LOGINSemua karena surat wasiat dari sang kakek. Karena itulah David terus membujuk Agnes agar bersedia menikah dengannya, meskipun dengan pernikahan kontrak sekalipun. Dengan begitu, warisan akan jatuh ke tangan David sepenuhnya. "Saya tegaskan sekali lagi. Saya tidak akan mau menikah dengan Bapak! Semakin Bapak memaksa, justru itu semakin membuat saya muak!" "Tidak bisa Agnes, kakekku dan kakekmu telah menjodohkan kita di surat wasiat." "Apa..." "Kita bisa bercerai setelah dua tahun pernikahan ini." Benarkah semua itu karena wasiat? atau ada hal lain? apa yang membuat David begitu terobsesi untuk menikah dengan Agnes?
View MoreLaki-laki itu menatap pemandangan kota dari gedung perusahaannya, kedua tangannya bertumpu di atas kursi kerjanya, wajahnya tampak tersenyum senang seperti menantikan hal baik akan terjadi hari ini.
Jari jemarinya ia ketukan sesekali, dentuman pelan yang terdengar dari jari lelaki itu seolah memiliki nada seperti detik waktu yang terus berjalan, sudah lima belas menit berlalu dan lelaki itu tidak melakukan apa-apa.
“Pak David, ada yang ingin bertemu namun belum membuat janji dengan Bapak!” ucap seorang wanita yang muncul di balik pintu ruangan, lelaki yang bernama David itu memutar balikkan kursinya dan hanya mengangguk pada sekretarisnya.
“Biarkan dia masuk!” Ucap David dengan tenang, seolah lelaki itu sudah mengetahui siapa yang akan datang.
“Baik, eh…!” ucapan wanita yang memakai name-tag bertuliskan Sahil aitu terpotong dengan seorang wanita yang menyelonong masuk sebelum dipersilahkan. Sahila ingin menegur namun bibirnya terkatup rapat melihat isyarat David melalui tangannya.
David menatap puas dengan sebelah alisnya terangkat, senyuman yang tergambar di wajah lelaki tampan itu justru tampak seperti seorang iblis yang licik. Berbeda dengan wanita dihadapannya yang meremas pelan map yang sejak tadi berada digenggaman tangannya, tak pernah ia lepas dari genggamannya sampai bentuknya sudah tidak berupa map.
“Bukankah sebaiknya anda menjelaskan maksud dari map ini?” tanya Agnes, wanita yang sejak dari ruangannya menuju ruangan sang presdir dengan tergesa-gesa. Hatinya dipenuhi dengan amarah yang menggebu-gebu pada sang atasan yang menurutnya bertindak semena-mena.
“Saya tidak perlu menjelaskannya lagi, Agnes! Semua jelas tertera di map ini.” ucap David dengan wajahnya benar-benar menyebalkan, lelaki itu benar-benar merasa menang telak. Dia tidak perlu menggunakan seluruh tenaganya untuk membuat wanita dihadapannya itu menuruti keinginannya.
“Saya sudah bilang! Saya nggak bisa menikah dengan Bapak! Apalagi dengan alasan konyol Bapak!” Tandas Agnes dengan tatapan tajam, sorot matanya seolah mengibarkan bendera perang, suasana yang benar-benar tegang ini membuatnya lupa dengan siapa ia sedang berhadapan sekarang.
“Iya itu terserah kamu, akan saya pastikan kejadian seperti ini akan terulang lagi. Dimana pun kamu melamar sebuah pekerjaan dan detik itu juga kamu akan menerima penolakan!” ucap David dengan seringaian yang tak lupa muncul di wajahnya.
“Huhh!”
Agnes memejamkan matanya sejenak, menarik napasnya dalam-dalam. Wanita itu sudah menahan emosinya beberapa hari yang lalu karena ulah CEO gila di perusahaannya, CEO baru yang beberapa hari yang lalu diresmikan. Bagaimana bisa lelaki dihadapannya ini melamarnya? Mengajaknya untuk menikah dengan alasan yang menurut Agnes begitu konyol dan tidak masuk akal.
“Kenapa harus saya? Banyak karyawan wanita lainnya di perusahaan Pak David bukan saya saja? Bahkan Bapak bisa memilihnya di kantor cabang di kota lain!” Ucap Agnes masih bersikeras dengan penolakannya, wanita itu begitu tegas tidak akan mau menikah dengan David, bagaimana pun Agnes memandang sebuah pernikahan adalah sebuah acara sakral tidak untuk main-main apalagi sembarangan.
Berbeda dengan sudut pandang Agnes, David hanya memandang bahwa pernikahan adalah salah satu cara untuk mendapatkan keuntungan, menuruti kepuasan manusia yang pada dasarnya tidak akan pernah puas, harta yang melimpah, tahta yang tinggi pun tidak akan membuat hasrat manusia untuk berhenti untuk terus memenuhi kepuasannya.
“Iya saya tahu! Dan sayangnya nama yang tertulis di surat wasiat kakekmu adalah namamu, Agnes Lidya Zelin!” bantah David yang tak kalah keras kepala, apapun yang terjadi tidak akan mengubah keputusannya untuk mengajak Agnes ke jenjang pernikahan.
“Maksud saya, banyak karyawan yang tergila-gila pada Bapak. Harusnya Pak David memilih mereka saja daripada dengan saya! Bukankah itu justru akan mempermudah Pak David untuk segera melepas status lajang.” Rupanya gadis itu benar-benar tidak ingin menyudahi argument dengan David sampai kemenangan ia dapatkan.
“Agnes! Apa kamu tidak mengerti? mengapa saya memilih kamu untuk menjadi istri saya! Karena di antara puluhan karyawan saya, namamu lah yang tercantum di surat wasiat itu! Apa boleh buat?” Ucap David dengan sorot mata yang berbinar, sedangkan Agnes tidak mampu berkata-kata.
Kalimat yang seharusnya menjadi senjata kuat untuknya lepas dari permintaan konyol David justru menjadi alasan kuat untuk David, Agnes mengerlingkan bola matanya dengan tawa hambarnya yang terdengar renyah.
Apa dia sedang bahagia? Tentu saja tidak, wanita itu sedang menertawakan kemalangannya karena harus terlibat masalah yang seperti lelucon dengan atasannya sendiri.
“Pak David!” panggil Agnes dengan penuh penekanan di setiap katanya, wanita itu tampak menarik napasnya sekali lagi. Rasanya pasokan udara di paru-parunya kian berkurang membuat dadanya harus bekerja lebih keras untuk menghirup udara di ruangan presdir yang tampak luas dan tidak kekurangan ventilasi udara.
“Saya tidak akan mengubah keputusan saya, saya tidak sedang terdesak keadaan yang mengharuskan saya untuk menikah dalam waktu dekat! Apalagi dengan alasan surat wasiat sialan itu! Bagaimana bisa nama saya ada di surat wasiat itu kakek anda! Sedangkan saya sendiri tidak mengenal beliau!” panjang lebar Agnes berupaya mengubah jalan pikir David agar mengurungkan niatnya untuk mengajaknya menikah.
Sepertinya usaha Agnes sia-sia, David hanya tersenyum tanpa bergeming menunjukkan kalimat panjang Agnes tidak berpengaruh sama sekali.
“Silahkan menghindar, saya akan tetap terus mengejar kamu Agnes sampai kamu mau menyetujui permintaan saya untuk menjadi menikah dengan saya! Saya juga tidak tahu mengapa kakek saya memilihmu menjadi istri saya. Saya hanya mengikuti wasiat kakek saya!” ucap David membentang tangan kanannya, memberikan isyarat bahwa Agnes boleh berusaha menghindar dan berusaha mengubah pikirannya dengan hasil yang sama, David tetap memilihnya.
“Astaga berapa kali harus saya bilang…”
Drrrttt… drrtt…
Dering ponsel di dalam tas mungilnya menghentikan ucapan Agnes yang terdengar sepertinya akan memberikan sumpah serapah pada lelaki yang menurutnya sudah kehilangan akal sehat itu, bagaimana mungkin akan menikah jika yang menginginkan janji suci itu hanya sepihak.
“Halo!” ucap Agnes dengan suara sebisa mungkin untuk menetralkan emosinya yang menggebu-gebu namun harus bersikap ramah.
Halo, Nona Agnes! Saya ingin memberitahukan kalau anda harus segera pindah dari apartemen anda sekarang!
Agnes mengeryitkan keningnya, mencoba membaca lagi nama kontak di ponselnya. Tidak ada yang salah, nama pemilik Gedung apartemen yang sedang menghubunginya, hampir saja Agnes berpikir jika dia sedang berbicara dengan penipu.
“Maaf? Maksud anda bagaimana? Bukankah saya sudah membayar sewa untuk lima tahun ke depan? Kenapa saya harus pindah mendadak seperti ini?” tanya Agnes dengan bingung seraya menggaruk keningnya yang sebenarnya tidak terasa gatal.
Pemilik Gedung mengatakan kalau apartemen itu akan diakusisi oleh perusahaan besar, mereka meminta untuk mengosongkan apartemen karena akan diperbarui.
Agnes membalikkan tubuhnya yang sejak tadi membelakangi David, wanita itu memicingkan matanya penuh dengan kecurigaan pada lelaki yang kini menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Agnes mengakhiri panggilan di ponselnya, menghampiri David yang kini justru tersenyum padanya penuh kemenangan. Dia menggigit bibir bawahnya, tidak bisa menahan untuk merayakan kemenangan yang sudah di depan mata.
“Jangan bilang ini termasuk cara Pak David untuk membuat saya mau menikah dengan anda?” tanya Agnes dengan suara penuh penekanan, masih tidak percaya dengan kekuasaan David yang benar-benar tidak bisa ia lawan sebisa mungkin, dia sudah terkepung sekarang.
“Betul sekali, jadi tidak ada jalan lagi. Kalau kamu masih bersikeras menolak, tidak masalah! Saya akan pastikan kamu jadi gelandangan karena tidak mendapatkan tempat tinggal! Kecuali…” ucap David menggantung membuat Agnes mengangkat alisnya.
“Kecuali kamu tinggal bersama di apartemen saya!” Ucap David dengan tawaran yang semakin gila, Agnes membulatkan matanya sempurna.
“Najis!” desis Agnes semakin lupa dengan siapa sekarang dia berhadapan.
“Terserah, keputusan ada di kamu sendiri! Harusnya surat wasiat kakek saya sudah menjadi alasan palinh mendasar kenapa saya harus menikahimu, saya harus menjalankan apa yang diinginkan kakek saya sebelum meninggal.” ucap David mengangkat kedua tangannya, rupanya lelaki berumur 35 tahun itu tidak kehabisan akal untuk membuat Agnes berada di kunkungannya.
“Pak David! Saya tidak tahu darimana surat wasiat itu berasal. Saya tidak bisa menikah dengan anda! Saya saya sama sekali tidak mengenal Tuan Liam semasa hidupnya.” Tolak Agnes dengan tenang, berusaha tidak tersulut emosi, berharap David mengerti.
“Okay, kalau tidak ada lagi yang kamu bicarakan kamu bisa keluar!” usir David membuat Agnes tidak henti-hentinya membiarkan wajah bodohnya kini terpasang di paras cantiknya, tentu saja sikap David yang menurutnya tidak bisa ia tebak ini benar-benar mampu membuat jantungnya terus berdetak lebih cepat.
“Atau begini, kita bisa menikah berdasarkan kontrak?” tawar David dengan senyuman yang licik membuat Agnes menggeleng cepat. Entah darimana muncul ide gila itu.
“Dasar CEO gila!”
Sudah berapa lama lelaki itu terbaring di atas tempat tidurnya namun rasa kantuk seperti tidak ingin bersinggah di matanya malam ini. sebentar lagi pagi akan datang namun dia tak kunjung bisa tidur, dia sudah bosan menonton televisi bahkan menyalakan ponselnya berharap dia akan lelah dan mengantuk, nyatanya dia tetap terjaga. David melirik gadis yang kini memunggunginya, menatapnya dalam dengan sorot mata yang sangat sulit diartikan. Dia menatap rambut yang tergerai panjang, tangannya tanpa sadar menyisirnya pelan. Ada perasaan damai yang tak bisa ia gambarkan, dalam benaknya bagaimana gadis itu bisa tertidur pulas setelah apa yang ia lakukan padanya. David tidak tahu, rupanya Agnes juga sama tidak bisa tidur. Matanya sulit dipejamkan, dia sejak tadi hanya berusaha terlelap namun tak kunjung berhasil ditambah kini jari-jemari David yang menyentuh rambutnya membuat debaran jantungnya kembali cepat, dia memejamkan paksa matanya berusaha mengabaikannya namun itu cukup sulit. Dibiarkan
Gio memimpin rapat bulanan yang biasa dilakukan, sejak tadi perhatiannya tertuju pada David yang justru tampak sibuk melamun seperti tidak mendengarkan persentasi yang dilakukan oleh perwakilan departemen penjualan. Sesekali David akan terjaga dan menyimak dengan baik namun hanya sebentar dan pandangan mulai kosong lagi. “Jadi bagaimana Pak David?” tanya Gio sengaja meminta pendapat presdir Perusahaan yang sejak kedatangannya menimbulkan berbagai spekulasi karena aura yang ditampilkan sungguh berbeda, tidak seperti saat pertama kali dia memimpin Perusahaan sang kakek. “Eumm… penjualan lumayan masih ada kenaikan ya meski hanya beberapa persen saja, sangat jauh dibandingkan bulan lalu yang hampir mencapai tigapuluh persen. Namun tidak masalah, saya menghargai itu. Semoga bulan depan kita bisa meraih keuntungan yang lebih besar lagi, terimakasih atas kerja keras kalian.” ucap David memuji kinerja para bawahannya, wajah tegang yang terpasang di setiap peserta rapat yang hadir sirna diga
Agnes terjaga, dekapan hangat David membuatnya terbangun di pagi hari dengan tubuh yang terasa segar, dia melirik David yang masih terlelap dengan tangan yang mendekap tubuh mungilnya. Wajah damainya begitu teduh pemikat wanita, siapa sangka jika mata itu terbuka kesan itu akan lenyap digantikan dengan wajah licik dan tegas, penuh strategi untuk menaklukan dunia demi sebuah kehormatan dan juga kejayaan untuk Perusahaan. Gadis itu bangun pelan-pelan tidak ingin mengusik tidur David, dia segera membersihkan diri di kamar mandi dan bergegas untuk keluar kamar. Agnes tersenyum, mendapati Marni yang sudah stand by di dapur. Padahal beberapa hari yang lalu jelas David katakana bahwa urusan dapur biarlah Agnes yang menanganinya, namun Marni sepertinya belum terbiasa sehingga dia beberapa kali pergi ke dapur berharap ada yang bisa dia lakukan disana. “Nona sudah bangun! Saya bingung sudah selesai membersihkan rumah. Biasanya jam segini sudah masak buat Tuan David sarapan, tapi kan sekarang
“Kalau David licik, lo harus lebih licik Nes! Taklukin aja hatinya! Semua manusia bodoh kalau udah kenal cinta.” Ucapan Laura beberapa hari itu sangat mengganggu Agnes, tadinya Agnes ingin mengajukan cerai saja setelah mengetahui kebusukan David dibelakangnya yang tidak ia ketahui sebelumnya. Namun jika pernikahan ini berakhir sekarang, Agnes tidak mendapatkan apa-apa hanya sakit hati yang ia terima setelahnya. Tidak! benar yang dikatakan Laura, Agnes sudah bertekad akan membuat lelaki itu bertekuk lutut kepadanya hingga nanti David yang akan merasa kehilangan dirinya setelah perceraian. Dia tidak akan bodoh seperti dulu saat Kevin memutuskan hubungannya, dia nyaris gila! beruntung dia memiliki sahabat yang terus menopangnya untuk tetap berdiri tegak. Agnes membuka laptopnya, dia mulai mencari pekerjaan lagi. Dia tidak ingin hidup mengandalkan uang David, memang uang itu tidak akan artinya lagi bagi lelaki itu. Dia seorang CEO kaya raya, pewaris Tunggal keluarga Liam jadi tidak ada
David kembali mengunjungi restoran yang tempo hari ia kunjungi bersama Agnes, namun hari ini ia datang bersama Lisa. Kekasih sebenarnya yang kini rela untuk terbang ke Korea demi bertemu dengannya, ah tidak lebih tepatnya untuk benar-benar menjadi perannya sebagai kekasih David secara utuh. Menu ya
“Agnes!”Suara bariton seorang pria itu terdengar di tengah hiruk pikuk lautan manusia yang sedang menikmati pasar malam di Seoul. Agnes yang tadinya ingin segera pergi kini sudah tertangkap keberadaannya oleh Kevin dan juga Lia, sepertinya mereka juga sedang honeymoon di Seoul, sama seperti Agnes
Sudah sepekan lamanya, David menginap di apartemen Agnes. Mereka menikah karena sebuah kesepakatan, namun Agnes merasa David seolah tidak memahami Batasan yang sebagaimana ada di antara mereka. David terlalu mendalami perannya sebagai suami, membuat Agnes seakan lupa akan status mereka. Wanita itu
Pesta pernikahan itu rupanya bukan diadakan di Gedung melainkan mengambil tema outdoor, suasana senja di sore hari semakin membawa kedamaian dan mendukung suasana penuh haru. Lampu-lampu disusun sedemikian rupa, menambah nuansa estetik.Para tamu undangan berdatangan, saling menyapa pada pemilik ac












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews