Masuk"Aahhh... Tuhanku..." Malora memekik pelan, lehernya melengkung ke belakang.Sensasi penyatuan yang sangat lambat ini justru seratus kali lipat lebih menyiksa sarafnya. Ia bisa merasakan setiap inci ketebalan dan urat-urat kasar Jovian merenggangkan dinding kewanitaannya yang sudah sangat sensitif. Rasa panas dan sesak yang luar biasa kembali memenuhi perut bawahnya. Dinding rahimnya yang haus seketika bereaksi, berkedut dan memeluk erat batang raksasa itu seolah sedang menelannya hidup-hidup.Jovian terus menekan masuk hingga seluruh batangnya tertanam sempurna, pangkal pahanya membentur lembut pinggul Malora. Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangan di sisi kepala Malora, menatap wanita itu dengan kelembutan yang mematikan."Sempit sekali..." bisik Jovian parau, mengusap keringat di dahi Malora. Jovian mulai memompa pinggulnya. Ritmenya tidak beringas, melainkan sangat pelan, dalam, dan berayun. Ia menarik batangnya nyaris keluar sebelum melesakkannya kembali hingga membentur mulut
Malora melepaskan genggamannya. Ia merangkak sedikit lebih maju, lalu membenamkan wajahnya tepat di selangkangan Jovian. Bibir merahnya yang basah langsung melahap ujung kepala kejantanan Jovian yang kembali menegang sempurna.Slurp... mmmhh... gluk...Jovian memejamkan matanya erat-erat. Lidah Malora menari-nari memutar di area paling sensitifnya, menghisapnya dalam-dalam dengan tekanan vakum yang memaksa Jovian untuk menahan erangannya sendiri."Ah... sialan," geram Jovian tertahan, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia benci pada fakta bahwa tubuhnya merespons kelihaian iblis betina ini.Malora melepaskan hisapannya dengan suara 'pop' yang basah, lalu mendongak menatap wajah tersiksa pemuda itu."Ayahmu dulu juga berpikir dia bisa mengendalikanku, Ian," bisik Malora sambil menjilat sisa benih Jovian dari bibirnya. "Namun pada akhirnya, dia hancur karena dia tidak sanggup melepaskan diri dari lubangku. Dan kau... kau memiliki kelemahan yang persis sama dengannya."Malora kem
"Ayahku adalah pria yang terlalu lurus hingga kau bisa menghancurkan kewarasannya dengan mudah," lanjut Jovian tak kenal ampun, memilin puting Malora semakin kuat. "Tapi aku? Aku tumbuh di dalam neraka yang kau ciptakan. Aku adalah anak yang lahir dari darahnya. Dan sebentar lagi..."Jovian menarik batangnya nyaris keluar seutuhnya sebelum menghunjamkannya kembali dengan kekuatan maksimal. BAM!"AAAHHHH!""...sebentar lagi, aku akan merampas kembali seluruh harta yang telah kau curi dari ayahku. Semuanya. Termasuk putrimu," bisik Jovian mematikan.Alih-alih merasa terancam, bisikan dominasi absolut dan hantaman brutal di lubang belakangnya itu justru mendorong Malora melampaui ambang batas kewarasannya. Gairahnya benar-benar buta. Dinding liangnya yang sempit berkedut beringas, menjepit kejantanan Jovian dengan kekuatan yang melumpuhkan. Perut bawahnya menegang kaku, sensasi kebas menjalar dari ujung jari kaki hingga ke ubun-ubunnya."Ian... ahhh! Aku... aku mau keluar! Ahhh… sialan…,
"Ian... aku sudah tidak sabar lagi," suara Vandella mengalun dari speaker ponsel, jernih, manja, dan sarat akan kerinduan, sangat kontras dengan pemandangan brutal yang sedang terjadi di depan mata Jovian. "Aku sudah mengatur semuanya. Jet pribadiku sudah diinstruksikan untuk membawamu. Besok pagi-pagi sekali, kau harus segera terbang menyusulku ke Hong Kong. Tolong selesaikan segera urusan divisi crypto. Aku butuh kamu di sini... sayang."Jovian tersenyum, sebuah senyuman hangat yang tak sampai ke matanya. Tangan kirinya masih mencengkeram kuat rambut Malora, menahan kepala wanita tua itu agar tetap berada di dekat pangkal kejantanannya, sementara mulut Malora masih dipenuhi sisa-sisa air liurnya sendiri."Tentu, Sayang," jawab Jovian dengan suara bariton yang teramat lembut dan romantis. "Aku akan menyelesaikan urusanku malam ini juga. Besok pagi, aku sudah berada di udara menujumu.""I love you. Sampai ketemu besok ya," bisik Vandella sebelum sambungan telepon itu akhirnya terputus
Tubuh Malora terkapar di atas ranjang king-size yang basah dan berantakan. Napasnya memburu kasar, dadanya yang dipenuhi keringat naik-turun dengan cepat mencari oksigen yang seolah terkuras habis dari ruangan itu. Siksaan surgawi yang memaksanya mencapai puncak berkali-kali telah melumpuhkan setiap sendi dan otot di tubuhnya.Bahkan, kedua kakinya yang masih terbuka lebar tak lagi memiliki tenaga untuk sekadar merapat. Cairan hangat milik Jovian terus merembes keluar dari liangnya, menodai seprai mahal di bawahnya, sementara liang kewanitaannya yang bengkak memerah masih berkedut pelan, menolak melupakan ketebalan masif yang baru saja membelahnya habis-habisan.Di balik kelopak matanya yang bergetar, syok akibat identitas asli Jovian baru saja menghantam kewarasannya. Jovian Vaelis. Anak Adityawarman.Namun, penyakit narsistik yang mengakar kuat di dalam jiwa Sang Nyonya Besar menolak untuk mati begitu saja. Di tengah kelumpuhan fisiknya dan rahimnya yang masih terasa berdenyut penuh
Rengekan manja nan serak dari Jovian itu adalah racun terakhir yang meruntuhkan sisa-sisa kewarasan Malora. Melihat pemuda perkasa yang semalaman menyiksanya kini menatapnya dengan tatapan sayu yang memohon, ego narsistik Sang Nyonya Besar kembali membumbung tinggi, menutupi rasa lelah yang meremukkan tulangnya."Keluarkan untukku, Sayang..." bisik Malora lemah, mengangkat pinggulnya sedikit untuk menyongsong pria itu. Suaranya sudah serak, bibirnya bengkak dan mengkilap, matanya setengah terpejam penuh harap.Namun, tanpa menunggu kalimat Malora selesai, dan tanpa membuang waktu sedetik pun, Jovian langsung membungkam bibir wanita itu dengan ciuman yang kasar. Lidahnya menyusup kasar, menelan desahan Malora seolah ingin mencuri napas terakhirnya. Bersamaan dengan itu, ia menghentakkan pinggulnya ke depan, menancapkan kembali kejantanannya yang tebal dan membara langsung ke titik terdalam rahim Malora dalam satu dorongan mutl







