Share

Bab 2

Author: Joker Sarjana
last update Huling Na-update: 2025-11-24 00:46:19

Aku cukup tercengang. Walaupun sebenarnya hati ini ingin mengiyakannya, tapi entah kenapa aku seakan harus menolaknya.

"Nggak usah, Ma. Aku sendiri aja. Mungkin sebentar lagi juga udah nyala lampunya."

"Yaudah kalau gitu. Mama balik ke kamar dulu, ya."

"Eum, iya Ma."

"Huft..." Aku menghela napas, tidak tahu apa yang akan terjadi jika mengiyakan tawarannya itu.

"Yaelah Dit, mikir apaan, sih?" batinku bicara, tersenyum sambil menggelengkan kepala.

Namun demikian, aku tidak boleh menyimpan hasrat terhadapnya. Itu adalah ibuku, walau hanya ibu tiri, tapi dia adalah istri sah dari Ayahku.

Tiga bulan lalu Ayah menikahinya. Usia Ayah sebenarnya sudah tidak muda lagi, sedangkan Mama Jessica jauh lebih muda darinya.

Perbedaan usia mereka cukup mencolok, hingga tak jarang orang di sekitar kami sempat berbisik heran, mempertanyakan alasan di balik pernikahan mereka.

Aku pun tidak tahu pasti kenapa Mama Jessica mau menikah dengan Ayah. Kadang aku berpikir, mungkin karena cinta, atau bisa jadi karena rasa kasihan, atau mungkin ada alasan lain yang tidak pernah diceritakan padaku.

Sekarang, di usianya yang tiga puluh tahun, Mama Jessica terlihat jauh lebih muda dari kebanyakan perempuan seusianya.

Usiaku sendiri sudah dua puluh tiga tahun. Selisih kami tidak begitu jauh. Dalam beberapa momen, orang yang belum mengenal kami sering salah sangka. Mengira kami kakak beradik, bukan ibu dan anak tiri.

Mungkin itu juga sebabnya, perasaanku padanya sering terasa rumit. Ada jarak yang seharusnya dijaga, tapi kadang batas itu seolah memudar begitu saja.

Sejauh ini, belum ada sejarah yang tercatat dalam buku riwayat hidupku tentang percintaan. Mulai dari aku masih berbentuk janin hingga sekarang, aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran.

Bukan karena tidak ingin mencintai atau memiliki seorang kekasih. Hanya saja, setiap kali berhadapan dengan wanita cantik, jantungku selalu berdetak tak karuan.

***

Pagi harinya, aku bangun dengan rambut yang masih acak-acakan. Tidurku tidak nyenyak, bayangan suara desahan semalam masih bergema di kepalaku.

"Udah bangun rupanya. Gimana, semalem nyenyak tidurnya?" sapa Mama Jessica yang sedang mempersiapkan sarapan di atas meja.

"Kurang nyenyak sih, Ma," kataku sambil mengucek mata, masih terasa berat bangun tidur.

"Makanya kan udah Mama bilang, Mama temenin tidur, tapi kamu-nya nggak mau."

"Mama becanda, ya?"

Ia menggeleng pelan, senyumnya hilang berganti tatapan yang serius. "Enggak, Mama serius. Emang kenapa?"

Aku menelan ludah, mengalihkan pandangan ke lantai. "Gak kenapa-napa, sih. Cuma... gak mungkin dong ditemenin. Masa iya Papa tidurnya sendirian."

Ia menghela napas sambil merapikan rambut yang menutupi pundaknya. "Papa kalau lembur pulangnya pasti langsung ngorok. Jadi tidurnya bisa cepet. Mama gak ada maksud apa-apa. Cuma kasian aja sama kamu."

Aku mengangguk pelan, menggaruk tengkuk yang tiba-tiba terasa gatal.

"Gak apa-apa kok, Ma. Aku udah gede, bukan anak kecil lagi. Soal ditemenin semalem ke kamar mandi juga sebenernya agak aneh."

Mama Jessica tersenyum lembut, lalu menyentuh pundakku sekilas sebelum menarik tangannya kembali.

"Nggak aneh kok, Dit. Cuma kamu nya aja yang masih canggung sama Mama. Karena Mama baru gabung di keluarga ini."

"Eum, mungkin Ma." Aku mencoba tersenyum kecil, meskipun hati terasa campur aduk.

"Yaudah, sekarang kamu mandi dulu gih sana. Mama udah siapin semuanya. Biar kita sarapan bareng-bareng."

Aku memperhatikan sekeliling ruangan, menyadari tak ada suara atau tanda-tanda kehadiran Ayah.

"Papa udah berangkat kerja ya, Ma?"

"Iya," jawabnya sambil menuang air ke gelas, suaranya sedikit menurun. "Katanya ada meeting dadakan pagi ini. Jadi harus berangkat cepet. Kasian Papa, udah lembur semalem, sekarang juga harus berangkat pagi-pagi."

"Oh... Yaudah, kalau gitu aku mandi dulu, ya."

"Eum..."

Mama Jessica menebar senyum manis ke arahku, dan jujur saja aku nyaris meleleh menatapnya.

Senyuman itu terasa berbeda, bukan seperti senyum seorang ibu pada anaknya, melainkan seperti senyum seorang kekasih.

Begitu masuk ke kamar mandi, aku tidak langsung mandi. Pandanganku tertuju pada beberapa potong kain yang tergantung di rak jemuran kecil di sudut ruangan.

Mataku terpaku pada sehelai kain biru muda yang bentuknya menyerupai kacamata—bra milik Mama Jessica.

Sebenarnya, hal seperti ini mungkin saja wajar bagi seorang ibu yang menjemur pakaian dalam di tempat umum.

Akan tetapi, mengingat usianya yang masih muda dan kenyataan bahwa aku belum lama mengenalnya, semua itu terasa agak canggung dan tidak sepenuhnya wajar bagiku.

Tanpa sadar, aku sudah berada di dekat kacamata itu. Dengan jarak yang berkisar sepuluh sentimeter saja.

Entah kenapa ini kulakukan, aku tidak tahu. Yang jelas, ada reaksi dari bawah perutku. Terutama, ketika hidungku tertempel di sana.

Selesai mandi, aku kesulitan mengikat handuk di pinggang. Selain ukurannya yang terlalu kecil, milikku yang sulit dikendalikan membuat handuk itu semakin susah untuk kukencangkan.

Setelah beberapa sugesti yang kuberikan terhadap bagian tubuhku itu, akhirnya ia mau diam dan menenangkan diri.

Aku keluar sambil menatap layar ponsel, membalas W******p yang masuk dari salah satu temanku.

Begitu aku mendekati pintu kamar, aku melihat Mama Jessica dari belakang.

Cara tubuhnya sedikit membungkuk saat merapikan meja makan, dengan rambutnya tergerai mengikuti setiap gerak, membuatku tanpa sadar menahan napas.

Aku mematung sejenak, memperhatikan betapa aduhai body yang ia miliki. Dengan setelan daster di atas lutut, membuat bokong indahnya tercetak sempurna.

Tiba-tiba saja ketegangan kembali menyelimuti bagian tubuh di atara kedua pahaku, hingga tanpa sadar membuat handuk yang melilit pinggangku terlepas jatuh ke lantai.

Aku segera meraihnya cepat-cepat. Namun begitu kembali berdiri, pandanganku langsung bertemu dengan Mama Jessica yang sudah menghadap ke arahku.

"Mampus!"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Godaan Mama Muda   Bab 103

    Aku tidak langsung pulang, tidak tahu harus kemana.Aku hanya memutar gas motor, membiarkan mesinnya menderu menyusuri jalanan kota yang mulai padat oleh orang-orang yang ingin segera tiba ke rumah, sesuatu yang kini sangat kuhindari.Di setiap lampu merah, di balik helm yang terasa sesak, wajah Kiara terus terbayang.Aku masih bisa merasakan tajamnya tatapan matanya, tatapan yang biasanya hangat dan menenangkan, kini berubah menjadi penuh kebencian yang menghujam jantung.Suaranya yang bergetar saat mengucapkan, "Aku benci kamu," terus terngiang, lebih nyaring daripada suara klakson kendaraan di sekitarku.Aku akhirnya menepi di sebuah taman kota yang mulai sepi. Setelah memarkirkan motor dengan tangan yang masih gemetar, aku menyeret langkah menuju sebuah bangku kayu di bawah pohon rindang.Aku duduk di sana, menyandarkan punggung yang terasa berat, dan hanya menatap kosong ke arah lampu-lampu jalan yang mulai berpendar.Ponselku tidak berhenti bergetar. Getarannya terasa seperti de

  • Godaan Mama Muda   Bab 102

    Plak!Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Kiara menamparku dengan sekuat tenaga.Rasa panas menjalar seketika, meninggalkan denyut perih yang menjalar hingga ke rahang.Namun, sengatan fisik itu tak ada apa-apanya dibanding tatapan matanya. Tatapan yang biasanya penuh binar hangat, kini redup dan basah oleh kekecewaan yang teramat dalam."Aku benci kamu," bisiknya dengan suara penuh luka. "Aku benci kamu, Radit."Setiap kata itu terasa seperti sembilu yang menyayat tepat di ulu hati. Aku berdiri terpaku, lidahku kelu. Aku ingin merengkuhnya, menghapus air mata yang terus membanjiri pipinya, tapi tanganku terasa seberat timah."Kiara..." suaraku tercekat di tenggorokan, hampir tak terdengar di antara isak tangisnya yang tertahan. "Maafin aku... aku mohon, dengerin dulu..."Tanpa satu kata pun lagi, Kiara berbalik. Ia berlari menaiki tangga dengan langkah terburu-buru, seolah ingin segera melarikan diri dari keberadaanku yang kini dianggapnya racun. Sedetik kemudian, suara dentum

  • Godaan Mama Muda   Bab 101

    "Pak... saya...""Diam!" bentaknya keras, membuatku tersentak. "Jangan coba-coba membela diri! Aku sudah melihatnya! Kami semua sudah melihatnya!"Mama Kiara menangis terisak di sudut ruangan. Kiara masih menunduk, tubuhnya bergetar menahan tangis."Kamu tau siapa wanita itu?" tanya Papa Kiara dengan nada dingin.Aku tidak menjawab. Tenggorokanku tercekat."Jawab!" bentaknya lagi."Atasanku..." jawabku lirih, hampir berbisik. "Bu Siska... atasanku di kantor."Papa Kiara tertawa pedas. Tawa yang terdengar begitu menyakitkan."Atasanmu," ulangnya dengan nada sinis. "Jadi... selama ini kamu bermain-main dengan atasanmu. Sementara Kiara menunggumu dengan setia.""Pak, itu bukan...""Bukan apa?" potongnya tajam. "Bukan selingkuh? Bukan pengkhianatan?"Aku terdiam. Tidak ada kata-kata yang bisa membela diriku.Papa Kiara bangkit dari sofa, berjalan ke arah laptop. Ia memutar laptop hingga menghadap ke arahku."Lihat," perintahnya. "Lihat apa yang sudah kamu lakukan."Dengan tangan bergetar,

  • Godaan Mama Muda   Bab 100

    Tiga minggu berlalu sejak malam itu. Hubunganku dengan Kiara semakin renggang.Kami masih bertemu, tapi tidak sesering dulu. Dan setiap kali bertemu, ada jarak yang tercipta di antara kami.Jarak yang sebenarnya kubuat sendiri.Perubahan pada diri Kiara pun mulai terlihat jelas. Senyumnya yang dulu sanggup mencerahkan hari paling kelam sekalipun, kini mulai jarang muncul.Matanya yang dulu selalu berbinar setiap kali menatapku, kilauan yang membuatku jatuh cinta berkali-kali, kini tampak redup dan kehilangan nyawa.Ia lebih banyak diam, tenggelam dalam samudera pikirannya sendiri yang tak lagi bisa kuselami.Dan aku tahu, penyebab redupnya cahaya itu adalah aku.Siang ini, aku sedang berusaha fokus pada tumpukan laporan di meja kantor, dan tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat dari Kiara muncul di layar."Radit, aku perlu bicara sama kamu. Sekarang. Bisa ke rumahku?"Aku mematung sejenak. Ada sesuatu yang berbeda dalam nada pesannya. Tidak ada sapaan hangat, tidak ada emoj

  • Godaan Mama Muda   Bab 99

    Pagi-pagi sekali, aku bangun dan bergegas pulang. Bu Siska masih tidur. Aku tidak ingin membangunkannya.Saat kakiku melangkah masuk ke rumah, aroma nasi goreng tercium dari dapur.Mama Jessica sudah di sana, bergerak lincah di balik kepulan uap wajan.Begitu mendengar langkah kakiku, ia berhenti. Ia melirikku, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan tatapan khawatir yang jauh lebih menyakitkan untuk kulihat."Radit," panggilnya pelan, suaranya parau khas orang baru bangun tidur namun penuh penekanan."Mama mau tanya sesuatu. Sini sebentar."Aku tidak punya pilihan selain menyeret langkah ke meja makan. Kursi kayu itu berderit saat kududuki, seolah ikut memprotes kehadiranku.Apa, Ma?" tanyaku, berusaha sesantai mungkin.Mama Jessica mematikan kompor, lalu duduk tepat di hadapanku.Ia menatapku lekat-lekat, seolah sedang mencoba membaca setiap kebohongan yang tersimpan di balik kantung mataku yang menghitam."Kamu... kamu ada masalah, kan?" tanyanya hati-hati. "Mama liat kamu udah be

  • Godaan Mama Muda   Bab 98

    Tiga hari kemudian, aku mulai merasakan perubahan dalam diri Bu Siska. Ia semakin posesif dan terlalu mengontrol.Ponselku bukan lagi alat komunikasi, melainkan borgol digital.Setiap jam, tanpa meleset semenit pun, sebuah notifikasi muncul."Lagi di mana?" "Sama siapa?" "Kenapa lama balasnya?" Getaran konstan itu mulai membuatku mual.Bahkan saat aku sedang bersama Kiara, ponselku terus bergetar dengan pesan darinya.Aku merasa sangat tercekik.Sore ini, aku sedang di kantor ketika Bu Siska memanggilku ke ruangannya."Tutup pintunya," katanya tanpa mengangkat wajah dari laptopnya.Aku menutup pintu, lalu berdiri canggung di depan mejanya."Duduk," perintahnya.Aku duduk di kursi hadapannya. Bu Siska akhirnya mengangkat wajahnya, menatapku dengan tatapan serius."Aku lihat kamu masih sering ketemu Kiara," katanya datar.Aku terdiam."Aku tidak melarangmu bertemu dengannya," lanjutnya. "Tapi aku tidak suka kalau kamu terlalu dekat dengannya.""Bu... Kiara itu pacar saya," kataku hati-

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status