เข้าสู่ระบบPapa Kiara perlahan merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan ponsel.Gerakannya tenang, tapi sorot matanya tajam. Ia menekan layar beberapa kali sebelum akhirnya menempelkan ponsel ke telinganya."Halo?" ucapnya singkat. "Iya. Aku mau kamu datang ke rumah sekarang juga. Bawa alat pendeteksi uang palsu. Sekarang."Tanpa menunggu jawaban panjang, ia langsung menutup telepon. Ruangan kembali sunyi.Papa Kiara mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arahku."Aku akan verifikasi dulu," ucapnya datar. "Kalau ini uang asli… aku akan menepati janjiku."Aku mengangguk pelan."Silakan, Pak."Tidak ada kata lain yang keluar dariku. Aku memilih berdiri diam, walau jantungku berdegup kencang.Di sudut ruangan, Adrian berdiri dengan rahang mengeras. Matanya menusukku tanpa sedikit pun menyembunyikan kebencian.Mama Kiara duduk di sofa, tangannya saling menggenggam, wajahnya terlihat bingung sekaligus cemas.Sementara Papa Kiara terus melirik tas-tas berisi uang itu, seolah berusaha meyakinkan diriny
Empat puluh lima menit kemudian, namaku dipanggil oleh petugas bank. Aku diarahkan ke sebuah ruang khusus di bagian dalam. Ruangan itu tertutup, sunyi, dan terasa lebih dingin dari ruang tunggu. Di dalam, sudah ada seorang manajer bank dan dua petugas keamanan. Di depan mereka terletak beberapa tas kain besar berwarna gelap, tersusun rapi di atas meja panjang. Manajer bank berdiri dan menatapku dengan ekspresi serius. "Pak Radit, ini uangnya. Total satu miliar rupiah. Pecahan seratus ribu. Sudah kami hitung dan kemas sesuai prosedur." Aku mengangguk pelan. "Terima kasih." Manajer itu lalu menambahkan dengan nada hati-hati, "Kami sangat menyarankan Bapak menggunakan jasa pengamanan dari pihak bank untuk pengantaran. Jumlah uang ini sangat besar dan beresiko." Aku menarik napas dalam. "Tidak perlu. Saya akan membawanya sendiri." Tatapan khawatir jelas terlihat di waj
Keesokan paginya, aku terbangun jauh lebih awal dari biasanya. Bahkan sebelum alarm sempat berbunyi. Jam di ponselku menunjukkan pukul lima tepat.Aku menatap layar itu cukup lama, lalu memejamkan mata kembali. Tapi kantuk tidak datang.Tidurku semalam benar-benar tidak nyenyak. Mimpi buruk tentang akhir pekan di villa terus berulang, bercampur antara kenangan, rasa bersalah, dan ketakutan yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.Namun pagi ini aku tidak boleh goyah.Hari ini aku akan membawa uang satu miliar itu ke rumah Papa Kiara. Hari ini, Kiara akan bebas dari perjodohan dengan pria yang bahkan tidak pernah ia cintai.Aku mengambil ponsel dari meja samping ranjang, lalu membuka aplikasi mobile banking. Entah sudah keberapa kalinya aku mengecek angka itu sejak semalam.Saldo: Rp 1.070.000.000Aku menatap layar tanpa berkedip. Angka itu masih di sana. Nyata, bukan mimpi. Bukan halusinasi akibat kurang tidur.Tanganku sedikit gemetar saat mengunci ponsel."Makasih, Siska..." bisik
Setelah menempuh perjalanan yang terasa jauh, entah karena macet, entah karena pikiranku yang tak henti bergolak, akhirnya kami tiba di kota.Siska memperlambat laju mobil, lalu menghentikannya tepat di depan area parkir kantor, tempat motorku biasa terparkir setiap hari.Mesin dimatikan. Suasana hening sejenak."Huft… sampai juga akhirnya," ucap Siska pelan, sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi.Nada suaranya terdengar lelah, tapi bukan lelah fisik semata, lebih seperti kelelahan yang sudah lama ia pendam.Aku membuka pintu dan turun. Udara kota terasa berbeda setelah perjalanan panjang itu.Aku melangkah ke belakang mobil, membuka bagasi, dan mengambil tasku. Tanganku sempat berhenti sesaat, seolah ada sesuatu yang masih menggantung."Radit."Aku menoleh. Siska memanggil sebelum aku sempat menutup pintu bagasi."Ya?" jawabku."Cek rekening kamu sekarang."Alisku sedikit berkerut. Walau aku sudah menduga, jantungku tetap berdegup lebih cepat.Aku merogoh saku, mengeluarkan
Tidak ada percakapan yang terjadi, hanya pergerakan tubuh saja yang dapat mengartikannya.Yang membuatku heran adalah, kenyataan bahwa kali ini aku tidak menunggu Siska lebih dulu mendekat.Tidak ada isyarat darinya, tidak ada aba-aba. Tubuhku bergerak sendiri, seakan digerakkan oleh naluri yang telah mengenali jalan pulangnya.Seolah si jantan telah menyimpan rasa candu yang mendalam. Candu pada kelembutan yang pernah dirasakan, pada kenyamanan yang sekali singgah lalu menuntut untuk diulang.Tidak ada pemanasan yang terjadi. Semua berlangsung begitu saja, terburu namun pasti.Si jantan langsung menuju ke inti, seperti telah begitu hafal letak sebuah alamat tanpa perlu bertanya."Ahh... Ahh... Ahh...""Yess... Yess... Yess...""Uhh..."Suara-suara itu menjadi pengantar pertarungan sengit malam ini. Mengalir begitu saja di ruang sempit, tanpa noise reduction, jujur dan apa adanya.Detak jantungku berpacu, seirama dengan napas yang kian tak teratur.Segalanya terjadi begitu cepat. Sepe
Ia berbalik menatapku sepenuhnya, lalu mengusap air matanya sendiri dengan punggung tangan."Dan… aku akan ingat ini selamanya," ucapnya pelan. "Walaupun kamu akan lupa."Aku menggeleng cepat, reflek."Aku… aku gak akan lupa, Siska," ucapku. "Aku akan ingat. Selamanya."Ia menatapku ragu, seakan takut berharap."Beneran?" tanyanya lirih."Eum, iya."Siska tersenyum, lalu memelukku tiba-tiba."Makasih, Radit. Makasih... udah kasih aku momen terindah dalam hidup aku."Aku membalas pelukannya. Tanganku bergerak pelan di punggungnya. Pelukan itu bukan karena cinta, bukan juga karena hasrat, melainkan karena rasa kasihan yang jujur dan rasa bersalah yang dalam.Dalam pelukan itu, aku menyadari satu hal yang menyakitkan.Walaupun kaya raya, memiliki harta yang melimpah ruah, ternyata wanita ini benar-benar kesepian.Dan aku… tanpa sadar, telah menjadi satu-satunya tempat ia menggantungkan perasaan, walau hanya sementara.***Malam tiba.Langit di atas villa berubah menjadi hitam pekat, bert







