LOGIN
“Sayang… cepatlah. Aku sudah tidak tahan.”
Napas panas Thomas Bronze, pengusaha berusia 40 dengan sisa wibawa di wajahnya, mengalir di telinga Maria Karlsson, asistennya. Tangan besar pria itu menarik pinggang wanita tersebut dan mencium bibirnya dengan rakus. Maria terkekeh kecil saat blouse kerjanya ditarik kasar hingga kancingnya beterbangan. “Sabarlah, Thomas. Apa kau yakin aman melakukannya di sini?” godanya, tatapannya licik. Thomas menghirup napas pendek, tak peduli. “Ini rumahku. Tidak ada yang berani menyentuhku. Di mana pun kita bercinta, tak masalah.” Blouse Maria jatuh ke lantai. Thomas membenamkan wajahnya ke dada wanita itu. Maria melirik foto pernikahan Thomas dan Briana yang tergantung di dinding kamar, senyum tipis menghiasi bibirnya. “Bagaimana kalau istrimu tahu? Ini kamar kalian, bukan?” Thomas tak menjawab, terlalu tenggelam dalam nafsu. Di balik pintu kamar yang tidak tertutup rapat, sepasang mata kecil menyaksikan semuanya. Shenina, putri 10 tahun Thomas dan Briana, berdiri membeku. Air matanya mengalir tanpa suara. Ini bukan pertama kalinya ia melihat Maria di rumah mereka, tapi tetap pertama kalinya ia menyaksikan mereka melakukannya di kamar utama, seolah ibu dan dirinya tidak pernah ada. Tanpa menoleh lagi, Shenina berlari ke ruang kerja ibunya, sambil menahan isak yang tak bisa dihentikannya. “Ibu… Ayah dengan…” Kata-katanya tercekat. Ia ingin bicara, ingin mengeluarkan semuanya, tapi lidahnya terasa terlalu berat untuk bergerak. Briana, ibu Shenina hanya tersenyum, tapi senyum yang tak seperti dulu, yang tampak kuat. Tangannya yang dulu selalu kuat menggenggam Shenina saat ia takut, kini hanya memutar roda pelan agar kursi itu sedikit mendekatinya. “Lupakan apa yang kamu lihat. Maafkan Ibu tidak bisa melindungimu,” ucap Briana lirih. Ucapan itu menusuk lebih keras daripada apapun yang Shenina lihat sebulan lalu, saat wanita itu mendorong Ibu dari tangga rumah. Shenina masih ingat suara tubuh Ibu membentur lantai, jeritan Ibu, dan bagaimana semua orang pura-pura tidak mendengar. Sejak hari itu, kaki Briana tak bisa bergerak lagi. Sejak hari itu juga, rumah mereka berubah menjadi tempat asing. “Ibu… wanita itu dan Ayah…” Shenina berusaha bersuara, tapi suaranya bergetar. Ia ingin marah, ingin berteriak, tapi begitu melihat tatapan pasrah di wajah Ibunya, semuanya terasa keliru. “Ibu, kita harus mengusir mereka dari rumah ini!” seru Senina lagi dengan napas memburu. “Ini rumah Ibu! Rumah dari Kakek! Bukan rumah mereka!” Shenina tahu asal semua harta ini. Ia tahu seharusnya siapa yang berkuasa di sini. Mereka tidak berhak memperlakukan ibunya seperti ini. Ayahnya seharusnya melindungi ibunya, bukan membawa wanita lain dan membiarkannya menguasai rumah mereka. Shenina menatap wajah Ibu, berharap melihat kekuatan lama itu kembali. Tapi Ibu hanya terdiam. “Shenina, sudahlah lupakan saja semua ini,” kata Briana akhirnya. Belum sempat Shenina kembali bersuara, tiba-tiba— BRAK! Suara pintu yang dibanting membuat jantung Shenina seakan melompat keluar dari dada. Ia refleks mundur selangkah. Maria berdiri di ambang pintu dengan gaun tidur milik ibunya yang dulu hanya dipakai saat tidur dengan ayahnya. Sekarang berada di tubuh wanita itu. “Kau… buatkan aku makanan,” kata Maria dingin, tangannya menyilang di dada, sorot matanya hanya berisi penghinaan. “Aku bukan pelayan…” bisik Shenina, meski suaranya terdengar gemetar. Ia ingin mempertahankan harga dirinya, setidaknya itu yang tersisa. Namun, kalimat itu belum selesai sepenuhnya sebelum ekspresi Maria berubah menjadi wajah beringas. “Kau berani menolak perintahku? Apa kau ingin melihat nasibmu jadi sama seperti ibumu yang sudah lumpuh itu?!” teriaknya. Shenina berkeringat dingin. Tenggorokannya mengering. Ia ingin bicara lagi, mau membalas, mau bilang bahwa ini rumah Ibu, bukan rumah Maria, tapi sebelum mulutnya terbuka… Maria melesat ke arahnya. Tangan Maria meraih rambutnya dan menariknya kasar. “ARGH!” Shenina menjerit, tubuhnya terhempas ke depan saat rambutnya dijambak kuat-kuat. “Anak tak berguna! Cuma bisa menangis! Kau pikir siapa kau di rumah ini?!” Maria menarik rambutnya lebih keras, membuat kulit kepala Shenina seperti terbakar. “Kau pikir kau berharga?! Tidak ada yang menginginkanmu!” “Ibu… Ibu…” Shenina meraih udara, menangis keras tanpa bisa melawan. “Berhenti Maria! Lepaskan anakku!” Briana berteriak, mendorong roda kursinya secepat mungkin meski tangannya gemetar. Tapi begitu kursi roda itu mendekat, Maria menatapnya dengan jijik dan mendorong kursi itu dengan kakinya hingga terguling. Briana jatuh ke lantai dengan suara keras, tubuhnya menabrak marmer dingin. “Ibu!!” jerit Shenina sambil merangkak dengan rambut masih setengah berada dalam genggaman Maria. Namun Maria tidak berhenti. Ia mendekati Briana, lalu menendang kaki Briana seperti menendang benda mati. “Lihat dirimu! Istri sah apa ini? Wanita cacat yang sudah tidak ada gunanya!” teriak Maria sambil menendang lagi. “Kalau kau mau tetap hidup di sini, kau harus tahu tempatmu!” “Berhenti!!” Shenina menubruk Maria dari belakang, bukan karena berani, tetapi karena rasa takut kehilangan ibunya jauh lebih besar dari rasa takut pada Maria. Maria terdorong sedikit, namun dengan cepat membalik dan menampar Shenina dengan keras. Pipi Shenina panas, penglihatannya buram oleh air mata. Tapi ia tetap merangkak ke arah ibunya, memeluk tubuh Briana yang gemetar, mencoba menjadi perisai tipis untuk wanita yang selama ini selalu melindunginya. “Kenapa ribut sekali di sini?!” Shenina langsung menoleh dengan mata penuh harapan. “Ayah… dia mendorong Ibu dan menjambakku. Ayah, tolong…” Tapi Thomas bahkan tidak melihat Briana yang tergeletak di lantai, ia hanya menatap Maria. “Dia membentakku lebih dulu,” ucap Maria manja. “Aku cuma minta dia membuat makanan.” Air harapan di dada Shenina langsung retak. “Kau melawan Maria?” suara Thomas merendah penuh ancaman. “Ayah, bukan begitu—” PLAK! Tamparan itu mengenai pipinya begitu cepat hingga ia limbung. “Kalau Maria suruh, kamu kerjakan! Jangan membantah! Dia yang urus rumah ini sekarang!” “Ayah… ini rumah Ibu…” bisik Shenina, mencoba bertahan. “Kalau bukan karena ibumu nggak becus, aku nggak perlu cari wanita lain!” bentak Thomas. “Cepat bangunkan ibumu, minta maaf pada Maria, lalu buatkan makanan!” Shenina membeku, sementara Maria tersenyum puas. Shenina menunduk perlahan, menahan isak. Ia tahu bila membantah, Ibu yang akan jadi sasaran. Akhirnya, ia hanya bisa menuruti semua perintah itu. ___ Shenina bangun di kamarnya sendirian. Ibunya sudah tidak ada di sampingnya. Dengan kepala berat dan mata bengkak, ia menuju kamar untuk bersiap sekolah. Pintu kamar mandi terbuka sedikit, ia mendorongnya pelan. “Ibu…?” Tubuhnya langsung gemetar. Briana terbaring di dalam bathtub. Air di dalamnya merah gelap. Lengan ibunya terluka, wajahnya pucat dan tenang dengan cara yang membuat Shenina langsung berteriak. “Ibu!!” Shenina jatuh berlutut di lantai. Air matanya turun tanpa suara. Pemakaman berlangsung cepat tanpa ada pelukan. Tidak ada yang bertanya pada Shenina apakah ia baik-baik saja karena kakek dan nenek dari ibunya telah tiada, sementara ibunya adalah anak tunggal. Setelah semua orang pergi, Thomas berdiri dengan wajah datar. Maria melempar koper ke arah kaki Shenina. “Kau tidak punya tempat di sini lagi. Ibumu sudah mati, kau tidak pantas lagi di sini.” Shenina menatap Thomas, berharap sedikit saja pembelaan. Tapi pria itu hanya menghela napas kesal. “Jangan membantah dan keluar dari rumah ini.” Tidak ada belas kasihan. Tidak ada tempat untuk menangis. Dengan tangan gemetar, Shenina mengambil koper itu dan keluar. Pintu dibanting keras tepat di belakangnya. Shenina berdiri di halaman, sendirian, membawa seluruh hidupnya dalam satu koper paling lusuh di rumahnya. Hari itu, Shenina menangis untuk terakhir kalinya. Dalam hatinya ia berbisik, “Suatu hari, aku akan kembali. Dan mereka akan berlutut minta maaf.”Eren tidak membalas pelukan itu. Hatinya terlalu sakit dengan semua fakta ini, tapi kehadiran Shenina selalu membuatnya kembali luluh. Meski begitu, hati Eren yang menghangat tiba-tiba menjadi dingin.Shenina melepas pelukannya, ia bisa merasakan hawa dingin itu. Shenina mundur beberapa langkah. Ia bahkan tak berani menatap wajah Eren.“Maaf, Eren,” ucap Shenina lirih, menyadari beberapa hal.Ia langsung bergegas hendak pergi. Lagipula jika terus berada di sini, hati nuraninya bisa saja berubah menjadi iba. Jujur saja, Shenina sedikit sulit untuk mengontrol perasaannya. Eren adalah pria baik, tapi kehancuran Eren juga adalah kehancuran Maria yang sangat diinginkan oleh Shenina.Ketika langkah Shenina mulai menjauh, tiba-tiba tubuhnya melayang ke pelukan Eren. Pria itu menariknya lembut lalu memeluk Shenina begitu erat. Eren masih diam seribu bahasa, tapi Shenina bisa merasakan bahunya mulai menghangat. Itu adalah air mata yang menetes dari wajah Eren.Shenina terdiam. Dia seharusnya
Wajah Shenina nyaris tak bisa menyembunyikan kepuasannya.Dari kejauhan, matanya beberapa kali melirik Maria yang berdiri kaku di antara para tamu. Wanita itu tampak semakin masam, senyumnya kaku, sorot matanya penuh tekanan. Semakin banyak tamu berdatangan, semakin jelas bahwa Maria kehilangan kendali atas pesta Leon dan Shenina. Dan yang paling menyiksa, Maria tidak bisa berbuat apa-apa.Saat Leon tengah sibuk berbincang dengan para relasi bisnis dan para pria penting yang sengaja ia undang untuk menegaskan dominasinya, Shenina melepaskan genggaman lengan suaminya.Ia melangkah pelan menuju arah Maria.Senyum tetap terukir di bibir Shenina.Senyum itu justru membuat Maria ingin merobek wajah Shenina.Langkah Shenina terhenti sejenak ketika melihat beberapa wanita yang seumuran dengan Maria, berbalut perhiasan mencolok dan gaun mahal, mendekati Maria. Tawa mereka dibuat-buat. Gerak-gerik mereka terlalu terlatih.Shenina mengamati dari kejauhan, matanya menyipit tipis. “Para nenek sos
“Dan orang itu adalah ibumu, Leon. Maria Karlsson.”Shenina baru tersadar ketika sepasang lengan kuat memeluknya tiba-tiba. “Leon?”Shenina sedikit terkejut. Kalimat itu beruntungnya hanya bergaung di kepalanya. Tapi pelukan ini terasa nyata. Ia bisa merasakan kehangatan yang tulus. “Shenina,” panggil Leon lirih.Pria itu merasakan sesuatu yang perih, sesuatu yang asing, setelah mendengar penderitaan masa kecil Shenina. Ia memeluk istrinya begitu ingin melindungi, meski egonya menolak mengakui bahwa cerita itu benar-benar melukai hatinya.“Aku janji,” ucap Leon tiba-tiba. “Mulai sekarang, kau akan merasakan kebahagiaan.”Nada suaranya tetap datar, namun Shenina mendengar ketulusan yang tak biasa di sana. Meski begitu, Shenina tidak goyah. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan datar.“Kebahagiaanku sudah mati sejak dulu, Leon,” batinnya dingin. “Kini hidupku hanya untuk menghancurkan keluarga kalian.”Ia justru membalas pelukan itu lebih erat, seolah perempuan yang sangat m
“Kita tidak akan ke rumah?” tanya Shenina saat mobil yang seharusnya berbelok ke kanan justru melaju lurus.Leon menyetir dengan kecepatan sedang bahkan terlalu pelan untuk ukuran dirinya. Tidak ada lagi raungan mesin dan desakan emosi. Jalanan terasa stabil, cukup membuat napas Shenina kembali teratur, meski sisa trauma masih mengendap di dadanya.“Tidak,” jawab Leon singkat. “Kita ke rumah baru. Kau perlu menenangkan diri dulu.”Kata-kata itu menusuk telinga Shenina. Rumah baru dan ketenangan bukan bagian dari rencananya. Shenina tidak memerlukan semua itu. Justru yang ia tunggu adalah bagian dari menjadi parasit di keluarga Karlsson.Shenina menatap lurus ke depan, lalu suaranya turun menjadi dingin.“Aku kira setelah menikah, aku akan langsung mendapat pengakuan sebagai bagian keluarga Karlsson. Rupanya aku terlalu berharap.”Ia menoleh, menampilkan raut sedih yang nyaris sempurna. Namun Leon tetap menatap jalanan, ekspresinya tak berubah.“Kita akan datang malam ini,” balas Leon
Shenina tercekat. Kata-kata seolah lenyap dari tenggorokannya. Seharusnya pertemuan ini membuat Shenina senang atau setidaknya puas. Namun wajah Eren yang pucat dan terluka justru membuat dadanya mengencang tanpa alasan yang ia suka. Eren melangkah mendekat dengan langkah goyah, seolah setiap jarak yang ia tempuh adalah pertaruhan antara harapan dan kenyataan. Dalam benaknya, ia masih berharap ini semua hanya mimpi buruk. “Shenina…” panggil Eren lagi, lirih dan serak. “Eren,” balas Shenina pelan. Satu detik yang hening sebelum akhirnya pecah. Leon menatap Eren dengan sorot tajam yang langsung membeku. “Eren!” sentaknya. Terlalu kaget dan tidak percaya jika adiknya bisa mengenal Shenina. Eren mengangkat wajahnya. Tatapannya yang penuh luka bercampur amarah, kini bertabrakan dengan mata kakaknya. “Leon.” Leon beralih menatap Shenina, dingin, menuntut jawaban. “Kau mengenalnya?” Namun Eren lebih dulu berbicara, emosinya tumpah tanpa kendali. “Tentu saja dia menge
Leon tertidur begitu nyenyak sepanjang perjalanan. Nafasnya teratur, wajahnya terlihat begitu lelah. Shenina menatapnya datar dari samping, tanpa emosi yang jelas terbaca.“Sejak dulu...”Meski kalimat itu keluar dari bibir Leon berjam-jam yang lalu, gema katanya masih berputar-putar di kepala Shenina, menolak pergi. Leon mengaku mencintainya sejak dulu, namun saat Shenina mencoba bertanya lebih jauh, pria itu memilih diam seolah kalimat itu tidak pernah diucapkan.“Ini tidak perlu menjadi pikiran,” gumam Shenina, berulang kali menenangkan dirinya sendiri.Ia hanya perlu fokus pada langkah selanjutnya.Shenina menyandarkan punggung, senyum miring terbit di sudut bibirnya saat membayangkan betapa kacaunya keluarga Karlsson setelah mereka sampai. Retakan yang selama ini ia ciptakan akan segera berubah menjadi kehancuran nyata.“Aku jadi sudah tidak sabar,” bisiknya lirih.Pandangan Shenina kembali jatuh pada Leon. Ia mendekat perlahan, nyaris tanpa suara, lalu mengangkat tangan dan memb







