Share

Bab 4

Author: Fryda
Beberapa hari setelah itu, Helena sibuk membereskan barang-barangnya. Semua yang pernah diberikan Jazli kepadanya dia keluarkan satu per satu.

Melihat tumpukan perhiasan dan tas mahal itu, Helena memilih mengirimkannya ke balai lelang. Seluruh hasil lelang disumbangkannya ke yayasan kesejahteraan anak-anak.

Malam di hari barang-barang itu dikirim, Jazli muncul di rumah dengan wajah lelah. Dia langsung mengangkat Helena dan meletakkannya di sofa, lalu berjongkok di hadapannya.

Sekelompok pengawal membawa kembali perhiasan yang sempat dikirimnya ke balai lelang dan meletakkannya di atas meja kopi.

Jazli mencium jemarinya, sorot matanya penuh kekhawatiran. "Ada apa, Sayang? Kenapa hadiah-hadiah yang kuberikan padamu bisa muncul di balai lelang?"

Kekhawatiran di matanya sama sekali tidak dibuat-buat. Helena menatapnya beberapa detik, lalu menurunkan pandangan. "Nggak ada apa-apa. Tiba-tiba saja nggak suka lagi, jadi kupikir lebih baik dilelang dan hasilnya disumbangkan untuk mendoakan bayi."

Jazli langsung menghela napas lega. Dia bangkit duduk dan menarik Helena ke pangkuannya.

"Kamu benar-benar membuatku takut. Kalau mau menyumbang berapa pun, bilang saja padaku. Kalau kamu nggak suka barang-barang ini, aku bisa belikan yang baru. Tapi kamu nggak seharusnya melelangnya."

Jazli menyentuh ujung hidungnya dengan jari. "Yang ini semuanya aku tebus dengan harga tertinggi."

Helena menatap matanya. "Bukankah kamu sedang dinas luar kota?"

Jazli tersenyum lembut. "Begitu mendarat, aku langsung ke balai lelang. Aku ingin membelikanmu beberapa hadiah."

Ponsel Helena bergetar dua kali. Sebuah foto kalung dari Veronica masuk. "Katanya ini kalung tanda cinta kalian? Aku suka sekali, Jazli memberikannya padaku."

Jari Helena menegang. Pandangannya menyapu tumpukan perhiasan di meja. "Kalung tanda cinta kita mana?"

Sorot mata Jazli berkilat sejenak. "Aku datang terlambat. Kalung itu sudah dibeli orang lain." Dia memeluknya lebih erat. "Sayang, kalau kamu suka, aku akan belikan yang baru untukmu."

"Nggak perlu." Helena memejamkan mata dengan kuat. Cinta di matanya begitu jelas, tetapi kebohongan untuk menipunya meluncur begitu saja tanpa ragu.

Helana tidak ingin lagi berpura-pura bersamanya. "Aku lelah. Aku mau istirahat." Dia melangkah cepat naik ke lantai atas dan mengunci pintu, meninggalkan Jazli di luar.

Dari balik pintu, dia mendengar Jazli bertanya tentang keadaannya, "Ada apa beberapa hari ini? Suasana hati Nyonya kelihatannya sedang nggak bagus."

Pelayan itu menjawab dengan hati-hati, "Tuan, nggak terjadi apa-apa. Hanya saja suasana hati Nyonya sangat buruk, nafsu makannya juga nggak bagus. Beberapa hari ini dia hampir nggak makan."

"Hal sepenting ini kenapa nggak langsung lapor padaku?" Jazli berkata dengan kesal, "Semua urusan Nyonya harus jadi prioritas utama. Ke depannya, apa pun kondisinya, laporkan padaku segera."

"Apa saja bahan yang ada di dapur? Aku mau masak beberapa hidangan kesukaan bayi sendiri."

Suara dan langkah kaki itu makin menjauh. Helena menutup telinganya dan bersembunyi di balik selimut, air mata mengalir dari sudut matanya. Dia tidak mau lagi mendengar cinta palsu seperti itu.

Makan malamnya sangat mewah. Setiap hidangan yang dimasak Jazli disesuaikan dengan seleranya.

Namun, dia baru menelan satu suap ketika teringat ucapan Veronica bahwa pertama kali Jazli masuk dapur adalah karena dirinya, teringat semua "pertama kali" yang disebutkan wanita itu. Tiba-tiba, dia membungkuk dan muntah hebat.

Jazli langsung berlari menghampiri. "Ada apa, Sayang? Nggak cocok sama seleramu?"

Melihat air mata refleks di sudut matanya, Jazli ikut panik. Dia segera mengangkat Helena. "Apa ini karena hormon kehamilan? Aku antar kamu ke rumah sakit."

Helena hendak menolak, tetapi ponsel Jazli berdering.

Di seberang sana, terdengar suara Veronica yang menggoda, "Jazli, aku kangen kamu. Sekarang aku di depan rumahmu. Keluar ya, ada kejutan ...."

Tubuh Jazli menegang sesaat. Helena melihat jakunnya bergerak cepat.

Detik berikutnya, dia menoleh pada Helena dengan wajah penuh rasa bersalah. "Maaf, Sayang. Ada urusan mendesak di perusahaan. Aku suruh sopir antarin kamu ke rumah sakit."

Tanpa menunggu jawabannya, dia langsung berbalik dan pergi dengan langkah tergesa-gesa. Helena menatap punggungnya, lalu mengikutinya dari jauh.

Dia berdiri di sudut yang gelap, melihat mobil hitam di kejauhan membuka pintu. Veronica yang mengenakan gaun merah bertali tipis yang seksi, menjulurkan tangan dan menarik Jazli masuk.

Tak lama kemudian, mobil itu mulai berguncang. Seluruh darah di tubuh Helena seakan membeku.

Pria yang belum lama ini berkata akan menempatkan semua urusannya di nomor satu, kini meninggalkan istri hamil yang muntah-muntah, untuk berhubungan dengan wanita lain tepat di depan rumah.

Helena tertawa lirih dan menangis tersedu-sedu. Dia tetap berdiri di tempat, membiarkan angin malam bercampur serpihan salju mengacak rambutnya dan mengeringkan air mata di wajahnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 22

    Hati Jazli menegang. Dia segera teringat kejadian beberapa hari lalu ketika dia berkelahi dengan Adrian di depan klinik hingga masuk berita. Besar kemungkinan Veronica melihat berita itu dan berniat membalas dendam pada Helena!Sementara itu, Veronica telah tiba di bandara Kota Bridge. Wajahnya tertutup masker, rambutnya kering dan menguning. Dia mengenakan celana panjang dan atasan lengan panjang biasa, menutupi tubuhnya rapat-rapat, tetapi tetap terlihat kurus kerempeng.Saat dia membungkuk memungut tas yang terjatuh, terlihat jelas memar di pergelangan tangannya.Tatapannya suram dan penuh kebencian. Dia naik taksi dan langsung menuju klinik tempat Helena bekerja.Di perjalanan, dia terus mengingat potongan-potongan hidupnya selama tiga tahun terakhir. Keluarga Kartono bangkrut, ayahnya meloncat bunuh diri, ibunya hidup miskin melarat, sementara dirinya dikurung di rumah sakit jiwa dan disiksa siang malam.Kondisi mentalnya sudah lama tidak normal. Satu-satunya hal yang menopangnya

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 21

    Kedua pria itu berdiri di depan pintu mobil.Adrian menyerahkan secangkir kopi kepadanya. "Jazli, aku harap kamu nggak muncul di hadapan Helena lagi."Wajah Jazli menggelap. Dia menepis tangan Adrian dengan kasar. Kopi pun tumpah ke tanah. "Kamu punya hak apa?"Matanya memerah. Kedua tangannya mengepal. "Helena itu milikku! Dia hanya belum memaafkanku! Kami menjalani hubungan delapan tahun! Cepat atau lambat, dia pasti akan kembali ke sisiku!"Jazli berbicara sendiri, seolah-olah sedang meyakinkan dirinya. "Helena mencintaiku! Cepat atau lambat, dia pasti akan memaafkanku!"Adrian hanya menatapnya dalam diam. Baru setelah Jazli selesai berbicara, dia membuka mulut. "Saat Helena meninggalkanmu dulu, dia menderita depresi berat. Setelah itu dia pernah mencoba bunuh diri dan aku yang menyelamatkannya."Wajah Jazli langsung pucat pasi. Dia tiba-tiba teringat kejadian ketika Helena mencabut bunga mawar di taman. Saat menggendongnya, Jazli menyadari berat badannya turun banyak. Namun, saat i

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 20

    "Aku yang menyuruhmu mencariku?" tanya Helena dengan suara dingin, lalu menyunggingkan senyuman sinis. "Jazli, kamu melakukan semua ini untuk diperlihatkan ke siapa?""Kita sudah lama cerai. Aku sudah mengatakan dengan sangat jelas agar kamu benar-benar enyah dari duniaku! Kenapa kamu masih muncul di hadapanku untuk membuatku muak?""Kamu nggak merasa sikapmu ini disebut cinta yang dalam, 'kan? Ini namanya merendahkan diri!"Mendengar kata-kata Helena, kepala Jazli terasa berdengung hebat. Dia tidak menyangka Helena memandangnya seperti ini, membuat tiga tahun pencariannya tampak seperti lelucon.Suaranya tercekat sedikit. "Helena, karena kamu, rambutku memutih dalam semalam ...."Pandangan Helena berhenti dua detik pada rambut putihnya dan tubuhnya yang kurus kering, lalu dia kembali mencibir dingin. "Itu akibat dari perbuatanmu sendiri."Jazli menatap ekspresi sinisnya. Hatinya seakan-akan disobek. Suaranya bergetar menahan sakit. "Helena, jangan perlakukan aku seperti ini. Aku menci

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 19

    Saat itu, Helena baru saja meninggalkan tanah air. Pertama-tama, dia naik kapal pesiar ke Jepang, lalu berkeliling hingga sampai ke Eropa.Dia memiliki aset yang cukup, tetapi telah kehilangan tujuan hidup. Dia berkelana ke beberapa negara di Eropa, hingga perlahan tiba di Finlandia. Sebuah negara yang indah dan romantis, tetapi juga sangat menyesakkan hati.Helena menyewa sebuah homestay. Setiap hari dia duduk di depan jendela memandangi salju dan aurora. Pikirannya terus dipenuhi bayangan anaknya yang telah tiada, pernikahan yang gagal dan penuh tipu daya, serta ayahnya yang telah tiada. Hidupnya kehilangan jangkar. Dia benar-benar kehilangan dorongan untuk melangkah.Suatu kali setelah selesai melihat aurora, Helena tiba-tiba berdiri dan berjalan menuju danau yang membeku. Saat air sedingin es perlahan menenggelamkan kepalanya, tiba-tiba seseorang melompat ke dalam air, menariknya dengan kuat ke arah daratan.Dia meronta dengan keras, tetapi orang itu menggenggamnya erat, tak mau me

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 18

    "Helena." Dengan mata memerah, Jazli memanggil pelan dengan suara tercekat.Perempuan yang semula menampilkan senyuman profesional itu seketika memasang ekspresi dingin. Dalam sekejap, semua kenangan yang sengaja dia bekukan menyeruak ke benaknya.Meskipun sudah menerima terapi psikologis berkali-kali, emosi Helena tetap bergolak saat ini. Namun, profesionalisme sebagai seorang dokter membuatnya menekan paksa seluruh emosinya.Hanya dalam sesaat, dia kembali mengenakan topeng profesional. "Silakan duduk, Pak Jazli. Konsultasi di bidang apa yang ingin Bapak lakukan?"Sikap memperlakukannya seperti pasien asing itu bagaikan pisau yang menusuk keras jantung Jazli. Nada suaranya sedikit bergetar. "Helena, aku mencarimu selama tiga tahun ...."Helena melirik jam tangannya. "Pak Jazli, kalau nggak ada masalah psikologis untuk dikonsultasikan, silakan pergi. Aku sebentar lagi ada janji dengan pasien lain."Mata Jazli semakin memerah. "Helena, beri aku beberapa menit saja ...."Helena menekan

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 17

    Di hadapannya adalah wajah yang asing.Jazli tertegun. Itu hanyalah seorang perempuan dengan punggung yang mirip.Suami perempuan itu berjalan di sampingnya. Melihat Jazli tak mau melepaskan tangannya, dia maju dan mendorong Jazli dengan keras. "Kamu mau apa?"Seolah-olah kehilangan tenaga, Jazli terdorong olehnya. Seluruh tubuhnya terguling menuruni anak tangga batu dan jatuh menghantam tanah dengan keras.Dia terbaring di tanah dengan tubuh berlumuran darah. Matanya menatap langit dengan tatapan kosong.Di detik-detik sebelum pingsan, di benaknya hanya ada satu pikiran. 'Helena, sebenarnya kamu di mana ....'Jazli mengalami gegar otak berat, dengan banyak patah tulang dan memar di sekujur tubuh. Dia masih ingin memaksakan diri untuk mencari Helena, tetapi orang tuanya yang datang segera memaksanya pulang.Ibunya memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. "Jazli, lihat dirimu sekarang seperti mayat hidup. Apa kamu mau menghancurkan hidupmu demi Helena? Sudah tiga bulan! Kamu harus kemba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status