Share

Godaan Mama Muda
Godaan Mama Muda
Author: Joker Sarjana

Bab 1

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2025-11-24 00:45:16

"Ahh... Ahh... Ahh..."

Langkahku terhenti saat mendengar suara kenikmatan. Tepat berada di depan pintu kamar ibuku.

Aku yang terbangun tengah malam karena merasa ingin buang air kecil, mengurungkan niatku sejenak untuk mendengar lebih jelas.

Perlahan, aku mendekatkan telinga ke pintu. Ternyata benar, suara itu memang berasal dari dalam kamar Mama Jessica, ibu tiriku.

Rasa buang air kecil yang tadinya nyaris tak tertahankan, menghilang seketika. Aku mengatur napas sebaik mungkin, sembari mencoba berpikir apa yang sedang berlangsung di dalam sana.

Bagaimana mungkin?

Tidak, ini tidak mungkin!

Batinku bergejolak, pikiranku melayang-layang. Apa mungkin ibu tiriku memasukkan pria lain ke dalam kamar?

Atau jangan-jangan...

Pikiranku semakin beterbangan, membayangkan apa yang dapat memicu munculnya suara desahan itu.

Ayah belum pulang karena lembur malam ini. Jadi, tidak mungkin desahan itu muncul dengan sendirinya.

"Loh, Radit? Ngapain di sini?" tanya Mama Jessica yang tiba-tiba saja membuka pintu.

"Eh, anu, bukan, enggak Ma..." Aku gelagapan.

Jantungku berdegup kencang, bukan semata karena Mama Jessica menemukanku di depan kamarnya. Melainkan, karena setelan pakaian yang ia kenakan.

Mama Jessica mengenakan piyama rok bewarna pink yang terlihat seperti baju dinas malam. Sehingga bayang-bayang isi di dalamnya tergambar jelas di kepalaku.

"Hihi, lucu banget deh kamu. Kenapa jadi gugup kayak gitu?" Mama Jessica melirik sambil menyilangkan tangan di dada, wajahnya tampak penasaran.

"Enggak kok, Ma. Kebelet buang air kecil, mau ke kamar mandi dulu." Aku merapatkan kedua pahaku, telapak tanganku dingin karena grogi.

"Oh... mau ke kamar mandi rupanya. Mau Mama temenin?" Mama Jessica mengangkat alis, seolah bercanda, tapi langkahnya ikut maju setengah langkah ke arahku.

"Gak usah Ma. Aku sendiri aja." Aku tersenyum kaku sambil mengusap tengkukku. Detak jantungku terdengar jelas di telinga sendiri.

"Beneran nih gak mau ditemenin? Malem kemarin Mama denger suara aneh dari halaman belakang." Ia berkata sambil melirik ke jendela, lalu berjalan pelan ke dekatku.

Tangannya menyentuh bahuku sebentar, lembut tapi membuatku refleks menelan ludah.

Tiba-tiba saja listrik padam. Seluruh ruangan berubah menjadi gelap gulita.

"Tuh kan, lampunya mati. Yuk, Mama temenin aja." Mama Jessica menyalakan ponselnya sebagai penerangan.

"Soal yang tadi, beneran Ma?"

"Iya," jawabnya pelan, hampir seperti gumaman. "Tapi Mama nggak mau ngecek, takut soalnya."

Seketika bulu kudukku meremang. Mulai ragu-ragu untuk melangsungkan hajatku ke kamar mandi. Tapi, jika aku menahannya, khawatir celanaku akan segera basah kuyup.

"Udah, ayuk. Jangan banyak mikir. Ntar malah keluar di celana lagi."

Mama Jessica segera menggandeng lenganku dengan lembut. Entah ini terlihat normal antara ibu dengan anak, aku tidak tahu. Yang jelas, ada perasaan deg-degan saat beberapa kali lenganku tersentuh sesuatu yang lembut.

"Aku buang air kecil dulu ya, Ma?" ucapku pelan ketika kami berhenti di depan pintu kamar mandi.

Pintu itu sedikit terbuka, gelap di dalamnya membuatku merinding.

"Berani, kan?" Mama Jessica menyipitkan mata, menyorot ke arahku dan pintu dengan cahaya ponselnya. Suaranya terdengar setengah menggoda, setengah menguji.

"Maksudnya, Ma?" Aku mengerutkan kening. Jantungku berdetak lebih cepat, bukan karena takut, tapi karena tatapannya terasa aneh.

"Emang kamu berani di dalem sendirian?"

"Berani dong, Ma. Gak mungkin juga kan Mama masuk ke dalem buat nemenin aku?" Aku tertawa kering, mencoba mencairkan suasana yang makin tegang.

"Loh, kenapa enggak?"

"Hah?" Aku spontan mundur setengah langkah, bingung.

Mama Jessica langsung mengerjap, menyadari ucapannya sendiri.

"Eh, salah," katanya sambil tersenyum canggung. Ia mengusap rambut yang jatuh ke pipinya, lalu berdeham halus.

Aku bergegas masuk untuk menyegerakan hajatku. Tapi kata-kata Mama Jessica yang menawarkan diri untuk menemaniku ke dalam sini, cukup mengganggu pikiranku.

"Makasih ya, Ma. Mama baik banget," ucapku ketika melihat Mama Jessica senantiasa menunggu di depan pintu.

"Gak perlu makasih segala. Kan Mama harus jagain kamu. Kayak amanahnya Papa."

Aku mengerutkan kening, "Emang Papa bilang gitu?"

"Iya, Papa bilang Mama harus benar-benar jagain kamu. Papa sayang banget dan gak mau kamu kenapa-napa."

Aku cukup tersentuh mendengarnya. Karena belum pernah aku melihat Ayah mengatakan hal demikian di hadapanku.

Tapi terkadang juga aku merasa bahwa ini berlebihan, seperti dimanjakan. Kurang pantas saja di usiaku yang sudah menyandang gelar sarjana.

"Oh ya Ma, Papa emang belum pulang, ya?"

"Belum," jawabnya lembut. Ia merapikan rambutnya yang jatuh ke bahu. "Kan malem ini ada lembur. Mungkin sekitar satu jam lagi pulangnya."

"Oh..."

Kami berdua kembali menuju ke arah kamar. Kamarku berada tepat di samping kamarnya.

"Mau Mama temenin tidur?" tanyanya lembut saat kami tiba di depan pintu kamarku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Mama Muda   Bab 260

    Pagi itu cahaya matahari menyusup lembut melalui jendela dapur, mewarnai meja makan dengan warna keemasan yang hangat.Radit menuang susu ke gelas Kara, gerakannya lambat, hampir hati-hati, seolah takut satu gerakan salah bisa memecahkan sesuatu yang rapuh.Kara duduk di kursi tinggi, kakinya bergoyang-goyang riang sambil mengaduk sereal dengan sendok plastik berwarna biru.“Papa, hari ini aku mau gambar Mira lagi,” kata Kara tiba-tiba, suaranya ringan seperti angin pagi. “Dia bilang suka warna merah. Kayak darah dinosaurus yang lagi bertarung.”Maya yang sedang mengoles selai di roti menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Mira? Siapa Mira, sayang?”Kara mengangkat bahu kecilnya, seolah pertanyaan itu biasa saja. “Kakak baru kita. Dia bilang dia sudah lama nunggu ketemu Papa dan Mama. Katanya nanti dia datang main ke rumah. Bawa es krim rasa stroberi yang Papa suka.”Radit merasa udara di dapur tiba-tiba lebih berat. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Ia menatap Kara, mencoba memb

  • Godaan Mama Muda   Bab 259

    Hari Minggu pagi, langit pantai Sentosa cerah tanpa awan. Kara berlari di pasir putih, rok pendeknya berkibar, sambil tertawa keras setiap kali ombak kecil menyentuh kakinya.Alya berjalan di sampingnya, memegang keranjang piknik, rambutnya dibiarkan tergerai oleh angin laut.Radit dan Maya berjalan beberapa langkah di belakang. Maya menggenggam tangan suaminya erat, jarinya sesekali mengusap punggung tangan Radit seperti sedang mengingatkan.Kara berbalik, melambai dengan semangat. “Papa! Mama! Cepat! Ada kepiting kecil di sini!”Alya tersenyum ke arah Radit dan Maya. “Dia benar-benar penuh energi. Mirip kamu dulu, Radit.”Radit hanya mengangguk pelan. Ia mencoba menikmati momen itu, angin laut, tawa Kara, kehangatan tangan Maya. Tapi setiap kali Alya tertawa bersama Kara, ia merasa ada benang tipis yang menarik ingatannya kembali ke mimpi buruk.Mereka duduk di tikar piknik. Kara sibuk membangun istana pasir bersama Alya. Maya menyandarkan kepalanya di bahu Radit, suaranya pelan han

  • Godaan Mama Muda   Bab 258

    Pagi itu, Radit dan Maya duduk bersebelahan di ruang tunggu, tangan mereka saling genggam erat.Kara duduk di lantai, menggambar dinosaurus dengan krayon merah sambil bernyanyi pelan.Sesekali ia menoleh dan tersenyum ke ayahnya, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.Dr. Tan memanggil mereka masuk. Wajah dokter itu serius, map di tangannya terbuka lebar.“Hasil scan ulang sudah keluar,” katanya langsung. “Ada aktivitas listrik yang tidak biasa di hippocampus Anda, Radit. Seolah otak Anda masih memproses mimpi buruk itu secara aktif, bahkan setelah Anda sadar. Ini bukan kerusakan permanen, tapi cukup kuat untuk memengaruhi emosi dan ingatan jangka pendek.”Maya menegang. “Artinya apa, Dokter?”Dr. Tan menatap Radit. “Artinya mimpi itu belum benar-benar selesai. Otak Anda sedang mencoba menyelesaikan cerita itu. Kalau pemicu stres muncul, pertemuan dengan orang dari masa lalu, tekanan emosional, atau bahkan hal kecil yang mengingatkan, mimpi itu bisa semakin sering dan

  • Godaan Mama Muda   Bab 257

    Radit berdiri di depan lemari es, memegang gambar Kara dengan tangan yang sedikit gemetar. Krayon merah tebal membentuk sosok Tante Alya berdiri sangat dekat dengan Papa, tangan mereka hampir bersentuhan. Kara sendiri digambar sedang tersenyum lebar di tengah, memegang dinosaurus.“Bagus kan, Papa?” tanya Kara lagi dari lantai ruang tamu, suaranya polos dan ceria.Radit memaksakan senyum. “Bagus sekali, sayang. Papa suka warnanya.”Ia meletakkan gambar itu di atas kulkas, tapi matanya tidak bisa lepas dari sosok Alya yang digambar dengan garis tegas. Maya keluar dari kamar, melihat ekspresi suaminya. Ia mendekat dan memeluk pinggang Radit dari belakang.“Dia hanya menggambar apa yang dia lihat,” bisik Maya lembut. “Kemarin Alya datang, Kara senang sekali. Jangan dipikirkan terlalu dalam.”Radit mengangguk, tapi malam itu ia sulit tidur. Setiap kali memejamkan mata, gambar merah itu muncul , Alya yang tersenyum, Kara yang tersenyum, dan dirinya yang berdiri di tengah, tidak tahu harus

  • Godaan Mama Muda   Bab 256

    Ruang tunggu rumah sakit terasa terlalu dingin. Radit duduk di kursi plastik, tangannya saling menggenggam erat di pangkuan.Maya berada di sampingnya, satu tangannya memegang tangan Radit, sementara tangan yang lain memeluk Kara yang duduk di pangkuannya.Gadis kecil itu sibuk mewarnai buku gambar dinosaurus, tapi sesekali melirik ayahnya dengan mata penuh rasa ingin tahu.“Papa takut ya?” tanya Kara pelan.Radit memaksakan senyum. “Sedikit. Tapi Papa kuat kok.”Pintu ruang dokter terbuka. Dr. Tan, spesialis neurologi yang menangani Radit selama koma, memanggil mereka masuk. Wajah dokter itu tenang, tapi ada kerutan kecil di dahi yang membuat Radit langsung waspada.“Terima kasih sudah datang cepat,” kata Dr. Tan setelah mereka duduk. Ia membuka map hasil tes. “Kami melakukan scan tambahan dan tes darah lengkap saat Anda koma. Ada temuan yang kami anggap perlu dibahas.”Maya menggenggam tangan Radit lebih erat. Kara berhenti mewarnai, mendengarkan dengan serius.Dr. Tan melanjutkan

  • Godaan Mama Muda   Bab 255

    Sabtu pagi, Radit, Maya, dan Kara berjalan menyusuri jalur kebun binatang Singapura. Kara melompat-lompat di depan, memegang peta warna-warni sambil berteriak girang setiap kali melihat hewan baru.“Papa! Lihat jerapahnya tinggi sekali! Kayak dinosaurus yang aku gambar!”Maya tersenyum, tangannya menggenggam tangan Radit. Sentuhannya hangat, penuh harapan. “Lihat dia bahagia. Ini yang kita butuhkan. Keluar rumah, tanpa tekanan.”Radit mengangguk, tapi matanya sesekali melirik ke belakang. Alya berjalan beberapa langkah di belakang mereka, membawa tas kecil berisi camilan untuk Kara. Ia datang atas undangan Kara sendiri, “Tante Alya kan suka hewan juga!” kata gadis kecil itu pagi tadi.Alya tidak memaksa. Ia hanya tersenyum saat Kara menarik tangannya untuk melihat singa. “Kara, lihat itu! Singanya lagi menguap. Lucu ya?”Kara tertawa. “Tante Alya, besok kita ke aquarium ya? Papa bilang boleh!”Radit dan Maya saling pandang. Maya menggenggam tangan suaminya lebih erat, seolah ingin

  • Godaan Mama Muda   Bab 170

    Satu bulan kemudian.Radit kembali bekerja penuh waktu. Dinda mulai bisa keluar dari kamar, meski sebagian besar waktunya masih dihabiskan dengan duduk di teras belakang atau menatap televisi tanpa benar-benar menonton.Mereka bicara lebih sering sekarang, meski percakapan mereka dangkal dan berjar

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Godaan Mama Muda   Bab 160

    Senin pagi, di Kantor PT Mitra Solusi Digital.Daily standup meeting berjalan seperti biasa. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.Setiap kali mataku bertemu dengan mata Dinda di layar Zoom, ada senyum kecil yang tersirat. Senyum yang hanya kami berdua yang mengerti artinya.Mas Andi yang duduk

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Godaan Mama Muda   Bab 147

    Senin, aku tiba di kantor pukul delapan pagi. Pak Hartono sudah menungguku di lobby."Radit! Pagi! Siap untuk hari pertama?""Siap, Pak!"Pak Hartono membawaku berkeliling kantor, memperkenalkanku pada tim development. Ada sekitar lima belas orang developer, designer, d

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Godaan Mama Muda   Bab 145

    Malam harinya, aku memasak mie instan, lalu duduk di meja makan sendirian. Menatap foto Kiara yang kuletakkan di meja."Kiara," bisikku. "Aku ketemu orang lagi hari ini. Pak Hartono namanya. Dia kasih aku kartu nama. Kasih aku... harapan lagi."Aku tersenyum tipis."Tapi aku takut, Kiara. Aku takut

    last updateLast Updated : 2026-03-30
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status