Share

Bab 7

Author: Ipak Munthe
last update Last Updated: 2025-11-09 02:14:23

Lala memutar kunci mobil, dan mesin menyala pelan.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dada yang terasa terlalu sempit untuk diisi oleh apa pun selain sakit.

Jalanan di depannya buram, bukan karena kabut, melainkan air mata yang terus menetes tanpa izin.

Sesekali ia mengusap pipinya, gerakan cepat, seolah ingin menghapus bukti bahwa ia rapuh.

Namun setiap sapuan hanya meninggalkan garis tipis yang kembali basah.

Setiap kilometer terasa seperti menjauhkan dirinya dari rumah, tapi tidak pernah benar-benar membuatnya lepas dari luka itu.

Sesak dalam dadanya seolah menelan oksigen dari kabin mobil.

Rasanya seperti tenggelam tanpa air, sunyi, dingin, dan lambat.

Ia tidak tahu hendak ke mana.

Ia hanya ingin pergi… sejauh mungkin dari semua yang menyakitinya.

Entah sampai kapan ia harus terus begini.

Mengemudi dengan hati yang sekarat, membawa kesedihan yang tidak pernah benar-benar menemukan tempat untuk beristirahat.

“Baiklah… kalau itu yang Mama mau.”

Suara Lala nyaris tak terdengar, seperti hela napas yang patah.

Tangannya memutar setir, membawa mobil keluar dari rute awal.

Lampu-lampu kota makin jarang, jalanan perlahan menurun dan gelap.

Di kejauhan, jurang terbentang samar di sisi kanan jalan, gelap, dalam, seakan membuka tangan untuk menelan apa pun yang mendekat.

Lala menatapnya… Mata sembab itu dipenuhi campuran marah dan putus asa.

Angin malam menyelinap dari celah jendela, dinginnya menusuk sampai tulang.

Sesaat, ia menggenggam setir terlalu erat—sendi jarinya memutih.

Namun, tepat ketika roda depan sedikit miring ke arah tepian, bayangan wajah seseorang menyeruak di benaknya.

Oma.

Aran.

Bima.

Dan dirinya sendiri… sewaktu kecil, tersenyum polos tanpa tahu bagaimana dunia bekerja.

Tangan Lala bergetar hebat.

Pipi hangat oleh air mata yang kembali jatuh.

“Tidak…” bisiknya patah.

Roda kembali lurus.

Mobil berguncang, tapi tetap pada jalur aspal.

Napas Lala terengah, dada naik turun tak teratur.

Ia memelankan laju mobil, menepi dengan kasar di bahu jalan.

Kepalanya terjatuh ke atas setir.

Suara klakson terdengar pendek, seperti isak.

Lala tidak tahu apakah ia baru saja selamat, atau baru saja kehilangan keberanian untuk menyerah.

Yang pasti, ia tetap di sini.

Masih bernapas.

Meski sakitnya belum pergi.

*

Pelan-pelan, Lala membuka mata.

Pandangan pertamanya jatuh pada wajah Aran, duduk tak jauh darinya, tubuh sedikit membungkuk, seolah tak berani berkedip sejak tadi.

Untuk sesaat, ia hanya menatap tanpa benar-benar memahami.

Kemudian bibirnya terangkat, membentuk tawa kecil, tipis, getir, seperti tawa seseorang yang sudah terlalu sering kalah.

“Kamu lagi…” gumamnya pelan. “Ternyata kamu selalu muncul di mana pun aku jatuh, ya.”

Aran tak menjawab.

Matanya hanya memerhatikan Lala, tenang, tapi sarat kekhawatiran yang sulit disembunyikan.

Lala mengalihkan pandangannya.

Kamar itu asing namun rapi, pencahayaannya hangat, dindingnya berwarna lembut.

Bukan rumah… bukan kantor…

Tapi tempat yang terasa aman, setidaknya untuk malam itu.

Ia menyadari ia berada di atas sofa, selimut ringan menutupi kakinya.

“Ini… di mana?” tanyanya lirih.

“Apartmentku,” jawab Aran pelan.

“Nona pingsan. Aku… menemukanmu di pinggir jalan.”

Lala mengangguk pelan.

Tidak terkejut, justru heran kenapa hatinya terasa lega.

“Kenapa selalu kamu?” tanyanya lagi, suara hampir tak terdengar.

Pertanyaan itu bukan tuntutan…

lebih seperti keheranan seorang yang tak percaya masih ada yang mau tinggal.

Aran menundukkan kepala sejenak.

“Aku juga tidak tahu,” katanya perlahan. “Tapi ketika melihat Anda… rasanya saya tidak bisa pergi begitu saja.”

Lala menatapnya lama, mata yang masih sembab berkilat di bawah lampu.

Tanpa peringatan, Lala mulai membuka kancing kemejanya, gerakannya pelan, namun jelas dilakukan dengan kesadaran penuh.

Aran tertegun, darahnya seperti berhenti mengalir sesaat.

Wajahnya menegang, lalu dengan cepat ia meraih kedua tangan Lala, menghentikannya.

“A-apa yang Anda lakukan, Nona?”

Suara Aran terdengar panik, lebih karena khawatir daripada kaget.

Lala menatapnya pandangan kosong yang dipenuhi lelah dan putus asa.

“Ayolah… Kak, nikahin aku...” suara itu serak, seolah keluar dari tenggorokan yang terlalu lama menahan tangis. “Dan, biarkan aku… melupakan semua beban ini… hanya sebentar saja…”

Ia tertawa kecil, tawa yang terdengar lebih seperti tangisan yang tersesat.

Aran menarik napas dalam, lalu menggeleng kuat.

Tangannya masih menahan tangan Lala agar tetap tertutup.

“Tidak seperti ini,” katanya pelan, tapi tegas. “Nona… mengalihkan rasa sakit bukan dengan cara menyakiti diri sendiri.”

Lala menunduk.

Bahunya bergetar pelan, entah menahan tangis, marah, atau keduanya.

“Apa kamu merasa jijik padaku?”

Suara Lala terdengar pelan, namun tekanan di baliknya membuat udara di antara mereka mengeras.

Tatapannya menelusup, seolah ingin membongkar isi pikiran Aran sampai ke dasarnya.

Aran menegang.

“Nona, bukan seperti itu—”

“Lalu seperti apa?”

Lala selangkah lebih maju, mendesak tanpa memberi ruang.

Nada suaranya bukan marah… melainkan haus akan jawaban, akan validasi.

Ia menunggu.

Menunggu kata-kata yang mungkin bisa meredam gemuruh di dadanya.

Tapi hening berjalan lebih cepat dari Aran.

Dalam ruang jeda itu, pikirannya bergerak jauh ke dalam.

Bukan sekadar terluka… tetapi mencari celah untuk bertahan.

Jika cinta tak pernah cukup, jika perjuangannya selalu dipatahkan…

Maka ia harus menciptakan jalannya sendiri.

Kalau aku mengandung anaknya…

Bayangan itu muncul tiba-tiba.

Liar. Berbahaya.

Namun manis bagi seseorang yang tidak pernah dipilih.

Jika ia hamil.

Aran tak akan punya pilihan selain menikahinya.

Membawanya pergi dari rumah itu.

Menjadikannya seseorang yang tidak lagi bisa dibuang semaunya.

Gagasan itu menghantam kepalanya seperti kilat.

Membuat pupilnya seolah mengerut, menandai perubahan kecil dalam dirinya.

Ia menatap Aran…

Bukan lagi sekadar lelaki yang ia kagumi, melainkan tiket menuju kebebasan.

Dan sekali saja ia menginginkan sesuatu…

Lala bukan tipe yang mundur.

Lala kembali mendekat, jarak di antara mereka nyaris tak tersisa. Jemarinya menyentuh pelan kerah kemeja Aran, menariknya mendekat.

“Kak Aran…” bisiknya lirih, nyaris seperti rengekan yang memohon, “aku tahu kamu menginginkanku…”

Aran menegang. Ia memegang pergelangan tangan Lala, berusaha menjauh, tapi sentuhan hangat itu seperti jebakan yang menariknya masuk.

Mata Lala bergetar. Sekejap, kesedihannya muncul kembali, lalu tertutup oleh senyuman licik yang samar.

Dalam hati, dia berbisik.

Jika aku mengandung anakmu… kamu pasti tidak akan pergi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Dokter Cantik   T A M A T

    Rasa bersalah Sarah tak bisa dipungkiri lagi, meskipun hari masih begitu pagi tapi ia langsung menuju rumah sakit. Semuanya kini terasa menyakitkan rasa bersalah yang membuatnya menjadi seperti ini. Sarah menatap tangan Lala, terasa begitu rapuh di tangannya. “La… aku beneran minta maaf sama kamu. Kamu mau maafin aku?” tanyanya lirih. Tak ada jawaban. Sarah sudah tahu itu. Hening memenuhi ruangan ICU, hanya suara monitor yang berdetak pelan. “Sekarang… aku udah cerai sama Aran. Tolong bangun dari tidur panjangmu ini, La… supaya kalian bisa hidup bersama dan bahagia,” ucap Sarah pelan, menahan haru. Ia menarik napas, menatap tangan Lala lebih lama lagi sebelum melanjutkan. “Dari kamu, aku belajar, La… belajar mengerti apa itu cinta sejati,” ucap Sarah pelan, matanya menatap tangan Lala yang masih diam. Ia tersenyum tipis, seakan membiarkan semua rasa dan masa lalu yang berat berlalu begitu saja. “Saling mencintai itu… terasa sangat indah. Beda banget sama memaksakan k

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 134

    Sarah melangkah turun dari mobil. Tak menoleh lagi, kendaraan itu pun melaju pergi, meninggalkan keheningan di halaman rumah. Baru saja kakinya menginjak teras, suara Bu Nining sudah terdengar. “Sarah, kamu pulang sama siapa tadi?” tanyanya penasaran. Sarah berhenti. Bahunya turun, seolah semua tenaga mendadak habis. “Itu… kakaknya Lala, Bu,” jawabnya lirih. “Namanya Firman.” Ia mengusap pipinya yang basah. “Sejak beberapa hari ini dia terus ngejar Sarah. Katanya mau minta penjelasan, kenapa Sarah sering ke rumah sakit, kenapa selalu lihat Lala dari jauh.” Suara Sarah bergetar. “Dia pikir Sarah mau melenyapkan Lala, Bu.” Air matanya jatuh lagi. “Apa mungkin muka Sarah kelihatan sejahat itu, Bu?” tanyanya pelan, nyaris tak terdengar. Bu Nining langsung mendekat. Tanpa banyak tanya, ia menarik Sarah ke dalam pelukannya. “Ah, nak…” suaranya lembut, penuh iba. “Bukan begitu.” Tangan Bu Nining mengusap punggung Sarah pelan, menenangkan. “Kamu itu kelihatan capek

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 133

    Sarah berdiri di depan ruang ICU, menatapnya lama. Lalu ia berbalik, melangkah pergi dengan surat cerai di tangannya. Air matanya jatuh satu per satu, mengiringi keputusannya. Sarah menunduk. Jemarinya mengepal di sisi tubuh, seolah menahan sesuatu agar tak runtuh di tempat itu juga. Ia sadar, masih ada perasaan yang tertinggal untuk Aran. Tapi rasa itu kalah oleh sesuatu yang lebih menyakitkan: rasa bersalah pada Lala yang terus menghantuinya. Setiap kali menutup mata, bayangan Lala muncul—pucat, rapuh, dan terbaring tanpa daya. Dan Sarah tahu, ia bukan hanya pergi meninggalkan Aran. Ia pergi membawa beban yang tak akan selesai hanya dengan satu surat cerai. Langkahnya terus menjauh dari ruang ICU, meski hatinya tertinggal di ambang pintu. Bukan karena cinta yang belum padam, melainkan karena penyesalan yang tak tahu cara pulang. Ia terus melangkah tanpa benar-benar memperhatikan jalan. Pikirannya kosong, dadanya penuh. Saat menyeberang, sebuah kendaraan melaju

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 132

    Perasaan Aran kini sedikit lebih lega. Lala hampir saja menyerah—nyaris pergi di depan matanya sendiri. Namun nyatanya, ia masih bertahan. Dadanya masih naik turun, meski napas itu harus dibantu oleh peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Bagi Aran, itu sudah lebih dari cukup. Selama Lala masih bernapas, harapan—sekecil apa pun—masih ada. “Sayang, aku mohon… jangan pernah tinggalkan aku,” suara Aran bergetar. “Aku nggak bisa tanpa kamu.” Ia duduk di kursi kecil di samping ranjang ICU, menggenggam tangan Lala erat-erat, seolah genggaman itu satu-satunya hal yang menahan Lala tetap di dunia ini. “Aku tahu aku sering salah,” lanjutnya lirih. “Aku keras kepala. Aku sering marah. Tapi satu hal yang harus kamu tahu—aku selalu mencintaimu. Selalu.” Aran menunduk, dahinya menyentuh punggung tangan Lala. “Kamu berjuang ya,” bisiknya. “Jangan takut… aku di sini. Jangan pergi, aku nggak bisa kehilangan kamu.” Ia menarik napas panjang, mencoba menahan isak yang tak mau p

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 131

    Sarah mengusap air matanya cepat-cepat. Ia tak ingin siapa pun melihatnya dalam keadaan seperti itu. Setelah napasnya sedikit stabil, ia berbalik hendak pergi. Namun langkahnya terhenti. Firman berdiri tepat di depannya. Jantung Sarah berdegup keras. Ia refleks ingin menghindar, mencari jalan lain. Tapi setiap langkah yang ia ambil selalu terhalang oleh tubuh Firman. “Permisi, aku mau lewat,” katanya singkat, menunduk, berusaha melewati sisi Firman. Baru satu langkah, Firman menahan lengannya. Sarah tersentak. “Kenapa pegang-pegang?” tanyanya ketus sambil menghempaskan tangan Firman dengan kasar. Firman tak mundur. Tatapannya justru mengeras, penuh curiga. “Aku tahu kamu,” katanya tajam. “Kamu sering datang diam-diam. Ngintip adik aku.” Sarah terdiam sesaat. “Kamu siapa?” lanjut Firman. “Dan apa maksudmu sebenarnya?!” “Apasih?” Sarah mengelak, suaranya meninggi karena panik. Ia kembali melangkah cepat, berusaha menjauh. Karena ia tidak mengenal orang asing ini

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 130

    Video itu berakhir. Suara “Mama menyayangimu” masih menggantung di udara, bahkan setelah layar ponsel Firman menghitam. Beberapa detik berlalu. Lalu napas Lala berubah. Tidak banyak—hanya sedikit lebih cepat, sedikit lebih berat. Monitor di samping ranjang kembali menunjukkan irama yang tak lagi sepenuhnya stabil. Firman menahan napas. Air mata Lala kembali mengalir. Kali ini lebih deras, membasahi sisi wajahnya. Alisnya mengernyit samar, seolah tubuhnya sedang berjuang menahan sesuatu yang terlalu berat untuk disadari. Jari-jarinya bergerak lagi. Lebih jelas dari sebelumnya. Pelan… namun nyata. “La…” Firman mendekat, suaranya bergetar. “Kakak di sini.” Kelopak mata Lala bergetar tipis. Tidak terbuka—namun jelas, ia mendengar. Ia merasakan. Firman menggenggam tangan adiknya erat, untuk pertama kalinya tak peduli pada air mata yang jatuh dari wajahnya sendiri. “Kamu nggak sendirian lagi,” bisiknya penuh sesak. “Dari dulu… seharusnya kamu nggak sendirian.” Di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status