Share

Bab 29

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2025-12-16 11:08:59

"Hah?!" batinku terkejut.

Ternyata itu adalah Kiara. Ia masuk dengan membawa map dokumen, wajahnya datar tapi matanya menatap tajam ke arah tangan Bu Siska yang masih menyentuh lenganku.

"Permisi, Bu Siska. Ini dokumen yang harus ditandatangani," ucapnya dengan nada profesional.

Bu Siska melepaskan tangannya dari lenganku dan tersenyum. "Oh, iya. Taruh aja di meja."

Kiara meletakkan dokumen itu di meja, lalu berbalik untuk pergi. Tapi sebelum keluar, ia melirik ke arahku sekilas, tatapannya sul
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Elman Zidni Afandi
asoyybingit
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Godaan Mama Muda   Bab 262

    Lampu ruang tamu sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur kuning lembut di kamar Kara.Radit berdiri di depan pintu kamar anaknya, tangannya ragu di gagang pintu. Di dalam, suara tawa kecil Kara dan Mira terdengar samar, seperti dua saudara yang sudah lama saling mengenal.Maya mendekat dari belakang, tangannya menyentuh punggung Radit dengan lembut.“Biarkan mereka malam ini,” bisiknya. “Kara senang sekali. Kita pantau dari sini.”Radit mengangguk, tapi hatinya tidak tenang. Ia mendorong pintu pelan. Kara sudah berbaring di tempat tidur, Mira duduk di tepinya, membacakan cerita dinosaurus dengan suara lembut. Boneka dinosaurus Kara tergeletak di antara mereka.“Kak Mira, cerita yang bagian T-Rex lindungi anaknya lagi,” pinta Kara dengan mata berbinar.Mira tersenyum, suaranya halus seperti sutra. “Dulu ada T-Rex besar yang sangat melindungi anaknya. Dia tidak pernah bohong pada anaknya. Selalu jujur, meski kadang menyakitkan. Karena itulah anaknya merasa aman.”Kara mengangguk s

  • Godaan Mama Muda   Bab 261

    Pintu apartemen masih terbuka lebar. Udara pagi yang sejuk masuk, tapi Radit merasa ruangan itu tiba-tiba menjadi sangat sempit.Di depannya berdiri Alya dengan senyum tenang, dan di belakangnya, gadis remaja tinggi ramping dengan rambut hitam panjang yang jatuh lembut di bahu.Matanya persis seperti mata Kara, tapi ada kedalaman yang membuat Radit merasa seperti sedang melihat cermin yang retak.“Hai, Papa,” kata gadis itu lagi, suaranya lembut, hampir manja. “Aku Mira. Sudah lama aku ingin ketemu kalian semua.”Kara langsung melepaskan tangan Radit dan berlari kecil memeluk pinggang Mira. “Kak Mira! Kamu benar-benar datang! Aku sudah cerita ke Papa dan Mama tentang kamu!”Mira membalas pelukan Kara dengan hangat, tangannya mengusap rambut adik kecilnya. “Iya, Kakak sudah janji kan? Kakak bawa es krim stroberi kesukaan Papa juga.”Maya berdiri di belakang Radit, tubuhnya tegang. Suaranya tetap tenang, tapi Radit bisa mendengar getaran kecil di dalamnya.“Alya… siapa ini? Kamu tidak p

  • Godaan Mama Muda   Bab 260

    Pagi itu cahaya matahari menyusup lembut melalui jendela dapur, mewarnai meja makan dengan warna keemasan yang hangat.Radit menuang susu ke gelas Kara, gerakannya lambat, hampir hati-hati, seolah takut satu gerakan salah bisa memecahkan sesuatu yang rapuh.Kara duduk di kursi tinggi, kakinya bergoyang-goyang riang sambil mengaduk sereal dengan sendok plastik berwarna biru.“Papa, hari ini aku mau gambar Mira lagi,” kata Kara tiba-tiba, suaranya ringan seperti angin pagi. “Dia bilang suka warna merah. Kayak darah dinosaurus yang lagi bertarung.”Maya yang sedang mengoles selai di roti menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Mira? Siapa Mira, sayang?”Kara mengangkat bahu kecilnya, seolah pertanyaan itu biasa saja. “Kakak baru kita. Dia bilang dia sudah lama nunggu ketemu Papa dan Mama. Katanya nanti dia datang main ke rumah. Bawa es krim rasa stroberi yang Papa suka.”Radit merasa udara di dapur tiba-tiba lebih berat. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Ia menatap Kara, mencoba memb

  • Godaan Mama Muda   Bab 259

    Hari Minggu pagi, langit pantai Sentosa cerah tanpa awan. Kara berlari di pasir putih, rok pendeknya berkibar, sambil tertawa keras setiap kali ombak kecil menyentuh kakinya.Alya berjalan di sampingnya, memegang keranjang piknik, rambutnya dibiarkan tergerai oleh angin laut.Radit dan Maya berjalan beberapa langkah di belakang. Maya menggenggam tangan suaminya erat, jarinya sesekali mengusap punggung tangan Radit seperti sedang mengingatkan.Kara berbalik, melambai dengan semangat. “Papa! Mama! Cepat! Ada kepiting kecil di sini!”Alya tersenyum ke arah Radit dan Maya. “Dia benar-benar penuh energi. Mirip kamu dulu, Radit.”Radit hanya mengangguk pelan. Ia mencoba menikmati momen itu, angin laut, tawa Kara, kehangatan tangan Maya. Tapi setiap kali Alya tertawa bersama Kara, ia merasa ada benang tipis yang menarik ingatannya kembali ke mimpi buruk.Mereka duduk di tikar piknik. Kara sibuk membangun istana pasir bersama Alya. Maya menyandarkan kepalanya di bahu Radit, suaranya pelan han

  • Godaan Mama Muda   Bab 258

    Pagi itu, Radit dan Maya duduk bersebelahan di ruang tunggu, tangan mereka saling genggam erat.Kara duduk di lantai, menggambar dinosaurus dengan krayon merah sambil bernyanyi pelan.Sesekali ia menoleh dan tersenyum ke ayahnya, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.Dr. Tan memanggil mereka masuk. Wajah dokter itu serius, map di tangannya terbuka lebar.“Hasil scan ulang sudah keluar,” katanya langsung. “Ada aktivitas listrik yang tidak biasa di hippocampus Anda, Radit. Seolah otak Anda masih memproses mimpi buruk itu secara aktif, bahkan setelah Anda sadar. Ini bukan kerusakan permanen, tapi cukup kuat untuk memengaruhi emosi dan ingatan jangka pendek.”Maya menegang. “Artinya apa, Dokter?”Dr. Tan menatap Radit. “Artinya mimpi itu belum benar-benar selesai. Otak Anda sedang mencoba menyelesaikan cerita itu. Kalau pemicu stres muncul, pertemuan dengan orang dari masa lalu, tekanan emosional, atau bahkan hal kecil yang mengingatkan, mimpi itu bisa semakin sering dan

  • Godaan Mama Muda   Bab 257

    Radit berdiri di depan lemari es, memegang gambar Kara dengan tangan yang sedikit gemetar. Krayon merah tebal membentuk sosok Tante Alya berdiri sangat dekat dengan Papa, tangan mereka hampir bersentuhan. Kara sendiri digambar sedang tersenyum lebar di tengah, memegang dinosaurus.“Bagus kan, Papa?” tanya Kara lagi dari lantai ruang tamu, suaranya polos dan ceria.Radit memaksakan senyum. “Bagus sekali, sayang. Papa suka warnanya.”Ia meletakkan gambar itu di atas kulkas, tapi matanya tidak bisa lepas dari sosok Alya yang digambar dengan garis tegas. Maya keluar dari kamar, melihat ekspresi suaminya. Ia mendekat dan memeluk pinggang Radit dari belakang.“Dia hanya menggambar apa yang dia lihat,” bisik Maya lembut. “Kemarin Alya datang, Kara senang sekali. Jangan dipikirkan terlalu dalam.”Radit mengangguk, tapi malam itu ia sulit tidur. Setiap kali memejamkan mata, gambar merah itu muncul , Alya yang tersenyum, Kara yang tersenyum, dan dirinya yang berdiri di tengah, tidak tahu harus

  • Godaan Mama Muda   Bab 73

    "Radit? Oh... anak itu. Biarkan masuk. Aku mau lihat... apa yang dia mau."Suaranya dari intercom terdengar dingin, berat, dan penuh kuasa. Sebuah nada yang membuat bulu kudukku meremang.Security di samping gerbang menatapku dengan wajah terkejut. Ia seperti tidak percaya bahwa pemilik rumah sebes

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Godaan Mama Muda   Bab 72

    Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Cukup lama, karena kawasan Citra Garden memang lumayan jauh dari kantor.Tapi jarak bukan satu-satunya yang membuat perjalanannya terasa panjang. Rasanya, setiap kilometer yang kulalui seperti sedang menuntunku memasuki dunia yang bukan milikku.Ja

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Godaan Mama Muda   Bab 79

    "Radit, kamu suka pantai?" tanya Siska tiba-tiba."Lumayan," sahutku seadanya."Villa ku menghadap langsung ke pantai. Pemandangannya indah banget. Pasti kamu suka.""Oh..." Aku mengangguk-angguk pelan, membiarkan suasana seolah mencair."Dan... kamarnya juga nyaman. Tempat tidurnya besar, kasur em

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Godaan Mama Muda   Bab 75

    Aku duduk di pinggir jalan, tidak jauh dari kawasan Citra Garden, dengan motor masih mati di sampingku. Ponsel di tanganku, kalkulator terbuka.Aku mulai menghitung.Gaji per bulan: Rp 5.000.000Tabungan sekarang: Rp 15.000.000Jemari ku berhenti sejenak. Tenggorokanku terasa kering.Aku menekan to

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status