Share

Bab 2

Author: Ufuk Timur
last update Last Updated: 2025-09-21 12:06:35

"Di mana ini?" Gadis itu bangun dari tidurnya, duduk di atas ranjang usang yang tak terawat.

Tenaganya lemah karena sejak kemarin belum makan. Dia ingat, terakhir Earl mengajaknya masuk ke mobil, kemudian dia pingsan akibat totokan tepat di leher kiri. Saat bangun, dia merintih dan perutnya terasa lapar. Terakhir kali ia mengisi perutnya adalah kemarin malam, saat Earl datang dan hanya menatapnya sinis.

"Apa aku pingsan?" Tangannya yang kecil memijit kepalanya dengan lembut, dan di dalam hatinya bertanya-tanya, "Tapi, sejak kapan?"

Audrey duduk di tepi ranjang besi. Jemarinya saling menggenggam di pangkuan, berusaha membuat tubuhnya berhenti gemetar.

Ia berdiri, mencoba gagang pintu.

Terkunci.

Tidak ada suara dari luar.

Tidak ada jam, tidak ada ponsel, tidak ada cara untuk menghitung waktu.

Ada kursi tua di sudut, ada meja kecil, ada gelas tanpa air.

Itu saja.

Pintu terbuka. Seorang pria masuk tanpa tergesa. Kemejanya rapi. Matanya masih merah di tepinya, tetapi tatapannya tenang di pusatnya.

“Akhirnya kau sadar,” ucapnya.

“Apa yang kau lakukan?!” Audrey mencoba berontak, tapi di hadapannya, Earl berdiri dengan dua bodyguard berbadan kekar. Sesaat, nyalinya menciut. Dia tidak berani menatap mata Earl.

Pria itu menarik kursi, meletakkannya di hadapan Audrey, lalu duduk.

“Kita ke kantor polisi,” ucapnya datar.

Audrey menelan ludah. Ia tahu menunda hanya akan membuatnya terlihat pengecut.

“Jangan,” katanya. “Tolong jangan. Penjara tidak akan mengembalikan apa pun. Tidak mengembalikan napas putrimu. Tidak menenangkan istrimu. Tidak membuatku lebih bertanggung jawab daripada sekarang. Penjara hanya memindahkan tubuhku, sementara salahku tetap ada.”

Audrey menarik nafas dalam, kemudian mengeluarkan kalimat terakhirnya, “Biarkan aku bertanggung jawab di sini!”

“Hmm?” Earl melirik kedua bodyguardnya, kemudian menatap Audrey lagi. “Apa yang bisa kau lakukan, dasar gadis ceroboh?!”

“Aku bisa bekerja. Aku bisa melakukan apa pun yang kamu minta, di mana pun kamu minta. Aku akan menyerahkan semua penghasilan. Aku akan tinggal di tempat yang kamu pilih. Aku akan mematuhi aturan yang kamu tulis. Aku tidak minta imbalan. Aku hanya minta satu hal. Jangan penjara.”

“Berapa lama?”

“Sampai kau merasa puas setelah menghukumku!”

Audrey sudah tidak peduli lagi dengan hidupnya. Dia merasa hancur. Saat melihat dinding kosong, bentuknya seolah berubah seperti kaca, menampilkan seberapa bodohnya dirinya ketika tidak sengaja menyenggol seorang wanita hamil.

Uang? Tidak ada.

Kehidupan? Dia sebatang kara.

Beban hidupnya sangat banyak, apalagi dia harus mencari ibunya yang hilang enam tahun lalu. Kalau dia dipenjara, lalu bagaimana dia berjuang menemukan ibunya?

“Kenapa kau tidak mau dipenjara?” Earl bertanya halus, tapi Audrey hanya diam saja.

Earl yang kesal, menyentuh dagu Audrey dan mendongakkannya ke atas. “Hei, jawab pertanyaanku! Kenapa kau menolak dipenjara?!”

“I-ibu,” lirih Audrey.

Earl bertanya-tanya. Ibu Audrey? Saat mencari tahu identitas Audrey kemarin, Earl dapat laporan kalau ibu gadis itu meninggal enam tahun lalu karena sebuah insiden. Ingin sekali dia mempertanyakan hal itu, tapi Audrey tiba-tiba mengajukan permintaan.

“Aku akan jadi pembantu di rumahmu. Apapun bisa kukerjakan, asal biarkan aku hidup di luar penjara.” Audrey mengatakan itu dengan tatapan nanar. Ia memohon pada Earl. Yang ada di pikirannya hanyalah tentang ibunya, tidak ada hal lain.

“Menarik,” kata Earl. “Kau adalah pembunuh dan pembunuh tidak memiliki hak untuk melakukan.”

“Aku bersedia!” Earl mendongakkan kepalanya. Air mata yang tadi turun, kini hilang total. Hanya tersisa sorot penuh kepercayaan bahwa dia harus bertanggung jawab dan tidak boleh membusuk di penjara.

“Kau tinggal di ruang yang semestinya menjadi milik putriku,” ucapnya. “Kau akan melihatnya setiap hari. Kau akan membersihkan raknya. Menata baju yang tidak akan dipakai. Mengatur botol yang tidak akan terisi. Yang terpenting, kau harus menganggapnya masih hidup. Paham?”

“Paham,” kata Audrey.

“Sekarang aturanmu!” Earl melanjutkan. “Tidak ada telepon tanpa izin. Tidak ada keluar masuk rumah tanpa sepengetahuanku. Tidak ada cerita tentang rumahku ke siapa pun. Kau bekerja ketika diperintah. Kau diam ketika diminta diam. Satu aturan kau langgar, aku langsung melaporkanmu ke penjara!”

“Aku mengerti,” sahut Audrey. “Aku setuju.”

Ia bangkit. Kursi bergeser sedikit. Audrey menahan diri untuk tidak bertanya apa pun, karena setiap pertanyaan bisa jadi alasan untuk mengakhiri kesempatannya.

Pintu ruangan pengap itu dibuka. Audrey segera mengangkat kakinya karena tenggorokannya benar-benar kering.

“Berhenti di situ,” katanya.

“Aku hanya butuh air,” jawab Audrey. “Aku tidak akan kabur. Aku bahkan tidak tahu ini di mana.”

“Duduk!” ucapnya lagi, tanpa menaikkan suara.

Earl membiarkan pintu itu dibuka, sengaja menguji seberapa taat Audrey dalam menjalankan aturan. Namun, sepuluh menit menunggu, Audrey tak kunjung bergerak. Ia tetap diam. Meski ada kesempatan, dia tak berusaha kabur sedikitpun.

Tiba-tiba Earl dikejutkan dengan kedatangan wanita cantik dengan kursi roda.

Audrey menatap ke pintu itu. Sekilas, siluet wanita itu terlihat, tapi dia tidak bisa melihat wajahnya. Bagian luar ruangan terlalu gelap. Tak lama, pintu terbuka lagi.

“Minum,” kata Earl.

Audrey mendekat. “Terima kasih.”

“Jangan cepat-cepat,” tambahnya.

“Besok pagi ada yang ingin bicara denganmu,” ucapnya.

“Siapa.”

Ia hendak berbalik, lalu menahan diri. “Satu lagi,” katanya. “Berhenti meminta maaf setiap lima menit. Maafmu bukan mata uang di rumahku. Kerjamu, patuhmu, itu yang dihitung.”

Audrey mengangguk. “Aku mengerti.”

Earl keluar. Pintu menutup.

Kunci berputar lagi.

Audrey duduk, memandangi gelas setengah penuh di tangannya. Ia meneguk sisanya perlahan.

Pintu kemudian berderit pelan.

Orang yang sama menampakkan diri di ambang. Bukan pria tadi. Seorang perempuan. Rambutnya disisir rapi. Wajahnya pucat. Mata bengkak. Kursi roda menahan tubuhnya.

“Aku ingin bicara,” katanya pelan, tetapi tidak rapuh. Audrey berdiri. Wanita itu tidak mendekat, hanya diam di ambang pintu. “Earl tidak akan memenjarakanmu, tapi sebagai gantinya, kau harus menikah dan mengandung anak Earl!?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gelora Cinta Tuan Muda Kepada Istri Muda   Bab 101

    Dia tersenyum, tapi senyumnya terasa asing. Kemudian, muncul sesosok pria paruh baya yang tidak Audrey kenal. Dia melambai ke arah ibunya dan berkata, "Sayang, di mana putri kita? Apa dia masih belum datang?""Pelayan sedang membantunya mencoba gaun pengantin." Tamara mencium pipi suaminya. "Calon menantumu juga ada di dalam."Alex, pria tua itu mengangguk dan tersenyum. Sampai ia menyadari keberadaan Audrey dan Earl yang sempat Tamara tinggalkan. "Sayang, mereka siapa?""Sebenarnya, aku juga tidak kenal mereka." Wanita itu melihat Audrey sekali lagi. "Apa kamu salah mengenali orang?""Ya." Audrey mengangguk. "Maaf!"Sekarang, akhirnya dia tahu kenapa ibunya tak pernah mencarinya. Ternyata dia sudah memiliki keluarga yang baru, putri yang baru juga. Pantas saja dia dilupakan."Ayo, pulang!" Gadis itu berbalik arah, menarik tangan suaminya.Namun, telinganya menangkap suara pria muda yang tak asing. "Ma, apa ini cocok untukku?""Itu sangat cocok untukmu, calon menantuku!" jawab Tamara

  • Gelora Cinta Tuan Muda Kepada Istri Muda   Bab 100

    Anak lagi, anak terus. Audrey bosan mendengarnya. "Sekali lagi kamu mengatakan itu, maka aku akan menendangmu!"Gadis itu pun bangkit dari duduknya, sementara Earl yang tadi sangat menyebalkan berubah jadi penurut. "Aku saja!" katanya begitu melihat Audrey kesulitan menggendong Nathan.Anak kecil itu digendongnya, kemudian direbahkan di ranjang yang bantalnya baru Audrey siapkan. Earl bahkan sempat mencium pipinya berkali-kali sebelum membawa Audrey pergi ke kamarnya.Perilakunya yang kadang baik kadang galak itu membuat dahi Audrey mengkerut. 'Apa dia memiliki kepribadian ganda?'Tak lama kemudian, sampailah Audrey di kamar yang telah disediakan untuknya. "Ini kamarmu!" kata Earl Sanders.Audrey pikir, pria itu akan pergi setelahnya. Namun, ternyata dia ikut masuk bersamanya. "Istirahatlah, kamu pasti lelah. Biar aku yang membereskan barangmu."Pria itu membuka koper Audrey, mengeluarkan isinya dan menatanya sedemikian rupa. Entah itu pakaian, skincare, hingga barang-barang pribadiny

  • Gelora Cinta Tuan Muda Kepada Istri Muda   Bab 99

    Sementara itu, diam-diam Theoderick memperhatikan dua putranya dari lantai dua. Namun, yang mencuri perhatiannya adalah Audrey yang memukul pantat Nathan. "Dia siapa?"Alisnya mengkerut. Seingatnya, Ayesha bahkan nggak berani memukul Nathan. Selain itu, yang membuatnya penasaran, alih-alih membawa istrinya, kenapa Earl malah membawa wanita lain pulang ke rumahnya?"Dasar berandalan!" gerutunya.Memang anak nakal, belum satu menit sejak ia menginjakkan kaki di rumah, tapi sudah membuat ayahnya naik darah.Tak lama kemudian ...."Pa!" Akhirnya Earl masuk datang juga.Pria itu duduk, lalu menyesap kopi hangat yang sudah ayahnya siapkan. "Barang Nathan sudah selesai dikemas, kan?"Alih-alih menjawab, Theo justru mengalihkan pembicaraan. "Siapa dia?""Sekretarisku," jawab Earl singkat.Sungguh, Theo sama sekali nggak percaya. Namun, dia tidak bertanya lebih jauh. Dia nggak ingin merusak mood Earl yang baru sampai London.Ayah dan anak itu pun saling bertukar informasi tentang dunia bisnis.

  • Gelora Cinta Tuan Muda Kepada Istri Muda   Bab 98

    "Jadi, Nathan itu orangnya seperti apa?" Baru saja mendarat, Audrey langsung bertanya soal Nathan. "Dia nakal," jawab Earl Sanders. Pria itu menggandeng tangan Audrey dengan mesra, menuntun gadis itu menuju imigrasi sebelum mengambil koper. Mendengar jawaban singkat itu, Audrey pun berkata, "Tidak bisakah mendeskripsikannya lebih detail?" Jujur, meski kedatangannya ke London untuk menjemput anak itu, tapi Audrey sama sekali nggak bisa membayangkan bagaimana rupanya. Usia Earl 29 tahun sekarang, kalau adik nomor duanya masih hidup, seharusnya dia berumur 25 tahun. Lalu, anggap saja jarak Shaquille dan Nathan 4 tahun. Itu berarti usia Nathan 21 tahun. "Kamu yakin membiarkan dia tinggal di rumahmu?" tanya Audrey lagi. "Kenapa?" Kali ini, giliran Earl yang bertanya. "Kamu keberatan adik iparmu tinggal bersama kita?" Aduh, bagaimana menjelaskannya, ya? Usia mereka hanya terpaut 3 tahun saja. Audrey yakin, anak itu pasti mengganggunya nanti. Apalagi melihat 'orang luar' sepeti dia

  • Gelora Cinta Tuan Muda Kepada Istri Muda   Bab 97

    Keesokan harinya, Audrey dan Earl pergi ke bandara. Kepergian mereka diantar oleh Edgar. "Kapan kalian akan pulang?" tanya Edgar."Minggu depan," jawab Earl."Bukannya kalian hanya pergi tiga hari?" tanya Edgar lagi."Nggak." Earl menggeleng. "Aku berbohong soal itu."Earl tahu, Audrey pasti menolak kalau sampai tahu perjalanannya selama itu. Makanya dia berbohong. Tapi, mau bagaimana lagi?Tujuan Earl ke London bukan hanya untuk urusan bisnis, tapi mau menjemput adiknya juga. Selain itu, ia mendapat informasi kalau pacar dan ibu Audrey ada di kota itu. Kalau keadannya memungkinkan, Earl ingin mempertemukan Audrey dengan ibunya sebagai kejutan."Haruskah kita check in sekarang?" tanya Audrey. Gadis itu akhirnya kembali setelah pergi ke kamar mandi."Tentu," jawab Earl.Mereka pun berpamitan. Setelah memastikan keduanya selesai check in, Edgar bergegas meninggalkan bandara. Tepat saat itulah ponselnya berbunyi.Itu adalah panggilan telepon dari Hudson Moeis."Iya, Tuan?!" jawab Edgar.

  • Gelora Cinta Tuan Muda Kepada Istri Muda   Bab 96

    Tiga minggu kemudian ... "Bukankah dia keren?" tanya Audrey pada Aleia. Gadis itu melihat Audrey dengan tatapan aneh. Bukannya menjawab, Aleia justru bertanya, "Apa kamu baru menang lotre?" "Sembarangan!" Audrey mencubit pipi sahabatnya. "Kamu pikir aku hobi melakukan hal buruk seperti itu?" Siapa juga yang menang lotre. Audrey hanya sedang datang bulan, makanya dia senang. Ia tak perlu takut lagi dengan kehamilan yang beberapa minggu ini terus menghantui pikirannya. Karena tak ada hal penting yang perlu mereka bicarakan, Aleia pun mengusir Audrey. "Minggir sana. Jangan menggangguku!" "Oke!" Audrey mengangguk, kemudian bergabung dengan Friska di belakang. Hari ini adalah proses syuting pengambilan iklan Joanna, hari paling penting sepanjang karir Audrey selama bergabung dengan perusahaan Jeremy Sanders. Nyeri haid atau nyeri sendi yang ia rasakan tak akan membuatnya bermalas-malasan. Dia melihat proses syuting dari jarak cukup jauh, mengagumi akting Joanna yang memukau bersam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status