로그인“Walaupun kamu turut andil dalam menipuku. Tapi aku bisa mengerti, kamu pasti dipaksa oleh Mas Yuan. Jadi, sangat sulit bagiku untuk membencimu,” tuturku, bersuara lembut dan penuh perhatian.
Desy meletakkan kembali sendok dan garpu yang ia pegang untuk memberiku atensi.“Mbak Lia? Kamu....” Desy tak melanjutkan kalimatnya. Mungkin ia tak memiliki kata yang pas untuk disuarakan.“Di mataku, kamu tetaplah gadis kecil yang aku sayangi. Aku ingin yang terbaik untukmu.Besoknya, Intan dan Kevin mengajakku ke taman kota untuk menghadiri pameran buku. Tentu aku tak menolak.Kami berempat berkeliling, mengunjungi berbagai kios buku yang menurut kami menarik. Leon membeli beberapa buku. Dia memang suka membaca. Koleksi bukunya saja segunung. "Suamimu maniak buku. Nyebelin banget!" Intan mengomentari Leon sambil menggerutu. "Kevin juga sama. Ngapain protes?" balasku, geregetan. Intan tertawa canggung, ia mengajakku mengunjungi kios makanan ringan. Kami memesan dua porsi. Saat sedang menunggu, aku dikejutkan dengan Mas Yuan yang membagikan brosur padaku. "Mas Yuan?" Mas Yuan mungkin malu bertemu denganku, ia buru-buru kabur. Aku yang penasaran, berusaha mengejar. Untungnya Mas Yuan berhenti di depan kedai sederhana di seberang taman. Aku menghampiri Mas Yuan, mengajaknya mengobrol. Awalnya Mas Yuan enggan, tapi aku terus memaksa, sehingga dengan berat hat
Gaun putih indah, berhias manik-manik berkilau. Tudung transparan yang menutupi wajah elokku. Tirai bermata berlian yang bertengger anggun di kepalaku. Tampilanku di hari pernikahanku, sungguh memukau. Nyonya Lusi benar-benar menjadikanku sebagai wanita paling cantik di seluruh penjuru dunia. "Lia? Kamu sudah siap?" tanya Nyonya Lusi, mengelus pundakku. Aku mengangguk mantap. "Iya, Ibu... Saya siap," ucapku. Nyonya Lusi tersenyum lembut. "Baguslah... Ayo kita pergi. Semua orang menunggumu di altar leluhur keluarga George."Aku mengikuti Nyonya Lusi yang menuntunku menuju tempat pernikahanku.Sebelum memasuki aula, Nyonya Lusi menyerahkanku kepada kakak angkat Leon. Ini pertama kalinya aku bertemu dengannya. Kakak angkat Leon tersenyum ramah. Ia memintaku menggandeng lengannya. Kami berjalan bersama di atas karpet merah, di tengah tamu undangan yang duduk manis menungguku. Selangkah demi selangkah
Aku dibuat tercengang sekaligus kagum dengan sikap gentle Kevin.Reaksi awal Intan sama sepertiku, dia tekejut. Wajahnya melongo, tingkahnya menunjukkan kegugupan. Aku mengelus pundak Intan, memberinya sebuah keberanian untuk jujur pada dirinya sendiri."Kevin... Kamu tiba-tiba banget...." ucap Intan, malu-malu."Maaf... Lain kali, aku akan mengungkapkannya secara matang," balas Kevin, merendahkan suaranya."Nggak ada lain kali! Umumkan hubungan kalian di sini!" seru Leon, bersemangat.Kevin berlutut di depan Intan. Ia mengeluarkan kotak kecil berwarna biru dari kantong jasnya. Lalu membuka kotak tersebut yang berisikan sebuah cincin berlian.Aku tersenyum tipis. Kevin memang selalu membawa benda itu ke mana pun ia pergi. Tak aku sangka, cinta Kevin sungguh besar."Intan... Cincin ini, cincin yang kamu pilih sendiri. Kamu... Nggak lupa, 'kan?" kata Kevin, matanya berbinar penuh harap."Mana mungkin aku
Aku menggelengkan kepala, lalu melepas pelukanku.Sambil mengusap air mataku yang membasahi pipi, aku berkata, "Intan, kamu beneran orang yang dikirim Dewa buat bantu aku. Aku beruntung banget."Sembari tersenyum lembut, Leon berkata, "Lebay deh... Emangnya aku ngapain?" kataya, menoyor keningku."Hey... Hey... Kalian berdua! Kalau sedih-sedihan, jangan di sini! Aku sudah lapar loh! Kapan kita makannya!" sela Kevin bertepuk tangan. Jelas dia mengejek kami."Lia... Ayo kita makan. Mbak Lia dan Pak Kevin yang memasak semua hidangan hari ini," ucap Leon, baru bersuara.Ah ya, ngomong-ngomong... Kenapa Leon bisa bersama Intan dan Kevin? Tidak... Tunggu... Kenapa mereka bertiga berada di tempat yang sama? Dan... Sejak kapan mereka begitu akrap? Seperti kawan lama saja.Aku terkejut ketika Kevin menarik lenganku, dan memaksaku kembali duduk di kursi."Lia... Tolong hargai aku dan Intan. Semua makanan ini, kami masak dengan sep
Besoknya, aku terbangun di siang bolong. Saat menyadarinya, aku bergegas membersihkan diri, dan turun untuk menemui Nyonya Lusi. Rupanya, Nyonya Lusi telah menungguku, dan beliau tak marah atau kesal karena aku bangun kesiangan. Aku bisa bernapas lega. Aku pikir, sikap Nyonya Lusi akan berubah sinis. "Lia... Ayo makan siang dulu. Aku sengaja masak makanan kesukaan kamu," ajak Nyonya Lusi, tersenyun ramah. Aku duduk di kursi yang ditunjuk Nyonya Lusi. Dan beliau langsung mengisi piringku dengan beberapa makanan. "Terima kasih, Nyonya," kataku. "Jangan panggil nyonya. Aku ini calon ibu mertuamu. Panggil ibu saja, biar lebih akrab," timpal Nyonya Lusi, menepuk punggung tanganku pelan. Aku mengangguk penuh antusias. "Iya, Ibu...."Kami pun makan berdua tanpa ditemani Leon yang sedang mengurus suatu hal penting. Setelah makan siang, Nyonya Lusi mengajakku berkeliling mansion. Beliau menceritakan mengenai Leon,
Leon baru puas dan berhenti setelah keluar lima kali. Dia benar-benar gila. Sekarang ia berbaring di sampingku sambil meny*su seperti bayi. "Leon...." panggilku lirih. "Hm?" Leon menanggapi tanpa membuka matanya. "Dadaku sakit...." keluhku. "Sudah, jangan dihisap lagi," pintaku, suaraku parau.Leon menurut tanpa drama. Bahkan ia langsung meminta maaf. Aku tak mempermasalahkan hal tersebut.Aku meraih ponsel milik Leon yang tergeletak di atas nakas. Aku menyalakannya, dan terkejut mengetahui jika waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Itu artinya, kami berdua bermain seharian penuh. Pantas saja, tubuhku terasa hancur. Aku menggoyang-goyang pelan pundak Leon, membangunkan lelaki itu."Leon... Ayo kita pindah kamar. Ranjang di sini basah. Aku... Tidak bisa tidur nyeyak," ajakku, ketika Leon memperhatikanku.Dengan wajah lelah, dan napas berat, Leon bangkit dari ranjang. Ia meraih celana pendek, lalu mengenakan
Aku terkekeh pelan. Mana mungkin Leon adalah pemilik rumah sakit swasta terbesar di kota ini? Dasar aneh. Tawa kecilku meredup, berganti dengan helaan napas panjang. Aku lelah. Akhir-akhir ini terlalu banyak hal yang terjadi. Kepalaku terasa penuh. Mendengar napasku yang berat, Leon menatapku d
Leon menggendongku tanpa berkata apa-apa, langkahnya mantap namun terasa lembut. Leon membawaku ke kamarnya, yang ternyata berada di lantai berbeda dari kamarku. Begitu pintu kamarnya terbuka, aroma maskulin dan hangat langsung menyambutku. Ruangan itu luas, dengan pencahayaan redup dan sentuhan
Aku tertawa kecil mendengar ancaman Mas Yuan. Dia nggak sadar diri ya? Seharusnya aku yang ngomong gitu.Aku menatapnya tajam, bibirku tersenyum samar."Gimana kalau suami yang selingkuh? Apa yang harus aku lakukan?" cetusku, sengaja memancing.Mas Yuan berhenti menyuap
Aku pulang ke apartemen dengan perasaan gundah gulana.Aku memberikan hatiku, tapi Mas Yuan mengambil jiwaku. Sungguh manusia yang kejam. Seperti iblis. Mataku melirik sesuatu di atas nakas. Itu... Ponsel milik suamiku yang sudah tidak pernah ia pakai. Biasanya aku ti







