Share

Bab 4

Penulis: Ipak Munthe
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-07 19:31:19

Suara ponsel Aran tiba-tiba berdering—memecah ketegangan yang nyaris menelan keduanya.

Aran sontak tersentak, segera merogoh saku celana sebelum sempat Lala menahannya lagi.

Nama yang tertera di layar membuat wajahnya pucat seketika.

Ia menepi, menjawab panggilan itu dengan suara tercekat.

Tak ada yang terdengar jelas bagi Lala, hanya potongan kalimat gugup—

“Ya… sekarang? …seberapa parah… saya segera pulang…”

Beberapa detik kemudian, sambungan terputus.

Aran terdiam, menggenggam ponselnya seolah nyawanya tergantung di sana.

Napasnya tersengal.

Perlahan ia kembali memasukkan ponsel ke sakunya.

Sorot matanya menunduk, tidak berani menatap Lala.

“Nona Lala…”

Suaranya goyah.

“Aku harus pulang ke kampung halamanku.”

Ia menghela napas, menahan guncangan di dadanya.

“Ibuku… sakit. Keadaannya sangat buruk. Sekarang beliau sudah dibawa ke rumah sakit terdekat.”

Aran menatap Lala—tatapan memohon, bukan lagi karena takut, tapi karena putus asa.

“Tolong… izinkan aku pergi,” pintanya lirih.

“Untuk kali ini saja… Bawa aku ikut,”

Lala menatapnya tanpa kedip.

“Nikahi aku di depan ibumu.”

Kata-kata itu meluncur seperti anak panah—tajam, menusuk, dan tak memberi ruang untuk mundur.

Aran tertegun, wajahnya seketika memucat.

“Nona Lala…,” suaranya melemah, penuh guncangan.

“Jangan bahas ini sekarang.”

Ia menelan ludah, tubuhnya terlihat gemetar kecil.

“Aku mohon… aku tahu Anda punya hati nurani.”

Tatapannya merendah, bukan sembah, tapi putus asa.

“Tolong… izinkan aku keluar.”

Desakannya bukan lagi tentang pekerjaan, bukan tentang nama baik, tapi tentang seorang anak yang mungkin sedang kehilangan ibunya.

Namun Lala tetap berdiri di depan pintu.

Sorotnya tak bergeser sedikit pun, seolah dunia tidak berkecamuk di luar kamar itu.

Keheningan membesar, menekan dada keduanya.

Lala menatapnya tajam, senyum miris perlahan muncul di sudut bibirnya.

“Hati nurani?”

Ia terkekeh pelan, suaranya getir.

“Kau pikir semua orang di rumah ini masih punya itu?”

Aran terdiam.

Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah detak jam di dinding,menusuk sunyi.

Lala perlahan mendekat, matanya berkilat—antara marah, terluka, dan putus asa.

“Aku hidup di tempat ini 31 tahun,” katanya lirih.

“Tiap hari… aku berharap jadi anak yang diinginkan.”

Ia menunduk sebentar, bahunya gemetar.

“Tapi tidak pernah.”

Aran menelan ludah.

Ini bukan Lala yang manja dan menggoda.

Ini Lala yang retak di dalam.

“Kalau kau pergi…”

Lala mengangkat wajahnya lagi, suaranya bergetar tapi tajam.

“Kamu akan meninggalkan aku sendirian—lagi.”

Aran mengepalkan tangan.

“Nona… aku tidak akan menghilang. Aku hanya—”

“Hanya peduli pada ibumu.” Lala memotong cepat.

“Semua orang punya seseorang yang mau memperjuangkan mereka. Aku?”

Ia menepuk dadanya pelan.

“Aku bahkan tidak punya diriku sendiri.”

Aran memejamkan mata, menahan sesak.

Ia tahu ini bukan saatnya berdebat—tapi ia juga tahu, jika ia tak pergi sekarang, ia mungkin tidak akan pernah melihat ibunya hidup.

Dengan suara serak ia berkata, “Aku akan kembali.”

Tatapannya sungguh-sungguh. “Aku janji.”

Lala terdiam.

Matanya bergerak mencari kebohongan, dan ia menemukan, ketidakpastian.

Karena janji adalah hal paling rapuh di dunia, apalagi dari orang yang sedang berlari ke arah lain.

Jemari Lala perlahan meraih kerah Aran, menggenggamnya erat.

“Kalau kamu pergi… kamu tidak akan kembali.” Ucapan itu bukan ancaman.

Bukan pula kutukan.

Hanya kebenaran dari seseorang yang sudah terlalu sering ditinggalkan.

Aran terpaku. Sesaat ia seperti ingin memeluknya tapi hanya sesaat.

Tanpa kata, ia menunduk, membiarkan pegangan itu perlahan melonggar.

“Aku pasti akan kembali ke sini, Nona. Karena aku bekerja di sini, di keluarga Anda.”

Aran menjelaskan pelan, suaranya berusaha stabil meski napasnya berat.

Lala menggeleng cepat, matanya memerah.

“Bukan itu!”

Aran tertegun.

Gemetar di ujung suara Lala terdengar jelas campuran marah dan takut.

“Aku mau kamu kembali ke sini untukku, bukan untuk pekerjaan!”

Lala balas dengan suara pecah, seolah kata-kata itu tercabut dari dasar hatinya.

Aran membeku.

Perkataan itu—langsung.

Terlalu jujur.

Terlalu telanjang.

“Laisya… Nona...”

Ia memanggil dengan nada rendah, nyaris berbisik.

“Jika aku kembali untukmu… apa yang kamu harapkan dariku?”

Lala menatapnya tanpa berkedip.

“Segalanya.”

Aran terdiam.

“ Kak Aran…”

Lala mengambil napas panjang, menahan isak yang ingin pecah.

“Aku sudah cukup melihat orang datang dan pergi dalam hidupku. Aku tidak butuh pelindung, tidak butuh pelayan, tidak butuh pekerja.”

Ia memukul dadanya sendiri pelan.

“Aku cuma tidak mau sendirian.”

Kata-kata itu menusuk.

Terlalu personal—terlalu nyata.

Aran merasakan hatinya mengencang.

Dalam sekejap, ia melihat sisi Lala yang tak pernah ia pahami, manusia yang ketakutan.

“Tapi…”

Aran menelan ludah.

“Aku tidak bisa membuat janji yang tidak bisa kupenuhi.”

Lala mundur selangkah.

Senyumnya muncul—rapuh, pahit.

“Sama seperti semua orang,” katanya pelan. “Mereka datang… lalu bilang tak bisa tinggal.”

Aran terlihat ingin berkata sesuatu, tapi pintu di balik punggungnya terasa seperti satu-satunya jalan bernapas.

“Kalau kamu tetap pergi…”

Lala mencondongkan tubuh sedikit.

“Jangan pernah kembali hanya karena gajimu di sini.”

Tangannya terkepal.

“Kalau kamu kembali… kembalilah untuk aku.”

Hening.

Tak ada suara selain napas mereka berdua yang tak rata.

Aran mengangguk kecil… bukan janji—hanya pengakuan bahwa ia mendengar.

“Aku harus pergi.”

“Kembalilah untukku.”

Suara Lala terdengar lirih namun tegas, seperti doa yang memaksa menjadi perintah.

Akhirnya, dengan tangan bergetar, ia merogoh bra-nya dan menarik keluar kunci kamar.

Perlahan, ia menyodorkannya kepada Aran, bukan lagi sebagai ancaman, melainkan pelepasan.

Aran langsung mengambil kunci itu, jemarinya bergerak tergesa.

Suara klik terdengar ketika ia memutar anak kunci, menembus hening yang menyesakkan.

Pintu terbuka.

Udara di luar sama dinginnya seperti kecamuk di dada mereka.

Sebelum melangkah, Aran sempat menoleh.

Di balik pintu yang terbuka, ia melihat Lala berdiri memunggunginya.

Bahu gadis itu naik-turun pelan, antara menahan tangis atau menahan dirinya sendiri agar tidak memanggil Aran kembali.

Satu detik saja.

Hanya itu yang ia izinkan untuk melihatnya.

Lalu ia pergi.

Dengan langkah cepat, seolah jika ia tinggal satu detik lebih lama, maka ia tak akan pernah sanggup meninggalkan kamar itu.

Pintu menutup… tanpa suara. Namun dampaknya terdengar sangat keras di dada Lala.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Godaan Dokter Cantik   T A M A T

    Rasa bersalah Sarah tak bisa dipungkiri lagi, meskipun hari masih begitu pagi tapi ia langsung menuju rumah sakit. Semuanya kini terasa menyakitkan rasa bersalah yang membuatnya menjadi seperti ini. Sarah menatap tangan Lala, terasa begitu rapuh di tangannya. “La… aku beneran minta maaf sama kamu. Kamu mau maafin aku?” tanyanya lirih. Tak ada jawaban. Sarah sudah tahu itu. Hening memenuhi ruangan ICU, hanya suara monitor yang berdetak pelan. “Sekarang… aku udah cerai sama Aran. Tolong bangun dari tidur panjangmu ini, La… supaya kalian bisa hidup bersama dan bahagia,” ucap Sarah pelan, menahan haru. Ia menarik napas, menatap tangan Lala lebih lama lagi sebelum melanjutkan. “Dari kamu, aku belajar, La… belajar mengerti apa itu cinta sejati,” ucap Sarah pelan, matanya menatap tangan Lala yang masih diam. Ia tersenyum tipis, seakan membiarkan semua rasa dan masa lalu yang berat berlalu begitu saja. “Saling mencintai itu… terasa sangat indah. Beda banget sama memaksakan k

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 134

    Sarah melangkah turun dari mobil. Tak menoleh lagi, kendaraan itu pun melaju pergi, meninggalkan keheningan di halaman rumah. Baru saja kakinya menginjak teras, suara Bu Nining sudah terdengar. “Sarah, kamu pulang sama siapa tadi?” tanyanya penasaran. Sarah berhenti. Bahunya turun, seolah semua tenaga mendadak habis. “Itu… kakaknya Lala, Bu,” jawabnya lirih. “Namanya Firman.” Ia mengusap pipinya yang basah. “Sejak beberapa hari ini dia terus ngejar Sarah. Katanya mau minta penjelasan, kenapa Sarah sering ke rumah sakit, kenapa selalu lihat Lala dari jauh.” Suara Sarah bergetar. “Dia pikir Sarah mau melenyapkan Lala, Bu.” Air matanya jatuh lagi. “Apa mungkin muka Sarah kelihatan sejahat itu, Bu?” tanyanya pelan, nyaris tak terdengar. Bu Nining langsung mendekat. Tanpa banyak tanya, ia menarik Sarah ke dalam pelukannya. “Ah, nak…” suaranya lembut, penuh iba. “Bukan begitu.” Tangan Bu Nining mengusap punggung Sarah pelan, menenangkan. “Kamu itu kelihatan capek

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 133

    Sarah berdiri di depan ruang ICU, menatapnya lama. Lalu ia berbalik, melangkah pergi dengan surat cerai di tangannya. Air matanya jatuh satu per satu, mengiringi keputusannya. Sarah menunduk. Jemarinya mengepal di sisi tubuh, seolah menahan sesuatu agar tak runtuh di tempat itu juga. Ia sadar, masih ada perasaan yang tertinggal untuk Aran. Tapi rasa itu kalah oleh sesuatu yang lebih menyakitkan: rasa bersalah pada Lala yang terus menghantuinya. Setiap kali menutup mata, bayangan Lala muncul—pucat, rapuh, dan terbaring tanpa daya. Dan Sarah tahu, ia bukan hanya pergi meninggalkan Aran. Ia pergi membawa beban yang tak akan selesai hanya dengan satu surat cerai. Langkahnya terus menjauh dari ruang ICU, meski hatinya tertinggal di ambang pintu. Bukan karena cinta yang belum padam, melainkan karena penyesalan yang tak tahu cara pulang. Ia terus melangkah tanpa benar-benar memperhatikan jalan. Pikirannya kosong, dadanya penuh. Saat menyeberang, sebuah kendaraan melaju

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 132

    Perasaan Aran kini sedikit lebih lega. Lala hampir saja menyerah—nyaris pergi di depan matanya sendiri. Namun nyatanya, ia masih bertahan. Dadanya masih naik turun, meski napas itu harus dibantu oleh peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Bagi Aran, itu sudah lebih dari cukup. Selama Lala masih bernapas, harapan—sekecil apa pun—masih ada. “Sayang, aku mohon… jangan pernah tinggalkan aku,” suara Aran bergetar. “Aku nggak bisa tanpa kamu.” Ia duduk di kursi kecil di samping ranjang ICU, menggenggam tangan Lala erat-erat, seolah genggaman itu satu-satunya hal yang menahan Lala tetap di dunia ini. “Aku tahu aku sering salah,” lanjutnya lirih. “Aku keras kepala. Aku sering marah. Tapi satu hal yang harus kamu tahu—aku selalu mencintaimu. Selalu.” Aran menunduk, dahinya menyentuh punggung tangan Lala. “Kamu berjuang ya,” bisiknya. “Jangan takut… aku di sini. Jangan pergi, aku nggak bisa kehilangan kamu.” Ia menarik napas panjang, mencoba menahan isak yang tak mau p

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 131

    Sarah mengusap air matanya cepat-cepat. Ia tak ingin siapa pun melihatnya dalam keadaan seperti itu. Setelah napasnya sedikit stabil, ia berbalik hendak pergi. Namun langkahnya terhenti. Firman berdiri tepat di depannya. Jantung Sarah berdegup keras. Ia refleks ingin menghindar, mencari jalan lain. Tapi setiap langkah yang ia ambil selalu terhalang oleh tubuh Firman. “Permisi, aku mau lewat,” katanya singkat, menunduk, berusaha melewati sisi Firman. Baru satu langkah, Firman menahan lengannya. Sarah tersentak. “Kenapa pegang-pegang?” tanyanya ketus sambil menghempaskan tangan Firman dengan kasar. Firman tak mundur. Tatapannya justru mengeras, penuh curiga. “Aku tahu kamu,” katanya tajam. “Kamu sering datang diam-diam. Ngintip adik aku.” Sarah terdiam sesaat. “Kamu siapa?” lanjut Firman. “Dan apa maksudmu sebenarnya?!” “Apasih?” Sarah mengelak, suaranya meninggi karena panik. Ia kembali melangkah cepat, berusaha menjauh. Karena ia tidak mengenal orang asing ini

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 130

    Video itu berakhir. Suara “Mama menyayangimu” masih menggantung di udara, bahkan setelah layar ponsel Firman menghitam. Beberapa detik berlalu. Lalu napas Lala berubah. Tidak banyak—hanya sedikit lebih cepat, sedikit lebih berat. Monitor di samping ranjang kembali menunjukkan irama yang tak lagi sepenuhnya stabil. Firman menahan napas. Air mata Lala kembali mengalir. Kali ini lebih deras, membasahi sisi wajahnya. Alisnya mengernyit samar, seolah tubuhnya sedang berjuang menahan sesuatu yang terlalu berat untuk disadari. Jari-jarinya bergerak lagi. Lebih jelas dari sebelumnya. Pelan… namun nyata. “La…” Firman mendekat, suaranya bergetar. “Kakak di sini.” Kelopak mata Lala bergetar tipis. Tidak terbuka—namun jelas, ia mendengar. Ia merasakan. Firman menggenggam tangan adiknya erat, untuk pertama kalinya tak peduli pada air mata yang jatuh dari wajahnya sendiri. “Kamu nggak sendirian lagi,” bisiknya penuh sesak. “Dari dulu… seharusnya kamu nggak sendirian.” Di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status