FAZER LOGINHujan deras Jakarta malam itu seolah ikut marah. Butiran air sebesar kelereng menghantam aspal dengan bunyi gemuruh yang tak henti. Jovian tidak masuk lewat pintu depan hotel bintang lima di kawasan SCBD yang mewah dan penuh kamera. Ia memilih lorong servis belakang — lorong sempit berbau cat basah dan asap rokok karyawan yang biasa digunakan petugas kebersihan dan supplier.Jaket kulit hitamnya sudah basah kuyup. Tudungnya menutupi separuh wajah. Langkahnya cepat, tegas, dan penuh amarah yang sudah mendidih sejak di dalam mobil. Setiap kali sepatu botnya menginjak genangan air, ia membayangkan wajah Julian yang akan segera ia hancurkan.Lift khusus penthouse berdenting pelan saat pintu terbuka di lantai paling atas. Jovian keluar tanpa suara.Di ujung koridor mewah yang temaram, Luna sudah menunggu. Wanita itu berdiri tegak di depan pintu penthouse, rambut silvernya yang bergaya wolfcut pendek berantakan tapi terlihat sengaja, jatuh menyapu tulang pipinya yang tajam. Mata Luna yang a
"Vella... aku... keluar...!"Jeritan parau Jovian akhirnya meledak, menghancurkan sisa-sisa kewarasan yang ia bangun dengan susah payah. Tubuhnya mengejang keras seperti busur yang ditarik hingga titik maksimal. Ia menghentakkan pinggulnya ke atas dengan dorongan terakhir yang dalam dan brutal, menancapkan kejantanan yang sudah membengkak maksimal sedalam mungkin ke dalam rahim Vandella.Di detik yang sama, Vandella memekik tinggi. Wanita itu menangkup wajah Jovian dengan kedua tangannya dan menariknya ke dalam ciuman yang luar biasa dalam dan rakus. Bibir mereka bertaut penuh gairah, lidah saling melumat, saling bertukar erangan saat puncak kenikmatan meledak secara bersamaan.Rahim Vandella berkedut liar dan kuat, memeras kejantanan Jovian dengan ritme yang tak terkendali. Dinding-dinding hangat dan basah itu menjepit, menghisap, dan memijat batang tebal pria itu seolah ingin mencuri setiap tetes benih yang disemburkan. Gelombang demi gelombang panas dan kental menyembur deras ke da
Sllrrrtt... jleb... jlebbb...Suara basah yang kotor dan lengket itu menggema keras di dalam kabin jet Gulfstream yang kedap suara, seolah seluruh dunia hanya berputar di sekitar pertemuan daging yang panas dan rakus itu."Ahkk... Vella..." Jovian mengerang parau, suaranya nyaris seperti rintihan kesakitan yang bercampur kenikmatan terlarang. Tubuhnya mengejang hebat saat kehangatan yang luar biasa ketat dan basah itu menelannya hidup-hidup, meremas batang kejantanannya yang tebal dan berdenyut dari pangkal hingga ujung dengan jepitan sempurna yang membuat otaknya hampir putus. Tangannya secara refleks mencengkeram pinggul ramping Vandella, jari-jarinya menekan kuat ke dalam kulit halus yang sudah berkilau keringat, meninggalkan bekas merah yang panas di sana. "Kamu... terlalu sempit... ahhh...""Aahhh... astaga... nikmat sekali..." desah Vandella keras dan panjang, kepalanya mendongak ke belakang hingga leher jenjangnya yang indah terpampang sempurna. Ia melengkungkan punggungnya den
Wajah Maya memerah padam dalam sekejap, seperti tersengat api neraka yang tiba-tiba menyala di dalam dada. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa ingin meledak, sementara kulit leher hingga telinganya terbakar hebat.Ia berdiri membeku di ambang pintu kabin jet Gulfstream yang mewah itu, tangannya masih memegang map laporan penerbangan yang kini terasa seperti beban dosa. "M-maaf, Madam. Saya… saya hanya…" ucapan Maya tercekat di tenggorokan, suaranya pecah seperti kaca yang retak. Kata-kata berikutnya lenyap ketika Vandella meletakkan jari telunjuknya yang berhias kuku merah darah tepat di bibirnya yang penuh dan menggoda. Sssshhh.Di dalam kabin jet yang kedap suara sempurna, hanya tersisa dengung lembut mesin pesawat yang jauh, napas Jovian yang tersengal berat seperti binatang buas yang tertahan, dan detak jantung Maya sendiri yang berpacu liar, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Udara terasa tebal, penuh aroma musk pria yang kuat bercampur parfum mahal Vandella
Dengung halus mesin jet pribadi Gulfstream G650ER yang mengudara di ketinggian empat puluh ribu kaki adalah satu-satunya tanda bahwa mereka masih berada di bumi. Di dalam kabin utama, kemewahan yang tak masuk akal terasa seperti penjara emas yang membara. Suhu di dalam ruangan itu seolah naik berpuluh-puluh derajat, bukan karena kerusakan sistem pendingin, melainkan karena percampuran antara amarah murni dan gairah yang menyesakkan napas.Vandella, sang Ratu Arthesia Capital, duduk di kursi kebesarannya dengan posisi yang akan membuat pria manapun bertekuk lutut. Kaki jenjangnya menyilang angkuh. Blazer merah marunnya dibiarkan terbuka sepenuhnya, memamerkan bra renda hitam yang nyaris tak mampu menampung dadanya. Napasnya memburu, membuat dadanya naik-turun dalam ritme yang provokatif, sementara matanya tertuju tajam pada tablet di tangan kiri. Grafik saham perusahaannya terjun bebas, menciptakan genangan "darah" merah di layar digital itu."Kalian semua kubayar miliaran per bulan bu
Binar mundur selangkah hingga punggungnya menempel pada dinginnya pilar marmer lobi Arthesia Capital. Jantungnya berdegup tak karuan, memompa darah dengan ritme yang menyakitkan dada.Di hadapannya, berdiri seorang pria yang terasa sama sekali asing.Tingginya menjulang dengan postur atletis yang tegas. Kemeja slim-fit biru dongker membalut dada bidang dan lengan yang kokoh. Wajahnya yang dulu tembam dan selalu memerah setiap kali salah tingkah, kini berubah total—garis rahangnya tajam, hidungnya mancung sempurna, dan bibirnya menyunggingkan senyum yang tenang serta penuh kesabaran.Markus.Anak Pendeta Yohanes. Pria yang secara sepihak dipilihkan oleh ayahnya sebagai calon suami.Melihat kepanikan yang terpancar dari mata bulat Binar, Markus menarik tangannya perlahan dari udara, memberi jarak tanpa diminta. Matanya memancarkan kelembutan yang tulus, sama sekali tidak ada kilat paksaan atau dominasi yang Binar takutkan."Maaf," kata Markus dengan suara bariton yang rendah dan menenan
Suara mesin fotokopi yang terus menggiling kertas dan dering telepon yang bersahutan di lantai dasar Arthesia Capital terasa seperti dengung ribuan lebah yang menyiksa telinga Binar.Gadis berambut bobcut itu duduk terpaku di bilik mejanya, menatap kosong ke arah layar komputer. Di balik kacamata b
Cahaya matahari Dubai merangkak pelan melalui celah tirai sutra tebal, menyinari sofa beludru merah gelap yang kini menjadi tempat persembunyian dua tubuh yang masih saling merengkuh. Udara pagi terasa hangat dan lembap, bercampur aroma Black Opium yang samar, sisa champagne manis, dan bau seks yan
Ini tidak mungkin… batin Jovian menjerit. Suara itu menggema, menabrak dinding-dinding akal sehatnya hingga retak berkeping-keping.Dia… anak dari ayahku
Jovian menahan napas, mencondongkan wajahnya hingga bibirnya menyapu daun telinga Vandella yang sensitif. "Modal k0**ol doang..." bisiknya dengan suara bariton yang parau dan sangat mesum.Tawa Vandella pecah seketika.







