LOGINJam dinding menunjukkan pukul 10 malam ketika aku akhirnya memutuskan naik ke kamar. Koridor rumah sudah sunyi, hanya lampu kecil di ujung lorong yang menyala redup.Saat melewati kamar tamu, aku sempat melirik, pintunya tertutup rapat. Tidak ada suara apa pun dari dalam, seolah Kiara benar-benar sudah tertidur.Aku masuk ke kamarku, membuka kaos, menggantinya dengan yang lebih tipis, lalu berbaring di tempat tidur.Kamar remang-remang, hanya diterangi lampu meja. Aku mencoba memejamkan mata, tapi pikiranku tidak berhenti bekerja.Setiap kali ingin tidur, bayangan kejadian tadi sore muncul lagi seperti potongan film yang diputar ulang."Huft..."Aku menghela napas, menatap langit-langit.Namun tiba-tiba...Kreek... Kreek...Suara berderit dari arah kamar sebelah. Pelan, terputus-putus.Seperti seseorang yang gelisah, bolak-balik di kasur, tidak bisa tidur.Aku menoleh ke dinding yang memisahkan kamarku dengan kamar tamu. Suaranya tidak keras, tapi cukup membuatku sadar kalau Kiara mun
Suasana tiba-tiba mendadak dingin.Kiara menatap Mama Jessica dengan tatapan serius, seperti ada listrik halus yang menyambar di udara. Bukan pertengkaran, tapi jelas ada tensi. Aku bisa merasakannya sampai kulitku meremang."Saya ngerti, Tante," ucap Kiara akhirnya, pelan tapi tegas.Nada suaranya seperti memberikan garis batas yang hanya dimengerti mereka berdua.Setelah makan malam selesai, kami bertiga pindah ke ruang keluarga untuk menonton TV. Mama Jessica menyalakan TV dan memilih drama Korea, favoritnya.Aku duduk di sofa, di tengah, berharap bisa menjadi pembatas antara Mama Jessica dan Kiara.Tapi ternyata...Mama Jessica duduk sangat dekat di sebelah kiriku Posisinya tidak seperti seorang ibu yang duduk santai.Paha halusnya menyentuh pahaku, lembut tapi jelas terasa. Aroma body lotion melati yang sering dipakai untuk menenangkan diri kini justru memancing detak jantungku naik.Kiara di sebelah kanan duduk lebih sopan, tangannya terlipat di pangkuan. Bahkan dari raut wajahn
"RADIT! KIARA! MAMA UDAH PULANG!"Suara lantang Mama Jessica dari lantai bawah langsung memecah keheningan, membuat jantungku seperti jatuh ke perut.Aku dan Kiara sama-sama tersentak, reflek saling pandang dengan ekspresi panik."Mampus!" batinku.Aku buru-buru meraih pakaian yang bertebaran di lantai dan memakainya kembali secepat mungkin.Jemariku sempat gemetar karena terburu-buru. Sementara Kiara hanya melihat dengan napas naik turun, pipinya masih merah. Ia tampak kecewa.Itu jelas terlihat dari cara ia mengembuskan napas panjang sambil memalingkan wajah."Nanggung banget ih..." gumamnya lirih, nada manja tapi dibalut rasa kesal yang tidak berusaha ia sembunyikan.Aku hanya bisa menelan ludah, tidak tahu harus menjawab apa.Kiara akhirnya bergerak, mengambil pakaiannya dan mengenakannya satu per satu. Gerakannya cepat tapi tetap lembut, seperti seseorang yang masih berusaha menyembunyikan degupan jantung yang belum stabil. Rambutnya ia rapikan dengan jari, walau beberapa helai
Jariku bermain lincah, memberikan petikan lembut, seolah ada senar gitar di dalam sana.Mata Kiara terlihat merem melek. Bibirnya terbuka sedikit, seolah ia berusaha menahan suara yang hampir lolos. Ketika napasnya tertahan di tenggorokan, aku merasakan tubuhnya ikut menegang ringan."Ahh..." desahnya, hampir seperti bisikan yang meluncur tanpa ia sadari. Ia menggigit bibir bawahnya, pipinya memerah, matanya mencari-cari wajahku."Kenapa, sayang?" tanyaku lembut.Kiara membuka matanya perlahan, menatapku dari jarak yang begitu dekat hingga aku bisa merasakan hangat napasnya."Nikmat sekali rasanya," bisiknya, suaranya dalam dan bergetar kecil. Lalu ia menarik wajahku, melumat bibirku tanpa ragu.Permainan bibir kembali terjadi, semakin dahsyat dari sebelumnya. Sementara jariku memainkan liang senggama-nya dengan gesit, membuat Kiara sesekali menggoyang-goyangkan pinggulnya.Tangannya naik ke belakang leherku, menarikku lebih dekat. Tubuhnya merespon sentuhan dan ciuman itu dengan gera
"Radit..." bisiknya pelan, suaranya sangat lembut, terdengar seperti desahan kecil."Maaf, aku gak bisa nahan."Aku menariknya sedikit lebih dekat, punggungnya sekarang benar-benar menempel di dadaku, dan aku bisa merasakan bentuk tubuhnya dengan sangat jelas.Kiara menghela napas panjang yang terdengar seperti menikmati."Radit, aku...""Kenapa, sayang?""Aku... aku suka dipeluk kayak gini."Aku tidak menjawab, hanya tersenyum pelan, sementara tanganku kembali bergerak, mengusap lembut bukit kembarnya, lalu perlahan turun ke bawah, merasakan lekuk pinggangnya yang ramping.Kiara menutup matanya, tubuhnya rileks di pelukanku."Tapi... kita harus berhenti," bisiknya, walau tubuhnya tidak bergerak menjauh."Kenapa?""Karena, kalau terus-terusan aku takut gak bisa nolak kalau kamu minta lebih."Ucapan itu justru membuat hasrat ku semakin membara."Aku belum siap buat itu.""Huft..."Aku menghela napas panjang, berusaha mengendalikan diriku."Oke... aku ngerti."Aku perlahan melepaskan pe
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Aku membantu menyusun buku-buku di rak, sementara Kiara membereskan pakaian dalamnya sendiri, dengan sangat hati-hati dan juga malu-malu.Sesekali aku melirik ke arahnya, melihat punggungnya yang membungkuk, rambutnya yang jatuh menutupi wajah, dan gerakan tangannya yang lembut saat melipat pakaian.Namun pikiranku tidak bisa lepas dari pemandangan tadi.Celana dalam pink. Bra dengan renda. Ukuran 36C.Aku membayangkan bagaimana bentuknya saat dipakai. Bagaimana lekuknya. Bagaimana..."Radit."Suara Kiara membuatku tersentak, aku hampir menjatuhkan buku yang kupegang."Ya?"Kiara masih membelakangi ku, masih fokus pada laci pakaian dalam."Kamu ngebayangin sesuatu kan?"Jantungku berhenti."Eh? Enggak kok...""Yang bener?" Ia menoleh sekilas, melirik dari balik bahu. "Aku bisa ngerasain tatapan kamu dari tadi. Kamu pasti mikirin sesuatu."Aku tidak bisa menyangkal."Maaf, aku... aku cuma...""Gak apa-apa," potongnya lembut sambil kembali fokus







