LOGIN“Selamat malam, Nyonya Emma…” sapa Mahes saat menyadari majikannya masuk ke dalam kokpit. Seketika di dalam ruangan berukuran sederhana itu tercium aroma parfum yang sulit digambarkan tapi mampu melenakan orang yang menciumnya.
“Malam juga Mahes... bagaimana penerbangan kita sejauh ini, aman-aman saja, kan?” balas Emma sambil berdiri di sisi kanan Mahes yang sedang duduk di kursi kendalinya.
“Siap, Nyonya, semua lancar dan terkendali,” jelas Mahes untuk meyakinkan majikannya.
Emma kemudian mengamati panel dan tombol-tombol yang berada di depan Mahes, “Dari dulu aku tuh kagum dengan pekerjaan sebagai pilot, bisa mengendalikan dan mengontrol tombol-tombol kecil dan rumit seperti ini,” ungkapnya.
“Pilot memang salah satu pekerjaan paling menantang, Nyonya, diperlukan komitmen yang kuat dalam menjalani profesinya,” ucap Mahes menimpali.
“Jujur, setiap ketemu pilot itu aku merasa kepo, makan apa sih mereka kok sampai bisa cerdas dan hebat begitu?” ujar Emma membuat Mahes tertawa kecil.
“Bisa aja, Nyonya,” ujar Mahes.
“Tapi, maaf ya Mahes… aku juga penasaran loh soal urusan ranjang seorang pilot. Pasti hebat banget ya mainnya?”
Mahes terpegun mendengar obrolan Emma tiba-tiba berubah menjadi personal.
“Makanya beruntunglah wanita-wanita yang punya pasangan seorang pilot. Termasuk istri kamu, siapa itu namanya... V-vero, ya?” tegas Emma.
“I-iya, Veronica, Nyonya.”
“Sepertinya hubungan kalian sedang tidak baik ya?”
Pertanyaan Emma membuat Mahes mendadak kelu untuk berkata-kata.
“Biasalah itu, Mahes, setiap hubungan pasti ada naik turunnya.”
“I-iya, Nyonya…”
Detik berikutnya Emma sedikit membungkukan badan, “Itu titik apa yang berwarna biru, Mahes?” tanya Emma sambil menunjukkan jarinya ke arah layar di depan Mahes.
“Yang mana, Nyonya?”
“Itu di bagian bawah,” tunjuk Emma lagi, hingga disengaja atau tidak tangannya menyentuh punggung telapak tangan Mahes.
Waktu di dalam kokpit seketika terhenti, Mahes tidak langsung menolak sentuhan itu, ia terpaku saat melihat jari-jari lembut itu menyentuh kulitnya dan kegagalannya menarik diri adalah pengakuan pertama bahwa batasnya telah goyah.
“M-maaf, Nyonya… tadi apa yang Nyonya tanyakan?” tanya Mahes coba mengalihkan keadaan.
“Oh, itu… itu tombol biru itu, Mahes…” ucap Emma dengan suara sedikit bergetar.
“Titik biru itu menandakan keberadaan laut, danau, atau sungai di bawah sana, Nyonya. Kalau titik berwarna biru keputihan itu menunjukkan area perairan yang dangkal,” jelas Mahes memberitahu Emma yang kembali berdiri tegak di sampingnya.
“Hmm, kalau Nyonya ingin duduk, silakan bisa duduk di kursi kopilot. Mungkin Nyonya capek berdiri terus,” ucap Mahesa menunjuk kursi di kanannya. Detik itu ia mulai ada perasaan canggung berdekatan dengan majikannya setelah insiden sentuhan yang telah terjadi. “Tapi, jangan sentuh apapun ya, Nyonya,” tambahnya.
“Nggak usah, Mahes, aku takut nggak sengaja salah pegang tombol yang ada. Lebih nyaman berdiri di samping Pak Pilot yang videonya sedang viral… hehehe…”
Ucapan Emma membuang Mahes kembali terpegun, sekarang ia terang-terangan mengarahkan pembicaraannya pada hal personal kembali.
“Nyonya percaya kalau video itu sebenarnya hanya editan?” Mahes coba menjelaskan.
“Gimana mau percaya ya, Mahes, antara video dan aslinya aku lihat sama persis begitu.”
Ujung-ujungnya Mahes terpaksa akur dengan ucapan Emma, sama seperti halnya ia menjelaskan pada istrinya, seolah mustahil bisa dipercaya. Di sisi lain, ia menyadari Emma mau menerimanya bekerja sebagai pilot pribadi karena melihat dirinya dalam video syur itu, kalau Mahes harus mati-matian membantahnya, bisa-bisa ia akan kehilangan pekerjaan.
Mengakui apa yang tidak kita lakukan adalah pahit, tapi terpaksa harus kita telan agar bisa bertahan hidup, seperti itu yang Mahes rasakan saat ini.
“Kecuali, aku sudah melihat sendiri secara langsung benda yang kamu tusukkan ke tubuh wanita dalam video itu… hehehe…”
Ucapan Emma yang sensual dan cenderung vulgar membuat Mahes kembali tertegun, jarak antara dirinya dan Emma benar-benar telah keluar dari batas-batas profesionalisme. Ia ingin menghindar dari keadaan tidak nyaman itu, tapi kuku-kuku Emma seperti mencengkeram tubuhnya, tak ada kekuatan untuk meronta.
“Kalau boleh tahu di mana kejadian dalam video itu, Mahes? di hotel kah, atau di kantor begitu?”
Alih-alih menolak menjawab sesuatu yang sama sekali tidak ia lakukan, “Aku lupa pastinya, Nyonya,” jawab Mahes seolah mengakui kebenaran dirinya dalam video itu.
“Saking seringnya, sampai lupa ya?” tuduhan Emma membuat Mahes tidak ubahnya seperti lelaki bejat, hingga ia tak mampu berkata-kata. Kondisi emosionalnya makin tidak stabil.
Detik berikutnya, Mahes merasakan sentuhan halus di bahunya, “Mahes…” suara Emma terdengar merayap lembut dan intim, "Apa kamu pernah melakukan seperti video yang tersebar itu, di ketinggian 36.000 kaki?” Emma mengajukan pertanyaan yang langsung menusuk ke inti profesionalismenya.
Kokpit mendadak sunyi, hanya suara mesin yang berdengung stabil. Mahes terdiam, menyadari bahwa ia telah melewati batas profesional yang selama ini ia jaga mati-matian.
Emma menunggu jawaban, membuat Mahes berada di persimpangan antara kebutuhan fisiknya dan kehancuran moralnya. Mesin jet beroperasi dengan presisi, namun jantungnya berdetak tidak stabil. Ia tahu, satu langkah salah di sini bisa menghancurkannya untuk selamanya, namun godaan yang ia rasakan di ketinggian ini tak pernah ia alami.
Menyadari Mahes bergeming, tangan Emma bergerak, sentuhan itu kini tidak lagi segan pada punggungnya, tetapi menjalar pada bagian tubuhnya yang lain.
Kontak fisik memicu konflik batin dalam diri Mahes yang tak lagi bisa ia sembunyikan, tubuhnya merespons secara naluriah pada dominasi dan godaan Emma.
Saat ketegangan di dalam kokpit mencapai titik didih, saat sentuhan Emma mulai berpindah pada area sensitif dan Mahes sudah berada pada ambang menyerah…
Klik!
Bunyi pintu kokpit dibuka tiba-tiba memecah keintiman yang sedang terjadi.
Tampak Rose Laurent sudah berdiri di ambang pintu. Tatapannya dingin, berani, dan memancarkan kesadaran penuh akan apa yang baru saja ia saksikan…
Penerbangan telah berlangsung selama 6 jam, tanpa terasa hari sudah mendekati tengah malam. Di dalam kokpit, kopilot Anton mulai mengantuk, beberapa kali dia terdengar menguap. “Kalau sudah ngantuk, istirahat dulu saja, Pak,” ucap Mahes yang sedang duduk dengan tenang dan nyaman di kursinya tanpa ada sembarang gangguan.“Saya ke belakang sebentar, Pak, mau ambil kopi, sekalian ke toilet,” jawab Anton, kemudian ia beranjak dari kursinya di sebelah kanan Mahes.Saat Anton masuk dalam kabin, rupanya lampu di ruang itu sudah redup, tampak Robert sedang duduk sambil bersandar di kursinya dengan mata terpejam, Ritha terlihat masih terjaga di tempat duduknya, ia dengan santai sedang membuka-buka gawai di tangannya, “Iya ada apa, Pak Anton?” tanyanya saat meyadari lelaki itu datang mendekatinya.“Tolong buatkan aku kopi ya,” jawab Anton.“Baik Pak, apalagi? Mungkin Pak Anton mau camilan atau mau aku buatkan mie rebus?”“Oh iya, camilan boleh tuh. Aku mau ke toilet dulu ya…” tambah Anton, lalu
Emma menatap nyalang ke arah Rose, saat melihat putrinya itu sengaja mempertontonkan kemesraan dengan menggandeng tangan Mahes di hadapannya. Mahes yang menyadari sedang diperhatikan oleh Emma merasakan dalam situasi tidak nyaman. “Ayo Pak Mahes mau makan apa?” tanya Rose saat duduk di depan meja makan bersama Mahes. Mahes menoleh ke arah Ritha yang berdiri di dekatnya, “Kalau Pak Anton tadi makan apa ya?” tanyanya memastikan.“Oh, tadi Pak Anton makan pasta, Pa,” jawab Ritha.“Kalau begitu berikan aku makanan selain pasta saja,” jelas Mahes.“Kenapa harus beda dari Pak Anton?” Rose menegasi.“SOP penerbangan seperti itu, Nona. Dalam penerbangan antara Pilot dan Kopilot tidak boleh makan makanan yang sama, untuk menghindari sakit perut atau keracunan pada makanan.”“Oh iya… aku paham.”Rose pun memesan makanan yang sama dengan Mahes, lalu menemani sang pilot makan malam. “Nyonya Emma, mari sekalian makan, Nyonya?” ucap Mahes pada Emma setelah Ritha menyiapkan makanan di atas me
“Mama… apa-apaan sih?” ucap Rose dengan tatapan penuh kecurigaan pada ibunya. Sesaat keduanya saling mengunci pandang, menciptakan segitiga kekuasaan yang kejam di dalam kokpit di ketinggian 36.000 kaki, dan Mahes seolah tengah dikepung oleh daya tarik menarik keduanya, ia menyadari bahaya sejatinya bukan lagi cuaca buruk atau kegagalan mesin, melainkan berada di tengah intrik dua wanita keluarga Laurent yang kini memegang kendali penuh atas nasibnya.“Kenapa, kamu?” balas Emma dengan gerakan sedikit menjauhkan diri dari Mahes.“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa Mamah mengganggu orang yang sedang bekerja?”“Mengganggu? Jangan asal bicara, Rose,” tegas Emma. “Terus kamu mau apa ke sini?” tanyanya.“Aku mau memastikan agar tidak mati konyol karena kelalaian orang yang hanya menuruti keinginan hatinya sendiri, tanpa kenal situasi,” ucap Rose menyindir Emma.Ucapan kedua wanita itu membuat ruangan kokpit terasa menyempit dan menghimpit, hingga Mahes susah bernapas dibuatnya.“Nona Rose
“Selamat malam, Nyonya Emma…” sapa Mahes saat menyadari majikannya masuk ke dalam kokpit. Seketika di dalam ruangan berukuran sederhana itu tercium aroma parfum yang sulit digambarkan tapi mampu melenakan orang yang menciumnya. “Malam juga Mahes... bagaimana penerbangan kita sejauh ini, aman-aman saja, kan?” balas Emma sambil berdiri di sisi kanan Mahes yang sedang duduk di kursi kendalinya. “Siap, Nyonya, semua lancar dan terkendali,” jelas Mahes untuk meyakinkan majikannya.Emma kemudian mengamati panel dan tombol-tombol yang berada di depan Mahes, “Dari dulu aku tuh kagum dengan pekerjaan sebagai pilot, bisa mengendalikan dan mengontrol tombol-tombol kecil dan rumit seperti ini,” ungkapnya.“Pilot memang salah satu pekerjaan paling menantang, Nyonya, diperlukan komitmen yang kuat dalam menjalani profesinya,” ucap Mahes menimpali.“Jujur, setiap ketemu pilot itu aku merasa kepo, makan apa sih mereka kok sampai bisa cerdas dan hebat begitu?” ujar Emma membuat Mahes tertawa kecil.
Detik yang ditunggu, tiba saatnya penerbangan perdana Kapten Mahesa sebagai pilot pribadi seorang artis kenamaan, Emma Laurent. Sebelum lepas landas sang pilot memberikan informasi keselamatan pada para crew dan penumpang di dalam pesawat: "Selamat sore para penumpang Super Midsize Jets Dassault Falcon 50. Ini adalah kapten Anda yang berbicara. Nama saya Mahesa Prawira, dan saya dengan senang hati menyambut Anda di penerbangan kami menuju Paris, Kota Cahaya. Waktu penerbangan kita hari ini diperkirakan sekitar 11 hingga 12 jam. Saya akan memberikan informasi terbaru selama penerbangan mengenai perkiraan waktu tiba dan cuaca selama perjalanan. Silakan duduk, rileks, dan nikmati penerbangan Anda ke Kota Paris." Senyum Emma mengembang mendengar suara pilot pribadinya, kharismatik, tenang, dan menyejukan hati setiap orang yang mendengar, “Penantianku selama setahun sebagai wanita single akhirnya berbuah manis,” gumamnya sambil duduk memandang keluar jendela, tampak sunset mulai terbentu
Mahes sedang berdiri di luar sebuah toko pastry, menunggu Rose yang sedang memilih roti cokelat kesukaannya. Tiba-tiba pandangan Mahes tertuju pada seorang wanita berpakaian pramugari dan seorang lelaki yang berseragam pilot, keduanya tampak berjalan beriringan keluar dari pintu kedatangan, “Veronica dan Aldo?” gumamnya. Tidak ingin melepaskan keduanya begitu saja, Mahes segera mengejar mereka.“Vero…!” panggil Mahes saat mendekat.Wanita bertubuh tinggi dan ramping itu menoleh ke arah Mahes, “Mahes?” ucapnya terkejut mendapati kehadiran Mahes di depannya dengan mengenakan seragam seorang pilot. “Mau apa kamu di sini? Bukannya kamu sudah dipecat dari maskapai Holy Airways? Atau… kamu sedang mengemis pekerjaan dengan seragammu ini?”“Karirmu sudah tamat, Mahes! Tidak akan ada maskapai manapun yang mau menerimamu, gara-gara video mesummu itu. Kasihan sekali kamu, Mahes… tidak lama lagi kamu pasti jatuh miskin!” Aldo di samping Veronica angkat bicara penuh hinaan.“Diam kamu, Do! Aku t







