Mag-log in"A-apa? Tapi bukankah umurmu masih 40 tahun? A-ku berumur 25 tahun, jika kau memiliki putra, itu artinya kau memiliki anak saat usia 15 tahun?" Tanyanya yang masih terkejut. Dia memang mengira jika Leon pasti memiliki anak, tapi tidak mengira jika anaknya seumuran dengannya.
Leon tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan, dia menggendong Tasya ke kamar namun dibiarkan olehnya. "Umur putriku 22 tahun." Leon menjelaskan lalu duduk di sofa, hanya saja kini mereka berganti di sofa kamarnya. "Saat remaja, aku memang menghamili seorang wanita, ibu dari putriku yang sekrang, waktu itu aku masih berusia 17 tahun." Lanjutnya yang membuat Tasya sedikit shock. "Astaga! Kau nakal sekali." Tasya tanpa sadar terkekeh dengan cerita Leon namun lalu menghentikan tawanya saat menydarinya "Maaf, aku hanya bercanda, aku tidak berniat mencibirmu." Tasya menjadi takut jika Leon tersinggung dengan perkataannya dan bahkan dia menertawakannya. "Tidak apa, aku menyukainya." Leon tersenyum dan sebenarnya tadinya juga ingin tertawa dengan perkataan Tays karena dia tidak mengelak jika saat remaja dia memang nakal, Leom membuka baju Tasya yang kini akhirnya hanya memakai bra saja. "Sebelumnya aku tidak pernah mengobrol seperti ini lagi dengan perempuan semenjak bercerai dengan mantan istriku." Leon mengelus pelan punggung Tasya dan melepaskan pengait bra-nya. "Berapa tahun kau menduda?" Kini akhirnya Tasya memberanikah bertanya lahi ketika Leon berkata jika Leon menyukai mengobrol dengannya. "Dua tahun, tapi sebenarnya hubunganku dan mantan istriku sudah sepuluh tahun tidak baik-baik saja." Tasya memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya ketika Leon sudah mulai mempermainkan bongkahan kenyalnya. Aktifitas panas pun terjadi, Leon sendiri sudah tidak tahan ketika sudah melihat tubuh indah Tasya, dia merasa sudah kecanduan dengan tubuh Tasya, untuk itu dia meminta Tasya untuk melayaninya lagi. Kini tubuh Tasya bergerak liar di atas tubuh kekar Leon yang membuat keduanya semakin merasa bergairah. Meskipun masih sedikit tidak nyaman di area miliknya, namun saat Leon menggerakkan tubuhnya, rasanya sakit itu hilang dan tergantikan dengan kenikmatan yang luar biasa. "Aku menyukai saat kau liar seperti ini." Leon mengerang dan merasa gemas dengan milik Tasya karena miliknya benar-benar berada dipijat dan diremas di dalam sana. Rasanya benar-benar berbeda dengan mantan istrinya yang dulu. Sedangkan Tasya hanya menanggapinya dengan senyuman, tidak dipungkiri jika Tasya sendiri juga sudah mulai nyaman dan menyukai bermain dengan Leon, awalnya memang dia sedikit menyesal, karena dia memang merasa seperti jalang dan menjual tubuhnya, namun setelah sedikit mengobrol dengan Leon, menurutnya Leon tidak sekaku itu, dia masih asik dan bisa di ajak mengobrol layaknya teman atau pasangan pada umumnya. Setelah permainan panjang mereka, Tasya yang kelelahan memilih untuk berbaring, dia masih mengatur nafasnya karena permainan Leon malah ini lebih lama dari pada kemaren. Untuk itu dia lebih kelelahan karen Leon tidak melakukannya satu kali. "Jangan lupa untuk meminum obatmu." Leon mengingatkan Tasya yang di angguki olehnya. Tasya hanya istirahat sebentar namun lalu membersihkan tubuhnya dan akan pulang. "Maaf aku tidak bisa menemanimu malam ini, aku sudah berjanji dengan adikku jika aku akan pulang malam ini." Tasya memang tidak bisa menemani Leon bermalam karena dia tidak ingin membuat adik dan Tantenya curiga. "Tidak apa, hanya saja sebenarnya ini sudah malam." Leon sebenarnya tadi sudah mencegah Tasya untuk pulang, entah kenapa dia tidak tega melihat Tasya yang pulang malam-malam seperti ini setelah dia memuaskannya. "Tidak apa," jawabnya singkat yang membuat Leon akhirnya terdiam. "Tunggu, Natasya!" Leon mencegah Tasya yang ingin keuar dari kamar dan membuat dia akhir berhenti dan berbalik "Tunggu aku berganti baju sebentar, biar aku mengantarmu." Perkataan Leon malah membuat Tasya terkejut dan merasa tidak enak. "Tidak, itu tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." Tentu saja Tasya menolak karena selain merasa tidak enak, dia juga tidak mau nantinya ada yang melihatnya. "Tidak apa, sekalian aku ingin pulang saja." Leon berdiri dan pergi ke kamar mandi sebentar untuk membersihkan dirinya tanpa menunggu Tasya yang tadinya ingin berbicara lagi Tasya pun tidak ada pilihan lain selain menurutinya, dia menunggu Leon yang sedang membersihkan dirinya dan mengganti bajunya barulah dia keluar bersama dari apartemen. "Di mana rumahmu." Tanya Leon ketika mereka sudah meninggalkan parkiran apartemen. "Aku pikir kau sudah tau." Tasya memang mengira jika Leon tau alamaynya karena sebelum mereka menjadi pasangan simpanan seperti ini, Leon benar-benar detail meminta identitasnya bahkan sampai alamatnya dan keluarganya. "Aku hanya tau jalannya." Leon memang tidak tau alamat lengkapnya dan hanya membacanya dengan sekilas. Tasya akhirnya memandunya dari dalam mobil yang membuat Leon mengerti. Perjalanan mereka hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit karena memang lokasinya tidak jauh dari apartemen Leon. "Aku turun di sini saja, jika di depan, aku takut Tanteku akan melihatku turun dari mobil mewah dan memiliki pemikiran yang tidak-tidak." Tasya menolak di antar sampai rumah dan di mengerti oleh Leon.. "Terima kasih.". "Tunggu!" Leon mencegah Tasya yang akan keluar dari mobil setelah memikirkan sesuatu. "Besok hari libur, ikut denganku besok, aku akan menjemputmu." Ajakan Leon membuat Tasya malah terkejut "B-besok?" Beo Tasya. "Ya, kenapa kau selalu terkejut jika aku memintamu menemaniku? Kau sudah ada janji dengan orang lain?" Leon sedikit kesal dengan Tasya karena dia selalu terkejut dengan ajakannya dan mengira jika dia memiliki janji dengan orang lain lagi. "Tubuhmu dan waktumu sudah menjadi milikku saat kau sudah menyetujui menjadi sugar baby-ku, Tasya. Aku tidak ingin kau menolakku." Leon menegaskan lagi dan memgingatkannya akan perjanjiannya, dan membuat Tasya menjadi bingung sendiri dan merasa tidak bebas dengan kehidupannya sekarang. "Aku menjemputmu jam 7 pagi, kau harus sudah ada di sini, atau aku akan masuk ke dalam rumahmu dan membawamu." Perkataan Leon membuat Tasya melotot dan reflek menggeleng dengan cepat. "Tidak! Jangan. Baiklah aku akan ikut denganmu besok." Tasya menjadi panik karena perkataan Leon, dan dia sangat tau jika itu bukan hanya sekedar ancaman. Leon tersenyum tipis ketika Tasya sudah keluar dari mobilnya, entah kenapa hari liburnya, dia malah mengajak Tasya untuk bersamanya.Meskipun awal pertemuannya dengan bosnya terlihat seperti biasanya, tapi entah kenapa Liora masih saja merasa canggung dan malu jika nantinya berhadapan dengan bosnya. Liora bahkan sedari tadi menghela nafas panjangnya sebelum masuk kedalam ruangan Alex. Tok Tok Setelah terdengar suara Alex yang memperbolehkan dia masuk, dia akhirnya masuk ke dalam. Dia melihat Alex yang sedang serius dengan laptopnya. "Tuan, sepuluh menit lagi anda ada meting." Ucap Liora yang membuat Alex akhirnya menghentikan aktifitasnya dan mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah Liora. Liora yang dilihat seperti itu akhirnya menunduk. "Batalkan saja, hari ini aku tidak ingin ke manapun." Ucap Alex yang dimengerti oleh Liora. Liora keluar dari sana dengan hati yang semakin lega, dia semakin yakin jika foto itu tidak sampai di lihat oleh bosnya. Dia bahkan keluar dari ruangan Alex dengan senyuman yang mengembang sempurna. Liora menghubungi beberapa kliennya karena Alex yang membatalkan meting
Hari-hari berlalu, dan akhirnya Liora benar-benar melakukan hubungan jarak jauh dengan kekasihnya. Kini sudah satu minggu Liora hanya berhubungan lewat ponsel saja. Dia yang baru selesai mandi terkekeh sendiri melihat tubuhnya yang hanya memakai bra dan kain segitiga. Dia jadi mengingat Aiden dan akhirnya mengambil gambar dirinya bahkan dengan pose menggoda. "Perfect! Oke. Tinggal kirim." Gumam Liora mengetik nama My Boy di ponselnya karena dia menamai Aiden dengan nama itu. Setelah mengirim foto itu. Dia memakai bajunya terlebih dahulu. Ketika dia hendak menghubungi kekasihnya, tapi ternyata dia menghubunginya yang jelas langaung di angkat olehnya. "Kau sudah melihatnya? Bagaimana?" Ucap Liora menggodanya namun Aiden malah tidak mengerti apa maksutnya. "Melihat apa, Sayang?" Aiden yang memang tidak tau jelas saja bertanya namun Liora mengerutkan dahinya. "Fotoku, aku mengirimkan foto kepadamu." Liora menjadi gelisah ketika Aiden malah bertanya seperti itu. "Tunggu!
Malam harinya, Aiden menjemput Liora yang ada di apartemen, dia tersenyum ketika melihat kelasihnya sudah cantik dengan berbalit gaun hitam. "Jangan memandangiku saja. Ayo kita pergi. Aku sudah lapar." Bukan karena lapar, sebenarnya Liora merasa malu sendiri jika di lihat seperti ini meskipun itu dengan kekasihnya sendiri. "Kekasihku cantik sekali." Aiden bahkan merengkuh tubuh Liora yang membuat dia tersenyum. "Kita harus berangkat sekarang." Ucap Liora. Aiden tersenyum dan mencium bibir Liora sekilas lalu akhirnya menggandeng tangannya dan membawanya pergi dari sana. Dia sengaja sudah menyewa ruangan privat untuk makan malam berdua dengan Liora. "Ada apa ini? Tumben sekali." Ucap Liora terkekeh. "Ada yang ingin aku bicarakan, Sayang." "Sepertinya serius. Apa ada masalah?" Liora akhirnya mengubah wajahnya menjadi bingung karena sepertinya ada hal yang serius. "Hm, bukan masalah. Tapi lusa aku akan di pindahkan ke kantor cabang selama beberapa bulan." Ucap Aiden yang jel
Hari-hari berlalu, bahkan sudah lebih dari dua tahun Liora tidak juga pulang ke rumah, Leon dan Tasya sudah sering mengunjungi apartemen Liora namun dia tetap tidak mau kembali. Liora bahkan sampai pindah apartemen agar Tasya dan Leon tidak menemuinya lagi. Namun meskipun begitu. Leon tetap tau di mana keberadaan putrinya, hanya saja dia sudah tidak pernah mengunjunginya lagi dan hanya akan memantaunya dari anak buahnya. Pagi ini, Liora pergi ke kantor seperti biasanya, dia selalu naik kendaraan umum saat pergi ke kantor, namun dia juga pernah menggunakan taksi jika dia sudah benar-benar terlambat. Saat di kantor, Liora langsung duduk di mejanya. Dia ingin langsung memulai pekerjaannya karena kemaren belum selesai. Namun tak lama Liora yang melihat bosnya akhirnya berdiri sebentar dan menyapanya. "Jika ada wanita gila itu datang ke sini, jangan sampai dia masuk ke ruanganku." Ucap Alex lalu pergi dari sama sebelum Liora menjawabnya. "Kebiasaan!" Liora mengomel karena bosny
"Aku berjanji akan kembali lebih awal jika metingnya selesai." Leon sebenarnya sudah cuti dan tidak mau menghandle kantornya, namun ada klien penting yang benar-benar tidak bisa di wakilkan orang lain dan harus dia yang datang. "Tidak masalah. Di sini kan ada Noah dan Tante Thresa. Kau bekerjalah saja, cari uang yang banyak." Tasya tersenyum dan memeluk tubuh suaminya meskipun terhalang dengan perutnya yang benar-benar sudah semakin besar, bahkan dia hanya menghirung hari untuk kelahirannya karena memang sudah waktunya dia melahirkan. "Baiklah, hubungi aku jika ada apa-apa. Aku pasti akan mengangkatnya." Ucap Leon yang di angguki saja oleh Tasya. "Aku titip Tasya, Tante." Ucap Leon saat mereka sudah turun dan Leon ingin berangkat meting. "Dia aman bersama kami," Leon berangkat dengan hati yang berat, bagaimana tidak! Masalahnya metingnya berada di luar kota, bahkan perjalanannya saja termasuk lumayan karena waktunya dua jam di perjalanan. Sedangkan di mansion. Tasya sedan
Sudah hampir empat bulan, Liora pergi dari mansion, Tasya juga sudah tidak terlalu memikirkannya karena anak buah suaminya delalu memantaunya dan memastikan jika Liora baik-baik saja di sana. Mereka yang baru selesai dari rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Tasya tersenyum bahagia karena janin Tasya sudah semakin jelas dan sehat. "Sejujurnya memang Liora tidak pantas jika memiliki adik yang kecil seperti ini." Ucap Tasya terkekeh. "Tapi aku masih pantas memiliki bayi bukan?" Leon membanggakan dirinya dan merasa masih pantas untuk memiliki bayi. Namun perkataan Leon membuat Tasya terkekeh. Pada kenyataannya memang wajah Leon masih terlihat sangat muda dan masih cocok memiliki anak lagi. "Kau masih cocok meskipun memiliki istri muda sepertiku." Ucap Tasya memeluk tubuh suaminya dan akhirnya Leon membalasnya dengan merengkuhnya. "Andaikan Liora ada di sini juga, keluarga kita akan semakin lengkap." Ucap Tasya menghela nafas panjangnya. "Kapan kau akan mengajaknya kembali, aku







