Masuk"Apa? Serius? Kapan?" tanyanya dengan nada tidak percaya.
Aku menatap Mama Jessica dengan cemas. Ada apa?"Papa, tunggu. Jangan buat keputusan dulu. Kita bicarain lagi nanti. Oke? Iya... iya... Oke. Hati-hati di jalan. Bye."Mama Jessica menutup telepon dengan wajah pucat."Ma? Ada apa? Kenapa Papa nelpon?"Mama Jessica duduk kembali dengan berat. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit kubaca."Radit..." suaranya bergetar. "Papa... Papa biDua hari kemudian, pertemuan kedua berlangsung di rumah Radit dan Maya. Bukan ide Radit, tapi Kara yang memohon-mohon sampai Maya akhirnya mengalah. "Cuma main sebentar, Ma. Arka bilang dia mau lihat kamar aku."Mira dan Alya datang pukul empat sore, kali ini Arka membawa tas kecil berisi mobil-mobilan. Begitu masuk, Arka langsung mencari Kara dengan mata berbinar. "Kakak! Aku bawa mobil polisi, kita main kejar-kejaran ya?"Kara menarik tangannya tanpa ragu. "Ayo ke kamar aku! Ada trek mobil di lantai."Kedua anak itu menghilang ke koridor, suara tawa mereka bergema pelan. Ruang tamu mendadak terasa lebih luas dan lebih sepi bagi orang dewasa.Maya menyajikan teh dan kue kering yang ia beli tadi pagi. "Silakan. Maaf rumah agak berantakan."Alya mengambil secangkir teh. "Rumah kalian nyaman. Aku iri."Mira duduk di sofa, kakinya disilang. Ia tidak banyak bicara hari ini, hanya mengamati. Radit merasa tatapannya seperti sedang mengukur sesuatu."Arka tidur nyenyak setelah pertemuan kema
Sore berikutnya cuaca cerah, tapi udara masih lembab bekas hujan kemarin. Radit dan Maya memilih bangku taman yang agak tersembunyi, dekat pohon beringin besar. Kara berlari kecil di depan mereka, tas kecil berisi camilan bergoyang di punggungnya."Papa, cepetan! Kak Mira bilang Arka suka ayunan yang tinggi," kata Kara sambil menoleh, wajahnya penuh harap.Maya menggenggam tangan Radit sebentar sebelum mereka duduk. "Tenang," bisiknya. "Kita lihat dulu."Tak lama kemudian, Alya muncul dari arah parkiran. Ia memegang tangan seorang bocah laki-laki kecil yang berjalan agak malu-malu. Rambut Arka agak acak-acakan, matanya besar dan cokelat muda, mirip sekali dengan Radit saat kecil, meski hidungnya lebih mirip Alya.Kara langsung berhenti di depan ayunan. Ia menatap Arka dengan kepala miring. "Kamu Arka?"Arka mengangguk pelan, tangannya masih memegang baju ibunya. "Iya... Kakak Kara?"Nama itu keluar pelan, tapi cukup untuk membuat Kara tersenyum lebar. "Iya! Ayo main ayunan bareng!"Ra
Hujan deras mengguyur sore itu, membuat lalu lintas macet parah. Radit tiba di rumah hampir setengah jam terlambat, bajunya basah di bahu meski ia pakai jas hujan. Begitu masuk, ia langsung mencium aroma kopi yang baru diseduh, Maya selalu buat yang pahit sekali kalau sedang tegang.Di ruang tamu, Mira sudah duduk di sofa tunggal, kakinya disilang santai. Alya ada di sebelahnya, memegang gelas air putih. Kara sedang di lantai, asyik mewarnai buku gambar sambil sesekali melirik ke arah tamu dengan mata berbinar.Maya berdiri di ambang dapur, tangannya memegang nampan kecil. "Kamu telat," katanya pelan ke Radit, tapi nada suaranya tidak marah. Lebih seperti peringatan."Maaf. Meeting molor." Radit meletakkan tasnya, lalu mengangguk ke Mira dan Alya. "Terima kasih sudah datang."Mira tersenyum tipis. "Nggak apa. Hujannya deras banget sih. Aku bawa Arka, tapi Alya bilang lebih baik dia nunggu di mobil dulu. Takut Kara kaget."Kara langsung angkat kepala. "Arka? Di mana? Boleh lihat?"Radi
Radit memarkir mobil di pinggir taman kecil dekat sekolah Kara. Jam menunjukkan setengah empat sore, waktu jemput biasa. Tapi hari ini ia datang lebih awal, duduk di bangku kayu sambil pura-pura baca berita di ponsel. Angin sore membawa bau tanah basah setelah hujan siang tadi.Ia melihat Kara dari kejauhan, tas ranselnya bergoyang-goyang saat berlari kecil ke arah ayunan. Tapi bukan Maya yang menunggu di sana.Mira sudah duduk di bangku sebelah ayunan, memegang dua es krim cone. Satu ia serahkan ke Kara begitu anak itu mendekat. Kara menerimanya dengan senyum lebar, lalu duduk di samping Mira sambil bercerita sesuatu tentang gurunya yang lucu.Radit bangkit pelan, tangannya terkepal di saku. Ia mendekat tanpa suara dulu, cukup dekat untuk mendengar."...terus Papa bilang itu cuma mimpi," kata Kara sambil menjilat es krim cokelatnya. "Tapi aku suka cerita Arka. Dia pasti suka main bola sama aku."Mira tertawa pelan, suaranya hangat. "Pasti. Adik laki-laki biasanya suka gitu. Kamu mau
Radit duduk di tepi tempat tidur Kara, memandangi kertas yang sudah ia remas tadi malam. Tulisan tangan itu rapi sekali, huruf-hurufnya miring elegan, seolah ditulis dengan tenang. "Arka menunggu kakaknya pulang. Jangan biarkan Papa menyembunyikan kami lagi. -Mira."Ia mendengar suara Maya di dapur, sedang menyiapkan bekal sekolah Kara. Biasanya suara itu menenangkan, tapi pagi ini terasa seperti pengingat bahwa rumah ini sedang retak pelan-pelan."Papa, kenapa diam aja?" Kara muncul dari balik selimut, rambutnya acak-acakan. Ia meraih tangan Radit. "Kamu lagi sakit lagi ya? Kayak waktu di rumah sakit dulu."Radit memaksakan senyum dan menyimpan kertas itu ke saku celananya. "Enggak, Sayang. Papa cuma mikir kerjaan. Kamu sudah mandi belum? Nanti telat."Kara mengangguk, tapi matanya masih penasaran. "Mira bilang Arka itu adik aku yang hilang. Katanya Papa tahu kok. Beneran ada ya?"Pertanyaan polos itu seperti jarum kecil yang menusuk. Radit mengusap kepala putrinya. "Itu cuma cerita
Radit sedang menuang kopi, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Suaranya pendek, dua kali, seperti orang yang sudah hafal rumah ini. Jam baru menunjukkan pukul delapan pagi. Terlalu pagi untuk tamu biasa.Maya mengangkat alis dari balik meja makan, sendoknya berhenti di udara. "Kamu pesan apa?""Enggak." Radit meletakkan teko kopi, tangannya agak licin. "Mungkin kurir."Tapi ketika ia membuka pintu, yang berdiri di depan bukan kurir.Alya tersenyum tipis, rambutnya terikat rapi, membawa kotak kue pastel yang kelihatan mahal. Di sampingnya, seorang perempuan lebih muda, mungkin awal dua puluhan, berdiri dengan sikap santai, tangan di saku jaket denimnya. Rambut hitam panjangnya sedikit berantakan karena angin pagi, tapi matanya tajam, seolah sudah menilai seluruh ruangan sebelum masuk."Pagi," kata Alya ringan. "Maaf datang mendadak. Aku bawa sarapan. Ini Mira, temanku. Dia baru pindah ke sini dan aku pikir... ya, kenalan dulu lah."Mira mengangguk kecil, senyumnya sopan tapi tidak berlebihan
Dua minggu kemudian...Radit berdiri di depan cermin kamar mandi, merapikan kerah kemejanya sambil menatap wajahnya sendiri. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas. Wajahnya terlihat lebih tirus dari biasanya.Tapi yang paling mengganggu bukan penampilannya.Yang mengganggu adalah, dia mula
Satu bulan kemudian.Radit kembali bekerja penuh waktu. Dinda mulai bisa keluar dari kamar, meski sebagian besar waktunya masih dihabiskan dengan duduk di teras belakang atau menatap televisi tanpa benar-benar menonton.Mereka bicara lebih sering sekarang, meski percakapan mereka dangkal dan berjar
Senin pagi, di Kantor PT Mitra Solusi Digital.Daily standup meeting berjalan seperti biasa. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.Setiap kali mataku bertemu dengan mata Dinda di layar Zoom, ada senyum kecil yang tersirat. Senyum yang hanya kami berdua yang mengerti artinya.Mas Andi yang duduk
"Aku punya hutang ke bank," lanjutnya. "Sekitar lima miliar. Dan aku memang sempat telat bayar cicilan selama beberapa bulan karena cash flow yang macet."Aku mengepalkan tangan di atas paha."Tapi," Pak Darma mengangkat tangannya. "Itu sudah mulai teratasi. Aku sudah negosiasi







