Masuk
Musibah tak terduga terjadi menimpa Audrey. Dia terpeleset saat membawa nampan, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan menabrak meja 2.
"Tolong, perutku." Wanita itu berteriak sangat keras, merintih kesakitan. "Basah apa ini? Air? Jangan bilang... I-ini bukan keguguran, kan? Bayiku. Darah. Tidak mungkin!"
Suasana restoran sontak kacau. Air ketuban wanita itu pecah di tempat, cairan bening menggenangi lantai disertai pendarahan hebat.
“Cepat panggil ambulans!” Pengunjung mulai berkerumun, sementara suaminya sibuk menenangkannya. “Sayang, bertahanlah. Ambulans akan segera datang!”
Audrey yang syok terduduk lemas. Menerima hujatan atas tindakannya yang ceroboh. “Apa yang kamu lakukan? Tidak bisakah kamu berhati-hati?”
Manajer restoran yang mengetahui hal itu bahkan meminta seseorang untuk mengemas barang Audrey. “Mulai hari ini kamu dipecat!” begitu katanya saat melemparkan barangnya.
Tak lama kemudian, ambulans datang. Audrey naik ke mobil itu sebagai bentuk tanggung jawabnya.
Audrey hanya bisa terdiam pucat, kedua tangannya bergetar tak henti selama perjalanan.
Di ruang operasi, dokter berusaha menyelamatkan dua nyawa sekaligus. Namun takdir berkata lain. Bayi mungil yang selama ini dinanti akhirnya lahir lebih cepat dari waktunya, tubuhnya kecil, pucat, dan tak bernapas.
Audrey menunggu dengan harap-harap cemas bersama seorang lelaki yang menangis sesenggukan di sampingnya. Dia adalah Earl, suami Ayesha. Dia masih menunggu kabar apakah bayi dan istrinya bisa diselamatkan atau tidak.
Earl ingin melampiaskan emosinya pada Audrey, tapi dia menahannya. Dia hanya berpesan kepada Audrey, “Dua pengawalku akan mengasimu. Jangan sampai kau beranjak dari rumah sakit sebelum ada kabar dari dokter!”
Audrey diam mematung.
Earl serius dengan ancaman itu. Matanya yang merah menatap Audrey tadi seakan berbicara kalau dia meninggalkan rumah sakit, maka hukumannya adalah dia harus mati.
Hampir dua harian Audrey menunggu di rumah sakit.
Dua hari itu juga dia dalam kondisi harap-harap cemas.
“Masuk!” ucap seorang pria. Wajahnya merah padam dan matanya sembab. Audrey tahu, pria itu adalah Earl, ayah sang bayi.
Meski tidak berbincang lama, mereka sempat bertukar kartu nama, terutama Audrey yang menyerahkan kartu identitasnya kepada Earl.
Penasaran dengan kondisi istrinya, Audrey pun bertanya, "Apa i-istrimu b-baik-baik saja?"
Seketika, Earl berhenti. Pria itu menunda membuka pintu.
Sudut bibirnya terangkat ke atas, kemudian menoleh hingga separuh wajahnya terlihat oleh Audrey. "Menurutmu?"
Deg!
Pria itu berbalik arah dan berjalan masuk ke ruang tempat bayinya berada. Audrey mengikuti langkah pria itu. Pandangannya menyapu dinding putih, lalu matanya berhenti pada satu benda di tengah ruangan.
Sebuah keranjang bayi di atas meja, tertutup kain putih bersih.
Pelan-pelan Earl membuka kain putih yang menutup seluruh tubuh anaknya. Tangannya gemetar. Dia masih belum percaya, bayi tanpa dosa ini harus menemui ajal sebelum sempat berbincang dengannya, walau hanya dengan tangisan.
Tubuh mungil itu terbaring.
Selain ada lebam, wajahnya juga pucat.
Tidak ada senyum.
Bayi itu tenang seperti sedang tidur, tetapi terlalu tenang untuk disebut hidup.
Bibir Audrey gemetar. “Tuhan…”
Ia mundur satu langkah.
Lututnya melemas.
“Tidak,” bisik Audrey. Dadanya sesak. “Tolong jangan.”
Earl membalikkan badan. Dengan tatapan kosong, dia memajukan tangan, seolah mempersilakan Audrey menggendongnya langsung.
Audrey menunduk. “Maafkan aku.” Hanya itu yang bisa dia ucap.
Earl tidak menjawab. Ia kembali menawari Audrey seraya memandangi wajah mungil yang tenang.
“Gendong putriku!” Earl berujar pelan. Dari nada bicaranya yang rendah, Audrey tahu, dia menahan emosi yang sudah meluap-luap setelah dua hari ini menunggu kabar seputar bayinya.
Audrey mundur satu langkah. “Aku tidak berani.”
“Pegang dia.” Suara Earl rendah dan sangat tenang. “Rasakan dinginnya. Rasakan apa yang hilang dariku dan istriku!”
Audrey hanya diam, sampai Earl mengingatkan lagi, “Rasa sakit ini tidak akan pernah kau rasakan ketika kau belum menjadi seorang ayah atau ibu. Gendonglah, setidaknya sebelum dia dikremasi!”
Dengan gemetar Audrey mengangkat tangannya. Bayi itu berpindah ke pelukannya.
“Aku mohon. Aku tidak sengaja,” ucapnya terbata. “Aku tidak bermaksud menyakiti siapa pun.”
Dia kemudian menoleh ke arah si bayi. Wajah lebam, bibir biru, dan mata indah yang belum sempat melihat dunia.
Andai diberi kesempatan, pasti dia sangat cantik!
Tapi takdir berkata lain.
Sembari bergetar hebat, Audrey memberanikan diri, “A-aku tidak bermaksud membunuhmu. Aku minta maaf. Aku tidak sengaja…”
“Lalu apa yang akan kau lakukan dengan maafmu,” tanya Earl pelan, “apa dengan maafmu, nyawa putriku bisa kembali lagi?”
Audrey terdiam. Ruangan terasa mengecil. Yang terdengar hanya napasnya sendiri.
“Jawab, Audrey!” bentak Earl, meski nadanya sangat rendah, Audrey bisa merasakan kemarahan meluap-luap dalam hati pria itu. “Apa yang akan kau lakukan untuk menebus nyawa ini? Bagaimana bila kau ibunya? Apa yang kau rasakan, hah?”
Audrey kembali menatap bayi mungil itu. Ia Hidungnya yang kecil. Kelopak yang tertutup rapi. Kulit yang sudah mulai memucat.
Yang lebih menyakitkan, bayi itu mewarisi mata ayahnya, mata cokelat!
Air mata Audrey jatuh tanpa suara. “Maafkan aku,” ucapnya lagi. “Aku mohon. Aku siap menerima hukuman. Aku siap melakukan apa pun. Tapi aku mohon, jangan cerca aku, aku tidak tahu harus dihukum seperti apa!”
Earl memerhatikan tanpa berkedip. “Hukuman seperti apa yang kau kira pantas untuk orang yang mengambil nyawa anak orang lain?”
“Aku akan mengganti kerugian nyawa dan perawatan istrimu. Aku akan bekerja keras. Aku bisa menjadi budakmu. Aku akan…”
“Uang?” Ia tersenyum tipis, kemudian mengambil kembali bayi mungil yang ada di pelukan Audrey. “Kau pikir aku butuh uang? Kau pikir uang bisa membeli nyawa putriku? Kau pikir uang bisa menyelamatkan istriku dari kesedihan?”
Audrey menggigit bibir. “Kalau bukan uang, aku bisa…”
“Kau bisa apa?” Ia mendekat selangkah lagi. Jarak di antara mereka nyaris tidak ada. “Kau bisa mengembalikannya ke rahim ibunya. Kau bisa menarik waktu dan menukar langkahmu yang ceroboh dengan langkah yang lebih hati-hati. Kau bisa berdiri di depan istriku dan berkata semuanya hanya mimpi.”
“Apa kau bisa melakukan itu semua?” Emosi Earl tak tertahankan lagi. “Jawab! Kalau kau bisa, cepat putar waktu biar kecerobohanmu tidak memakan kobran!”
“Aku tidak bisa.” Audrey menggeleng cepat. “A-a-aku tidak punya kekuatan sebesar itu.”
“Benar,” kata Earl. “Kau tidak punya apa pun.”
Audrey menarik nafas pendek. Kalimat itu telak.
Ia menunduk. Kedua lengannya mengencang, memastikan bayi kecil itu tetap aman di pelukannya. “Kalau aku tidak punya apa pun, izinkan aku menebus nyawanya...”
“Menebus,” ulang Earl. Ia seperti mencicipi kata itu di lidahnya. “Bagaimana cara seorang pelayan menebus satu nyawa?”
“Berapa lama kau akan bertahan dengan rasa bersalah?” tanyanya tiba-tiba.
“Seumur hidup,” jawab Audrey, suaranya patah. “Kalau perlu, seumur hidup. Aku akan selalu mengingat kejadian ini”
“Kau tidak tahu apa pun tentang seumur hidup,” balasnya. “Seumur hidup adalah kamu mendengar seorang ibu yang menunggu tangisan bayinya yang tidak pernah terdengar! Seumur hidup itu ayah yang tidak pernah bisa dikenal oleh gadis cantiknya!”
Audrey terisak. “Kumohon. Jangan buat ini lebih berat untuk istrimu.”
Earl menatap lurus. “Lakukan sesuatu. Baik. Mulai sekarang, kau akan melakukan sesuatu menurut caraku.”
“Aku akan menurut.”
“Kau akan menurut bahkan sebelum aku selesai berbicara.”
Audrey mengangguk cepat. “Iya.”
“Pertama.” Earl meletakkan bayinya kembali di keranjang, menutupnya dengan kain kafan putih. “Taati semua perintahku!”
“Kedua.” Ia menatap Audrey. “Dengarkan baik baik. Aku tidak akan mengulang.”
Audrey menegakkan badan. “Aku dengar.”
“Sekarang ikut aku!” Earl melangkah pergi, meninggalkan Audrey mematung di sana.
Dia tersenyum, tapi senyumnya terasa asing. Kemudian, muncul sesosok pria paruh baya yang tidak Audrey kenal. Dia melambai ke arah ibunya dan berkata, "Sayang, di mana putri kita? Apa dia masih belum datang?""Pelayan sedang membantunya mencoba gaun pengantin." Tamara mencium pipi suaminya. "Calon menantumu juga ada di dalam."Alex, pria tua itu mengangguk dan tersenyum. Sampai ia menyadari keberadaan Audrey dan Earl yang sempat Tamara tinggalkan. "Sayang, mereka siapa?""Sebenarnya, aku juga tidak kenal mereka." Wanita itu melihat Audrey sekali lagi. "Apa kamu salah mengenali orang?""Ya." Audrey mengangguk. "Maaf!"Sekarang, akhirnya dia tahu kenapa ibunya tak pernah mencarinya. Ternyata dia sudah memiliki keluarga yang baru, putri yang baru juga. Pantas saja dia dilupakan."Ayo, pulang!" Gadis itu berbalik arah, menarik tangan suaminya.Namun, telinganya menangkap suara pria muda yang tak asing. "Ma, apa ini cocok untukku?""Itu sangat cocok untukmu, calon menantuku!" jawab Tamara
Anak lagi, anak terus. Audrey bosan mendengarnya. "Sekali lagi kamu mengatakan itu, maka aku akan menendangmu!"Gadis itu pun bangkit dari duduknya, sementara Earl yang tadi sangat menyebalkan berubah jadi penurut. "Aku saja!" katanya begitu melihat Audrey kesulitan menggendong Nathan.Anak kecil itu digendongnya, kemudian direbahkan di ranjang yang bantalnya baru Audrey siapkan. Earl bahkan sempat mencium pipinya berkali-kali sebelum membawa Audrey pergi ke kamarnya.Perilakunya yang kadang baik kadang galak itu membuat dahi Audrey mengkerut. 'Apa dia memiliki kepribadian ganda?'Tak lama kemudian, sampailah Audrey di kamar yang telah disediakan untuknya. "Ini kamarmu!" kata Earl Sanders.Audrey pikir, pria itu akan pergi setelahnya. Namun, ternyata dia ikut masuk bersamanya. "Istirahatlah, kamu pasti lelah. Biar aku yang membereskan barangmu."Pria itu membuka koper Audrey, mengeluarkan isinya dan menatanya sedemikian rupa. Entah itu pakaian, skincare, hingga barang-barang pribadiny
Sementara itu, diam-diam Theoderick memperhatikan dua putranya dari lantai dua. Namun, yang mencuri perhatiannya adalah Audrey yang memukul pantat Nathan. "Dia siapa?"Alisnya mengkerut. Seingatnya, Ayesha bahkan nggak berani memukul Nathan. Selain itu, yang membuatnya penasaran, alih-alih membawa istrinya, kenapa Earl malah membawa wanita lain pulang ke rumahnya?"Dasar berandalan!" gerutunya.Memang anak nakal, belum satu menit sejak ia menginjakkan kaki di rumah, tapi sudah membuat ayahnya naik darah.Tak lama kemudian ...."Pa!" Akhirnya Earl masuk datang juga.Pria itu duduk, lalu menyesap kopi hangat yang sudah ayahnya siapkan. "Barang Nathan sudah selesai dikemas, kan?"Alih-alih menjawab, Theo justru mengalihkan pembicaraan. "Siapa dia?""Sekretarisku," jawab Earl singkat.Sungguh, Theo sama sekali nggak percaya. Namun, dia tidak bertanya lebih jauh. Dia nggak ingin merusak mood Earl yang baru sampai London.Ayah dan anak itu pun saling bertukar informasi tentang dunia bisnis.
"Jadi, Nathan itu orangnya seperti apa?" Baru saja mendarat, Audrey langsung bertanya soal Nathan. "Dia nakal," jawab Earl Sanders. Pria itu menggandeng tangan Audrey dengan mesra, menuntun gadis itu menuju imigrasi sebelum mengambil koper. Mendengar jawaban singkat itu, Audrey pun berkata, "Tidak bisakah mendeskripsikannya lebih detail?" Jujur, meski kedatangannya ke London untuk menjemput anak itu, tapi Audrey sama sekali nggak bisa membayangkan bagaimana rupanya. Usia Earl 29 tahun sekarang, kalau adik nomor duanya masih hidup, seharusnya dia berumur 25 tahun. Lalu, anggap saja jarak Shaquille dan Nathan 4 tahun. Itu berarti usia Nathan 21 tahun. "Kamu yakin membiarkan dia tinggal di rumahmu?" tanya Audrey lagi. "Kenapa?" Kali ini, giliran Earl yang bertanya. "Kamu keberatan adik iparmu tinggal bersama kita?" Aduh, bagaimana menjelaskannya, ya? Usia mereka hanya terpaut 3 tahun saja. Audrey yakin, anak itu pasti mengganggunya nanti. Apalagi melihat 'orang luar' sepeti dia
Keesokan harinya, Audrey dan Earl pergi ke bandara. Kepergian mereka diantar oleh Edgar. "Kapan kalian akan pulang?" tanya Edgar."Minggu depan," jawab Earl."Bukannya kalian hanya pergi tiga hari?" tanya Edgar lagi."Nggak." Earl menggeleng. "Aku berbohong soal itu."Earl tahu, Audrey pasti menolak kalau sampai tahu perjalanannya selama itu. Makanya dia berbohong. Tapi, mau bagaimana lagi?Tujuan Earl ke London bukan hanya untuk urusan bisnis, tapi mau menjemput adiknya juga. Selain itu, ia mendapat informasi kalau pacar dan ibu Audrey ada di kota itu. Kalau keadannya memungkinkan, Earl ingin mempertemukan Audrey dengan ibunya sebagai kejutan."Haruskah kita check in sekarang?" tanya Audrey. Gadis itu akhirnya kembali setelah pergi ke kamar mandi."Tentu," jawab Earl.Mereka pun berpamitan. Setelah memastikan keduanya selesai check in, Edgar bergegas meninggalkan bandara. Tepat saat itulah ponselnya berbunyi.Itu adalah panggilan telepon dari Hudson Moeis."Iya, Tuan?!" jawab Edgar.
Tiga minggu kemudian ... "Bukankah dia keren?" tanya Audrey pada Aleia. Gadis itu melihat Audrey dengan tatapan aneh. Bukannya menjawab, Aleia justru bertanya, "Apa kamu baru menang lotre?" "Sembarangan!" Audrey mencubit pipi sahabatnya. "Kamu pikir aku hobi melakukan hal buruk seperti itu?" Siapa juga yang menang lotre. Audrey hanya sedang datang bulan, makanya dia senang. Ia tak perlu takut lagi dengan kehamilan yang beberapa minggu ini terus menghantui pikirannya. Karena tak ada hal penting yang perlu mereka bicarakan, Aleia pun mengusir Audrey. "Minggir sana. Jangan menggangguku!" "Oke!" Audrey mengangguk, kemudian bergabung dengan Friska di belakang. Hari ini adalah proses syuting pengambilan iklan Joanna, hari paling penting sepanjang karir Audrey selama bergabung dengan perusahaan Jeremy Sanders. Nyeri haid atau nyeri sendi yang ia rasakan tak akan membuatnya bermalas-malasan. Dia melihat proses syuting dari jarak cukup jauh, mengagumi akting Joanna yang memukau bersam







