Se connecterLampu ruang tamu sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur kuning lembut di kamar Kara.Radit berdiri di depan pintu kamar anaknya, tangannya ragu di gagang pintu. Di dalam, suara tawa kecil Kara dan Mira terdengar samar, seperti dua saudara yang sudah lama saling mengenal.Maya mendekat dari belakang, tangannya menyentuh punggung Radit dengan lembut.“Biarkan mereka malam ini,” bisiknya. “Kara senang sekali. Kita pantau dari sini.”Radit mengangguk, tapi hatinya tidak tenang. Ia mendorong pintu pelan. Kara sudah berbaring di tempat tidur, Mira duduk di tepinya, membacakan cerita dinosaurus dengan suara lembut. Boneka dinosaurus Kara tergeletak di antara mereka.“Kak Mira, cerita yang bagian T-Rex lindungi anaknya lagi,” pinta Kara dengan mata berbinar.Mira tersenyum, suaranya halus seperti sutra. “Dulu ada T-Rex besar yang sangat melindungi anaknya. Dia tidak pernah bohong pada anaknya. Selalu jujur, meski kadang menyakitkan. Karena itulah anaknya merasa aman.”Kara mengangguk s
Pintu apartemen masih terbuka lebar. Udara pagi yang sejuk masuk, tapi Radit merasa ruangan itu tiba-tiba menjadi sangat sempit.Di depannya berdiri Alya dengan senyum tenang, dan di belakangnya, gadis remaja tinggi ramping dengan rambut hitam panjang yang jatuh lembut di bahu.Matanya persis seperti mata Kara, tapi ada kedalaman yang membuat Radit merasa seperti sedang melihat cermin yang retak.“Hai, Papa,” kata gadis itu lagi, suaranya lembut, hampir manja. “Aku Mira. Sudah lama aku ingin ketemu kalian semua.”Kara langsung melepaskan tangan Radit dan berlari kecil memeluk pinggang Mira. “Kak Mira! Kamu benar-benar datang! Aku sudah cerita ke Papa dan Mama tentang kamu!”Mira membalas pelukan Kara dengan hangat, tangannya mengusap rambut adik kecilnya. “Iya, Kakak sudah janji kan? Kakak bawa es krim stroberi kesukaan Papa juga.”Maya berdiri di belakang Radit, tubuhnya tegang. Suaranya tetap tenang, tapi Radit bisa mendengar getaran kecil di dalamnya.“Alya… siapa ini? Kamu tidak p
Pagi itu cahaya matahari menyusup lembut melalui jendela dapur, mewarnai meja makan dengan warna keemasan yang hangat.Radit menuang susu ke gelas Kara, gerakannya lambat, hampir hati-hati, seolah takut satu gerakan salah bisa memecahkan sesuatu yang rapuh.Kara duduk di kursi tinggi, kakinya bergoyang-goyang riang sambil mengaduk sereal dengan sendok plastik berwarna biru.“Papa, hari ini aku mau gambar Mira lagi,” kata Kara tiba-tiba, suaranya ringan seperti angin pagi. “Dia bilang suka warna merah. Kayak darah dinosaurus yang lagi bertarung.”Maya yang sedang mengoles selai di roti menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Mira? Siapa Mira, sayang?”Kara mengangkat bahu kecilnya, seolah pertanyaan itu biasa saja. “Kakak baru kita. Dia bilang dia sudah lama nunggu ketemu Papa dan Mama. Katanya nanti dia datang main ke rumah. Bawa es krim rasa stroberi yang Papa suka.”Radit merasa udara di dapur tiba-tiba lebih berat. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Ia menatap Kara, mencoba memb
Hari Minggu pagi, langit pantai Sentosa cerah tanpa awan. Kara berlari di pasir putih, rok pendeknya berkibar, sambil tertawa keras setiap kali ombak kecil menyentuh kakinya.Alya berjalan di sampingnya, memegang keranjang piknik, rambutnya dibiarkan tergerai oleh angin laut.Radit dan Maya berjalan beberapa langkah di belakang. Maya menggenggam tangan suaminya erat, jarinya sesekali mengusap punggung tangan Radit seperti sedang mengingatkan.Kara berbalik, melambai dengan semangat. “Papa! Mama! Cepat! Ada kepiting kecil di sini!”Alya tersenyum ke arah Radit dan Maya. “Dia benar-benar penuh energi. Mirip kamu dulu, Radit.”Radit hanya mengangguk pelan. Ia mencoba menikmati momen itu, angin laut, tawa Kara, kehangatan tangan Maya. Tapi setiap kali Alya tertawa bersama Kara, ia merasa ada benang tipis yang menarik ingatannya kembali ke mimpi buruk.Mereka duduk di tikar piknik. Kara sibuk membangun istana pasir bersama Alya. Maya menyandarkan kepalanya di bahu Radit, suaranya pelan han
Pagi itu, Radit dan Maya duduk bersebelahan di ruang tunggu, tangan mereka saling genggam erat.Kara duduk di lantai, menggambar dinosaurus dengan krayon merah sambil bernyanyi pelan.Sesekali ia menoleh dan tersenyum ke ayahnya, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.Dr. Tan memanggil mereka masuk. Wajah dokter itu serius, map di tangannya terbuka lebar.“Hasil scan ulang sudah keluar,” katanya langsung. “Ada aktivitas listrik yang tidak biasa di hippocampus Anda, Radit. Seolah otak Anda masih memproses mimpi buruk itu secara aktif, bahkan setelah Anda sadar. Ini bukan kerusakan permanen, tapi cukup kuat untuk memengaruhi emosi dan ingatan jangka pendek.”Maya menegang. “Artinya apa, Dokter?”Dr. Tan menatap Radit. “Artinya mimpi itu belum benar-benar selesai. Otak Anda sedang mencoba menyelesaikan cerita itu. Kalau pemicu stres muncul, pertemuan dengan orang dari masa lalu, tekanan emosional, atau bahkan hal kecil yang mengingatkan, mimpi itu bisa semakin sering dan
Radit berdiri di depan lemari es, memegang gambar Kara dengan tangan yang sedikit gemetar. Krayon merah tebal membentuk sosok Tante Alya berdiri sangat dekat dengan Papa, tangan mereka hampir bersentuhan. Kara sendiri digambar sedang tersenyum lebar di tengah, memegang dinosaurus.“Bagus kan, Papa?” tanya Kara lagi dari lantai ruang tamu, suaranya polos dan ceria.Radit memaksakan senyum. “Bagus sekali, sayang. Papa suka warnanya.”Ia meletakkan gambar itu di atas kulkas, tapi matanya tidak bisa lepas dari sosok Alya yang digambar dengan garis tegas. Maya keluar dari kamar, melihat ekspresi suaminya. Ia mendekat dan memeluk pinggang Radit dari belakang.“Dia hanya menggambar apa yang dia lihat,” bisik Maya lembut. “Kemarin Alya datang, Kara senang sekali. Jangan dipikirkan terlalu dalam.”Radit mengangguk, tapi malam itu ia sulit tidur. Setiap kali memejamkan mata, gambar merah itu muncul , Alya yang tersenyum, Kara yang tersenyum, dan dirinya yang berdiri di tengah, tidak tahu harus
Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan, sebelum ia sadar."Kenapa?" tanya Kiara tiba-tiba."Hah? Gak... gak ada apa-apa," jawabku gugup.Kiara menatapku dengan tatapan menyelidik. "Kamu... liat apa?""Gak ada kok, beneran.""Gak mungkin. Mukamu merah." Ia mengernyitkan alis. "Kamu... liat ke arah si
Aku kembali duduk di sofa sambil menyeruput kopi yang baru kubikin.Mataku menatap pemandangan kota dari jendela besar apartemen. Gedung-gedung tinggi, lalu lintas yang mulai ramai, dan langit pagi yang cerah.Namun jujur, sedari tadi pikiranku masih tidak bisa tenang. Aku belum tahu maksud Bu Sisk
Aku berdiri kaku di ruang tamu, tidak berani bergerak sedikit pun.Di hadapanku, Mama Jessica menatapku tanpa berkedip, seolah menunggu satu kata dariku untuk menentukan segalanya. Air mata masih menggenang di pelupuk matanya, membuat dadaku terasa semakin sesak."Ma, aku bisa jelasin..." ucapku pe
Sebuah mobil sedan putih berhenti di sampingku. Jendela turun, dan wajah Bu Siska muncul dari balik kemudi."Radit? Kenapa masih di sini?" tanyanya."Bu Siska? Bukannya Ibu sudah pulang tadi?""Aku balik lagi. Ketinggalan dompet di ruangan." Ia menatap motorku. "Motormu kenapa?""Mogok, Bu. Gak mau







