MasukDetik yang ditunggu, tiba saatnya penerbangan perdana Kapten Mahesa sebagai pilot pribadi seorang artis kenamaan, Emma Laurent. Sebelum lepas landas sang pilot memberikan informasi keselamatan pada para crew dan penumpang di dalam pesawat: "Selamat sore para penumpang Super Midsize Jets Dassault Falcon 50. Ini adalah kapten Anda yang berbicara. Nama saya Mahesa Prawira, dan saya dengan senang hati menyambut Anda di penerbangan kami menuju Paris, Kota Cahaya. Waktu penerbangan kita hari ini diperkirakan sekitar 11 hingga 12 jam. Saya akan memberikan informasi terbaru selama penerbangan mengenai perkiraan waktu tiba dan cuaca selama perjalanan. Silakan duduk, rileks, dan nikmati penerbangan Anda ke Kota Paris."
Senyum Emma mengembang mendengar suara pilot pribadinya, kharismatik, tenang, dan menyejukan hati setiap orang yang mendengar, “Penantianku selama setahun sebagai wanita single akhirnya berbuah manis,” gumamnya sambil duduk memandang keluar jendela, tampak sunset mulai terbentuk di langit sore yang cerah.
Demikian halnya Rose yang duduk di bangku belakang paling pojok, suara Kapten Mahes yang baru saja terdengar menggema di hatinya. Kehangatan yang ia rasakan saat berdekatan dengan pilot tampan itu, tidak henti melingkupi dirinya. “Tak pernah aku merasakan bisa sebahagia ini dengan seorang lelaki. Oh, Kapten Mahes… kamu sudah mencuri seluruh hati dan pikiranku,” batin Rose sambil senyum-senyum sendiri layaknya orang yang sedang merindukan sang pujaan hati.
Robert yang sedang berdiri bersama seorang pramugari satu-satunya di pesawat pribadi itu memperhatikan gelagat majikan dan putrinya hanya geleng-geleng kepala, “Kamu tahu kenapa ibu dan anak itu jadi senyum-senyum sendiri seperti itu?” tanya Robert setengah berbisik pada wanita berseragam batik di sampingnya itu.
“Oh…, mungkin mereka senang akhirnya bisa berangkat ke Paris setelah delay tiga jam,” ucap si pramugari bernama Ritha itu ikut memelankan suaranya.
“Salah, bukan itu. Aku yakin mereka jadi begitu gara-gara barusan mendengar suara pilot baru itu. Nanti kamu tahu sendiri kalau kedua boss kita itu sedang bersaing untuk mendapatkan hati Kapten Mahes. Percaya pada kata-kataku,” jelas Robert coba meyakinkan Ritha.
“Oh iya sih… apalagi kapten pilotnya muda dan ganteng, tidak heran kalau boss kita menyukainya.”
“Nah, sampai di sini kau paham kan, Ritha?”
Ritha mengangguk-angguk mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi antara ibu dan anak yang kerap berselisih paham itu.
Pesawat yang diawaki Mahes berhasil terbang dengan mulus, kemampuannya menjadi pilot pesawat komersil selama bertahun-tahun memang tidak diragukan lagi. Ratusan jam sudah ditempuhnya menjadikan dirinya termasuk salah satu pilot muda yang paling diinginkan. Tapi, malang memang tak berbau, semua kehebatan dirinya dalam sekejap diketepikan semua orang hanya gara-gara skandal video syur itu. Dunia memang sedang tak adil pada Mahes, tapi ternyata kehadiran keluarga Laurent tidak ubahnya seperti dewa penolong yang ingin mengembalikan keyakinan dirinya sebagai seorang pilot andal.
“Dari Amsterdam, kini aku akan ke Paris. Aku rasa ini sebagai hiburan atas masalah yang sedang aku hadapi,” batin Mahes sedang duduk santai di dalam kokpit sambil menikmati keindahan angkasa yang warnanya perlahan berubah seperti kulit jeruk dihiasi warna keemasan.
Di dalam kabin, Rose sedang memainkan gawainya, ia memulai pencarian pada media sosial X. Penasaran pada video syur yang diviralkan sebagai “Sang Pilot-XXX”.
“Oh ini…,” gumam Rose dengan antusias saat menemukan video berdurasi 35 detik itu. Ia segera memakai earphone di telinganya. Detik berikutnya setelah video itu diputar, mulut Rose membentuk ‘O’ menyaksikan keperkasaan pemeran lelaki pada video syur yang dikatakan sebagai Mahes itu.
“Huhh…!” Rose mengembuskan napasnya yang terasa berat setelah dua kali memutar video itu. Pikirannya mulai melayang-layang membayangkan akan sangat menyenangkan kalau dirinya bisa diperlakukan sama oleh Kapten Mahes seperti yang dilakukannya pada wanita dalam video itu. “Luar dalam kau memang sangat sempurna, Pak Mahes…” batin Rose mulai merasakan dirinya dijerat oleh hasrat ingin memiliki Mahes seutuhnya.
Sementara di depan Rose, Emma Laurent rupanya melakukan hal yang sama, sudah sering kali ia memutar video syur Mahesa, ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya pada pilot pribadinya itu.
Ketika ketinggian pesawat sudah di atas 30 ribu kaki, pesawat dalam kondisi stabil namun tetap terus terbang ke depan, waktu yang tepat untuk pilot dan kopilot bisa bersantai, “Pak Anton silakan ke kabin lebih dulu kalau mau minum atau makan, kalau saya masih kenyang, tadi sudah makan di bandara,” ucap Mahes mempersilakan rekan kerja yang duduk di sampingnya itu.
“Baik Pak Mahes,” jawab Anton lalu keluar dari kokpit meninggalkan Mahes sendirian.
Kini di dalam kokpit suasana menjadi hening, pesawat tetap bergerak dengan tenang. Mahes yang memiliki profesionalisme tinggi dalam pekerjaan, fokus pada panel instrumen. Ia telah membangun kembali dinding baja di sekeliling dirinya. Namun, tidak ia pungkiri di belakang sana, seolah ia bisa merasakan tatapan Emma Laurent yang mengawasi dari balik tirai kabin yang sedikit terbuka, menikmati ketegangan yang ia ciptakan. Emma seolah menunggu momen yang tepat untuk menyerangnya…
"Mahes...!"
Benar saja, apa yang baru Mahes pikirkan terjadi, tiba-tiba pintu kokpit terbuka, suara penuh kelembutan itu pun terdengar memecah keheningan...
Mahes melirik jam dinding di kamar hotel. Sudah hampir tengah malam, namun Rose belum juga kembali. Sampai detik ini Robert pun belum mendapat kabar dari Pierre. Perasaan tidak tenang itu kini berubah menjadi debar jantung yang memburu. Di luar, lampu-lampu di Kota Paris mulai meredup, membuat keindahan Paris terasa kelam di mata Mahes."Tidak bisa. Aku tidak bisa hanya diam menunggu di sini," gumam Mahes sembari menyambar jaketnya.Baru saja ia hendak melangkah ke arah balkon, Robert melihatnya dengan wajah yang jauh lebih tegang dari sebelumnya. Ponselnya pun masih menempel di telinga."Pak Mahes! Pierre akhirnya mengangkat teleponnya, tapi..." Robert menggantung kalimatnya, napasnya memburu."Tapi apa, Pak Robert? Di mana mereka?!" seru Mahes tak sabar."Suaranya sangat gaduh, Pak. Sepertinya mereka tidak sedang berada di diskotik. Pierre hanya berteriak 'Grands Boulevards' dan 'help' sebelum sambungannya terputus. Aku mendengar suara pecahan kaca dan teriakan Nona Rose!"Darah M
Sesampainya di hotel, Anton dan Robert memilin untuk bersantai di balkon kamar hotel melihat pemandangan kota Paris, sambil sesekali menyeruput kopi panas, sebaliknya Mahes di dalam kamar terlihat tidak tenang memikirkan keadaan Nona Rose.“Mengapa aku merisaukan Nona Rose keluar dengan Pierre? Aku percaya dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab, tidak akan berbuat macam-macam pada Nona Rose.” Mahes coba menenangkan diri.Namun, beberapa saat kemudian, Mahes tetap merasa tidak tenang, “Ck…, kenapa tiba-tiba aku sangat mencemaskannya? Apa aku merasa sedang tersaingi dengan Pierre? “ Mahes bicara sendiri dengan dirinya. Mahes berusaha mengusir perasaan yang bukan-bukan di dalam dirinya, “Aku tidak sedang cemburu!” ia meyakinkan dirinya.“Apa aku hubungi Nona Rose saja, sekadar untuk mengetahui keadaannya?” pikir Mahes, lalu ia coba menghubungi nomor HP Rose, tapi tidak aktif. Kemudian ia berpikir untuk menelpon Pierre saja, tapi tak memiliki nomor ponselnya. Mahes tambah termenung d
Rose menerima ajakan Pierre.“Where’re we going, Pierre?” “How about going to a nightclub? I have a great recommendation for a nightclub in this city.”“Night club? Sounds interesting.”Pierre ingin mengajak Rose pergi ke sebuah klub malam di pusat kota. Kebetulan sudah cukup lama ia tak pergi ke tempat seperti itu. Beberapa waktu terakhir, hidupnya memang hanya sibuk untuk mengurusi keperluan keluarga, terutama mendampingi sang mama setelah papanya pergi untuk selamanya. Sepertinya, malam ini ia berharap mendapat pengalaman menarik dan menyenangkan dirinya dengan masuk ke dalam tempat hiburan di Paris.“Miss Rose, I have to go home for a while to change clothes. This hotel uniform doesn't suit me when going to the night club.”“Where your home, Pierre?”“Just around here.”Rose pun setuju untuk pergi ke rumah Pierre, sekaligus penasaran seperti apa rumah keluarga pemilik hotel bintang lima itu?Setelah beberapa menit melaju di tengah kota Paris, akhirnya Peugeot Traveller yang dikem
“Miss Rose, how about after eat, I take you to see the beauty of the Seine River at night?” Pierre mengajak Nona Rose untuk melihat-lihat bagian luar studio TF1 yang berdiri megah di samping Sungai Seine. Rose tampak sedang mempertimbangkannya.“Iya, Nona Rose, pergilah melihat pemandangan di luar sana bersama Pierre, biar kami yang menunggu Nyonya Emma di sini,” Robert ikut menyarankan karena melihat suasana hati anak majikannya itu sedang tidak baik. “Okay, Pierre, let's go out…”“Yes, Miss.”Rose bangkit dari tempat duduknya di ruang makan itu, lalu Pierre mengikutinya dari belakang. Namun, setelah di luar studio keduanya berjalan beriringan menuju ke sisi kanan gedung, dari tempat itu tampak pemandangan Sungai Seine yang menawarkan suasana romantis dan menakjubkan dengan ikon Paris seperti Menara Eiffel yang berkilauan di kejauhan. Di atasnya pelayaran malam menyuguhkan pemandangan indah Katedral Notre Dame, Museum Louvre, dan jembatan bersejarah yang menyala di tepian sungai…“M
“Is the news that you will be acting in a film in France already known to your fans?” Emma akhirnya mendapat giliran diwawancarai oleh presenter setelah program talk show itu dimulai.“Yes, of course, everyone in my country supports me playing in this film.” Emma mengiyakan semua orang mendukungnya go internasional.“So, what is your biggest hope for this film?”“This is my chance to show my acting skills, which I have gained over 30 years in this industry. I hope everyone in the world will accept this film, especially my role in this film, as an independent woman, I hope it can have a positive impact for everyone. Thank you...”Semua orang bertepuk tangan mendengar ucapan Emma yang jelas dan penuh percaya diri. Tidak bisa disangkal pada malam itu Emma menjadi bintang yang paling bersinar dari penampilan dan ucapannya selama wawancara berlangsung.Detik itu tanpa terasa Rose merasa terharu sampai menitiskan air mata, ia tidak bisa memungkiri memiliki seorang mama yang begitu hebat, ter
Hari mulai gelap saat mobil yang dikendarai Pierre mulai bergerak menuju pinggiran kota Paris. Pada musim dingin, matahari terbenam lebih cepat seawal jam 5 sore. Perjalanan yang akan mereka tempuh selama 20 menit menuju menara studio TF1, tempat pertemuan dengan crew film yang akan dihadiri Emma.Selama perjalanan, Rose tampak menunjukkan keakraban berbicara dengan Pierre, rasa keingintahuannya mengenai berbagai hal di kota Paris. Sedangkan di kursi penumpang bagian belakang hanya kesunyian yang terlihat. Masing-masing sibuk dengan gawai di tangannya, hanya sesekali Emma terdengar bertanya sesuatu pada Robert, lalu dijawabnya dengan singkat dan anggukan kepala. Demikian pula Mahes, memilih diam, baru bicara jika Emma bertanya padanya. “Sorry, miss, what does the Indonesian say for ‘we have arrived’?” tanya Pierre pada Rose ketika mobil yang ia kendarai sudah sampai di depan menara yang berbentuk silinder berwarna kebiruan. “Kita sudah sampai,” jelas Rose.Pierre pun mengulangi ucapa







