แชร์

Bab 30

ผู้เขียน: Ipak Munthe
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-26 01:09:44

Pagi datang tanpa benar-benar memberi istirahat bagi Lala.

Ia bangun lebih awal dari biasanya. Udara desa masih dingin, embun menempel di ujung daun. Setelah bersiap singkat, Lala keluar kamar dengan wajah datar—terlalu datar untuk seseorang yang semalam nyaris runtuh.

Di teras, Kala sudah menunggu sambil mengenakan jaket tipis dan helm di tangannya.

“Siap ke puskesmas?” tanyanya ramah.

Lala mengangguk. “Iya.”

Mereka berjalan beriringan menuju motor. Jarak mereka tidak dekat, tapi cukup untuk terlihat wajar. Cukup untuk terlihat nyaman.

Dan cukup untuk dilihat.

Dari dalam rumah, Aran berdiri di ambang pintu. Tangannya mengepal tanpa ia sadari. Tatapannya mengikuti setiap langkah Lala—cara Lala berbicara pada Kala, senyum kecil yang tak pernah ia lihat lagi sejak malam itu.

“Kamu berangkat sama dia?” tanya Aran tiba-tiba.

Lala menoleh. Tatapannya singkat, dingin, lalu kembali lurus ke depan.

“Iya.”

Satu kata. Tanpa penjelasan.

“Pegangan aja kalau takut jatuh,” k
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 66

    Tok. Tok. Suara ketukan pintu terdengar. Lala tersentak. Ia cepat-cepat menatap bayangannya di cermin, mengusap air mata yang masih membekas di pipi. Ia menarik napas dalam-dalam, menata wajahnya sebaik mungkin. Sesaat kemudian, ia membuka pintu. Namun baru saja terbuka, pintu itu didorong dari luar. Aran masuk dengan cepat, lalu seketika menutup pintu di belakangnya. Lala mematung. Ia sama sekali tak menyangka orang yang mengetuk pintu itu adalah Aran. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Lala lalu menetralkan dirinya, mencoba melangkah untuk keluar. Sayang, Aran sudah berdiri tepat di depan pintu, menghalangi jalan. “Kak, buka,” kata Lala panik. “Aku mau keluar. Kalau ada yang lihat kita di sini gimana?” “Sejak kemarin kamu terus menghindari aku,” desak Aran. “Jawab dulu pertanyaanku.” “Pertanyaan apa? Minggir!” Lala makin gelisah. “Kalau kamu mau menghancurkan hari ini, silakan,” ucap Aran dingin. “Itu terlalu mudah. Ada banyak tamu di l

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 65

    Suasana kamar perlahan kembali tenang. Bu Nining membereskan mangkuk bubur yang sudah dingin, sementara Oma duduk di sisi ranjang, masih menggenggam tangan Lala seolah takut melepasnya. “Kamu istirahat saja dulu. Jangan ikut ke luar,” ujar Oma lembut. Lala mengangguk. “Iya, Oma.” Di ambang pintu, Aran masih berdiri. Tatapannya berat, penuh sesuatu yang tak terucap. Namun Lala memilih memejamkan mata, pura-pura tertidur, menolak pertemuan mata yang bisa meruntuhkan pertahanannya. “Besok pagi kamu nggak usah bangun cepat,” kata Oma lagi. “Biar Oma yang bangunin kalau perlu.” Sarah melirik ke arah ranjang sekilas. Senyum tipis tersungging di bibirnya—bukan khawatir, melainkan canggung yang samar. “Oh… kalau cuma maag, istirahat saja,” katanya ringan, lalu berbalik pergi. Pintu kamar tertutup. Hanya tersisa Hani dan Lala. Begitu benar-benar sepi, Hani mendekat dan berbisik, “Kamu hampir ketahuan tadi.” Lala membuka mata perlahan. Ada air yang menggenang, tapi tak jatuh

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 64

    Lala dan Hani tiba di rumah hampir bersamaan dengan matahari yang mulai condong ke barat. Begitu melewati pagar, pandangan Lala langsung tertuju ke halaman. Tenda putih sudah terpasang penuh, kain dekorasi bergelombang tertiup angin sore, bunga-bunga segar berjajar rapi. Kursi tamu tersusun, panggung kecil berdiri anggun di bagian depan. Resepsi Aran dan Sarah. Besok pagi. Langkah Lala mendadak terhenti sejenak, tapi seakan tak ingin larut dalam luka yang semakin dalam ia pun kembali melanjutkan langkah kakinya. Begitu pintu dibuka, Lala langsung berhenti melangkah. Tubuhnya terasa limbung. Ia memegang kusen pintu, napasnya tertahan. Wajahnya pucat, keringat dingin muncul di pelipis. “Lala?” Hani refleks menahan lengannya. “Kamu kenapa?” “Gapapa…” jawab Lala pelan, meski suaranya sama sekali tidak meyakinkan. Hani menuntunnya masuk dan mendudukkannya di kursi terdekat. Lala menunduk, kedua tangannya gemetar halus. “Kamu baik-baik aja?” kata Hani, jelas cemas.

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 63

    “Selamat pagi,” sapa seseorang yang kini berdiri di depan pintu utama. Aran langsung menoleh. Terlihat Oma melangkah masuk, berjalan perlahan namun mantap ke arahnya. Kehadiran perempuan tua itu membuat Aran terpaksa mengurungkan niatnya untuk mendobrak pintu kamar Lala demi mendapatkan penjelasan. “Oma,” panggil Aran, nada suaranya sedikit mereda. “Iya,” jawab Oma sambil tersenyum hangat. “Oma datang karena ingin menghadiri resepsi pernikahan kamu. Kamu sudah seperti cucu sendiri bagi Oma.” “Terima kasih, Oma,” balas Aran tulus. Pandangan Aran kemudian bergeser. Di belakang Oma, tampak Bima—bosnya—datang bersama istrinya, Sofia. Keduanya berdiri berdampingan, memperhatikan suasana rumah yang terasa tegang. Sofia melangkah sedikit ke depan. Tatapannya menyapu sekeliling rumah sebelum akhirnya berhenti pada Aran. “Lala di mana?” tanya Sofia. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, memotong jawaban Aran sebelum sempat terucap. “Oma? Sofia?” Mata Lala langsung berbinar saat meli

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 62

    Kala datang membawa sebuah rantang di tangannya. Ia langsung menyerahkannya pada Lala. “Ini masakan ibu aku,” kata Kala santai. “Katanya buat calon menantu.” “Kamu ini ada-ada aja,” balas Lala sambil terkekeh pelan. “Cie, calon istri,” goda Sarah yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Kali ini Sarah sudah berganti pakaian, tak lagi mengenakan gaun tidurnya. “Hehehe,” Kala tersenyum malu. “Aku pamit ya,” kata Kala kemudian. “Aku mau berangkat ke Jakarta dulu, ada urusan.” “Aku bisa nitip makanan dong,” ucap Lala cepat. “Nanti chat aku aja,” jawab Kala penuh semangat. “Hati-hati di jalan.” “Iya.” Kala pun pergi. Sarah masih sempat menggoda lagi. “Cieee,” katanya. “Apasih,” jawab Lala sambil menahan tawa. Ia tahu Sarah hanya bercanda, tak perlu dianggap serius. “Aku pergi bentar ya,” ujar Sarah. “Ibu nelpon, katanya ada yang harus aku lihat sendiri.” Tanpa menunggu lama, Sarah menyalakan sepeda motornya dan pergi. Lala mengangguk, lalu setelah suasana kem

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 61

    Pagi yang cerah menyambut hari. Sarah terbangun perlahan, menatap sekeliling kamar dengan mata yang masih berat oleh sisa kantuk. Sekilas, ingatan tentang semalam melintas di benaknya. Malam ketika mereka masuk ke kamar bersama. Aran memeluknya erat, membuatnya merasa aman dan diinginkan. Sarah duduk di ranjang, bersandar perlahan ke dada kekar suaminya. Detak jantung Aran terasa begitu dekat, menenangkan. Malam itu terasa semakin indah saat jemarinya, dengan ragu yang manja, mulai membuka kancing kemeja Aran satu per satu. Ia mendekat, mengecup dadanya dengan lembut, seolah ingin memastikan bahwa momen itu nyata—bahwa Aran benar-benar ada di sisinya. Kemudian Sarah mendekat ke bibir Aran, melumatnya perlahan. Aran membalasnya dengan kehangatan yang membuat dada Sarah terasa penuh. Rasanya begitu indah, seolah tak ada apa pun di dunia ini yang bisa menandingi momen itu. Namun tiba-tiba, rasa berat menyerang kelopak matanya. Sarah menjauh pelan, napasnya sedikit tersengal

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status