LOGIN"Aku tidak menyangka pria sesempurna dirimu masih diselingkuhi oleh mantan istrimu, aku merasa mantan istrimu tidak waras." Leon tersenyum miring dengan perkataan Tasya yang menurutnya malah lucu.
"Dia memang sudah gila, dia tidak cukup jika diberi satu pria saja, entah sejak kapan dia seperti itu tapi aku bersyukur tidak selamanya bersamanya. Dulu aku tergoda dengan tubuhnya, untuk itu saat dia hamil, aku harus bertanggung jawab karena di keluargaku tanggung jawab adalah yang utama." "Jadi kau menikahinya bukan karena cinta?" Tasya menyimpulkan dari perkataan Leon jika dirinya dulu melakukannya tanpa cinta bersama mantan istrinya. "Entahlah, hanya saja dia tidak puas denganku saja, dia ternyata masih suka berkelana dengan yanh lain," "Tapi kau harus memberitahu putrimu tentang ibunya, jika kau tidak memberitahu yang sebenarnya, kemungkinan besar putrimu akan berusaha membuat kalian dekat kembali. Karena mengira jika kalian hanya salah paham." Tasya merasa putri dari Leon memang harus tau meskipun itu adalah ibunya. "Memang iya, sudah banyak dilakukan olehnya dan sudah pasti itu juga karena hasutan ibunya untuk memiliki rencana agar aku bisa kembali dengan ibunya, tapi aku tidak akan pernah mau." Leon menghela nafas panjangnya jika mengingat kejadian di mana "Entah dulu aku mencintainya atau tidak, tapi kami bersama karena dia hamil anakku, tapi saat tau sikapnya seperti itu, aku malah menyesal telah menikahinya." Leon bukan hanya menyesal sudah menikahinya, namun dia juga bahkan menyesal bisa tertarik dengan wanita sepert dia. "Aku mengerti perasaanmu, tidak perlu di sesali karena kau melakukannya sebagai pria yang bertanggung jawab, aku malah bangga denganmu yang mau bertanggung jawab padanya padahal waktu itu kau sangat muda." Tasya mencoba menenangkan Leon agar tidak terlalu mengingat masa lalunya. "Hm, waktu itu sepertinya aku memang sudah gila, gairah dan hasrat menyelimutiku. Aku pria normal dan baru berkelana dalam dunia seperti itu. Untuk itu aku tidak bisa menahannya." Leon jujur tentang masa lalunya yang membuat Tasya terkekeh sendiri. Dia sendiri juga tidak terlalu suci dan mengerti akan hasrat dimasa muda karena dia sendiri juga pernah melakukannya dnegan mantan kekasihnya, hanya saja dia tidak peenah sampai mau tidur dengannya. Obrolan mereka terhenti ketika Tasya merasakan milik Leon kembali bereaksi, dia sepertinya tau apa yang terjadi setelah ini karena Leon pasti tidak membiarkan miliknya terbangun tanpa ditidurkan terlebih dahulu. "Aku tau kau merasakannya." Leon tersenyum miring ketika miliknya menyentuh rubuh Tasya nakun Tasya tidak mencoba untuk menghindarinya. Tasya juga tersenyum dan akhirnya meraba dada Leon dengan jarinya. "Apa aku harus memulainya?" Perkataan Tasya membuat Leon mengerang karena jari nakalnya menyusuri perutnya sampai ke bawah dan bahkan hampir menuju miliknya "Ya, semakin liar dan semakin kau bisa memuaskanku, aku akan senang nantinya," Leon menangkap tangan Tasya yang hendak menyentuh miliknya, Tasya tersenyum dan akhirnya membuka selimutnya sehingga tubuh polosnya terlihat menggoda di mata Leon. "Tapi kau tadi hanya membawa satu pengaman." Tasya memberitahu karena Leon memang hanya membawa satu pengaman karena di lupa untuk membelinya. "Tidak masalah, aku akan mengeluarkannya diluar, jikapun di dalam. Kau meminum obat pencegah kehamilan, aku rasa itu sudah cukup." Leon rasanya tidak tahan dan tidak peduli jika pun dia melakukannya dengan pengaman karena Tasya selama ini juga selalu meminum obat pencegah kehamilan untuk berjaga-jaga ekstra. Tasya sendiri mengangguk saja dan langsung naik ke atas Leon lalu mengarahkan tubuhnya ke dalam milik Leon yang membuat keduanya mengerang. Tasya menggerakkan tubuhnya yang semakin lama membuat dia juga ketagihan dengan milik Leon, bahkan obrolan mereka selama beberapa hari ini membuat dia merasa nyaman dan tidak menganggap Leon sebagai sugar daddy-nya, melainkan kekasihnya. "Oh god, Leon! Ini— Tasya tidak bisa melanjutkan perkataannya dan malah memelik terkejut, dia juga menggigit bibir bawahnya karena Leon menghentakkan miliknya dengan cepat sehingga membuat Tasya rasanya tidak bisa menahannya, tak lama Leon merasakan tubuh Tasya menegang yang dimengerti olehnya jika sugar baby-nya ini mendapatkan pelepasannya. "Berbaliklah, Baby." Pinta Leon yang dimengerti oleh Tasya, meskipun masih sedikit gemetar di lututnya, Tasya berbalik dan mengerti apa yang akan dilakukan oleh Leon selanjutnya. Dia menggigit bibir bawahnya dan akhirnya tidak bisa menahannya ketika Leon sudah melakukan penyatuan atas dirinya "Aaah— Leon bahkan sedari tadi mengerang karena menikmati tubuh Tasya yang sangat berbeda dengan tubuh mantan istrinya dulu, entah mungkin karena Tasya masih muda, namun meskipun begitu, dulu dia sangat ingat jika rasanya lebih nikmat dengan Tasya dibandingkan dengan ibu dari putrinya. "Leon— "Natasya— Mereka berdua sama-sama mencapai puncak mereka dan saling menyebut satu sama lain, Leon bahkan menghentakkan miliknya lebih dalam dan melupakan jika dirinya tidak memakai pengaman. Tasya mengatur nafasnya sebentar namun lalu tersadar karena tadi Leon mengeluarkannya di dalam. "Kau mengeluarkannya di dalam?" Tasya tiba-tiba panik yang membuat Leon terkejut dan juga tersadar. "Aku lupa, cepat kau minum obatmu." Leon benar-benar tidak bisa menahan diri tadi untuk melepaskannya begitu saja, tubuh Tasya terlalu nikmat baginya sampai melupakan jika kesalahan sedikit saja mungkin bisa membuat mereka mengubah segalanya. Tasya langsung mengambil tas-nya dan mengambil obat pencegah kehamilan yang selalu dia bawa. Mereka berdua tentu saja tidak mau kebobolan mengingat mereka hanya sebagas teman ranjang, meskipun Leon merasa nyaman dengan Tasya, dia tidak berniat ingin serius dengan hubungan ini, baginya dia hanya membutuhkan kebutuhan biologis dan teman agar tidak kesepian karena selama ini dia memang membutuhkan teman seperti ini. Leon melihat ke arah Tasya sebentar lalu mengambil dompetnya. "Ini, ambilah. Di sini ada uang. Kau bisa menggunakannya." Leon merasa tidak masalah jika memberikan satu kartunya karena dia bahkan selalu puas dengan permainan Tasya dan bahkan perlakuan Tasya padanya cukup baik dan membuatnya nyaman, "Apa aku boleh menghabiskannya?" Tasya tadinya terkejut dengan Leon yang memberikan kartu padanya, dan sudah pasti itu isinya banyak, karena teman Tasya yang menjadi sugar baby teman Leon juga diberikan kartu seperti ini, Dia juga tadi sebenarnya reflek bertanya kepada Leon karena jika jumlah uang di dalam krtu itu banyak, dia bisa menggunakannya untuk operasi adiknya dengan lebih cepat. "Terserah padamu." Leon mengerutkan dahinya karena Tasya seperti sangat antusias ketika dia memberikannya kartu, meskipun memang itu tujuannya mencari sugar daddy, tapi dia seperti ingin menghabiskannya dalam waktu singkat. Tasya semakin berbinar dan langsung menerimanya, dia juga reflek memeluk Leon dengan erat karena saking senangnya. "Jangan seperti ini, karena kau bisa membangunkannya lagi."Hari-hari berlalu, hubungan Alex dan Liora semakin dekat, bahkan mereka sudah pindah ke negara Alex karena memang Liora di boyong ke sana olehnya. Hubungan mereka benar-benar layaknya suami istri, Liora sendiri juga sudah mencintai suaminya ini karena seringnya mereka berhubungan dan selalu bersama. Kini Liora mengunjungi kantor suaminya dengan perut yang sudah sedikit membesar. Liora langsung masuk ke dalam sana tanpa mengetu pintu ruangan Alex. Di sana ternyata dia sedang menerima telefon dari keliennya namun ketika melihat istrinya yang masuk, dia tersenyum dan mengkodenya untuk mendekat. Liora duduk di atas pangkuan Alex namun dia masih mengobrol dengan rekan kerjanya. Cukup lama akhirnya membuat Liora menjadi bosan sendiri. Dia bahkan cemberut karena Alex masih sibuk dengan kliennya. Tadinya dia tidak ingin mengganggu dan ingin turun dari pangkuan Alex, namun dia menahannya dan meminta Liora untuk tetap di atas pangkuannya. "Menyebalkan sekali!" Batinnya yanh kesal
Malam harinya, semua orang berkumpul karena ingin makan malam bersama, namun Alex di kejutkan oleh perkataan Liora ketika dia mengatakan ingin tidur dengan ibu sambungnya."Sayang, kau bilang tadi ingin tidur bersamaku." Alex bahkan protes dan tidak peduli jika di depannya masih ada mertuanya."Entahlah! Aku malam ini sedang ingin tidur dengan Mommy, tidak apa kan?" Liora bahkan memohon yang membuat Akex sebenarnya kesal namun tidak bisa apapun dan hanya bisa menyetujuinya.Padahal dia sudah membayangkan bercinta kembali dengan Liora dan dalam keadaan sadar, pasarinya rasanya akan jauh lebih nikmat dibandingkan waktu itu Liora keadaan mabuk."Tidak! Kau harus tidur dengan suamimu, Liora!" Leon yang kini memprotes karena putrinya ingin merebut istrinya malam ini. Padahal dia juga merencanakan hal lain terhadap istrinya."Daddy biasanya setiap malam sudah tidur bersamanya, aku sedang ingin. Tidak apa kan, Mom!" Liora memandang Tadya yang terlihat bingung.Sejujurnya dia tau maksut prote
Alex dengan buru-buru juga mengganti pakaiannya dan menutupnya dengan bathrobe. Dia turun ke bawah dan menyusul Liora ternyata sudah berenang di sana. Dia tersenyum bahkan sudah bisa melihat tubuh Liora dari atas sana. Alex turun ke bawah yang membuat Liora sudah ada di tepi menoleh. Dia tersenyum ketika Alex menghampirinya. "Jangan terlalu lama berenang nanti, ingat jika kau sedang hamil." Ucap Alex memberitahu yang di angguki oleh Liora. Liora kembali berenang dan akhirnya di susul oleh Alex. Dia ikut berenang beberapa kali namun terakhir dia menarik tubuh Liora yang membuat Liora jelas saja terkejut."Sudah cukup." Alex merengkuh tubuh Lior dan menepikannya di samping kolam.Liora terkekeh dan akhirnya menurut saja karena dia sendiri juga sudah cukup puas."Kenapa kau memandangiku seperti itu." Liora tersenyum karena Alex memandanginya dan bahkan masih merengkuh tubuhnya."Mengagumi kecantikan istriku."Perkataan Alex hanya di tanggapi Liora dengan senyuman.Tangannya refle
Setelah makan siang, Leon, Tasya dan putranya pulang ke mansion, sednagkan Alina masih ada di hotel karena dia akan kembali ke negaranya besok. Sama seperti Alina, Alex dan Liora juga masih ada di hotel dan akan pulang besok pagi. "Besok pesawat mama pagi?" Tanya Luora yang di angguki oleh Alex. "Jam 8 pagi, jam 6 mama sudah berangkat dari sini." Jawabnya yang di mengerti oleh Liora. "Kita kembali dalam satu minggu ini, kau ikut denganku ke megaraku, tidak apa kan, Sayang?" Alex memberitahu meskipun sebenarnya sebelumnya dia sudah berdiskusi dengan Liora dan keluarganya. "Iya, aku tau! Sebelum menikah kan kau sudah memberitahuku dan keluargaku. Aku memang harus mengikutimu." Perkataan Liora akhirnya membuat Alex tersenyum dan memeluknya dari belakang. Liora yang tadinya sedang mengganti menyisir rambutnya tentu saja terkejut namun tersenyum dan membiarkannya. "Terima kasih, Sayang." Akex mencium pipi Liora dan di tanggapi olehnya dengan anggukan dan senyuman. Liora
Keesokkan paginya. Alex terbangun karena terkejut ada yang seperti mendusel ke arahnya, dia tersenyum dan ternyata Liora, wanita yang sudah resmi menjadi istrinya ini. Alex malah memeluk tubuhnya agar membuag tubuh Liora menjadi merasa nyaman. Dan benar saja, ketika Alex memeluk tubuhnya, Liora semakin merapatkan tubuhnya dan membalas pelukan Alex. "Wangi sekali." Gumamnya namun dia sepertinya tersadar sesuatu jika ini bukan wangi ayahnya atau ibu sambungnya. Dia mengingat di mana dirinya kemaren baru menikah dengan Akex dan akhirnya terkejut. Dia ingin melepaskan diri namun Alex mencegahnya. "Alex." "Hm." Liora meringis karena ternyata benar jika yang dipeluk olehnya adalah Alex, mantan bosnya yang sudah menjadi suaminya sekarang. "Biarkan seperti ini." Alex tau jika Liora tadinya ingin melepaskan diri darinya, untuk itu dia dengan cepat mencegahnya dan tetap memeluknya dengan erat. "Jangan terlalu erat, anakku tidak bisa bernafas nanti." Omelnya yang akhirnya mem
Hari-hari berlalu, kini tibalah di mana hari pernikahan Alex dan Liora, pernikahan mereka di buat sangat mewah dan meriah, apalagi antara kedua keluara adalah orang yang penting. Alex menunggu calon pengantinnya dengan jantung yang berdetak kencang, dan ini pertama Kalinya dia seperti sedikit gugup akan suatu hal, padahal sebelumnya dia tidak pernah seperti ini. Dia tersenyum lebar ketika sudah melihat Liora yang berjalan ke arahnya. Dia benar-benar mengagumi kecantikan Liora yang entah kenapa bodohnya dia baru menyadarinya saat dulu dia salah kirim foto kepadanya. Liora sendiri tersenyum kepada Alex dan entah kenapa meakipun dia belum mencintainya tapi dia merasa sangat bahagia dan tidak menyesal untuk menikah dengannya. Dia herfikir jika memang Alex lah yang berhak menikahinya karena bayi yang ada di perutnya memang anaknya. Proses pernikahan mereka terjadi tidak lama dan akhirnya mereka kini sudah resmi menjadi suami istri. Liora sedikit gugup saat Alex ingin menciu







