LOGINPermohonan diajukan jam 6 pagi. Pada jam 8, mereka menerima tanggapan.Hakim setuju untuk meninjau bukti baru. Sidang darurat dijadwalkan untuk hari itu juga. Jam 2 siang."Sial," napas Radit. "Cepat sekali.""Hakim ingin penyelesaian," kata Ibu Ratna. "Dia mungkin sudah frustrasi dengan bolak-balik kasus ini. Ini akan jadi sidang terakhir. Setelah hari ini, keputusan akan final."Mereka punya 6 jam untuk bersiap.Tapi ada satu masalah.Alya perlu hadir untuk memverifikasi bukti. Untuk memastikan keasliannya dan menjelaskan bagaimana dia mendapatkannya."Dia tidak akan datang," kata Maya. "Dia punya perintah penahanan. Secara hukum dia tidak bisa berada di ruangan yang sama dengan kita.""Perintah penahanan bisa dicabut sementara untuk proses pengadilan," jelas Ibu Ratna. "Kalau dia setuju untuk bersaksi.""Jadi seseorang harus menghubunginya," kata Radit.Semua orang menatap Radit."Oh tidak," kata Radit. "Aku sudah cukup bermasalah dengan Maya karena bertemu dia sekali, ""Kamu satu
Hotel - Jam 4 SoreRadit kembali ke hotel dengan tablet. Maya dan Mama Jessica sedang menonton TV dengan hampir tanpa perhatian."Radit!" Maya langsung berdiri saat melihat dia. "Bagaimana pertemuannya?"Radit menarik napas dalam."Tidak ada pertemuan dengan donor. Aku berbohong."Maya terdiam. Mama Jessica menegang."Kamu... apa?""Aku bertemu seseorang. Seseorang yang punya informasi tentang Bima. Dan aku tidak memberitahumu karena aku tidak tahu apakah informasi itu valid atau jebakan.""Siapa?" suara Maya dingin."Alya."Keheningan yang memekakkan.Lalu Maya meledak:"Kamu ketemu Alya?! Setelah semua yang dia lakukan?! Setelah kamu berjanji untuk tidak menyimpan rahasia?!""Maya, dengar...""Tidak!" Maya gemetar karena marah dan sakit hati. "Kamu bohong ke aku! Kamu melakukan ini diam-diam di belakangku! Kamu...""Dia punya bukti!" Radit meninggikan suaranya, menunjukkan tablet. "Bukti bahwa Bima berselingkuh! Ini bisa mengubah kasus hak asuh!"Maya berhenti, menatap tablet."Apa?
Radit terbangun dengan leher yang kaku, dia tertidur di sofa hotel karena tidak mau mengganggu Maya yang akhirnya bisa tidur setelah minum obat penenang yang diresepkan dokter.Ponselnya menunjukkan 47 panggilan tak terjawab dan 89 pesan belum dibaca.Sebagian besar dari media yang minta wawancara atau komentar.Beberapa dari donor yayasan yang khawatir.Satu dari nomor tidak dikenal dengan pesan yang membuat darahnya dingin:Tidak Dikenal: Radit, ini sudah di luar kendali. Kita perlu bicara. Temui aku. Sendiri. - AAlya.Sialan Alya.Dia hampir menghapus pesan itu tanpa baca lebih lanjut, tapi ada lampiran, sebuah foto.Foto Bima... dengan wanita yang bukan Maya. Di restoran. Intim. Penanda waktu: dua minggu lalu.Radit memperbesar foto. Wanita itu... dia tidak kenal. Tapi bahasa tubuh mereka jelas lebih dari sekadar makan malam bisnis.Pesan lain masuk:Tidak Dikenal: Aku punya lebih banyak. Video. Pesan. Bima sudah berselingkuh selama berbulan-bulan. Aku bisa membantumu. Tapi kamu
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan - Jam 9 PagiRuang sidang ternyata penuh. Ada media (terbatas yang diizinkan masuk), ada anggota keluarga dari kedua pihak, ada juga pengamat yang entah kenapa tertarik.Radit duduk di barisan belakang, dia secara teknis bukan pihak dalam kasus ini jadi dia tidak bisa duduk bersama Maya di depan.Maya duduk dengan Ibu Ratna di sisi penggugat (secara teknis Bima adalah pemohon jadi Maya adalah termohon, tapi istilahnya bisa berbeda-beda).Bima duduk di sisi berlawanan dengan tim pengacaranya, tiga pengacara untuk satu kasus, menunjukkan sumber daya yang dia miliki.Hakim masuk, Ibu Hakim Sari Kusuma, perempuan di usia 50-an dengan reputasi tegas tapi adil."Sidang dibuka. Kasus permohonan perubahan hak asuh, Bima Prakasa melawan Maya Kusuma Prakasa."Pengacara Bima berdiri, menyampaikan argumen dengan sangat profesional:"Yang Mulia, kami mengajukan permohonan darurat karena ada perubahan signifikan dalam keadaan yang memengaruhi kesejahteraan anak. Se
Respon Bima datang cepat dan brutal.Pertama: siaran pers dari perusahaannya dengan bahasa hukum yang pada intinya mengatakan tuduhan itu tidak berdasar, mencemarkan nama baik, dan akan ditangani melalui jalur hukum.Kedua: permohonan darurat diajukan ke pengadilan untuk mempercepat sidang hak asuh, dari hari Jumat menjadi besok (Kamis sore/malam) dengan argumen bahwa "anak berada dalam bahaya langsung karena perilaku ibu yang semakin tidak stabil."Ketiga: dan ini yang paling mengejutkan, Bima entah bagaimana mendapatkan wawancara eksklusif dengan media berita besar yang akan tayang jam 8 malam.“Bagaimana bisa dia dapat slot utama dalam waktu kurang dari 6 jam?” tanya Radit dengan tidak percaya.“Uang,” jawab Rara muram. “Dan koneksi. Bima punya keduanya.”Mereka menonton wawancara itu bersama di kamar hotel, Radit, Maya, Ibu Ratna, Rara, Mama Jessica, dan Priska.Bima tampil tenang, simpatik, dengan energi “ayah yang peduli” yang sangat pas.Pewawancara: “Bapak Bima, ada tuduhan se
Tim mereka bekerja sepanjang malam. Rara menyusun dokumentasi dengan detail obsesif. Ibu Ratna mempersiapkan strategi hukum. Priska terbang ke Jakarta untuk persiapan kesaksian. Dan Radit serta Maya, mereka mencoba untuk tetap waras di tengah kekacauan.Pukul 2 dini hari, Maya duduk di lantai kantor yayasan, dikelilingi oleh cetakan dokumen, dengan mata yang merah dari kelelahan dan tangisan."Radit," panggilnya dengan suara serak.Radit yang sedang di komputer langsung menghampiri, duduk di sebelahnya."Ada apa?"Maya menunjukkan ponselnya. Pesan dari Kara, dikirim jam 10 malam (seharusnya Kara sudah tidur)."Mama, kenapa Papa bilang Mama gak sayang aku lagi? Kenapa Mama gak telepon aku hari ini? Aku kangen Mama."Maya menangis, isak pelan yang membuat dadanya naik turun."Aku... aku terlalu fokus sama perjuangan ini sampai aku lupa telepon anakku sendiri. Apa... apa aku ibu yang buruk?"Radit memeluknya erat."Kamu bukan ibu yang buruk. Kamu ibu yang berjuang untuk anakmu. Ada bedan
Pagi datang tanpa membawa harapan.Cahaya matahari merayap masuk lewat celah gorden, menyilaukan mataku yang masih perih.Aku terbangun dengan dada terasa sesak, seolah ada beban berat yang menindih napasku sejak semalam dan tak pernah benar-benar pergi.Kepalaku berdenyut pelan, sakit yang tidak s
Sore ini, dengan ditemani Mama Jessica, aku kembali ke kantor. Langsung menuju ruangan Bu Siska.Aku mengetuk pintu dengan keras."Masuk," suara Bu Siska terdengar dari dalam.Aku membuka pintu. Bu Siska duduk di kursinya, tersenyum melihatku."Ah, Radit," sapanya. "Sudah membuat keputusan?"Aku me
Mama Kiara mengantarku ke lantai atas. Kami berhenti di depan pintu kamar Kiara."Aku akan panggil dia dulu," ucap Mama Kiara pelan.Ia mengetuk pintu.Tok... Tok... Tok..."Kiara, sayang," panggilnya lembut. "Mama mau masuk, ya."Tidak ada jawaban.Mama Kiara membuka pintu perlahan. Aku bisa melih
Di ruang tunggu, seluruh keluarga Kiara masih berkumpul. Beberapa kerabat lain sudah berdatangan.Aku duduk di kursi pojok. Menangis dalam diam.Mama Jessica duduk di sampingku, mengelus punggungku tanpa berkata apa-apa.Waktu demi waktu berlalu. Pagi berganti siang. Siang berganti sore.Dokter kel







