MasukSunyi menyergap seisi kamar setelah langkah Aran menjauh.
Lala berdiri diam, masih membelakangi pintu yang kini tertutup rapat. Tak ada isak. Tak ada air mata yang jatuh. Hanya hening yang mengalir, menelusup ke dalam rongga dadanya. Perlahan ia menurunkan tangan, seolah seluruh tenaganya ikut terkuras keluar bersama kepergian Aran. Bukan sedih yang tampak, melainkan kosong. Kosong yang sudah terlalu sering menjadi teman tinggal di rumah ini. Wajahnya tetap datar. Tatapannya kosong ke lantai, tapi tak ada satu titik pun yang benar-benar ia lihat. Seakan-akan, di dalam dirinya ada sesuatu yang runtuh, pelan, namun pasti. Lala melangkah mendekat ke ranjangnya. Gerakannya tenang, nyaris tanpa suara. Ia duduk perlahan, meraih bantal, lalu memeluknya seperti kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar mampu menghangatkannya. Bibirnya terangkat sedikit, senyum tipis bukan bahagia, melainkan semacam pengakuan bahwa ia sudah terlalu terbiasa kehilangan. “Kenapa dia tidak mau menikahi aku?,” gumamnya, hampir tanpa suara. Seolah sedang mengingatkan dirinya bahwa dia tidak boleh berharap apa pun. Ibunya tidak menginginkannya. Rumah ini tak pernah menjadi rumah. Dan satu-satunya orang yang membuatnya merasa hidup… baru saja pergi. Lampu kamar dibiarkan menyala. Ia tidak menutup tirai. Tidak merebahkan tubuhnya. Hanya duduk, diam. Membiarkan waktu lewat, menyisakan perasaan yang bahkan ia sendiri tak tahu bagaimana harus merasakannya. Karena begitulah hidupnya selama ini, selalu belajar untuk tidak bersuara, meski dadanya penuh sesak. *** Dua hari berlalu sejak Aran pulang ke kampung halamannya. Rumah terasa lebih lengang, seakan semua suara ikut pergi bersamanya. Tidak ada lagi yang bisa diajak berbagi diam atau sekadar mendengar keluh tanpa menghakimi. Lala menarik napas pendek. Ada ruang kosong dalam dadanya, seperti sesuatu yang dipinjam lalu tidak pernah dikembalikan. Malam itu, ia bangkit dari kamar. Entah ingin minum, atau hanya mengalihkan kepala dari rasa yang tak bisa ia beri nama. Langkahnya menuju dapur, menyusuri lorong panjang yang remang. Baru beberapa meter, langkahnya terhenti. Dari kejauhan di area dekat pintu samping terlihat dua sosok berdiri terlalu dekat. Lala memicingkan mata. Suara pria, rendah dan memaksa, meluncur samar. “Ayolah…” Nada itu bukan bujukan—melainkan tuntutan. Tubuh Lala menegang. “Ada apa ini?” Suara berat Bima muncul dari arah tangga, memecah ketegangan di sudut gelap rumah. Sofia sontak tersentak. Ia langsung menepis tangan Pirman, lalu berlari ke arah suaminya seolah menemukan pelarian. Bima berdiri tegak, wajahnya dingin tetapi matanya menyala oleh amarah. Sofia bersembunyi di belakangnya, tubuhnya bergetar halus. “Dia—Pirman—” Sofia terengah, suaranya terbata karena kaget sekaligus ketakutan. Pirman melangkah mundur, wajahnya berubah pucat seketika. Namun belum sempat ia membela diri, Bima mengayunkan tangannya. Satu pukulan keras mendarat tepat di rahang Pirman. Suara benturannya menggema, membuat Lala refleks menutup mulutnya. Pirman terjengkang ke lantai, meringis. Belum sempat bangkit, Bima sudah menarik kerah bajunya dan menghajarnya lagi, dua, tiga kali dipenuhi amarah yang mendidih di dasar matanya. “Ada apa ini?!” Miska melesat masuk dari arah ruang tengah, napasnya terengah saat melihat Pirman tersungkur di lantai. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlutut, memeluk putranya dengan panik. “Pirman! Kamu tidak apa-apa, Nak?” Tatapannya kemudian terlempar pada Bima—panas, penuh tuduhan. “Apa-apaan ini?!” “Dia melecehkan istriku!” Suara Bima menggelegar, tajam, tanpa keraguan. Pirman buru-buru bangkit, wajahnya dibuat tampak lebih babak belur daripada yang sebenarnya. “Enggak, Ma!” katanya cepat, menunjuk Sofia dengan gemetar palsu. “Dia yang menggoda aku!” Miska membelalak, lalu bangkit dan menuding Sofia dengan tatapan jijik. “Dasar wanita murahan!” Kata-katanya meluncur seperti racun. Sofia terkejut. Bibirnya bergetar, namun tak ada suara yang keluar. Dia hanya berdiri di belakang Bima, menunduk dalam. “Engga!” Suara Lala pecah, lantang—lebih keras dari yang ia bayangkan. Semua kepala menoleh padanya. “Kak Pirman yang gangguin Sofia!” Lala menatap Miska dan Pirman tanpa gentar. “Aku saksinya!” Seketika udara membeku. Tatapan Miska menusuk Lala sampai ke tulang. “Kamu… membela dia?” Nada suaranya rendah, kental dengan amarah. “Dia yang ganggu istrimu, Kak Bima,” lanjut Lala, menatap kakaknya. “Dan aku lihat sendiri.” Pirman berkeringat. “Dia bohong, Ma! Dia dari dulu—” “Diam!” Bima menghardiknya, suaranya menampar udara. Pirman terdiam, tapi matanya jelas menampung dendam. Miska berdiri tegak, memelototi Lala seolah ingin menelannya hidup-hidup. “Lala… kamu tidak tahu apa-apa. Dia—” “Kau, angkat kaki dari rumah ini!” Suara Bima meledak, menghantam ruangan hingga semua terdiam. “Rumah ini… dan semua yang ada di dalamnya adalah milikku!” Pirman tertegun, sementara Miska langsung maju setengah langkah, wajahnya memerah menahan emosi. “Hey!” serunya garang. “Semua ini belum milikmu sepenuhnya! Jangan bertindak semaumu!” Tatapan Bima naik perlahan, dingin—seolah sedang menilai lawan bicara yang sudah tak ada nilainya lagi bagi dirinya. “Aku tidak sedang meminta izin.” Nadanya tajam, stabil. “Aku hanya menyampaikan perintah.” “Berani sekali kamu—” “Oma,” potong Bima tanpa mengalihkan tatapan. “Mulai besok, serahkan semuanya padaku.” Langkah tongkat terdengar pelan namun berat. Semua kepala menoleh. Oma sudah berdiri tak jauh dari mereka entah sejak kapan. Wajah tuanya tampak tenang, namun sorot matanya cukup untuk membuat siapa pun menunduk. Ia menatap Miska dalam-dalam, kemudian mengalihkan pandangannya pada Bima. Hening mencengkeram ruangan, menunggu kalimat berikutnya jatuh, seperti palu vonis. "Besok semuanya akan menjadi milikmu." Ucapan wanita tua itu seketika membuat Miska marah, tatapannya tajam mengarah pada Lala. Lala adalah penyebabnya!Rasa bersalah Sarah tak bisa dipungkiri lagi, meskipun hari masih begitu pagi tapi ia langsung menuju rumah sakit. Semuanya kini terasa menyakitkan rasa bersalah yang membuatnya menjadi seperti ini. Sarah menatap tangan Lala, terasa begitu rapuh di tangannya. “La… aku beneran minta maaf sama kamu. Kamu mau maafin aku?” tanyanya lirih. Tak ada jawaban. Sarah sudah tahu itu. Hening memenuhi ruangan ICU, hanya suara monitor yang berdetak pelan. “Sekarang… aku udah cerai sama Aran. Tolong bangun dari tidur panjangmu ini, La… supaya kalian bisa hidup bersama dan bahagia,” ucap Sarah pelan, menahan haru. Ia menarik napas, menatap tangan Lala lebih lama lagi sebelum melanjutkan. “Dari kamu, aku belajar, La… belajar mengerti apa itu cinta sejati,” ucap Sarah pelan, matanya menatap tangan Lala yang masih diam. Ia tersenyum tipis, seakan membiarkan semua rasa dan masa lalu yang berat berlalu begitu saja. “Saling mencintai itu… terasa sangat indah. Beda banget sama memaksakan k
Sarah melangkah turun dari mobil. Tak menoleh lagi, kendaraan itu pun melaju pergi, meninggalkan keheningan di halaman rumah. Baru saja kakinya menginjak teras, suara Bu Nining sudah terdengar. “Sarah, kamu pulang sama siapa tadi?” tanyanya penasaran. Sarah berhenti. Bahunya turun, seolah semua tenaga mendadak habis. “Itu… kakaknya Lala, Bu,” jawabnya lirih. “Namanya Firman.” Ia mengusap pipinya yang basah. “Sejak beberapa hari ini dia terus ngejar Sarah. Katanya mau minta penjelasan, kenapa Sarah sering ke rumah sakit, kenapa selalu lihat Lala dari jauh.” Suara Sarah bergetar. “Dia pikir Sarah mau melenyapkan Lala, Bu.” Air matanya jatuh lagi. “Apa mungkin muka Sarah kelihatan sejahat itu, Bu?” tanyanya pelan, nyaris tak terdengar. Bu Nining langsung mendekat. Tanpa banyak tanya, ia menarik Sarah ke dalam pelukannya. “Ah, nak…” suaranya lembut, penuh iba. “Bukan begitu.” Tangan Bu Nining mengusap punggung Sarah pelan, menenangkan. “Kamu itu kelihatan capek
Sarah berdiri di depan ruang ICU, menatapnya lama. Lalu ia berbalik, melangkah pergi dengan surat cerai di tangannya. Air matanya jatuh satu per satu, mengiringi keputusannya. Sarah menunduk. Jemarinya mengepal di sisi tubuh, seolah menahan sesuatu agar tak runtuh di tempat itu juga. Ia sadar, masih ada perasaan yang tertinggal untuk Aran. Tapi rasa itu kalah oleh sesuatu yang lebih menyakitkan: rasa bersalah pada Lala yang terus menghantuinya. Setiap kali menutup mata, bayangan Lala muncul—pucat, rapuh, dan terbaring tanpa daya. Dan Sarah tahu, ia bukan hanya pergi meninggalkan Aran. Ia pergi membawa beban yang tak akan selesai hanya dengan satu surat cerai. Langkahnya terus menjauh dari ruang ICU, meski hatinya tertinggal di ambang pintu. Bukan karena cinta yang belum padam, melainkan karena penyesalan yang tak tahu cara pulang. Ia terus melangkah tanpa benar-benar memperhatikan jalan. Pikirannya kosong, dadanya penuh. Saat menyeberang, sebuah kendaraan melaju
Perasaan Aran kini sedikit lebih lega. Lala hampir saja menyerah—nyaris pergi di depan matanya sendiri. Namun nyatanya, ia masih bertahan. Dadanya masih naik turun, meski napas itu harus dibantu oleh peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Bagi Aran, itu sudah lebih dari cukup. Selama Lala masih bernapas, harapan—sekecil apa pun—masih ada. “Sayang, aku mohon… jangan pernah tinggalkan aku,” suara Aran bergetar. “Aku nggak bisa tanpa kamu.” Ia duduk di kursi kecil di samping ranjang ICU, menggenggam tangan Lala erat-erat, seolah genggaman itu satu-satunya hal yang menahan Lala tetap di dunia ini. “Aku tahu aku sering salah,” lanjutnya lirih. “Aku keras kepala. Aku sering marah. Tapi satu hal yang harus kamu tahu—aku selalu mencintaimu. Selalu.” Aran menunduk, dahinya menyentuh punggung tangan Lala. “Kamu berjuang ya,” bisiknya. “Jangan takut… aku di sini. Jangan pergi, aku nggak bisa kehilangan kamu.” Ia menarik napas panjang, mencoba menahan isak yang tak mau p
Sarah mengusap air matanya cepat-cepat. Ia tak ingin siapa pun melihatnya dalam keadaan seperti itu. Setelah napasnya sedikit stabil, ia berbalik hendak pergi. Namun langkahnya terhenti. Firman berdiri tepat di depannya. Jantung Sarah berdegup keras. Ia refleks ingin menghindar, mencari jalan lain. Tapi setiap langkah yang ia ambil selalu terhalang oleh tubuh Firman. “Permisi, aku mau lewat,” katanya singkat, menunduk, berusaha melewati sisi Firman. Baru satu langkah, Firman menahan lengannya. Sarah tersentak. “Kenapa pegang-pegang?” tanyanya ketus sambil menghempaskan tangan Firman dengan kasar. Firman tak mundur. Tatapannya justru mengeras, penuh curiga. “Aku tahu kamu,” katanya tajam. “Kamu sering datang diam-diam. Ngintip adik aku.” Sarah terdiam sesaat. “Kamu siapa?” lanjut Firman. “Dan apa maksudmu sebenarnya?!” “Apasih?” Sarah mengelak, suaranya meninggi karena panik. Ia kembali melangkah cepat, berusaha menjauh. Karena ia tidak mengenal orang asing ini
Video itu berakhir. Suara “Mama menyayangimu” masih menggantung di udara, bahkan setelah layar ponsel Firman menghitam. Beberapa detik berlalu. Lalu napas Lala berubah. Tidak banyak—hanya sedikit lebih cepat, sedikit lebih berat. Monitor di samping ranjang kembali menunjukkan irama yang tak lagi sepenuhnya stabil. Firman menahan napas. Air mata Lala kembali mengalir. Kali ini lebih deras, membasahi sisi wajahnya. Alisnya mengernyit samar, seolah tubuhnya sedang berjuang menahan sesuatu yang terlalu berat untuk disadari. Jari-jarinya bergerak lagi. Lebih jelas dari sebelumnya. Pelan… namun nyata. “La…” Firman mendekat, suaranya bergetar. “Kakak di sini.” Kelopak mata Lala bergetar tipis. Tidak terbuka—namun jelas, ia mendengar. Ia merasakan. Firman menggenggam tangan adiknya erat, untuk pertama kalinya tak peduli pada air mata yang jatuh dari wajahnya sendiri. “Kamu nggak sendirian lagi,” bisiknya penuh sesak. “Dari dulu… seharusnya kamu nggak sendirian.” Di







