MasukKamar tidur terasa begitu mencekam. Ivana sudah duduk di pinggir ranjang dengan pakaian seksi yang disiapkan. Dia menarik napas dalam dan membuang perlahan. Perasaannya masih tidak nyaman. Hingga pintu kamar mandi terbuka, membuat Ivana mengalihkan pandangan.
Ivana menelan saliva pelan ketika melihat Arga hanya mengenakan celana pendek, tidak menutup bagian dada, menunjukkan otot yang terbentuk begitu sempurna. Arga memang hobi olahraga. Jadi, bukan hal aneh jika dia memiliki tubuh yang cukup atletis. Meskipun sudah empat tahun menikah, Ivana tidak pernah melihat tubuh telanjang sang suami. Ini juga bisa dijadikan malam pertama baginya. “Kamu siap, Ivana?” tanya Arga ketika sampai di depan Ivana. Dia meraih dagu wanita itu dan mendongakkan. Arga mulai mendekat, menyatukan bibir keduanya. Hening. Ivana yang merasakan daging kenyal menyentuh bibirnya hanya bisa terdiam. Dia mengikuti permainan Arga yang begitu lembut. Kedua tangannya mengepal, meremas sprei dengan kedua mata terpejam. Ivana merasa jika keputusannya ini gila, tetapi Ivana ingin melakukannya. Setidaknya dia bisa menghadiahkan keperawanannya untuk pria yang dicintainya sebelum akhirnya berpisah. Arga menghentikan permainan ketika merasakan hal berbeda. Gejolak dalam dirinya begitu besar dan ingin dipuaskan. Dia pun kembali meraup bibir Ivana, merasakan daging kenyal yang terasa begitu manis. “Arga, pelan-pelan,” kata Ivana ketika Arga mendorong tubuhnya lembut. Pria itu menarik tali spaghetti di pundak Ivana hingga kebawah, menyisakan tubuh tanpa sehelai benang. “Arga,” panggil Ivana ketika Arga mulai mengecupi seluruh tubuhnya. Tidak ada yang tertinggal dari permainan pria itu. Ivana juga mulai merasakan jika hasrat yang selama ini ditahan perlu dituntaskan. Ivana hanya bisa mendesah lirih dengan kedua mata terpejam. Ini adalah pertama kali Ivana mendapatkan sentuhan yang cukup intens. Selama ini, Arga tidak pernah mau berhubungan dengannya. Alasannya, belum siap. Hal itu juga yang membuat Ivana harus bersabar. Dia ingin Arga mencintai dan menyerahkan seluruhnya dengan sendiri. Hingga dia merasakan gatal yang semakin memuncak, membuat Ivana mengepalkan tangan. “Arga,” pekik Ivana dengan napas tersengal. Dadanya tampak naik-turun dengan napas yang terdengar cukup berat. Arga yang melihat ada cairan keluar pun langsung memposisikan tubuh. Dia berada di atas tubuh Ivana dan menatap lekat. Arga pun mulai memberikan rangsangan kuat, mencoba menyatukan tubuh dengan Ivana. Sayangnya, hal itu tidak semudah yang Arga bayangkan. Dia harus berusaha lebih keras karena penghalang yang memperlambat perjalannya. “Arga, hati-hati,” kata Ivana. Dia mulai menahan sakit yang semakin sering. “Arga!” pekik Ivana ketika Arga berhasil menyatukan diri. Hening. Ruangan itu berubah menjadi sunyi. Tidak ada yang membuka suara. Hanya terdengar deru napas yang saling menyahut. Ivana sendiri hanya diam dengan air mata yang mulai mengalir. “Aku akan melakukannya pelan, Ivana,” kata Arga saat melihat Ivana yang sampai meneteskan air mata. Untuk sejenak, hati Ivana luluh. Apakah Arga tidak tega melihatnya merasakan sakit? Ivana hanya diam. Kedua matanya semakin terpejam ketika Arga mulai bermain. Sebenarnya pria itu bermain dengan lembut, tetapi entah kenapa, Ivana masih merasa sakit. Hingga beberapa saat kemudian, dia yang mulai terbiasa langsung melenguh keras. ‘Astaga, Ivana. Kamu benar-benar gila,’ batin Ivana di tengah gejolak hasrat yang kian meningkat. *** Ivana menuruni satu per satu anak tangga sembari membawa koper besar. Setelah membersihkan badan, dia langsung merapikan semua barang miliknya. Ivana sengaja membawa barang yang menurutnya penting saja. Sisanya, dia akan menyuruh asisten rumah tangga membuangnya. Hingga dia yang sudah menapakan kaki di lantai dasar langsung disambut dengan Arga yang menatapnya tajam. “Mau kemana?” tanya Arga dengan sebelah alis sedikit terangkat.“Ke rumah orang tuaku,” jawab Ivana singkat.
Arga menghela napas lagi, yang menandakan rasa lelahnya setiap berhadapan dengan Ivana. “Kita masih suami-istri. Kamu pikir kamu bisa seenaknya hanya karena kamu sudah meminta cerai?”
Ivana tertawa kecil mendengar ucapan pria di depannya. Mereka sudah akan berpisah. Arga juga tidak mempedulikan perasaannya. Lalu, dia harus tetap di rumah yang meninggalkan banyak sekali kenangan baginya? Benar-benar gila. “Kalau kamu tidak mau melihat aku di sini, aku bisa pergi,” kata Arga kembali. “Gak perlu repot-repot, Arga. Aku bisa pergi dari sini sekarang juga. Lagi pula aku tidak suka tinggal di rumah mantan,” sahut Ivana terdengar ketus. Arga terdiam. Biasanya Ivana selalu bersikap manis, tetapi setelah semalam, wanita itu tampak dingin. Ivana tidak terlalu memperdulikannya. Dia kembali melanjutkan langkah. “Ivana, kamu mau kemana?” Ivana menatap ke asal suara. Melihat sag mertua berdiri di hadapannya, Ivana menelan saliva pelan. Dia belum menyiapkan alasan apa pun untuk mertuanya. “Ivana, kenapa kamu bawa-bawa koper? Kamu mau kemana?” tanya Gita. Dia langsung mendekat ke arah Ivana. Wajahnya sudah dipenuhi kecemasan. “Aku ... aku ... aku harus pergi, Ma,” jawab Ivana tergagap. Dia benar-benar tidak memiliki alasan untuk mengelak. “Pergi? Kenapa harus pergi?” tanya Gita lagi. Dia menatap ke arah putranya yang hanya dia dan melanjutkan ucapannya, “Arga, kenapa kamu diam saja? Seharusnya kamu cegah istrimu.” “Ma, biarkan saja,” kata Arga datar. “Bagaimana bisa dibiarkan saja? Dia itu istrimu. Dia bisa pergi kemana? Ini rumahnya dan –“ “Ma, aku dan Arga akan bercerai,” sela Ivana. “Apa?” Gita langsung terdiam dengan wajah kaku. Otaknya seperti tersambar petir. Dia tidak pernah menyangka hal itu, membuatnya menatap ke arah Ivana. “Katakan sekali lagi. Kalian mau apa?” Gita ingin memastikan kalau pendengarannya tidak salah. “Kami akan bercerai. Hari ini kami akan mendaftarkannya,” ucap Ivana sekali lagi. “Kenapa, Ivana? Apa anak mama melakukan kesalahan? Kalau iya, biar mama yang berikan hukuman dengannya, tapi jangan cerai,” sahut Gita. Dia meraih jemari Ivana dan menggenggam erat. Namun, Ivana dengan tenang berkata, “Tidak bisa, Ma. Kami sudah mencoba bersama, tetapi tidak ada kecocokan diantara kami. Jadi, aku memutuskan untuk bercerai saja karena bersama juga hanya membuat kita merasa sakit. Kita akan mencari kebahagiaan kita masing-masing.” “Tap—“ “Aku harap Mama mengerti. Sekarang aku harus pergi. Mama jaga diri baik-baik,” sela Ivana. Dia melepaskan genggaman di tangannya dan melangkah pergi. Ivana mengabaikan teriakan sang mertua. Hingga dia keluar dan menaiki mobil. Ivana menatap rumah di depannya sekilas dan tersenyum tipis. “Mulai sekarang kita tidak memiliki hubungan apa pun, Arga. Selamat tinggal,” ucap Ivana.Beberapa tahun kemudian.“Enak.”Ivana yang baru saja mencicipi makanan buatannya pun langsung tersenyum lebar. Dia merasa jika masakan yang dibuatnya kali ini begitu sempurna, sesuai dengan apa yang diinginkannya. Dia pun langsung meraih mangkuk dan menuangkan masakan tersebut. Hingga sebuah tangan melingkar di perutnya, membuat Ivana mengalihkan pandangan. “Aku bangun pagi, tetapi kamu sudah tidak ada. Aku pikir kamu pergi ke mana, ternyata malah di dapur,” ucap Arga. Ivana yang mendengar hal itu pun hanya tersenyum lebar. Akhir-akhir ini harga memang terlalu menempel dengannya. Tidak melihat sedetik saja sudah membuat pria itu menjadi cemas. Bukan hanya itu, entah Sudah berapa kali Arga tidak masuk kantor hanya karena tidak mau jauh darinya. “Padahal sudah ada asisten rumah tangga di sini. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot memasak. Kalau kamu ingin apa tinggal bilang saja, mereka pasti akan membiarkannya,” ucap Arga, masih meletakkan kepala di pundak sang istri. “Aku tahu
“Dokter, bagaimana kondisi istri saya?”Noah yang sejak tadi menemani Anika tampak begitu cemas. Dia bahkan tidak melepaskan genggamannya sama sekali, setia menemani wanita itu di sebelahnya. Bahkan saat dokter memeriksa pun dia enggan untuk pergi. “Istri anda baik-baik saja. Dia hanya kelelahan dan juga tekanan darahnya turun. Anda tenang saja, hal ini biasa terjadi dengan ibu hamil mudah muda. Lain kali usahakan lebih berhati-hati lagi,” jelasan dokter. Noah yang mendengar hal itu menganggukkan kepala. Dia tidak memperhatikannya baik-baik, tapi setelah beberapa detik kemudian dia langsung melebarkan kedua mata. Dia mencoba mengulang kembali ucapan sang dokter dan menatap ke arah dokter yang masih berada di sebelahnya. “Dokter, bisa ulangi lagi apa yang anda katakan?” tanya Noah dengan sorot mata menyelidiki. “Istri anda hanya kelelahan, tekanan darahnya juga menurun,” jawab sang dokter, menuruti keinginan Noah.“Bukan di bagian itu. Tapi aku seperti mendengar Kalau dokter mengat
“Akhirnya kita sampai.”Ivana dan Anika yang keluar dari mobil langsung melangkah penuh semangat. Kaki telanjangnya menapak di pasir dan berlari menuju ke arah Pantai yang terdapat tepat di depannya. Keduanya menunjukkan senyum lebar. Namun, hal berbeda terjadi dengan Noah dan Arga. Keduanya tidak bersemangat istri mereka, terlebih Noah yang sejak tadi memasang raut wajah masam. Bahkan dia tidak menunjukkan senyum sama sekali. “Padahal hari ini adalah rencanaku jalan-jalan dengan Anika, tetapi karena ulahmu kami jadi harus menginjak kalian,” gerutu Noah.Arga yang mendengar hal itu pun menatap ke arah bawah berada, tetapi tidak mengatakan apapun. Raut wajahnya bahkan tampak sedikit mengejek dengan bibir tersenyum sinis. Kakinya melangkah pelan, menuju ke arah tenda yang sudah disiapkan. “Arga, Memangnya kalian tidak ingin jalan-jalan berdua saja?” tanya Noah masih kesal, selain menurutnya Arga dan Ivana mengganggu acara berliburnya, dia juga merasa tidak terima karena Arga yang tid
“Siapa yang menghubungi?”Anika yang baru saja mematikan panggilan langsung mengalihkan pandangan, menatap arah Noah yang duduk tepat di sebelahnya. Dia tidak langsung menjawab, tetapi memilih meraih gelas di depannya dan menyeruput minuman secara perlahan. Setelah selesai Dia baru kembali menatap ke arah suaminya berada. “Ivana. Katanya mau ke sini,” jawab Anika.Noah yang mendengar pun langsung mengalihkan pandangan, menatap ke arah jam dinding yang terdapat tepat di sebelahnya. Keningnya berkerut dalam dan memasang raut wajah berpikir. Sekarang masih pukul sepuluh, tetapi Ivana sudah mau ke restoran istrinya itu. “Bukankah kamu bilang dia sekarang bekerja? Kenapa malah datang ke sini?” tanya Noah dengan ekspresi bingung. Anika yang ditanya hanya menaikkan kedua bahu dan kembali menurunkannya. Dia sendiri tidak tahu dengan hal itu. Anika bahkan tidak berpikir mengenai hal tersebut. Yang dia tahu Ivana hanya mau datang dan dia sangat menantikannya. “Apa dia keluar dari pekerjaann
Arga menjauhkan ponsel dari telinga ketika mendengar teriakan Ivana yang begitu menggelegar. Dia sedikit menutup telinga yang terasa hampir meledak karena teriakan istrinya itu. Hingga Arga yang merasa tidak lagi mendengar teriakan itu langsung mendekatkan ponsel. “Arga, kamu benar-benar kurang ajar,” omel Ivana lagi. Arga hanya bisa tersenyum mendengar ocehan istrinya itu. Dia juga tidak merasa bersalah sama sekali. Bahkan kali ini Arga terlihat begitu santai, duduk dengan sebelah kaki disilangkan. “Kenapa kamu memberiku begitu banyak pekerjaan? Kamu ingin membunuhku?” tanya Ivana dari seberang. Mulai berbicara ngawur. Arga hanya bisa memutar bola mata pelan dan membuang nafas kasar. Istrinya itu selalu mengatakan sesuatu tanpa pikir panjang lebih dulu. “Aku tidak mungkin melakukan itu. Aku malah ingin kamu selalu sehat dan panjang umur,” jawab Arga. “Kalau begitu Kenapa kamu memberiku banyak sekali pekerjaan? Aku bahkan tidak yakin kalau ini bisa selesai tepat waktu,” ucap Iva
“Hari ini kamu ada rapat dengan Tuan Charles, Arga. Aku akan mempersiapkan semua materinya.”Arga yang mendengar hal itu pun langsung menghentikan langkah. Dia menatap alasan istri yang masih fokus dengan tablet di tangan. Manik matanya memperhatikan wanita yang seakan tidak mempedulikan keberadaannya sama sekali. Raut wajahnya tampak berpikir hingga Ivana yang sejak tadi melangkah seorang diri ikut berhenti. “Arga, kenapa?” Ivana merasa bingung dengan tingkah suaminya itu. Dia melihat ada kebimbangan yang tergambar dari raut wajah Arga. Arga yang semula terdiam langsung mengulas senyum lebar dan menatap ke arah Ivana. Dia kembali menikahkan kaki dan berhenti tepat di depan istrinya dan menjawab, “Tidak apa-apa.” Sebelum menjawabnya Arga sempat berdehem lebih dulu. “Ada yang mengganggu pikiranmu?” Ivana masih tidak percaya dengan jawaban suaminya itu. Dia yakin sang suami sedang menyembunyikan sesuatu. “Tidak ada, tetapi aku rasa untuk rapat kali ini kamu tidak perlu ikut. Biar ak







