Beranda / Romansa / Godaan Panas Pegawai Magang / Bab. 15. KERJA SAMA TRILIUNAN

Share

Bab. 15. KERJA SAMA TRILIUNAN

Penulis: Kurnia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-25 08:00:25
"Bos Kevin terlalu berlebihan," sahutku, menolak pernyataan tak berdasar yang baru saja dilontarkannya.

Kevin hanya menatapku sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada Mas Yuan.

"Ini kesempatan yang bagus... Jangan terlalu lama berpikir," kata Kevin pada Mas Yuan.

"Tanpa mengurangi rasa hormat, aku agak... Ragu. Tapi...." Mas Yuan menggantung kalimatnya. Ia menarik napas panjang, seolah ada beban berat di dadanya yang sulit diungkapkan.

"Karena Tuan CEO tak ada di sini, bukan berarti ajakan kerja sama dengan perusahaanmu hanya bualan semata," sahut Kevin menegaskan.

"Bos Kevin, wajar jika Tuan Yuan tidak yakin. Bagaimana jika mengikuti rencana cadangan dari Pak CEO?" usul Leon, nada suaranya tenang namun berwibawa.

Dari caranya berbicara, aku bisa menebak Leon punya hubungan cukup dekat dengan CEO baru Vici Industri.

Kevin menoleh pada Leon dengan senyum tipis. Ekspresinya menunjukkan seolah ia setuju dengan saran itu.

"Pak Yuan, beri tahu aku rekening perusahaanmu,"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 19. PAK WAN

    Beberapa hari berlalu, semenjak aku meninggalkan apartemen.Awalnya semua terasa tenang, sampai Mas Yuan menghubungiku lewat telefon.Seperti biasa, suara Mas Yuan terdengar datar, tapi aku masih bisa merasakan kemarahannya.Mas Yuan menanyakan keberadaanku, dan menegurku karena ia sudah mengetahui bahwa aku sebenarnya tidak tinggal di panti jompo bersama ibuku. Aku yang tidak punya tenaga untuk menjelaskan apa pun, memilih mengakhiri panggilan itu, setelah menetapkan tempat dan waktu untuk bertemu.Begitu telefon tertutup, aku mendengus kasar."Siapa yang menelefonmu? Kok kamu kelihatan kesal?" tanya Leon yang muncul sambil membawa nampan berisi camilan.Refleks, aku mengubah ekspresi wajahku. Wajah jengkel yang tadi jelas terlihat, kuubah menjadi senyum ramah, seolah tidak terjadi apa-apa.Leon menaruh nampan tersebut di atas meja lalu duduk di sebelahku. Ia menatapku dengan penuh rasa ingin tahu."M

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 18. LEON MENDEKATI DESY

    Keesokan harinya.Suasana kantor masih lengang ketika Leon tiba.Seperti biasa, Leon menata meja kerjanya dengan rapi sambil memerhatikan jam dinding. Sesekali, ia melirik ke arah pintu masuk, seolah menunggu seseorang.Tak lama kemudian, langkah sepatu terdengar. Desy muncul dengan gaun kerja pastel dan rambut yang ditata manis."Desy, kamu kelihatan cantik. Lagi bahagia kah?" tanya Leon, sambil menggeser kursinya lebih dekat ke sisi Desy.Nada suara Leon lembut, berbeda dari biasanya.Mendapat perlakuan sehangat itu, Desy sama sekali tidak menaruh curiga. Justru hati kecilnya mekar, merasa diperhatikan dan dihargai."Mas Leon bisa aja deh...." balas Desy, tersipu malu sambil merapikan rambutnya.Tanpa memutus momen, Leon mengambil kotak bekal dari atas mejanya, kotak makan dengan pita kecil di sudutnya, lalu menyerahkannya kepada Desy dengan penuh percaya diri."Aku sengaja bangun pagi buat masakin na

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 17. TERNYATA DESY ISTRI SAH SUAMIKU

    Sudut bibir Desy menurun, ia menanggapi perkataanku dengan sedih."Desy, apakah kamu memberitahu Mas Yuan kalau aku sedang mengumpulkan banyak bukti untuk menggugatnya di pengadilan?" tanyaku, meragukannya.Sambil mengibaskan kedua tangannya di depan dada, Desy menggelengkan kepalanya cepat."Aku nggak mungkin kasih tahu Paman Yuan. Aku... 'kan, ada dipihakmu, Mbak," kilah Desy, menebar senyum ramah.Aku meringis. Desy pasti berbohong. Mana mungkin ia tidak memberitahu Mas Yuan soal diriku yang hendak menggugat cerai. Huh... Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini?Sebenarnya... Apa yang sedang direncanakan Mas Yuan dan Desy? Aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang."Mbak Lia... Jangan berpisah sama Paman Yuan. Beliau pria yang baik, dan menerimamu apa adanya," tutur Desy, mulai mengagung-agungkan Mas Yuan."Desy, kamu masih kecil, wajar jika tidak tahu bagaimnana rasanya hidup berumah tangga." A

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 16. TERPAKSA MENJUAL SAHAM

    Nama lengkapku Alia Yuanita Baskoro. Aku terlahir di sebuah desa yang aman dan damai. Ayahku meninggal akibat terkena serangan jantung. Beliau meninggalkan warisan berupa sawah satu hektar yang akhirnya dikelola ibuku seorang. Meski sederhana, hidupku di kampung bisa dibilang cukup, tak kekurangan. Bahkan ibuku bisa menyekolahkanku hingga aku lulus S2. Ibuku... Sangat hebat, bukan? Setelah lulus kuliah, aku langsung diterima kerja menjadi Sekretaris di sebuah perusahaan besar, Vici Industri. Aku harus meninggalkan ibuku di desa, dan merantau di ibu kota untuk bekerja. Tenang saja, komunikasi kami berjalan lancar. Aku sempat mengajari ibuku bermain ponsel pintar. Saat sedang santai di sebuah kedai kopi, aku bertemu dengan Mas Yuan, pria yang lembut, dewasa, dan baik (Pada saat itu). Mas Yuan secara blak-blakan mengajakku berkenalan, dan meminta bertukar nomor ponsel. Dari sinilah hubungan kami dimulai. Kami memutuskan menikah, setelah berjuang keras untuk mendapatkan re

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 15. KERJA SAMA TRILIUNAN

    "Bos Kevin terlalu berlebihan," sahutku, menolak pernyataan tak berdasar yang baru saja dilontarkannya. Kevin hanya menatapku sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada Mas Yuan. "Ini kesempatan yang bagus... Jangan terlalu lama berpikir," kata Kevin pada Mas Yuan. "Tanpa mengurangi rasa hormat, aku agak... Ragu. Tapi...." Mas Yuan menggantung kalimatnya. Ia menarik napas panjang, seolah ada beban berat di dadanya yang sulit diungkapkan. "Karena Tuan CEO tak ada di sini, bukan berarti ajakan kerja sama dengan perusahaanmu hanya bualan semata," sahut Kevin menegaskan. "Bos Kevin, wajar jika Tuan Yuan tidak yakin. Bagaimana jika mengikuti rencana cadangan dari Pak CEO?" usul Leon, nada suaranya tenang namun berwibawa. Dari caranya berbicara, aku bisa menebak Leon punya hubungan cukup dekat dengan CEO baru Vici Industri. Kevin menoleh pada Leon dengan senyum tipis. Ekspresinya menunjukkan seolah ia setuju dengan saran itu. "Pak Yuan, beri tahu aku rekening perusahaanmu,"

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 14. HADIAH MILIARAN

    Dari awal pertandingan, aku sudah unggul. Pukulan demi pukulan terasa begitu ringan, seperti tubuhku dipenuhi energi positif. Untung saja rekan setimku ternyata jago bermain voli. Ia berkali-kali mencetak poin dengan mudah, membuat semangatku semakin membara. Sebaliknya, tim lawan terlihat mulai kewalahan. Desy dan Mas Yuan sama sekali tidak kompak. Gerak mereka kaku, seperti orang yang terpaksa bermain bersama. Aku bisa menebak penyebabnya. Sepertinya Desy marah pada Mas Yuan setelah mengetahui kebiasaan bejat Mas Yuan yang suka bermain dengan banyak wanita. Aduh, Desy... Kadang aku kasihan juga padamu. "Mbak Lia! Semangat!" teriak seseorang yang langsung disambut sorak-sorai dari lainnya. Refleks aku menoleh ke arah sumber suara, dan mataku langsung terpaku pada sosok Leon yang berdiri di pinggir lapangan sambil mengangkat spanduk besar bertuliskan 'Go Mbak Lia!' dengan tinta warna mencolok. Aku melongo. Dari mana Leon mendapatkan spanduk itu? Apa dia membuatnya sendiri? Duh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status