Share

Bab 159

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2026-02-14 23:31:32

Aku berdiri di depan lemari, menatap deretan baju dengan bingung.

Ini bukan meeting kantor. Ini dinner. Date? Mungkin.

Haruskah aku pakai kemeja formal? Atau kaos dan jaket casual saja? Atau...

"Radit, kamu kenapa mondar-mandir dari tadi?"

Aku menoleh. Mama Jessica berdiri di pintu kamar dengan senyum geli.

"Ma... aku bingung mau pakai baju apa."

Mama Jessica masuk ke kamar, membuka lemari, lalu mengambil kemeja lengan panjang warna biru muda dan celana chino krem.

"Pakai ini. Casual tapi tetap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Mama Muda   Bab 353

    Pagi itu, seperti biasa, Kara bangun lebih awal dari biasanya. Jam dinding baru menunjukkan pukul lima lewat, tapi ia sudah turun ke dapur bakery keluarga dengan mata masih agak mengantuk.Aroma roti tawar yang baru keluar dari oven langsung menyambutnya, bercampur harum cokelat leleh dan mentega. Maya, ibunya, sedang sibuk mengaduk adonan sambil bersenandung pelan. “Kara, hari ini tolong bantu packing pesanan langganan ya, Sayang,” kata Maya sambil tersenyum lebar dan mengikatkan apron kecil di pinggang Kara. Apron itu sudah agak usang, tapi Kara menyukainya karena terasa hangat dan familiar.“Iya, Ma. Kara senang kok bantu. Lagian, kalau nggak bantu, nanti Arka yang nakal malah bikin berantakan,” jawab Kara sambil tertawa kecil.Benar saja, Arka yang sudah memakai seragam SD-nya muncul dari belakang, langsung mencuri sepotong cokelat yang sedang disusun. “Hehe, Kak Kara nggak liat, kan?” katanya polos sambil mengunyah cepat.Dari pintu dapur, Radit—ayahnya—tertawa melihat adegan it

  • Godaan Mama Muda   Bab 352

    Hari-hari berikutnya berlalu dalam irama yang baru bagi keluarga Pranata. Campuran antara ketenangan rumah tangga dan kesibukan yang membawa harapan.Yayasan Radit Pranata, yang dulu hanya berupa satu gedung kecil dengan tim terbatas, kini mulai bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih besar dan bermakna.Dana dari warisan Victor Lang sudah masuk ke rekening resmi yayasan. Angka yang tertera di layar ponsel Radit setiap kali ia membuka aplikasi mobile banking masih terasa tidak nyata. Kadang ia hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum sendiri, mengingat perjalanan panjang yang telah dilaluinya.Pagi itu, Radit mengajak seluruh keluarga ke gedung yayasan yang baru direnovasi. Matahari pagi menyapa lembut saat mobil mereka memasuki halaman.Kara menggandeng tangan kecil Arka, sementara Maya membawa keranjang anyaman berisi kue-kue segar dari bakery miliknya—camilan untuk para karyawan yang sudah bekerja keras.“Wah, Pa! Ini sudah beda banget!” seru Kara begitu melihat gedung dua l

  • Godaan Mama Muda   Bab 351

    Beberapa hari setelah berita wasiat itu menyebar ke mana-mana, kehidupan keluarga Pranata perlahan mulai kembali ke ritme biasanya.Meski sesekali masih ada satu-dua reporter yang nekat nongkrong di depan bakery atau yayasan, intensitasnya sudah jauh berkurang.Orang-orang rupanya mulai bosan dengan cerita anak kecil yang menolak ratusan miliar. Berita baru selalu datang, dan kehidupan kembali berjalan seperti semula.Pagi itu, langit Jakarta masih agak mendung saat Kara berjalan ke sekolah sambil menggandeng tangan Arka. Adik laki-lakinya itu, seperti biasa, tak henti-hentinya bercerita. Tapi kali ini ada nada bangga yang baru dalam suaranya.“Kak, kemarin temen Arka bilang Kak Kara paling keren di dunia! Katanya berani banget nolak duit sebanyak itu. Arka langsung jawab, ‘Iya dong, kakakku emang paling hebat!’” Arka mengangkat dagunya tinggi-tinggi, matanya berbinar.Kara tertawa kecil sambil mengusap kepala adiknya yang agak berantakan. “Jangan sombong ya, Ar. Kita tetap seperti bi

  • Godaan Mama Muda   Bab 350

    Sinar matahari menyusup lembut melalui tirai kamar Kara. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia bangun tanpa beban berat di dada.Boneka kelinci tuanya masih berada dalam pelukannya, sudah agak basah oleh air mata semalam. Kara tersenyum kecil sambil mencium kepala boneka itu.“Dulu kamu satu-satunya temanku,” bisiknya pelan. “Sekarang aku punya keluarga yang nyata.”Suara tawa Arka terdengar dari lantai bawah, diikuti aroma telur goreng dan roti bakar yang menggoda. Kara cepat-cepat mandi, mengikat rambutnya yang masih basah, lalu turun ke dapur dengan langkah ringan.Radit sedang membalik telur di wajan, sementara Maya menuangkan susu untuk Arka. Begitu melihat Kara, wajah Radit langsung cerah.“Princess-ku sudah bangun!” serunya sambil membuka tangan lebar-lebar.Kara langsung memeluk ayahnya erat. “Pagi, Pa. Pagi, Ma. Pagi, bawel,” katanya sambil mengacak rambut Arka yang acak-acakan.Arka tertawa ker

  • Godaan Mama Muda   Bab 349

    Malam itu, Kara duduk di teras belakang, kakinya yang dingin menyentuh lantai keramik yang sudah agak retak. Ponsel di pangkuannya masih menyala, pesan dari Mira terbaca berulang kali hingga huruf-hurufnya terasa kabur.Ia mendengar langkah pelan di belakangnya. Radit keluar dengan jaket tebal di tangan, lalu menyelimutinya ke pundak Kara tanpa banyak bicara. Ia duduk di samping, bahu mereka bersentuhan.“Masih mikirin pesan itu?” tanya Radit pelan.Kara mengangguk kecil. “Mereka bilang besok malam jam delapan. Kalau aku datang dan tanda tangani, foto-foto itu akan dihancurkan. Tapi kalau aku nggak… Papa bisa hancur lagi.”Radit menghela napas panjang. Ia menatap langit yang sama gelapnya dengan perasaan Kara. “Papa sudah bilang tadi. Papa nggak mau kamu ambil keputusan karena takut. Kita hadapi bareng.”“Tapi Pa… kalau video itu tersebar, gimana dengan yayasan Papa? Gimana dengan Arka di sekolah? Orang-orang pasti ngomongin kita terus.”

  • Godaan Mama Muda   Bab 348

    Kara berdiri di tengah ballroom mewah yang penuh lampu kristal berkilauan. Gaun hitam sederhana yang dikenakannya terasa biasa saja di antara gaun-gaun mewah para tamu. Semua mata keluarga Lang tertuju padanya. Ada yang melihat dengan iri, ada yang curiga, dan ada pula yang tersenyum palsu seolah-olah mereka mendukungnya.Mira, wanita yang kemarin mengajaknya ke sini, berdiri di samping Kara sambil menyentuh bahu gadis itu dengan lembut. “Kamu pewaris tunggal sekarang, Kara. Semua milik kakekmu, Victor Lang, jatuh ke tanganmu. Ratusan miliar rupiah, rumah-rumah besar, perusahaan-perusahaan, bahkan saham di luar negeri. Tinggal bilang ‘ya’, dan kamu tidak perlu lagi hidup susah di rumah kecil itu.”Kara menunduk, melihat surat wasiat asli yang masih dipegangnya. Tulisan tangan kakeknya yang dulu terasa dingin kini seperti janji kekayaan yang menggoda. Ia ingat bagaimana hidupnya selama ini—rumah kecil yang bocor kalau hujan deras, makan seadanya, dan ibunya yang selalu capek bekerja.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status