เข้าสู่ระบบAwalnya, Audrey melihat wajah tampan suaminya, namun begitu mendengar kata 'melayani', pandangannya pun langsung turun ke bawah.
Ya, di bawah sana. Matanya tertuju pada benda menyembul yang terletak di sela-sela kaki Earl. Gadis itu menelan ludah dan pipinya bersemu merah. "Mati aku!" Earl yang menangkap kelakuan nakal Audrey pun bertanya, "Apa yang kamu lihat?" Malu, dia merubah cara duduknya. Kaki yang sempat mengangkang kini menutup rapat. "Masih perlu aku menjawabnya?" tanya Audrey. Kepala Earl seperti tertimpa batu. Dia pun berdiri, memijit keningnya yang pusing. "Apa kamu benar-benar masih seorang gadis?" "Tentu saja," jawab Audrey dengan wajah polos tanpa dosa. "Mau mencoba?" "Tidak. Terima kasih!" Earl menggelengkan kepala. "Melayani bukan melulu soal ranjang. Sebenarnya apa yang ada di dalam otakmu itu?" Sebuah pukulan ringan mendarat di dahi Audrey. Itu berasal dari jari telunjuk Earl Sanders. "Sakitnya!" Gadis itu meringis, memegang jidatnya yang tertutup poni. "Kenapa kamu memukulku? Tidak takut aku melapor ke kantor polisi sebagai kasus kekerasan dalam rumah tangga?" "Tentu saja tidak. Aku sedang mengajari istriku sopan santun, tidak ada hubungannya dengan KDRT!" "Oh!" Audrey berpaling. Sifat dan kelakuannya yang tak terduga membuat Earl kehilangan kata-kata dan ia merasa harus segera pergi dari kamar itu. Tidak aman bersama gadis mesum seperti Audrey. "Sudahlah, cepat bongkar barangmu dan periksa adakah yang tertinggal!" Audrey yang ditinggal begitu saja pun kebingungan. Dia menoleh, Earl sudah tak terlihat. "Melayani apa? Setidaknya jelaskan padaku sebelum pergi?!" *** Sesuai perintah, Audrey membongkar barangnya. Kemudian membersihkan tubuhnya dan makan malam. Tidak ada cerita malam pertama atau mandi berdua karena mereka menikah bukan untuk itu. Senggang, Audrey mengambil laptop. Masuk ke saluran di mana ia biasa melihat drama favoritnya. Karena seru, ia lupa waktu. "Aku lapar!" Tiba-tiba Earl berkunjung ke kamar Audrey. Pria itu melewatkan makan malamnya tadi. "Tolong buatkan aku sesuatu!" Audrey menoleh. "Aku tidak bisa masak." "Yang sederhana saja. Telur dadar atau apapun itu." Terlalu malam untuk membangunkan koki dan dia tidak bisa memasak. "Sudah besar begitu, tapi menggoreng telur pun tak bisa." Audrey mulai mengoceh, namun dia bangkit dari tempat duduknya. "Kasian sekali kamu kalau tidak menikah denganku hari ini." Gadis itu pun turun ke bawah, berjalan ke dapur. Earl mengikutinya dari belakang sambil membawa laptop. 'Aku baru memukul jidatnya tadi, kenapa dia mau repot-repot memasak untukku?' Merasa bersalah, Earl berjanji untuk tidak terlalu menyulitkan Audrey lagi di masa depan. "Ngomong-ngomong, ke mana perginya Ayesha?" Gadis itu membuka kulkas, mengambil telur. Selagi menunggu telurnya matang, Earl memilih duduk sambil melanjutkan pekerjaan yang hampir selesai. "Dia?" Earl memperbaiki letak kacamatanya, melirik Audrey yang sedang memanaskan wajan. "Dia rindu ibunya." Bohong. Sebenarnya Ayesha pulang ke rumah orang tuanya untuk memberi Earl kesempatan agar dia menghabiskan malam dengan Audrey. "Barangmu bagaimana?" Pria itu sempat perhatian disela-sela memeriksa pekerjaan. "Ada yang tertinggal, nggak?" "Harta karunku tertinggal," jawab Audrey tanpa menoleh. "Tapi nggak apa-apa, aku bisa mengambilnya besok." Tangan Audrey sempat terhenti. Dia ragu. Setelah Earl memberi cukup perhatian, masihkah pantas ia memberikan telur yang jumlah garamnya sengaja ia gandakan? "Lupakan!" Audrey mengurungkan niatnya. Tidak baik mengerjai orang yang sedang lapar, bukan? Telur goreng rasa lautan itu pun masuk ke perutnya dan ia mengganti menu yang lain. "Asin!" ucapnya saat menelan telur buatannya sendiri. Earl yang melihat itu pun bertanya, “Aku memintamu membuatnya untukku kenapa kamu memakannya sendiri?” Pria itu mendekat, mengambil suapan besar. Tapi Audrey menahannya. “Aku sarankan jangan makan ini!” Dasar keras kepala, peringatan itu ia abaikan dan begitu telur itu masuk ke mulut, ledakan garam memenuhi rongga mulutnya. Bukan jari telunjuk lagi yang ia gunakan untuk memukul dahi Audrey, namun gagang sendok yang ia pegang. “Setiap kamu melakukan kesalahan, atau kamu berani mengerjaiku, aku akan memberimu hukuman!” Tak ada lagi yang mereka bicarakan. Earl sibuk menyelesaikan pekerjaan sementara Audrey memotong sesuatu. Tak lama kemudian, sup tahu pedas pun selesai dimasak. Hari sudah larut, Audrey berpikir setidaknya biarkan Earl mengisi perutnya dengan sup yang hangat. Rasanya? Tentu saja enak. Bertahun-tahun hidup sendiri, Audrey terus memperbanyak keahlian demi bertahan hidup. Memasak adalah hal paling mudah untuknya. "Makanlah!" Semangkuk sup tahu tersaji di meja. Kuahnya berwarna kuning kemerahan. Ada tahu, sawi, zukini, daging dan bahan-bahan lain di dalamnya. Taburan daun bawang di atasnya membangkitkan selera Earl untuk mencobanya. "Bagaimana?" tanya Audrey. "Lumayan." Earl mengangguk. Laptop yang sedari tadi menyala pun ia tinggalkan. Pertanda ia siap makan besar. Pria itu menikmati sup buatan istri mudanya, sendoknya terus bergerak sampai dia menyadari ada yang salah dengan tubuhnya. Sendok yang ia pegang jatuh dan ia mulai batuk-batuk. "Audrey, kamu?" Pria itu memegangi dadanya. "Kenapa?" Kaget. Audrey berdiri. Memegangi pria itu sebelum dia jatuh. Wajahnya merah padam dan ia kesulitan bernapas. "Earl, jangan mati!" Audrey meletakkan kepala Earl ke pangkuannya, memeluknya. "Belum sehari menikah, apa kamu mau aku jadi janda secepat ini?" ***Dia tersenyum, tapi senyumnya terasa asing. Kemudian, muncul sesosok pria paruh baya yang tidak Audrey kenal. Dia melambai ke arah ibunya dan berkata, "Sayang, di mana putri kita? Apa dia masih belum datang?""Pelayan sedang membantunya mencoba gaun pengantin." Tamara mencium pipi suaminya. "Calon menantumu juga ada di dalam."Alex, pria tua itu mengangguk dan tersenyum. Sampai ia menyadari keberadaan Audrey dan Earl yang sempat Tamara tinggalkan. "Sayang, mereka siapa?""Sebenarnya, aku juga tidak kenal mereka." Wanita itu melihat Audrey sekali lagi. "Apa kamu salah mengenali orang?""Ya." Audrey mengangguk. "Maaf!"Sekarang, akhirnya dia tahu kenapa ibunya tak pernah mencarinya. Ternyata dia sudah memiliki keluarga yang baru, putri yang baru juga. Pantas saja dia dilupakan."Ayo, pulang!" Gadis itu berbalik arah, menarik tangan suaminya.Namun, telinganya menangkap suara pria muda yang tak asing. "Ma, apa ini cocok untukku?""Itu sangat cocok untukmu, calon menantuku!" jawab Tamara
Anak lagi, anak terus. Audrey bosan mendengarnya. "Sekali lagi kamu mengatakan itu, maka aku akan menendangmu!"Gadis itu pun bangkit dari duduknya, sementara Earl yang tadi sangat menyebalkan berubah jadi penurut. "Aku saja!" katanya begitu melihat Audrey kesulitan menggendong Nathan.Anak kecil itu digendongnya, kemudian direbahkan di ranjang yang bantalnya baru Audrey siapkan. Earl bahkan sempat mencium pipinya berkali-kali sebelum membawa Audrey pergi ke kamarnya.Perilakunya yang kadang baik kadang galak itu membuat dahi Audrey mengkerut. 'Apa dia memiliki kepribadian ganda?'Tak lama kemudian, sampailah Audrey di kamar yang telah disediakan untuknya. "Ini kamarmu!" kata Earl Sanders.Audrey pikir, pria itu akan pergi setelahnya. Namun, ternyata dia ikut masuk bersamanya. "Istirahatlah, kamu pasti lelah. Biar aku yang membereskan barangmu."Pria itu membuka koper Audrey, mengeluarkan isinya dan menatanya sedemikian rupa. Entah itu pakaian, skincare, hingga barang-barang pribadiny
Sementara itu, diam-diam Theoderick memperhatikan dua putranya dari lantai dua. Namun, yang mencuri perhatiannya adalah Audrey yang memukul pantat Nathan. "Dia siapa?"Alisnya mengkerut. Seingatnya, Ayesha bahkan nggak berani memukul Nathan. Selain itu, yang membuatnya penasaran, alih-alih membawa istrinya, kenapa Earl malah membawa wanita lain pulang ke rumahnya?"Dasar berandalan!" gerutunya.Memang anak nakal, belum satu menit sejak ia menginjakkan kaki di rumah, tapi sudah membuat ayahnya naik darah.Tak lama kemudian ...."Pa!" Akhirnya Earl masuk datang juga.Pria itu duduk, lalu menyesap kopi hangat yang sudah ayahnya siapkan. "Barang Nathan sudah selesai dikemas, kan?"Alih-alih menjawab, Theo justru mengalihkan pembicaraan. "Siapa dia?""Sekretarisku," jawab Earl singkat.Sungguh, Theo sama sekali nggak percaya. Namun, dia tidak bertanya lebih jauh. Dia nggak ingin merusak mood Earl yang baru sampai London.Ayah dan anak itu pun saling bertukar informasi tentang dunia bisnis.
"Jadi, Nathan itu orangnya seperti apa?" Baru saja mendarat, Audrey langsung bertanya soal Nathan. "Dia nakal," jawab Earl Sanders. Pria itu menggandeng tangan Audrey dengan mesra, menuntun gadis itu menuju imigrasi sebelum mengambil koper. Mendengar jawaban singkat itu, Audrey pun berkata, "Tidak bisakah mendeskripsikannya lebih detail?" Jujur, meski kedatangannya ke London untuk menjemput anak itu, tapi Audrey sama sekali nggak bisa membayangkan bagaimana rupanya. Usia Earl 29 tahun sekarang, kalau adik nomor duanya masih hidup, seharusnya dia berumur 25 tahun. Lalu, anggap saja jarak Shaquille dan Nathan 4 tahun. Itu berarti usia Nathan 21 tahun. "Kamu yakin membiarkan dia tinggal di rumahmu?" tanya Audrey lagi. "Kenapa?" Kali ini, giliran Earl yang bertanya. "Kamu keberatan adik iparmu tinggal bersama kita?" Aduh, bagaimana menjelaskannya, ya? Usia mereka hanya terpaut 3 tahun saja. Audrey yakin, anak itu pasti mengganggunya nanti. Apalagi melihat 'orang luar' sepeti dia
Keesokan harinya, Audrey dan Earl pergi ke bandara. Kepergian mereka diantar oleh Edgar. "Kapan kalian akan pulang?" tanya Edgar."Minggu depan," jawab Earl."Bukannya kalian hanya pergi tiga hari?" tanya Edgar lagi."Nggak." Earl menggeleng. "Aku berbohong soal itu."Earl tahu, Audrey pasti menolak kalau sampai tahu perjalanannya selama itu. Makanya dia berbohong. Tapi, mau bagaimana lagi?Tujuan Earl ke London bukan hanya untuk urusan bisnis, tapi mau menjemput adiknya juga. Selain itu, ia mendapat informasi kalau pacar dan ibu Audrey ada di kota itu. Kalau keadannya memungkinkan, Earl ingin mempertemukan Audrey dengan ibunya sebagai kejutan."Haruskah kita check in sekarang?" tanya Audrey. Gadis itu akhirnya kembali setelah pergi ke kamar mandi."Tentu," jawab Earl.Mereka pun berpamitan. Setelah memastikan keduanya selesai check in, Edgar bergegas meninggalkan bandara. Tepat saat itulah ponselnya berbunyi.Itu adalah panggilan telepon dari Hudson Moeis."Iya, Tuan?!" jawab Edgar.
Tiga minggu kemudian ... "Bukankah dia keren?" tanya Audrey pada Aleia. Gadis itu melihat Audrey dengan tatapan aneh. Bukannya menjawab, Aleia justru bertanya, "Apa kamu baru menang lotre?" "Sembarangan!" Audrey mencubit pipi sahabatnya. "Kamu pikir aku hobi melakukan hal buruk seperti itu?" Siapa juga yang menang lotre. Audrey hanya sedang datang bulan, makanya dia senang. Ia tak perlu takut lagi dengan kehamilan yang beberapa minggu ini terus menghantui pikirannya. Karena tak ada hal penting yang perlu mereka bicarakan, Aleia pun mengusir Audrey. "Minggir sana. Jangan menggangguku!" "Oke!" Audrey mengangguk, kemudian bergabung dengan Friska di belakang. Hari ini adalah proses syuting pengambilan iklan Joanna, hari paling penting sepanjang karir Audrey selama bergabung dengan perusahaan Jeremy Sanders. Nyeri haid atau nyeri sendi yang ia rasakan tak akan membuatnya bermalas-malasan. Dia melihat proses syuting dari jarak cukup jauh, mengagumi akting Joanna yang memukau bersam







