Share

Bab 5. Sesal di Hati Vero

last update Last Updated: 2025-12-30 07:25:13

Mahes sedang berdiri di luar sebuah toko pastry, menunggu Rose yang sedang memilih roti cokelat kesukaannya. Tiba-tiba pandangan Mahes tertuju pada seorang wanita berpakaian pramugari dan seorang lelaki yang berseragam pilot, keduanya tampak berjalan beriringan keluar dari pintu kedatangan, “Veronica dan Aldo?” gumamnya. 

Tidak ingin melepaskan keduanya begitu saja, Mahes segera mengejar mereka.

“Vero…!” panggil Mahes saat mendekat.

Wanita bertubuh tinggi dan ramping itu menoleh ke arah Mahes, “Mahes?” ucapnya terkejut mendapati kehadiran Mahes di depannya dengan mengenakan seragam seorang pilot. 

“Mau apa kamu di sini? Bukannya kamu sudah dipecat dari maskapai Holy Airways? Atau… kamu sedang mengemis pekerjaan dengan seragammu ini?”

“Karirmu sudah tamat, Mahes! Tidak akan ada maskapai manapun yang mau menerimamu, gara-gara video mesummu itu. Kasihan sekali kamu, Mahes… tidak lama lagi kamu pasti jatuh miskin!” Aldo di samping Veronica angkat bicara penuh hinaan.

“Diam kamu, Do! Aku tak ingin mendengar ocehanmu!” balas Mahes sambil menunjuk wajah lelaki bertubuh tinggi dan berbadan tegap di depannya itu. “Aku ingin bicara empat mata dengan Vero, sebaiknya kamu pergi sekarang!” perintahnya pada Aldo.

“Nggak, Mahes… tidak ada apa-apa lagi yang harus kita bicarakan. Sejak aku tahu skandalmu dengan perempuan dalam video itu, aku sudah tidak punya rasa apa-apa lagi sama kamu!” ucapan Veronica cukup keras terdengar, sehingga menjadi perhatian orang di sekeliling mereka.

“Beri kesempatan aku untuk bicara berdua denganmu, Vero, aku akan…” 

“Nggak, Mahes, aku hanya mau bicara denganmu di pengadilan. Tunggu saja, besok aku akan menggugat cerai! Ayo, kita pergi Aldo…” ucapan Veronica tidak ubahnya seperti belati yang tiba-tiba menusuk tubuh Mahes, hingga ia tak mampu berkata-kata lagi, diam terpaku di tempatnya melihat istrinya pergi menjauh sambil bergandengan tangan dengan Aldo.

“Pak Mahes…” tiba-tiba sebuah sentuhan mendarat di pundak Mahes.

“Nona Rose?” 

“Maaf Pak Mahes, tadi aku mendengar semuanya, aku turut prihatin atas masalah yang sedang Pak Mahes hadapi.”

Mahes hanya diam termenung mendengar ucapan Rose di depannya, lidahnya kelu, tak tahu apa yang harus ia katakan. Setelah Nyonya Emma mengetahui video itu, sekarang giliran Nona Rose pula yang mengetahuinya, membuat Mahes merasa sudah tidak punya wibawa lagi di depan anak majikannya itu. 

“Sabar ya Pak Mahes,” ucap Rose sambil mengelus lengan Mahes dengan lembut. “Ayo sekarang kita temui mama di depan sana, tadi Robert sudah meneleponku,” tambahnya mengajak Mahes, lalu berjalan beriringan.

Seperti yang diberitahu Robert, Emma Laurent memang sedang melayani peminatnya di depan sebuah butik, sejumlah orang berkerumun meminta berfoto dengannya.

Veronica yang melintas di depan tempat itu, merasa tertarik untuk berfoto dengannya, karena ia salah satu fans Emma Laurent.

“Tolong antre ya kalau mau foto…” ucap Robert coba menertibkan kerumunan orang yang mengelilingi Emma. Kemudian Veronica berdiri mendapat antrean paling belakang.

Saat Mahes dan Rose datang, Emma memanggil Mahes untuk mendekatinya, “Ini perkenalkan pilot pribadiku, namanya Mahesa Prawira, gantengkan dia?" ujar Emma tanpa rasa sungkan di depan semua orang. “Fotonya bareng pilotku juga ya, biar dia ikut terkenal,” tambah Emma yang sengaja ingin memberitahu bahwa pilot yang sedang kontroversi itu sekarang menjadi pilot pribadinya.

“Mahes?” gumam Veronica yang merasa tidak percaya dengan apa yang baru didengar dan dilihatnya bahwa suaminya itu sekarang menjadi pilot pribadi seorang artis ternama. Mahes pun menyadari kehadiran Veronica di tempat itu.

“Vero… sini maju…” panggil Mahes pada Veronica yang berdiri dalam antrean. Robert pun menyuruh orang-orang memberi jalan pada Veronica. Detik itu, di hati Vero timbul penyesalan, walaupun ia sudah bertindak kasar pada lelaki yang masih berstatus suami sahnya itu, tapi  rupanya Mahes tetap memperlakukannya dengan baik.

“Nyonya Emma ini Veronica, dia sangat meminati Nyonya Emma,” ucap Mahes memperkenalkan istrinya. Tentu saja Veronica sangat bahagia bisa berhadapan langsung dengan artis ternama itu.

“Hai, Vero… kamu pramugari ya? Cantik sekali sih kamu?” ujar Emma sambil menyentuh pipi kanan Veronica. 

Veronica sampai tak bisa berkata-kata bisa sedekat itu dengan idolanya. Lalu, ia pun berfoto bersama-sama Emma dan Mahes. Setelah itu, ia pergi begitu saja, tanpa berkata apa-apa dengan Mahes, karena perasaan malu dan menyesal kian terasa di hatinya. 

“Mahes, Veronica itu siapa? Temanmu?” tanya Emma menegasi.

“B-bukan, Nyonya, dia itu… istriku,” jawab Mahes dengan napas terasa berat.

“O…” bibir Emma membulat tidak menyangka bisa bertemu dengan istri pilot tampan yang sedang digilainya. “Pasti setelah beredar video Mahes hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Aku siap jadi orang ketiga di antara mereka,” pikir Emma ketika itu dengan senyum terukir di bibirnya.

Tanpa terasa, dua jam sudah berlalu, kopilot menelepon Mahes bahwa ATC sudah menghubunginya memberitahu penerbangan mereka satu jam lagi sudah bisa dilakukan karena cuaca sudah kembali normal. Mahes bersama keluarga Laurent dan manajernya bergegas kembali ke hanggar untuk melakukan penerbangan yang sempat tertunda.

“Ah, akhirnya sampai juga,” ucap Emma saat kembali ke dalam kabin pesawat. “Niat mau santai-santai di bandara malah diserbu peminat,” keluh Emma sambil bersandar di atas sofa yang empuk.

“Kalau tidak mau repot, berhenti jadi artis saja, Mah, duduk manis di rumah,” ujar Rose yang duduk di kursi depan membelakangi mamanya.

“Sampai mati aku ingin dikenang sebagai artis, jadi jangan pernah berpikir untuk memisahkan aku dengan profesiku ini, Rose,” balas Emma dengan tegas. Kalau sudah seperti itu Robert memilih untuk pergi ke belakang bersama crew kabin, sebelum kepalanya pecah mendengar perdebatan antara ibu dan anak yang setiap waktu bisa tersulut, tanpa kenal waktu.

Detik itu Rose teringat ucapan Mahes, untuk lebih banyak mengalah jika berselisih dengan mamanya. Ia pun memilih diam, sambil menekan-nekan gawai di tangannya. “Aku penasaran dengan video Pak Mahes yang katanya viral itu,” batin Rose sambil membuka-buka medsos…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 10. Menjual Kehormatan

    Penerbangan telah berlangsung selama 6 jam, tanpa terasa hari sudah mendekati tengah malam. Di dalam kokpit, kopilot Anton mulai mengantuk, beberapa kali dia terdengar menguap. “Kalau sudah ngantuk, istirahat dulu saja, Pak,” ucap Mahes yang sedang duduk dengan tenang dan nyaman di kursinya tanpa ada sembarang gangguan.“Saya ke belakang sebentar, Pak, mau ambil kopi, sekalian ke toilet,” jawab Anton, kemudian ia beranjak dari kursinya di sebelah kanan Mahes.Saat Anton masuk dalam kabin, rupanya lampu di ruang itu sudah redup, tampak Robert sedang duduk sambil bersandar di kursinya dengan mata terpejam, Ritha terlihat masih terjaga di tempat duduknya, ia dengan santai sedang membuka-buka gawai di tangannya, “Iya ada apa, Pak Anton?” tanyanya saat meyadari lelaki itu datang mendekatinya.“Tolong buatkan aku kopi ya,” jawab Anton.“Baik Pak, apalagi? Mungkin Pak Anton mau camilan atau mau aku buatkan mie rebus?”“Oh iya, camilan boleh tuh. Aku mau ke toilet dulu ya…” tambah Anton, lalu

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 9. Tidurlah Pengganggu!

    Emma menatap nyalang ke arah Rose, saat melihat putrinya itu sengaja mempertontonkan kemesraan dengan menggandeng tangan Mahes di hadapannya. Mahes yang menyadari sedang diperhatikan oleh Emma merasakan dalam situasi tidak nyaman. “Ayo Pak Mahes mau makan apa?” tanya Rose saat duduk di depan meja makan bersama Mahes. Mahes menoleh ke arah Ritha yang berdiri di dekatnya, “Kalau Pak Anton tadi makan apa ya?” tanyanya memastikan.“Oh, tadi Pak Anton makan pasta, Pa,” jawab Ritha.“Kalau begitu berikan aku makanan selain pasta saja,” jelas Mahes.“Kenapa harus beda dari Pak Anton?” Rose menegasi.“SOP penerbangan seperti itu, Nona. Dalam penerbangan antara Pilot dan Kopilot tidak boleh makan makanan yang sama, untuk menghindari sakit perut atau keracunan pada makanan.”“Oh iya… aku paham.”Rose pun memesan makanan yang sama dengan Mahes, lalu menemani sang pilot makan malam. “Nyonya Emma, mari sekalian makan, Nyonya?” ucap Mahes pada Emma setelah Ritha menyiapkan makanan di atas me

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 8. Bersitegang Dalam Kokpit

    “Mama… apa-apaan sih?” ucap Rose dengan tatapan penuh kecurigaan pada ibunya. Sesaat keduanya saling mengunci pandang, menciptakan segitiga kekuasaan yang kejam di dalam kokpit di ketinggian 36.000 kaki, dan Mahes seolah tengah dikepung oleh daya tarik menarik keduanya, ia menyadari bahaya sejatinya bukan lagi cuaca buruk atau kegagalan mesin, melainkan berada di tengah intrik dua wanita keluarga Laurent yang kini memegang kendali penuh atas nasibnya.“Kenapa, kamu?” balas Emma dengan gerakan sedikit menjauhkan diri dari Mahes.“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa Mamah mengganggu orang yang sedang bekerja?”“Mengganggu? Jangan asal bicara, Rose,” tegas Emma. “Terus kamu mau apa ke sini?” tanyanya.“Aku mau memastikan agar tidak mati konyol karena kelalaian orang yang hanya menuruti keinginan hatinya sendiri, tanpa kenal situasi,” ucap Rose menyindir Emma.Ucapan kedua wanita itu membuat ruangan kokpit terasa menyempit dan menghimpit, hingga Mahes susah bernapas dibuatnya.“Nona Rose

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 7. Sentuhan di Ketinggian 36 Ribu Kaki

    “Selamat malam, Nyonya Emma…” sapa Mahes saat menyadari majikannya masuk ke dalam kokpit. Seketika di dalam ruangan berukuran sederhana itu tercium aroma parfum yang sulit digambarkan tapi mampu melenakan orang yang menciumnya. “Malam juga Mahes... bagaimana penerbangan kita sejauh ini, aman-aman saja, kan?” balas Emma sambil berdiri di sisi kanan Mahes yang sedang duduk di kursi kendalinya. “Siap, Nyonya, semua lancar dan terkendali,” jelas Mahes untuk meyakinkan majikannya.Emma kemudian mengamati panel dan tombol-tombol yang berada di depan Mahes, “Dari dulu aku tuh kagum dengan pekerjaan sebagai pilot, bisa mengendalikan dan mengontrol tombol-tombol kecil dan rumit seperti ini,” ungkapnya.“Pilot memang salah satu pekerjaan paling menantang, Nyonya, diperlukan komitmen yang kuat dalam menjalani profesinya,” ucap Mahes menimpali.“Jujur, setiap ketemu pilot itu aku merasa kepo, makan apa sih mereka kok sampai bisa cerdas dan hebat begitu?” ujar Emma membuat Mahes tertawa kecil.

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 6. Permainan Batas Kontrol

    Detik yang ditunggu, tiba saatnya penerbangan perdana Kapten Mahesa sebagai pilot pribadi seorang artis kenamaan, Emma Laurent. Sebelum lepas landas sang pilot memberikan informasi keselamatan pada para crew dan penumpang di dalam pesawat: "Selamat sore para penumpang Super Midsize Jets Dassault Falcon 50. Ini adalah kapten Anda yang berbicara. Nama saya Mahesa Prawira, dan saya dengan senang hati menyambut Anda di penerbangan kami menuju Paris, Kota Cahaya. Waktu penerbangan kita hari ini diperkirakan sekitar 11 hingga 12 jam. Saya akan memberikan informasi terbaru selama penerbangan mengenai perkiraan waktu tiba dan cuaca selama perjalanan. Silakan duduk, rileks, dan nikmati penerbangan Anda ke Kota Paris." Senyum Emma mengembang mendengar suara pilot pribadinya, kharismatik, tenang, dan menyejukan hati setiap orang yang mendengar, “Penantianku selama setahun sebagai wanita single akhirnya berbuah manis,” gumamnya sambil duduk memandang keluar jendela, tampak sunset mulai terbentu

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 5. Sesal di Hati Vero

    Mahes sedang berdiri di luar sebuah toko pastry, menunggu Rose yang sedang memilih roti cokelat kesukaannya. Tiba-tiba pandangan Mahes tertuju pada seorang wanita berpakaian pramugari dan seorang lelaki yang berseragam pilot, keduanya tampak berjalan beriringan keluar dari pintu kedatangan, “Veronica dan Aldo?” gumamnya. Tidak ingin melepaskan keduanya begitu saja, Mahes segera mengejar mereka.“Vero…!” panggil Mahes saat mendekat.Wanita bertubuh tinggi dan ramping itu menoleh ke arah Mahes, “Mahes?” ucapnya terkejut mendapati kehadiran Mahes di depannya dengan mengenakan seragam seorang pilot. “Mau apa kamu di sini? Bukannya kamu sudah dipecat dari maskapai Holy Airways? Atau… kamu sedang mengemis pekerjaan dengan seragammu ini?”“Karirmu sudah tamat, Mahes! Tidak akan ada maskapai manapun yang mau menerimamu, gara-gara video mesummu itu. Kasihan sekali kamu, Mahes… tidak lama lagi kamu pasti jatuh miskin!” Aldo di samping Veronica angkat bicara penuh hinaan.“Diam kamu, Do! Aku t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status