MasukJovian mendesis pelan saat alkohol itu menyentuh luka terbukanya."Maaf... apa aku terlalu keras?" bisik Binar, menatap wajah pria itu dengan raut bersalah."Tidak," jawab Jovian pelan. Ia menatap lekat wajah Binar yang sedang menunduk fokus membersihkan lukanya. "Ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang kau alami hari ini. Aku yang seharusnya meminta maaf, Binar."Binar menghentikan gerakannya. Ia membalas tatapan Jovian. Kesunyian yang pekat menyelimuti mereka selama beberapa detik, sebelum akhirnya Binar tak bisa lagi menahan pertanyaan yang sedari tadi menyiksa dadanya."Kenapa kamu berbohong padaku, Ian?" tanya Binar dengan suara lirih yang bergetar. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Kemarin... kamu mengusirku. Kamu bilang aku cuma staf magang yang
Namun, Jovian sama sekali tidak berniat berlutut.Tepat saat Markus lengah karena merasa permintaannya dituruti, tangan kanan Jovian yang tadi melepaskan pistol melesat kilat ke balik paha kanannya. Ia menarik sebuah pisau lempar taktis berukuran kecil yang terselip di sana.Dalam gerakan fluid yang nyaris tak terlihat oleh mata telanjang, Jovian mengayunkan lengannya dan melemparkan pisau itu dengan kekuatan dan presisi yang mematikan.Jleb!"AAAAAARRRGGGHH!!!"Pisau baja itu menancap telak di pergelangan tangan kanan Markus, tepat di antara urat nadi dan tulang. Rasa sakit yang luar biasa melumpuhkan saraf motorik Markus. Jari-ja
"Melepaskanmu?" Markus tertawa sumbang. Ia melangkah mendekat, lalu mencengkeram rahang Binar dengan cukup keras. "Kau pikir aku peduli padamu, Binar? Kau hanyalah alat. Umpan yang sempurna untuk memancing bajingan arogan itu keluar dari sarangnya.""Ian tidak akan datang," isak Binar, air mata mulai menetes di pipinya. Ia mengingat kembali kata-kata kasar Jovian di penthouse. "Dia sudah memecatku... dia bilang aku ini cuma sampah yang mengingatkannya pada masa lalu...""Oh, berhentilah menangis," potong Markus sinis, melepaskan cengkeramannya. "Kau mungkin percaya dengan akting murahan Jovian. Tapi Bram dan anak buahnya tidak. Begitu kau keluar dari gedung itu, sebuah mobil SUV berisi pengawal elit bayaran langsung membuntutimu dari jarak jauh. Jovian tidak pernah membuangmu
"Itu laporan pantauan yang kau minta," ucap Bram, menyalakan sebatang rokok. "Kami sudah mengawasi pergerakan Jovian Vaelis selama dua minggu terakhir. Tapi jujur saja, menyentuh pria itu secara langsung adalah tindakan bunuh diri."Markus membuka amplop itu, mengeluarkan beberapa lembar foto yang diambil dari jarak jauh. Foto-foto itu menunjukkan mobil Jovian yang dikawal ketat oleh Shadow Unit—pasukan keamanan pribadi Jovian yang dipimpin oleh Luna."Sistem keamanannya tanpa celah," lanjut Bram, menghembuskan asap rokok. "Gedung Vaelis Corp dijaga seperti markas militer. Pengawalnya bukan sekuriti biasa, mereka mantan tentara bayaran terlatih. Jika kita nekat menyerangnya, kita yang akan berakhir di kamar mayat."Markus me
Binar melangkah keluar dengan senyum cerah yang menghiasi wajahnya. Ia masih mengenakan seragam kerjanya. Di tangannya, ia menenteng sebuah kantong plastik berisi dua porsi sate ayam—makanan jalanan favorit Jovian saat mereka masih kecil di panti asuhan dulu.Setelah percakapan hangat mereka tadi pagi, Binar merasa dinding es di antara mereka akhirnya benar-benar runtuh. Ia sangat bersemangat untuk makan malam bersama pemuda itu."Ian? Aku bawa sate ayam kesukaanmu!" panggil Binar riang sambil berjalan menuju ruang tamu.Langkah Binar terhenti saat ia melihat Jovian sedang berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela kaca. Ruangan penthouse itu kembali dibuat sedikit redup. Pria itu sudah mengenakan jas rapinya, memegang
"Itu laporan pantauan yang kau minta," ucap Bram, menyalakan sebatang rokok. "Kami sudah mengawasi pergerakan Jovian Vaelis selama dua minggu terakhir. Tapi jujur saja, menyentuh pria itu secara langsung adalah tindakan bunuh diri."Markus membuka amplop itu, mengeluarkan beberapa lembar foto yang diambil dari jarak jauh. Foto-foto itu menunjukkan mobil Jovian yang dikawal ketat oleh Shadow Unit—pasukan keamanan pribadi Jovian yang dipimpin oleh Luna."Sistem keamanannya tanpa celah," lanjut Bram, menghembuskan asap rokok. "Gedung Vaelis Corp dijaga seperti markas militer. Pengawalnya bukan sekuriti biasa, mereka mantan tentara bayaran terlatih. Jika kita nekat menyerangnya, kita yang akan berakhir di kamar mayat."Markus me
Jovian bisa merasakan kedutan di sana. Otot-otot kewanitaan Vandella berkontraksi, seolah mencoba "menggigit" dan menelan jari Jovian. Cairan hangat terus membanjiri sela-sela jari Jovian, lengket dan beraroma feromon yang memabukkan—campuran Black Opium dan aroma musk alami wanita yang sedang di p
Air mata frustrasi tertahan di sudut mata Jovian. Ia membenci dirinya sendiri. Ia merasa kotor. Tapi sensasi tangan dingin Vandella yang menguasai kehangatannya terasa begitu adiktif, begitu memabukkan, jauh melebihi apa pun yang pernah Binar berikan padanya.Vandella melihat reaksi itu—melihat bag
Hening.Di lantai 50 yang menjulang di atas Jakarta itu, suara napas Jovian terdengar seperti deru ombak yang tertahan. Ia berdiri di antara kedua kaki Vandella yang terbuka di atas meja, terperangkap dalam gravitasi sang CEO.Jovian perlahan mengangkat wajahnya. Ia melepaskan pandangannya dari bel
"Karena tesis saya," jawab Jovian pelan tapi yakin. "Prediksi Krisis Melalui Psikologi Massa."Senyum miring terbit di bibir Vandella. Bingo."Tepat," bisik Vandella. Ia membungkuk sedikit, membuat belahan dadanya terlihat samar di balik blazer sutra merah marun itu. "Semua analis di luar sana hany







