Share

Bab 6

Author: Fryda
Setelah keduanya keluar, dokter kembali memberikan beberapa penjelasan sebelum pergi.

Pintu bangsal tidak ditutup. Meski dua orang di luar sengaja merendahkan suara, Helena tetap mendengar jelas percakapan mereka.

Jazli sedang menenangkannya. "Jangan menangis, Veronica. Aku tahu kamu nggak sengaja. Begitu kamu menangis, hatiku ikut hancur."

Suara Veronica terdengar muram. "Jazli, aku hampir mencelakainya, hampir mencelakai bayi kalian. Aku merasa bersalah, juga nggak berani menghadapimu. Untuk sementara waktu, jangan temui aku dulu. Anggap saja ini hukuman untukku."

"Itu justru menghukum aku!"

Helena mendengar seruan kecil Veronica, lalu suara Jazli yang ditahan. "Aku nggak mau berpisah darimu sehari pun lagi, Veronica. Kalau kamu merasa bersalah, hukumannya ... kamu yang harus menciumku selama sepuluh menit."

Kedua tangan Helena mencengkeram sudut selimut erat-erat, buku-buku jarinya memutih. Hatinya yang sudah lama mati rasa, tetap terasa seperti dicengkeram keras pada detik ini.

Sepuluh menit kemudian, Jazli masuk. Dia menggenggam erat tangan Helena, matanya penuh rasa sayang dan penyesalan. "Sayang, gimana rasanya sekarang? Masih ada yang nggak nyaman? Semua ini salahku karena nggak cukup cepat bereaksi. Untung kamu dan bayinya nggak apa-apa. Kalau sampai terjadi sesuatu, aku nggak akan memaafkan diriku sendiri seumur hidup."

"Veronica juga nggak sengaja. Dia sudah berjanji, ke depannya nggak akan membiarkan anjing itu muncul lagi. Kamu maafkan dia, ya?"

Helena menatap ketakutan dan kekhawatiran di matanya sambil mendengarnya membela Veronica. Pandangannya akhirnya jatuh pada bibir Jazli yang sedikit bengkak. Pada saat itu, yang dia rasakan hanyalah ironi yang tak terkatakan.

"Aku mau istirahat," katanya sambil menarik kembali tangannya dan membelakangi Helena.

Jazli mengulurkan tangan, menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut, lalu bersenandung lagu nina bobo yang dia pelajari dari ayah Helena.

Air mata Helena tiba-tiba mengalir deras tanpa kendali, menyisakan kehampaan yang dingin.

Selama satu minggu berikutnya, Jazli terus berjaga di rumah sakit dan merawatnya sendiri. Untuk makan tiga kali sehari, dia dengan sabar membujuk Helena agar mau menambah satu suap lagi. Saat infus, dia menghangatkan botol infus dengan telapak tangannya. Di malam hari, begitu Helena sedikit bergerak, dia akan langsung terbangun dan memeriksa keadaannya.

Semua orang mengatakan bahwa dia pasti telah melakukan banyak kehidupan dari kehidupan sebelumnya untuk bisa mendapatkan suami yang begitu perhatian. Namun, Helena hanya terus terdiam menatap ke luar jendela.

Jazli mengira itu pengaruh hormon kehamilan, kekhawatiran di matanya semakin jelas.

Saat Helena keluar dari rumah sakit, Jazli berencana membawanya ke pantai untuk menyegarkan pikiran.

Mobil melaju di jalan tol, ketika tiba-tiba telepon dari Veronica masuk, disertai tangisan penuh ketakutan. "Jazli, tolong aku! Aku diculik ...."

Jazli mengerem mendadak dan menghentikan mobil di bahu jalan darurat.

Suara di seberang telepon berganti menjadi suara seorang pria. "Jazli, kalau mau menyelamatkannya, datang sendiri ke gudang di barat kota."

Jazli berteriak marah, "Aku segera datang! Jangan sentuh dia!"

Setelah itu, dia membungkuk membuka pintu kursi penumpang dan berkata dengan suara bergetar, "Sayang, aku harus pergi menyelamatkan orang. Kamu pulang sendiri dulu."

Helena mengatupkan bibirnya dan turun dari mobil dengan tenang.

Detik berikutnya, mobil Jazli menghilang dari pandangannya.

Helena tidak punya pilihan selain berjalan menyusuri jalur darurat dan melawan arus kendaraan. Pada akhirnya, polisi lalu lintas datang dan membawanya kembali ke pusat kota.

Baru saja turun dari mobil polisi, dia menerima telepon dari rumah sakit. "Apakah ini Helena? Suami Anda, Jazli, mengalami luka berat dan kini dalam kondisi kritis. Mohon segera datang ke rumah sakit."

Kepala Helena berdengung keras, pikirannya seketika kosong.

Saat dia tiba di rumah sakit, surat pemberitahuan kondisi kritis sudah dikeluarkan.

Veronica duduk di kursi dengan tubuh penuh kotoran, matanya bengkak karena menangis.

Seorang perawat berlari keluar dengan wajah cemas. "Pasien bergolongan darah O, stok darah di bank darah rumah sakit tidak mencukupi. Siapa yang bisa mendonor?"

Belum sempat Helena berdiri, Veronica sudah lebih dulu berbicara. "Aku baru menjalani transplantasi ginjal tahun ini, aku nggak bisa donor darah!" Dia mendorong Helena ke depan. "Kamu juga bergolongan darah O. Kamu yang donor!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 22

    Hati Jazli menegang. Dia segera teringat kejadian beberapa hari lalu ketika dia berkelahi dengan Adrian di depan klinik hingga masuk berita. Besar kemungkinan Veronica melihat berita itu dan berniat membalas dendam pada Helena!Sementara itu, Veronica telah tiba di bandara Kota Bridge. Wajahnya tertutup masker, rambutnya kering dan menguning. Dia mengenakan celana panjang dan atasan lengan panjang biasa, menutupi tubuhnya rapat-rapat, tetapi tetap terlihat kurus kerempeng.Saat dia membungkuk memungut tas yang terjatuh, terlihat jelas memar di pergelangan tangannya.Tatapannya suram dan penuh kebencian. Dia naik taksi dan langsung menuju klinik tempat Helena bekerja.Di perjalanan, dia terus mengingat potongan-potongan hidupnya selama tiga tahun terakhir. Keluarga Kartono bangkrut, ayahnya meloncat bunuh diri, ibunya hidup miskin melarat, sementara dirinya dikurung di rumah sakit jiwa dan disiksa siang malam.Kondisi mentalnya sudah lama tidak normal. Satu-satunya hal yang menopangnya

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 21

    Kedua pria itu berdiri di depan pintu mobil.Adrian menyerahkan secangkir kopi kepadanya. "Jazli, aku harap kamu nggak muncul di hadapan Helena lagi."Wajah Jazli menggelap. Dia menepis tangan Adrian dengan kasar. Kopi pun tumpah ke tanah. "Kamu punya hak apa?"Matanya memerah. Kedua tangannya mengepal. "Helena itu milikku! Dia hanya belum memaafkanku! Kami menjalani hubungan delapan tahun! Cepat atau lambat, dia pasti akan kembali ke sisiku!"Jazli berbicara sendiri, seolah-olah sedang meyakinkan dirinya. "Helena mencintaiku! Cepat atau lambat, dia pasti akan memaafkanku!"Adrian hanya menatapnya dalam diam. Baru setelah Jazli selesai berbicara, dia membuka mulut. "Saat Helena meninggalkanmu dulu, dia menderita depresi berat. Setelah itu dia pernah mencoba bunuh diri dan aku yang menyelamatkannya."Wajah Jazli langsung pucat pasi. Dia tiba-tiba teringat kejadian ketika Helena mencabut bunga mawar di taman. Saat menggendongnya, Jazli menyadari berat badannya turun banyak. Namun, saat i

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 20

    "Aku yang menyuruhmu mencariku?" tanya Helena dengan suara dingin, lalu menyunggingkan senyuman sinis. "Jazli, kamu melakukan semua ini untuk diperlihatkan ke siapa?""Kita sudah lama cerai. Aku sudah mengatakan dengan sangat jelas agar kamu benar-benar enyah dari duniaku! Kenapa kamu masih muncul di hadapanku untuk membuatku muak?""Kamu nggak merasa sikapmu ini disebut cinta yang dalam, 'kan? Ini namanya merendahkan diri!"Mendengar kata-kata Helena, kepala Jazli terasa berdengung hebat. Dia tidak menyangka Helena memandangnya seperti ini, membuat tiga tahun pencariannya tampak seperti lelucon.Suaranya tercekat sedikit. "Helena, karena kamu, rambutku memutih dalam semalam ...."Pandangan Helena berhenti dua detik pada rambut putihnya dan tubuhnya yang kurus kering, lalu dia kembali mencibir dingin. "Itu akibat dari perbuatanmu sendiri."Jazli menatap ekspresi sinisnya. Hatinya seakan-akan disobek. Suaranya bergetar menahan sakit. "Helena, jangan perlakukan aku seperti ini. Aku menci

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 19

    Saat itu, Helena baru saja meninggalkan tanah air. Pertama-tama, dia naik kapal pesiar ke Jepang, lalu berkeliling hingga sampai ke Eropa.Dia memiliki aset yang cukup, tetapi telah kehilangan tujuan hidup. Dia berkelana ke beberapa negara di Eropa, hingga perlahan tiba di Finlandia. Sebuah negara yang indah dan romantis, tetapi juga sangat menyesakkan hati.Helena menyewa sebuah homestay. Setiap hari dia duduk di depan jendela memandangi salju dan aurora. Pikirannya terus dipenuhi bayangan anaknya yang telah tiada, pernikahan yang gagal dan penuh tipu daya, serta ayahnya yang telah tiada. Hidupnya kehilangan jangkar. Dia benar-benar kehilangan dorongan untuk melangkah.Suatu kali setelah selesai melihat aurora, Helena tiba-tiba berdiri dan berjalan menuju danau yang membeku. Saat air sedingin es perlahan menenggelamkan kepalanya, tiba-tiba seseorang melompat ke dalam air, menariknya dengan kuat ke arah daratan.Dia meronta dengan keras, tetapi orang itu menggenggamnya erat, tak mau me

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 18

    "Helena." Dengan mata memerah, Jazli memanggil pelan dengan suara tercekat.Perempuan yang semula menampilkan senyuman profesional itu seketika memasang ekspresi dingin. Dalam sekejap, semua kenangan yang sengaja dia bekukan menyeruak ke benaknya.Meskipun sudah menerima terapi psikologis berkali-kali, emosi Helena tetap bergolak saat ini. Namun, profesionalisme sebagai seorang dokter membuatnya menekan paksa seluruh emosinya.Hanya dalam sesaat, dia kembali mengenakan topeng profesional. "Silakan duduk, Pak Jazli. Konsultasi di bidang apa yang ingin Bapak lakukan?"Sikap memperlakukannya seperti pasien asing itu bagaikan pisau yang menusuk keras jantung Jazli. Nada suaranya sedikit bergetar. "Helena, aku mencarimu selama tiga tahun ...."Helena melirik jam tangannya. "Pak Jazli, kalau nggak ada masalah psikologis untuk dikonsultasikan, silakan pergi. Aku sebentar lagi ada janji dengan pasien lain."Mata Jazli semakin memerah. "Helena, beri aku beberapa menit saja ...."Helena menekan

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 17

    Di hadapannya adalah wajah yang asing.Jazli tertegun. Itu hanyalah seorang perempuan dengan punggung yang mirip.Suami perempuan itu berjalan di sampingnya. Melihat Jazli tak mau melepaskan tangannya, dia maju dan mendorong Jazli dengan keras. "Kamu mau apa?"Seolah-olah kehilangan tenaga, Jazli terdorong olehnya. Seluruh tubuhnya terguling menuruni anak tangga batu dan jatuh menghantam tanah dengan keras.Dia terbaring di tanah dengan tubuh berlumuran darah. Matanya menatap langit dengan tatapan kosong.Di detik-detik sebelum pingsan, di benaknya hanya ada satu pikiran. 'Helena, sebenarnya kamu di mana ....'Jazli mengalami gegar otak berat, dengan banyak patah tulang dan memar di sekujur tubuh. Dia masih ingin memaksakan diri untuk mencari Helena, tetapi orang tuanya yang datang segera memaksanya pulang.Ibunya memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. "Jazli, lihat dirimu sekarang seperti mayat hidup. Apa kamu mau menghancurkan hidupmu demi Helena? Sudah tiga bulan! Kamu harus kemba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status