenyum licik di balik topeng kelembutan.

---

Suasana pagi di lantai tertinggi kantor Angkasa Group terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Langit Jakarta masih diselimuti kabut tipis, tapi jantung Lilyan berdetak kencang seolah ia sedang berlari.

Hari ini, ia resmi bekerja sebagai sekretaris pribadi Rega Angkasa. Namun sialnya dia malah bangun kesiangan padahal pagi ini Rega ada rapat dengan para staff.

Lilyan menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu ruang CEO itu.

Tok… tok… tok.

“Masuk,” suara berat itu terdengar dari dalam.

Ia membuka pintu perlahan.

“Selamat pagi, Pak,” ucap Lilyan hati-hati.

Rega menoleh sekilas, lalu duduk di kursinya tanpa menjawab sapaan itu.

“Kau datang terlambat. Duduk.” Nada suaranya datar.

Lilyan duduk di kursi seberang meja. Tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Ia berusaha keras menahan diri untuk tidak terlihat gugup.

"Maaf, saya ada urusan mendadak tadi." Lilyan memberi alasan.

"Kau kira aku akan menerima alasan klise itu? Kau sudah menghambat jadwal rapatku."

“Maaf Pak Rega, saya sudah kirimkan jadwal rapat hari ini ke email Anda, Pak,” ucapnya pelan.

"Tapi tetap saja, itu bukan alasan kau bisa datang terlambat ke kantor. Aku paling tidak suka dengan karyawan yang sering telat." Rega mendengus pelan.

"Baru kali ini saya telat Pak Rega." Lilyan menggigit bibirnya. Dia kesal kenapa tadi malam dia tidak bisa tidur? Bayangan wajah Rega selalu saja menghantuinya.

"Oke, kali ini kau kumaafkan tapi jika lain kali kau telat lagi maka akan ada hukuman buatmu."

"Hukuman apa? Apa gaji saya akan dipotong?" Lilyan membelalak.

Rega tersenyum miring. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Lilyan. Gadis cantik itu mengangkat wajahnya dan menghalau tatapan tajam Rega yang kini berdiri bersandar pada meja di dekatnya.

"Aku tidak peduli soal uang. Ada hukuman yang lebih pantas untuk kau dapatkan."

"Hukuman apa maksud Bapak?" Alis Lilyan terangkat dengan wajah bingung.

"Kau harus mau aku cium." Dengan entengnya Rega berkata membuat kedua pipi Lilyan memerah.

"Jangan ngaco Pak, saya tidak akan pernah mau melakukan itu." Lilyan mendengus pelan. Ia bediri dan bermaksud pergi dari hadapan Rega. Namun tangan Rega menahannya dengan cepat. Menghentaknya dengan cukup kencang hingga tubuh Lilyan membentur dada bidang pria itu.

Kedua mata Lilyan membola saat beradu dengan mata emang Rega.

"Le—lepaskan saya Pak!" Lilyan berkata lirih.

"Aku bisa membaca sorot matamu Lilyan, sebenarnya kau menyukaiku kan?" Tebak Rega.

DEG!

Jantung Lilyan berdebar tak karuan. Tidak mungkin dia menyukai Rega.

"Jangan ngaco! Saya tidak mungkin menyukai Bapak." Setelah kesadarannya pulih, Lilyan pun segera menyangkal.

Rega tersenyum tipis mendengarnya. Lalu tangannya mengangkat dagu gadis cantik itu.

"Apa kamu yakin tidak mau menerimaku? Aku lebih baik dari Vano."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 101.

    Pagi itu, angin bertiup lembut menyapu halaman rumah besar keluarga Angkasa. Namun di dalam, suasana justru begitu tegang. Lilyan mengerang pelan di ranjangnya, wajahnya pucat, keringat membasahi pelipis. Rega berdiri di sampingnya, menggenggam erat tangan istrinya yang kini tengah berjuang antara nyawa dan kehidupan baru yang akan segera hadir di dunia. "Sayang kita ke rumah sakit sekarang. Sepertinya bayi kita akan segera lahir." Rega tampak panik. Ia segera memerintahkan sopir untuk menyiapkan mobil. Dengan sangat hati-hati Rega mengangkat tubuh istrinya dan masuk ke dalam mobil. Mobil mewah itu segera meluncur menuju rumah sakit terdekat. “Sayang, tahan sedikit lagi. Kita akan segera sampai," bisik Rega sambil menyeka keringat di dahi Lilyan. Lilyan hanya mengangguk lemah. Perutnya yang besar bergerak tak beraturan, kontraksi semakin intens dan jaraknya kian rapat. Setibanya di rumah sakit, Lilyan segera dibawa ke ruang tindakan. "Jangan tinggalkan aku Mas." Lilyan m

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 100

    Persidangan yang dinantikan seluruh publik akhirnya digelar secara terbuka. Nama Bu Fatma dan Vano menjadi sorotan utama media. Gedung pengadilan dipenuhi oleh wartawan, aktivis hukum, dan masyarakat yang geram atas kejahatan luar biasa yang telah mereka lakukan. Tak hanya karena korupsi dan manipulasi kekuasaan di tubuh Angkasa Mining, tetapi juga karena tindakan mereka telah menyebabkan hilangnya nyawa dan menciptakan trauma mendalam bagi banyak pihak. Jaksa penuntut menghadirkan tumpukan bukti, termasuk rekaman suara, video, dokumen keuangan yang dimanipulasi, hingga bukti percobaan pembunuhan terhadap Gina. Dalam sidang itu pula diputar cuplikan video saat Bu Fatma memberi perintah untuk “menghilangkan pengganggu,” yang merujuk pada Gina. Rekaman tersebut begitu jelas hingga suasana ruang sidang hening—semua yang hadir terpaku dengan ekspresi ngeri. Vano, dalam pembelaannya, mencoba melemparkan seluruh kesalahan pada ibunya. Ia menyatakan dirinya hanyalah “alat” yang dikendalik

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 99

    Rega melanjutkan kesenangannya. Ia meremas pelan melon jumbo istrinya itu. Membuat Lilyan mengerang penuh nikmat. Tubuhnya bergerak gelisah dengan pipi yang merona merah. "Kamu nggak pernah berubah Sayang, dari dulu tetap menggairahkan." Rega melepas satu persatu kain yang menempel di tubuh istrinya. Tubuh molek itu kini terpampang dengan indah. Membuat darah Rega berdesir. Lilyan tersenyum dan jemari lentiknya membantu Rega melepas kancing kemejanya satu persatu. Rega yang semakin rajin olahraga membuat tubuhnya semakin kokoh. Otot-ototnya terlihat liat dan seksi. Rega menciumi seluruh tubuh Lilyan tanpa ada yang terlewat satu jengkal pun. Lilyan meremas erat bantal di bawahnya saat bibir Rega sampai pada area persawahannya. Kedua kakinya di tekuk dan Rega mulai melakukan kecupan demi kecupan kecil di sana. Seperti biasa, Rega selalu senang bermain di sana. Membuat miliknya benar-benar basah. "Yaangg ooohh...." Lilyan melihat ke arah bawah, kepala Rega bergerak-gerak di sana.

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 98

    Hari-hari selanjutnya diisi dengan langkah-langkah pemulihan. Rega tak hanya memimpin di ruang rapat, tapi juga berjalan menyapa para karyawan dari divisi ke divisi. Ia ingin semua orang tahu bahwa ia bukan hanya pewaris nama besar, tapi pemimpin sejati yang peduli akan orang-orang yang bekerja di bawahnya. Pak Ferdinan, meski belum pulih sepenuhnya, tersenyum bangga setiap kali melihat Rega duduk di ruang kerjanya, ruang yang dulu pernah ia huni. Kini, tongkat estafet benar-benar telah ia serahkan, bukan karena paksaan atau manipulasi, tapi karena keyakinan bahwa anaknya siap memikul beban besar ini. Dan Lilyan, wanita yang dengan sabar menanti dan menemani Rega melewati badai, kini berada di sampingnya. Ia tak meminta banyak. Cukup melihat Rega tenang dan bahagia, itu sudah menjadi kebahagiaan terbesar baginya. Angkasa Mining pun perlahan kembali bersinar. Bukan hanya sebagai simbol kejayaan, tapi sebagai lambang keteguhan, kebenaran, dan harapan baru. Rega tahu, jalan ini masih

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 97

    Suasana ruangan seketika hening. Beberapa pemegang saham saling berpandangan, sebagian menutup mulutnya, tak percaya dengan fakta-fakta mengerikan yang baru saja mereka saksikan dan dengar. Nama besar keluarga Angkasa, yang selama ini dipandang sebagai simbol kejayaan dan kehormatan, tercoreng dalam hitungan menit. Bu Fatma masih duduk kaku. Wajahnya memucat, sementara tangan Vano mulai gemetar. Ia mencoba bicara, “Itu... itu semua tidak benar. Itu rekayasa—!” “Rekayasa?” Rega menyela cepat. “Semua bukti ini telah diverifikasi oleh tim hukum dan kami siapkan untuk diserahkan ke penyidik. Bahkan beberapa saksi hidup juga bersedia memberikan kesaksian di pengadilan.” Salah satu pemegang saham senior, Pak Johan, berdiri. “Saya tidak percaya keluarga Angkasa bisa serendah ini. Kalau semua ini benar, maka orang-orang seperti Bu Fatma dan Vano tidak pantas memegang satu persen pun saham apalagi kendali perusahaan.” Disusul oleh suara-suara lain. Ada yang mengangguk. Ada pula yang m

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 96

    Di ruang rapat utama Angkasa Mining, suasana tegang menyelimuti. Para pemegang saham mulai berdatangan. Beberapa masih berdiskusi, mencoba memahami apa maksud sebenarnya dari rapat ini. Bu Fatma dan Vano duduk di kursi depan. Wajah Bu Fatma tegas, percaya diri. Sementara Vano tampak gugup, meski berusaha menyembunyikannya. Setelah pembukaan, Bu Fatma menyampaikan pidato singkat. Ia menjelaskan bahwa kondisi Pak Ferdinan sangat mengkhawatirkan, dan demi keberlangsungan perusahaan, perlu segera diambil langkah untuk memastikan adanya penerus sah yang akan menjaga kestabilan perusahaan. “Kondisi Pak Ferdinan saat ini sangat kritis,” ujar Bu Fatma membuka pertemuan, suaranya tenang namun menekan. “Demi kelangsungan perusahaan, kita harus segera menunjuk penerus sementara. Vano adalah pilihan terbaik. Dia telah mengenal sistem perusahaan sejak lama.” Beberapa direksi saling pandang. Pak Wiryo, salah satu pemegang saham senior mengangguk pelan. “Saya setuju. Kita tidak bisa membiarkan

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 78

    Pagi itu langit tampak bersih, seolah menyambut semangat baru yang mulai tumbuh dalam diri Rega. Ia berdiri di depan kaca, mengenakan kemeja putihnya.Dulu, kemeja itu biasa ia kenakan saat menghadiri rapat besar dengan para investor Angkasa Mining Corp. Kini, kemeja itu kembali ia kenakan, bukan u

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 81

    Suasana ruang kerja Vano berubah panas. Beberapa staf IT yang duduk berjajar di depan laptop masing-masing tampak gugup dan saling melirik. Vano berdiri dengan tangan bertolak pinggang, wajahnya merah padam karena amarah yang ditahan sejak pagi. “Apa-apaan ini?! Sudah seminggu dan kalian masih ju

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 80

    Setelah makan malam, Rega mengajak Lilyan untuk berjalan-jalan di sekitar kawasan SCBD. Malam Jakarta yang sedikit berangin membuat suasana terasa lebih tenang dan nyaman.Lampu-lampu kota menyinari jalanan dengan gemerlapnya, menciptakan pemandangan yang memanjakan mata. Lilyan tampak santai, meng

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 76

    Vano berdiri di balik meja kerjanya yang luas, menatap pantulan dirinya di dinding kaca ruang direksi. Jas mahal itu terasa pas di tubuhnya, seolah kursi direktur utama memang sudah lama menunggunya. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya—senyum kemenangan yang selama ini ia impikan. Rapat dewan

    last updateLast Updated : 2026-03-30
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status