Share

Bab 5

Author: Fryda
Malam itu, Helena kembali menerima pesan dari Veronica.

[ Kata suamimu, setiap kali bersamaku, dia selalu merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. ]

Sementara Jazli baru pulang menjelang dini hari.

Keesokan paginya, melihat Helena masih murung, Jazli bersikeras mengajaknya keluar untuk menyegarkan pikiran.

"Ayo lihat vila baru yang kubeli di pinggiran kota. Di sana ada hutan. Nanti setelah kamu melahirkan, kamu bisa menjalani masa pemulihan di sana. Bagus untukmu dan untuk bayi."

Mobil berhenti di depan sebuah vila mewah. Jazli menopang Helena turun dari mobil.

Belum melangkah jauh, pintu vila di sebelah tiba-tiba terbuka. Veronica keluar sambil menuntun seekor anjing Alaskan Malamute bertubuh besar.

"Jazli, kebetulan sekali?" Dia menatap Helena sambil tersenyum. "Sepertinya ke depannya kita akan jadi tetangga."

Tangan Jazli yang menopang Helena langsung mengencang sesaat. Dia tersenyum dan berkata, "Ini Veronica, kakak yang sudah kukenal sejak kecil."

Veronica tersenyum penuh makna. "Aku dan Jazli memang dekat sejak kecil. Vila ini kami beli bersamaan. Bahkan konsep interior vila kalian juga aku yang bantu menentukannya."

Jazli buru-buru menjelaskan, "Kak Veronica memang belajar desain interior."

Helena menarik sudut bibirnya tipis, tetapi hatinya seolah jatuh ke jurang tak berdasar. Kalau dia tidak mengetahui kebenarannya, apakah pria itu akan berselingkuh dengan Veronica saat dia sedang menjalani masa nifas?

Amarah membuat ujung jarinya bergetar. Dia mendorong tangan Jazli dan berbalik pergi.

Baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar seruan kaget dari belakang. Tali anjing di tangan Veronica terlepas. Anjing itu langsung mengunci Helena sebagai sasaran dan berlari kencang ke arahnya.

Veronica terlihat seperti terkejut dan tidak memberi perintah satu pun. Helena takut pada anjing. Dia refleks mundur dua langkah.

"Sayang!" Jazli berteriak kaget sambil berusaha menariknya, tetapi kecepatannya kalah jauh dari anjing itu.

Anjing tersebut menghantam perut Helena hingga dia terjatuh. Anjing seberat puluhan kilo itu langsung menindih tubuhnya, dari tenggorokannya keluar suara peringatan berburu yang mengerikan.

Dalam kondisi ketakutan, Helena bahkan tidak mampu mengeluarkan suara apa pun.

Detik berikutnya, anjing itu membuka mulutnya yang penuh taring dan langsung menggigit tulang belikatnya. Darah menyembur keluar.

Helena mengerang tertahan, wajahnya pucat pasi. Dia merasakan cairan hangat mengalir dari bawah tubuhnya.

"Sayang!"

Mata Jazli memerah. Dia menendang keras anjing besar yang menindih Helena, lalu menggendong tubuh Helena yang berlumuran darah dan berlari kembali ke mobil.

"Ke rumah sakit!" teriaknya marah. Kedua tangannya yang memeluk Helena bergetar, tangan dan dadanya sudah penuh dengan darah Helena. Dia menempelkan wajahnya ke wajah mungil Helena yang dingin dan pucat. "Nggak apa-apa, Sayang. Kamu akan baik-baik saja, Sayang ...."

Helena merasakan sensasi basah di pipinya. Itu adalah air mata Jazli.

Dalam kesadarannya yang kabur, dia seakan kembali ke tahun keempat kuliahnya. Saat itu dia bersikeras mencari tempat magang sendiri, tetapi malah bertemu dengan pria cabul saat wawancara.

Hari itu, dalam keadaan terdesak, dia melompat dari lantai tiga dan jatuh dengan tubuh berlumuran darah. Jazli kebetulan datang. Saat membawanya ke rumah sakit hari itu, keadaannya juga persis seperti sekarang.

Kemudian, bos yang berniat jahat padanya dipukuli hingga bersimbah darah tepat di hadapannya. Bos itu sampai kehilangan fungsi tubuhnya dan perusahaannya bangkrut.

Helena kehilangan kesadaran.

Ketika terbangun kembali, dirinya sudah didorong keluar dari ruang operasi. Jazli bergegas menghampiri dan menggenggam erat tangannya serta menemani sepanjang perjalanan.

Setelah semuanya tertata, dia bertanya kepada dokter, "Kenapa dia bisa mengalami pendarahan hebat? Bagaimana dengan bayinya? Nggak apa-apa, 'kan?"

Dokter menatapnya dengan heran. "Itu karena masa pemulihan setelah keguguran sebelumnya nggak dijalani dengan baik ...."

Pintu bangsal terbuka.

Veronica berdiri di ambang pintu sambil membawa keranjang bunga, raut wajahnya penuh rasa bersalah. "Maaf, Jazli. Aku datang untuk meminta maaf."

Jazli mengatupkan bibirnya, lalu merapikan sudut selimut Helena. "Sayang, aku keluar sebentar."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 22

    Hati Jazli menegang. Dia segera teringat kejadian beberapa hari lalu ketika dia berkelahi dengan Adrian di depan klinik hingga masuk berita. Besar kemungkinan Veronica melihat berita itu dan berniat membalas dendam pada Helena!Sementara itu, Veronica telah tiba di bandara Kota Bridge. Wajahnya tertutup masker, rambutnya kering dan menguning. Dia mengenakan celana panjang dan atasan lengan panjang biasa, menutupi tubuhnya rapat-rapat, tetapi tetap terlihat kurus kerempeng.Saat dia membungkuk memungut tas yang terjatuh, terlihat jelas memar di pergelangan tangannya.Tatapannya suram dan penuh kebencian. Dia naik taksi dan langsung menuju klinik tempat Helena bekerja.Di perjalanan, dia terus mengingat potongan-potongan hidupnya selama tiga tahun terakhir. Keluarga Kartono bangkrut, ayahnya meloncat bunuh diri, ibunya hidup miskin melarat, sementara dirinya dikurung di rumah sakit jiwa dan disiksa siang malam.Kondisi mentalnya sudah lama tidak normal. Satu-satunya hal yang menopangnya

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 21

    Kedua pria itu berdiri di depan pintu mobil.Adrian menyerahkan secangkir kopi kepadanya. "Jazli, aku harap kamu nggak muncul di hadapan Helena lagi."Wajah Jazli menggelap. Dia menepis tangan Adrian dengan kasar. Kopi pun tumpah ke tanah. "Kamu punya hak apa?"Matanya memerah. Kedua tangannya mengepal. "Helena itu milikku! Dia hanya belum memaafkanku! Kami menjalani hubungan delapan tahun! Cepat atau lambat, dia pasti akan kembali ke sisiku!"Jazli berbicara sendiri, seolah-olah sedang meyakinkan dirinya. "Helena mencintaiku! Cepat atau lambat, dia pasti akan memaafkanku!"Adrian hanya menatapnya dalam diam. Baru setelah Jazli selesai berbicara, dia membuka mulut. "Saat Helena meninggalkanmu dulu, dia menderita depresi berat. Setelah itu dia pernah mencoba bunuh diri dan aku yang menyelamatkannya."Wajah Jazli langsung pucat pasi. Dia tiba-tiba teringat kejadian ketika Helena mencabut bunga mawar di taman. Saat menggendongnya, Jazli menyadari berat badannya turun banyak. Namun, saat i

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 20

    "Aku yang menyuruhmu mencariku?" tanya Helena dengan suara dingin, lalu menyunggingkan senyuman sinis. "Jazli, kamu melakukan semua ini untuk diperlihatkan ke siapa?""Kita sudah lama cerai. Aku sudah mengatakan dengan sangat jelas agar kamu benar-benar enyah dari duniaku! Kenapa kamu masih muncul di hadapanku untuk membuatku muak?""Kamu nggak merasa sikapmu ini disebut cinta yang dalam, 'kan? Ini namanya merendahkan diri!"Mendengar kata-kata Helena, kepala Jazli terasa berdengung hebat. Dia tidak menyangka Helena memandangnya seperti ini, membuat tiga tahun pencariannya tampak seperti lelucon.Suaranya tercekat sedikit. "Helena, karena kamu, rambutku memutih dalam semalam ...."Pandangan Helena berhenti dua detik pada rambut putihnya dan tubuhnya yang kurus kering, lalu dia kembali mencibir dingin. "Itu akibat dari perbuatanmu sendiri."Jazli menatap ekspresi sinisnya. Hatinya seakan-akan disobek. Suaranya bergetar menahan sakit. "Helena, jangan perlakukan aku seperti ini. Aku menci

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 19

    Saat itu, Helena baru saja meninggalkan tanah air. Pertama-tama, dia naik kapal pesiar ke Jepang, lalu berkeliling hingga sampai ke Eropa.Dia memiliki aset yang cukup, tetapi telah kehilangan tujuan hidup. Dia berkelana ke beberapa negara di Eropa, hingga perlahan tiba di Finlandia. Sebuah negara yang indah dan romantis, tetapi juga sangat menyesakkan hati.Helena menyewa sebuah homestay. Setiap hari dia duduk di depan jendela memandangi salju dan aurora. Pikirannya terus dipenuhi bayangan anaknya yang telah tiada, pernikahan yang gagal dan penuh tipu daya, serta ayahnya yang telah tiada. Hidupnya kehilangan jangkar. Dia benar-benar kehilangan dorongan untuk melangkah.Suatu kali setelah selesai melihat aurora, Helena tiba-tiba berdiri dan berjalan menuju danau yang membeku. Saat air sedingin es perlahan menenggelamkan kepalanya, tiba-tiba seseorang melompat ke dalam air, menariknya dengan kuat ke arah daratan.Dia meronta dengan keras, tetapi orang itu menggenggamnya erat, tak mau me

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 18

    "Helena." Dengan mata memerah, Jazli memanggil pelan dengan suara tercekat.Perempuan yang semula menampilkan senyuman profesional itu seketika memasang ekspresi dingin. Dalam sekejap, semua kenangan yang sengaja dia bekukan menyeruak ke benaknya.Meskipun sudah menerima terapi psikologis berkali-kali, emosi Helena tetap bergolak saat ini. Namun, profesionalisme sebagai seorang dokter membuatnya menekan paksa seluruh emosinya.Hanya dalam sesaat, dia kembali mengenakan topeng profesional. "Silakan duduk, Pak Jazli. Konsultasi di bidang apa yang ingin Bapak lakukan?"Sikap memperlakukannya seperti pasien asing itu bagaikan pisau yang menusuk keras jantung Jazli. Nada suaranya sedikit bergetar. "Helena, aku mencarimu selama tiga tahun ...."Helena melirik jam tangannya. "Pak Jazli, kalau nggak ada masalah psikologis untuk dikonsultasikan, silakan pergi. Aku sebentar lagi ada janji dengan pasien lain."Mata Jazli semakin memerah. "Helena, beri aku beberapa menit saja ...."Helena menekan

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 17

    Di hadapannya adalah wajah yang asing.Jazli tertegun. Itu hanyalah seorang perempuan dengan punggung yang mirip.Suami perempuan itu berjalan di sampingnya. Melihat Jazli tak mau melepaskan tangannya, dia maju dan mendorong Jazli dengan keras. "Kamu mau apa?"Seolah-olah kehilangan tenaga, Jazli terdorong olehnya. Seluruh tubuhnya terguling menuruni anak tangga batu dan jatuh menghantam tanah dengan keras.Dia terbaring di tanah dengan tubuh berlumuran darah. Matanya menatap langit dengan tatapan kosong.Di detik-detik sebelum pingsan, di benaknya hanya ada satu pikiran. 'Helena, sebenarnya kamu di mana ....'Jazli mengalami gegar otak berat, dengan banyak patah tulang dan memar di sekujur tubuh. Dia masih ingin memaksakan diri untuk mencari Helena, tetapi orang tuanya yang datang segera memaksanya pulang.Ibunya memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. "Jazli, lihat dirimu sekarang seperti mayat hidup. Apa kamu mau menghancurkan hidupmu demi Helena? Sudah tiga bulan! Kamu harus kemba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status