Share

Bab 6

Penulis: Ipak Munthe
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-09 01:30:21

Semua orang sudah membubarkan diri, termasuk Lala. Ia berjalan sendirian di lorong ketika tiba-tiba seseorang meraih pergelangan tangannya dengan kasar.

Langkahnya terhenti, tubuhnya berbalik. Belum sempat melihat jelas siapa yang menariknya…

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipinya. Suaranya nyaring, memantul di sepanjang lorong, membuat tubuhnya terhuyung.

Lala menatap terkejut.

Ibunya.

Dada Miska naik turun, penuh amarah yang mendidih.

“Kau adalah kesalahan… yang lahir dari rahimku!” teriaknya.

Ucapan itu menusuk jauh ke ulu hati.

Bukan luka berdarah. Tapi sakitnya tak tertanggungkan.

“Lihat akibatmu!” Miska menudingnya dengan gemetar. “Oma mewariskan semua kekayaannya pada Bima! Semua! Padahal AKU yang berhak! Aku yang sudah berjuang!”

Lala menggeleng pelan.

“Ma…” suara itu pecah. “Kenapa?” Air matanya jatuh meski dia berusaha menahannya.

“Kenapa kau menangis?” Cercaan ibunya membuatnya kaku. “Kau pikir air matamu itu berharga? Tidak! Tidak sama sekali!”

“Ma…” Lala menggertakkan giginya, menahan sesak. “Aku nggak pernah minta dilahirkan!”

“Kurang ajar!”

Plak!

Tamparan kedua menghantam sisi wajah yang lain. Kepala Lala terpuntir, dan ia menahan pipinya yang perih.

Miska menggeram, matanya merah penuh dendam.

“Karena aku mengandungmu… aku harus kehilangan rahimku! Karena kau, aku tak bisa hamil lagi! Aku tak bisa melahirkan anak laki-laki—pewaris yang seharusnya menjadi milikku!” Suara itu pecah namun tetap ganas. “Akhirnya semua usaha yang kulakukan… sia-sia!”

Mata Lala tak berhenti meneteskan air mata. Pipinya memerah, terbakar oleh dua tamparan yang baru saja mendarat. Napasnya tersengal, namun tak ada suara yang mampu keluar dari bibirnya—semuanya serba sakit.

Ia menunduk, menggigit bibir, berusaha menahan tubuhnya agar tak jatuh berlutut.

Dari kejauhan…

Ada langkah pelan.

Lala mengangkat wajahnya dengan sisa tenaga.

Di ujung lorong, berdirilah Aran.

Tatapannya membeku.

Ia melihat semuanya. Tamparan, teriakan, penghinaan.

Semuanya.

Mata Aran sedikit melebar. Seolah waktu berhenti ketika pandangannya bertaut dengan Lala.

Untuk sesaat, dunia terasa hening.

Hanya terdengar napas terisak dari Lala…

“Kau tahu?”

Suara Miska bergetar oleh kebencian yang begitu pekat.

“Aku pernah hampir melenyapkanmu saat kau baru lahir… tapi Bima datang! Semuanya gagal!”

Lala membeku.

Napasnya tercekat.

Tatapannya kosong—seolah tubuhnya tak lagi berjiwa.

“Harusnya aku tidak berhenti sampai di situ!”

Miska mendesis, matanya merah oleh amarah yang ditumpahkan tanpa arah.

“Kalau saja waktu itu aku teruskan, kau tidak akan pernah hidup di dunia ini—pembawa sial!”

Kata-kata itu menampar lebih keras daripada tangan mana pun.

Seketika dunia Lala runtuh.

Lala menutup mulutnya dengan gemetar, mencoba menahan jeritan yang seolah ingin pecah dari dadanya.

Air mata mengalir tanpa bisa dibendung. Tangannya bergetar, tubuhnya terasa dingin.

Setelah puas meluapkan kebenciannya, Miska akhirnya memalingkan wajah.

Langkahnya berat namun penuh kesombongan, seolah ia baru saja memenangkan sesuatu.

Namun sebelum benar-benar pergi, ia terhenti.

Matanya menatap Aran—dingin, meremehkan.

Aran berdiri tegak, namun Miska hanya mendecih kecil.

Bagi Miska, Aran bukan siapa-siapa.

Bukan anggota keluarga.

Bukan orang berpengaruh.

Bukan sosok yang layak diperhitungkan.

Hanya pekerja rendahan.

Ia mengangkat dagu sedikit, memberikan tatapan terakhir yang penuh penghinaan, lalu berkata lirih namun menusuk, “Jaga urusanmu sendiri.”

Tanpa menunggu tanggapan, Miska melangkah pergi.

Suara hak sepatunya menggema di lorong—tanda kepergian yang dingin dan memuakkan.

Hening menyeruak.

Hanya tertinggal Lala… yang masih memegangi pipinya, tubuh gemetar, napas terisak.

Aran tak berkutik—namun sorot matanya mengeras, seperti menyimpan sesuatu yang tak terucap.

Saat punggung Miska menghilang di ujung lorong,

Aran pelan-pelan menoleh pada Lala.

“Nona Lala…” suaranya rendah, hati-hati.

Seakan takut sentuhannya akan membuat gadis itu pecah berantakan.

Tatapan Lala berubah tajam—bukan lagi sekadar luka, tapi campuran antara marah, kecewa, dan letih.

Ia melangkah maju… satu langkah… dua langkah… sampai jarak mereka lenyap.

“Nona?” Aran berbisik, bingung sekaligus cemas. Tak ingin ada yang melihat mereka sedekat ini.

Namun Lala tak menjawab.

Tangannya tiba-tiba terangkat dan mencengkeram kerah kemeja Aran dengan kuat.

Tarikannya membuat Aran sedikit tersentak, napasnya tertahan.

“Aku selalu berusaha…” Suara Lala pecah, bergetar. “Untuk jadi yang terbaik.”

Matanya memerah, air mata jatuh satu per satu.

“Prestasi yang kucapai begitu tinggi…”

Nadanya terputus, seperti tenggelam oleh sakit yang lama ditahan.

“Apakah Mama… tidak bisa melihat itu semuanya?”

Pertanyaan itu meluncur lirih—penuh getir, penuh luka.

Lala menatap Aran dengan mata yang basah namun tajam, seolah menantang dunia untuk menjawab.

Seolah berharap—walau hanya sedikit—ada seseorang yang akhirnya mau mengakui bahwa ia layak dicintai.

Aran tak segera bicara.

Hanya memandang gadis di depannya—yang selama ini tampak kuat, namun sebenarnya rapuh hingga hampir hancur, dan Aran sudah sering menyaksikan kerapuhan Lala.

Namun tiba-tiba, genggaman Lala pada kerah Aran terlepas.

Bukan karena ia tenang—melainkan karena ia kehilangan arah.

Dengan gerakan spontan, Lala merogoh saku dada Aran.

Aran terkejut.

“Nona—”

Telat.

Ia sudah menarik keluar sebungkus rokok.

Dari dalamnya, ia mengambil sebatang, menggigit ujungnya, lalu menyalakan api dengan tangan yang sedikit gemetar.

Cahaya kecil dari korek memantul di mata Lala—lelah… kosong.

Asap pertama dihembuskannya pelan.

Sangat pelan.

Seolah ia ingin menunda detik di mana dunia kembali menghancurkannya.

Aran menatapnya tanpa bicara.

Pemandangan ini bukan baru baginya.

Ia sudah lama tahu.

Lala merokok—parah.

Dan lebih dari itu…

Ada kalanya ia memakai sesuatu yang jauh lebih berbahaya, atau barang terlarang hanya agar bisa tetap bertahan hidup dalam rumah penuh tekanan ini.

Dan meski tidak pernah ada bukti langsung, Aran tahu cukup banyak untuk mengerti bahwa luka Lala lebih dalam dari yang terlihat.

“Jangan menatapku seperti itu…”

Lala menghembuskan asap sambil tersenyum miring—senyum yang tidak sampai ke matanya.

“Aku sudah rusak sejak lama.”

Ia tertawa pelan—tawa tanpa bahagia.

Asap rokok mengambang seperti kabut tipis, membungkus tubuhnya.

“Kalau aku mati besok… mungkin Mama akhirnya bahagia.”

Nada suaranya begitu ringan, tapi matanya… hancur.

Aran merasakan dada yang menegang.

Ia ingin bicara, tapi kata-kata menolak keluar.

Rasanya seperti menyaksikan seseorang menenggelamkan diri perlahan-lahan, namun tangan kita terikat—tak bisa menolong.

Lala menghembuskan asap terakhir sebelum mematikan puntung rokok di dinding.

Hening masih menyelimuti mereka berdua.

Tanpa menatap Aran lagi, ia berbalik.

Gerakannya lambat… seperti seseorang yang kehilangan semua kekuatan untuk marah maupun menangis.

Kakinya melangkah pelan menyusuri koridor gelap.

Langkah yang biasanya penuh percaya diri, kini terdengar rapuh—hampir tanpa arah.

Aran hanya bisa menatap punggung itu menjauh.

Punggung seorang perempuan yang selalu terlihat cerah di mata semua orang…

Namun kini tampak seperti bayangan kosong yang tak tahu harus pulang ke mana.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Godaan Dokter Cantik   T A M A T

    Rasa bersalah Sarah tak bisa dipungkiri lagi, meskipun hari masih begitu pagi tapi ia langsung menuju rumah sakit. Semuanya kini terasa menyakitkan rasa bersalah yang membuatnya menjadi seperti ini. Sarah menatap tangan Lala, terasa begitu rapuh di tangannya. “La… aku beneran minta maaf sama kamu. Kamu mau maafin aku?” tanyanya lirih. Tak ada jawaban. Sarah sudah tahu itu. Hening memenuhi ruangan ICU, hanya suara monitor yang berdetak pelan. “Sekarang… aku udah cerai sama Aran. Tolong bangun dari tidur panjangmu ini, La… supaya kalian bisa hidup bersama dan bahagia,” ucap Sarah pelan, menahan haru. Ia menarik napas, menatap tangan Lala lebih lama lagi sebelum melanjutkan. “Dari kamu, aku belajar, La… belajar mengerti apa itu cinta sejati,” ucap Sarah pelan, matanya menatap tangan Lala yang masih diam. Ia tersenyum tipis, seakan membiarkan semua rasa dan masa lalu yang berat berlalu begitu saja. “Saling mencintai itu… terasa sangat indah. Beda banget sama memaksakan k

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 134

    Sarah melangkah turun dari mobil. Tak menoleh lagi, kendaraan itu pun melaju pergi, meninggalkan keheningan di halaman rumah. Baru saja kakinya menginjak teras, suara Bu Nining sudah terdengar. “Sarah, kamu pulang sama siapa tadi?” tanyanya penasaran. Sarah berhenti. Bahunya turun, seolah semua tenaga mendadak habis. “Itu… kakaknya Lala, Bu,” jawabnya lirih. “Namanya Firman.” Ia mengusap pipinya yang basah. “Sejak beberapa hari ini dia terus ngejar Sarah. Katanya mau minta penjelasan, kenapa Sarah sering ke rumah sakit, kenapa selalu lihat Lala dari jauh.” Suara Sarah bergetar. “Dia pikir Sarah mau melenyapkan Lala, Bu.” Air matanya jatuh lagi. “Apa mungkin muka Sarah kelihatan sejahat itu, Bu?” tanyanya pelan, nyaris tak terdengar. Bu Nining langsung mendekat. Tanpa banyak tanya, ia menarik Sarah ke dalam pelukannya. “Ah, nak…” suaranya lembut, penuh iba. “Bukan begitu.” Tangan Bu Nining mengusap punggung Sarah pelan, menenangkan. “Kamu itu kelihatan capek

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 133

    Sarah berdiri di depan ruang ICU, menatapnya lama. Lalu ia berbalik, melangkah pergi dengan surat cerai di tangannya. Air matanya jatuh satu per satu, mengiringi keputusannya. Sarah menunduk. Jemarinya mengepal di sisi tubuh, seolah menahan sesuatu agar tak runtuh di tempat itu juga. Ia sadar, masih ada perasaan yang tertinggal untuk Aran. Tapi rasa itu kalah oleh sesuatu yang lebih menyakitkan: rasa bersalah pada Lala yang terus menghantuinya. Setiap kali menutup mata, bayangan Lala muncul—pucat, rapuh, dan terbaring tanpa daya. Dan Sarah tahu, ia bukan hanya pergi meninggalkan Aran. Ia pergi membawa beban yang tak akan selesai hanya dengan satu surat cerai. Langkahnya terus menjauh dari ruang ICU, meski hatinya tertinggal di ambang pintu. Bukan karena cinta yang belum padam, melainkan karena penyesalan yang tak tahu cara pulang. Ia terus melangkah tanpa benar-benar memperhatikan jalan. Pikirannya kosong, dadanya penuh. Saat menyeberang, sebuah kendaraan melaju

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 132

    Perasaan Aran kini sedikit lebih lega. Lala hampir saja menyerah—nyaris pergi di depan matanya sendiri. Namun nyatanya, ia masih bertahan. Dadanya masih naik turun, meski napas itu harus dibantu oleh peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Bagi Aran, itu sudah lebih dari cukup. Selama Lala masih bernapas, harapan—sekecil apa pun—masih ada. “Sayang, aku mohon… jangan pernah tinggalkan aku,” suara Aran bergetar. “Aku nggak bisa tanpa kamu.” Ia duduk di kursi kecil di samping ranjang ICU, menggenggam tangan Lala erat-erat, seolah genggaman itu satu-satunya hal yang menahan Lala tetap di dunia ini. “Aku tahu aku sering salah,” lanjutnya lirih. “Aku keras kepala. Aku sering marah. Tapi satu hal yang harus kamu tahu—aku selalu mencintaimu. Selalu.” Aran menunduk, dahinya menyentuh punggung tangan Lala. “Kamu berjuang ya,” bisiknya. “Jangan takut… aku di sini. Jangan pergi, aku nggak bisa kehilangan kamu.” Ia menarik napas panjang, mencoba menahan isak yang tak mau p

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 131

    Sarah mengusap air matanya cepat-cepat. Ia tak ingin siapa pun melihatnya dalam keadaan seperti itu. Setelah napasnya sedikit stabil, ia berbalik hendak pergi. Namun langkahnya terhenti. Firman berdiri tepat di depannya. Jantung Sarah berdegup keras. Ia refleks ingin menghindar, mencari jalan lain. Tapi setiap langkah yang ia ambil selalu terhalang oleh tubuh Firman. “Permisi, aku mau lewat,” katanya singkat, menunduk, berusaha melewati sisi Firman. Baru satu langkah, Firman menahan lengannya. Sarah tersentak. “Kenapa pegang-pegang?” tanyanya ketus sambil menghempaskan tangan Firman dengan kasar. Firman tak mundur. Tatapannya justru mengeras, penuh curiga. “Aku tahu kamu,” katanya tajam. “Kamu sering datang diam-diam. Ngintip adik aku.” Sarah terdiam sesaat. “Kamu siapa?” lanjut Firman. “Dan apa maksudmu sebenarnya?!” “Apasih?” Sarah mengelak, suaranya meninggi karena panik. Ia kembali melangkah cepat, berusaha menjauh. Karena ia tidak mengenal orang asing ini

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 130

    Video itu berakhir. Suara “Mama menyayangimu” masih menggantung di udara, bahkan setelah layar ponsel Firman menghitam. Beberapa detik berlalu. Lalu napas Lala berubah. Tidak banyak—hanya sedikit lebih cepat, sedikit lebih berat. Monitor di samping ranjang kembali menunjukkan irama yang tak lagi sepenuhnya stabil. Firman menahan napas. Air mata Lala kembali mengalir. Kali ini lebih deras, membasahi sisi wajahnya. Alisnya mengernyit samar, seolah tubuhnya sedang berjuang menahan sesuatu yang terlalu berat untuk disadari. Jari-jarinya bergerak lagi. Lebih jelas dari sebelumnya. Pelan… namun nyata. “La…” Firman mendekat, suaranya bergetar. “Kakak di sini.” Kelopak mata Lala bergetar tipis. Tidak terbuka—namun jelas, ia mendengar. Ia merasakan. Firman menggenggam tangan adiknya erat, untuk pertama kalinya tak peduli pada air mata yang jatuh dari wajahnya sendiri. “Kamu nggak sendirian lagi,” bisiknya penuh sesak. “Dari dulu… seharusnya kamu nggak sendirian.” Di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status