LOGIN"Apa?" Revan tersentak kaget saat mendengar permintaan Elma.
Elma tersenyum tipis, lalu meraih sebuah tas tangan kecil yang ia simpan di atas meja. Ia mengeluarkan selembar cek berserta satu buah bolpoin. Lalu menuliskan angka 100 juta di atas cek tersebut. "Apa masih kurang?" tanyanya sembari menyerahkan cek tersebut ke arah Revan. "I-ini apa maksudnya Bu?" Revan masih belum paham dengan maksud Elma. "Aku tahu umur kita berbeda. Kamu masih muda, baru 21 tahun. Sementara aku... sudah 30 tahun. Tapi aku bisa memberimu uang, Revan. Banyak uang, yang pasti bisa membantumu menyelesaikan masalah keuanganmu di Jakarta. Apa kamu tertarik?" Elma tersenyum dan tiba-tiba saja mendekat ke arah Revan yang gemetar panas dingin mendapatkan tawaran seperti itu. Apalagi saat tangan Elma menarik kerah bajunya hingga kini tubuhnya semakin mendekat ke arah tubuh sek si Elma. Revan bisa merasakan benda kenyal itu hampir saja menempel di dadanya. Membuata senjata nuklir miliknya semakin tegang. "Bagaimana Revan? Apa kamu tertarik menerima tawaranku?" tanya Elma kali ini suaranya terdengar lebih merdu dan lembut. Revan merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menatap angka yang tertera di dalam cek yang sekarang ia genggam. "Jadi saya harus menjadi selingkuhan Ibu?" tanya Revan memastikan. "Benar, jangan khawatir ini hanya sekedar sandiwara. Aku hanya ingin memberi pelajaran pada suamiku." Elma kembali duduk dan menunggu jawaban dari Revan. Revan menelan salivanya. Kalau perempuannya seperti Elma mah tidak perlu dibayar pun ia rela jadi selingkuhannya. "Apa Anda serius, Bu Elma?" tanya Revan dengan suara gemetar. "Aku serius Revan. Jika kamu berhasil membuat suamiku cemburu, bayaranmu akan aku tambah." Revan menarik napas panjang. Wajahnya tampak bingung, namun saat matanya kembali menatap angka seratus juta, jiwa matrenya kembali meronta. Ia menundukkan kepalanya, kemudian mengangguk perlahan. "Baik, Bu. Saya bersedia." Elma tersenyum tipis, seolah sudah mengira jawaban itu. "Terima kasih, Revan. Kamu tidak akan menyesal," ucapnya tegas. Revan baru saja keluar dari kelas terakhirnya ketika ia mendengar suara yang familiar memanggil namanya. "Revan!" seru seorang gadis itu dengan nada ceria. Revan menoleh dan mendapati Dinda berlari kecil menghampirinya. Gadis itu mengenakan dress floral sederhana yang memperlihatkan sisi anggunnya. Rambut panjangnya tergerai lembut, membuat beberapa mahasiswa lain melirik kagum. "Hei, Din," sapa Revan sambil tersenyum tipis. "Ada apa nyamperin aku ke sini?" Dinda meraih lengan Revan dengan ekspresi manja. "Ya nggak apa-apa dong. Kan aku kangen," jawabnya sambil menatap Revan dengan tatapan berbinar. Revan hanya terkekeh kecil, "Kangen sama aku atau kangen sama yang lainnya?" godanya. Dinda mencubit pelan lengan Revan. "Ih, aku serius, tahu. Eh, ngomong-ngomong, gimana kostan barumu? Katanya lebih bagus dari yang dulu." Revan terdiam sejenak. Ia tahu Dinda tidak akan berhenti bertanya jika ia tidak memberitahu. Akhirnya, ia mengangguk. "Ya udah, nanti aku antar ke sana. Tapi jangan kaget kalau nggak sebagus yang kamu bayangin, ya." "Beneran? Aku mau lihat sekarang!" Dinda terlihat antusias, menarik lengan Revan tanpa menunggu jawaban. Revan menghela napas sambil tersenyum kecil. "Iya, iya. Sabar dikit, Din." Revan mengendarai motor bututnya membawa Dinda menuju kostan barunya. Entah apa yang membuat Dinda tertarik padanya yang miskin ini. Padahal ia tahu banyak mahasiswa tajir melintir yang suka sama Dinda. Tapi Dinda kekeuh memilih dirinya untuk dijadikan kekasih. Sebelum menuju kostan, Revan sengaja membeli banyak cemilan untuk mereka makan nanti. Upah yang diberikan Tante Elma untuk jadi selingkuhannya sudah ia cairkan, jadi ada banyak uang di rekening Revan sekarang. Ia bahkan sudah mengirimkan sebagian uangnya untuk ibunya di kampung agar dipergunakan untuk keperluan sehari-hari juga untuk biaya sekolah Nadia, adiknya "Rev, kenapa sih kamu nggak ganti motor aja? Aku lihat kamu sekarang kayaknya udah nggak sepelit dulu," goda Dinda sambil menyandarkan kepalanya di bahu Revan. Revan terkekeh pelan. "Nggak semua uang harus dipakai buat gaya, Din. Ada hal yang lebih penting." "Iya deh." Dinda mengalah. Meski begitu dia tetap cinta sama Revan. Sepuluh menit kemudian mereka sampai di kostan sederhana Revan. "Wah, lebih rapi dari kostanmu yang dulu," komentarnya sambil duduk di kasur. "Tapi kenapa nggak ada fotoku, ya?" "Nanti aku cetak, deh, terus aku pajang di sini. Puas?" Dinda menatapnya dengan manja. "Harus, dong. Aku kan pacarmu." Revan menggeleng dan menyerahkan sebotol air mineral pada Dinda. Namun Dinda tidak meminumnya dia menyingkir botol air itu dan malah mengalungkan tangannya pada leher Revan. "Aku kangen kamu Van. Sudah lama kayaknya kita nggak..." Dinda tersenyum nakal dan menggigit bibirnya dengan gayanya yang sensual. Tangannya kini bahkan menyelusup ke dalam kaos yang dipakai oleh Revan. Menelusuri tu buh atletis pria pujaannya itu. Revan tersenyum karena mengerti maksud kekasihnya itu. Gadis bertubuh se mok itu memang selalu membuatnya on tiap kali bertemu. Dan mungkin sudah hampir dua minggu ini mereka tidak melakukan kegiatan bercocok tanam yang sudah biasa mereka lakukan selama ini. "Kamu mau?" Revan menaik turunkan alisnya sebagai kode. "Huum..." Dinda mengangguk dan langsung meraup bibir Revan dengan rakus. Gadis cantik itu tidak malu lagi untuk mengajak Revan bermain lebih dulu. Bayangan sosis jumbo milik Revan kembali singgah di otaknya. Ia sudah sangat merindukan belaian dan juga keperkasaan pria tampan dengan tubuh atletis itu. Revan tersenyum dan langsung mengungkung tu buh Dinda yang sudah pasrah itu. Bi bir ranum Dinda yang sedari tadi menarik perhatiannya langsung Revan lu mat dengan rakus. Dinda dengan lihai mengimbangi permainan Revan yang memabukkan. Tangannya tak mau diam dengan perlahan membuka kaos yang dipakai oleh Revan. Dinda dibuat merem melek oleh ulah nakal Revan. Keringat sudah membanjiri tu buh mereka. Namun tak ada tanda-tanda permainan akan berakhir. Body mon tok Dinda memang bikin candu. Dan pacaran sama Dinda merupakan pacaran paling lama buat Revan. Itu karena Dinda tidak banyak menuntut dan selalu asik jika diajak bermesraan seperti ini. "Enak Sayang?" tanya Revan di tengah gerakannya yang kian brutal. "Enak Sayang... uuuhhhh..." Tangan Dinda berpegang erat pada punggung Revan. Keduanya menyatu. Saling memiliki dan menikm4ti cinta sesaat ini. Hampir satu jam Revan bercinta dengan Dinda di kamar kostnya yang baru ini. Dinda masih bergelung di dalam selimut sedangkan Revan bergegas mandi karena sebentar lagi ia harus pergi menjemput Elma di kantornya. "Beb, aku harus pergi dulu." "Kemana sih Sayang. Masih capek nih," rengek Dinda manja, masih enggan untuk beranjak dari tempat tidur. "Sorry Din, aku harus kerja." Revan kembali menghampiri Dinda yang masih enggan untuk bangun. "Rapih banget, kamu kerja apa sih sekarang?" tanya Dinda penasaran. "Aku jadi sopir pribadi di keluarga kaya. Gajinya lumayan lah buat makan dan biaya kuliah," jelas Revan. "Oh gitu, ya udah deh aku pulang sekarang." Dinda terpaksa bangun dan memakai bajunya lagi. Dia diantar Revan untuk naik taksi dan pulang ke rumahnya. Waktu sudah hampir pukul tiga sore, Revan harus sampai di kantor Elma sebelum pukul empat. Revan memarkir mobil mewah itu di depan gedung tinggi berlapis kaca. Tepat pukul lima sore, pintu lobi terbuka, dan Elma melangkah keluar dengan anggun. Wanita itu mengenakan blazer krem dengan rok pensil senada, dipadukan dengan sepatu hak tinggi yang menambah aura kharismatiknya. Rambutnya yang tergerai rapi melengkapi penampilannya yang memukau. Revan yang duduk di balik kemudi hanya bisa menelan ludah. "Tante-tante" cantik ini selalu berhasil membuatnya terpesona, meski ia harus tahu batasannya. "Selamat sore Bu," sapanya sopan sembari membuka pintu mobil untuk Elma. Elma hanya melirik singkat, lalu masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata pun. Aroma parfum mahalnya memenuhi kabin, membuat Revan merasa sedikit gugup. Revan kembali ke kursi kemudi, menyalakan mesin, dan mulai mengemudi. Suasana di dalam mobil terasa dingin, seperti biasanya. Elma hanya menatap layar ponselnya, seolah tidak ada orang lain di sana. "Mau langsung pulang, atau ada tempat lain yang perlu kita singgahi?" tanyanya lagi setelah beberapa menit hening. "Bawa aku ke La Lumiere Café," ucap Elma tanpa menoleh dari layar ponselnya. Revan menoleh sekilas ke arah kaca spion, memastikan ia mendengar dengan benar. "Ke kafe, Bu?" Elma akhirnya menatapnya, ekspresinya tetap dingin seperti biasa. "Apa aku harus mengulanginya, Revan?" Revan segera mengangguk. "Tidak, Bu. Baik, kita ke sana sekarang." Ia membelokkan mobil dan mengarahkan kendaraannya ke kafe terkenal yang terletak di kawasan elit Jakarta. La Lumiere Café adalah tempat yang hanya didatangi orang-orang berkelas. Begitu Revan memarkir mobil, ia dapat melihat interiornya yang mewah dari luar jendela besar. Lampu-lampu gantung kristal menciptakan suasana elegan yang kontras dengan kebisingan jalanan di luar. Elma turun dari mobil, langkahnya ringan namun penuh kepercayaan diri. "Kamu ikut aku ke dalam," katanya tiba-tiba. Revan menatapnya dengan kaget. "Ikut?" Elma menoleh sekilas, raut wajahnya tak menunjukkan kompromi. "Aku tidak mau teman-temanku bertanya kenapa aku datang sendiri." Revan hanya bisa mengangguk, meski perutnya terasa sedikit mual. Berada di lingkungan seperti itu dengan statusnya sebagai seorang mahasiswa sekaligus sopir rasanya sedikit tidak nyaman. Tapi, ia tidak punya pilihan. "Baik, Nyonya." Begitu mereka masuk, tatapan beberapa orang langsung tertuju pada Elma. Wanita itu memang mencuri perhatian, baik karena kecantikannya maupun auranya yang kharismatik. Revan berjalan setengah langkah di belakangnya, mencoba tidak terlihat mencolok. "Elma!" seru seorang wanita dengan suara riang. Seorang wanita muda dengan gaun mahal dan rambut yang ditata sempurna melambaikan tangan dari salah satu meja di tengah ruangan. Elma membalas dengan senyum tipis dan berjalan mendekat. Ia berhenti di samping meja, lalu menoleh ke Revan. "Tunggu di sana," katanya sambil menunjuk salah satu sudut ruangan. Revan mengangguk, tapi matanya sempat menangkap tatapan penasaran dari salah satu pria di meja itu. Mungkin mereka heran, karena Elma membawa serta seorang pria. Elma duduk di meja itu, langsung terlibat dalam percakapan dengan teman-temannya. Revan mengambil tempat di sudut yang agak tersembunyi, tapi pandangannya tetap tertuju pada Elma. Wanita itu terlihat berbeda di sini-lebih santai, meski tetap memancarkan kesan dingin. "El, siapa pria itu?" tanya seorang wanita berambut pendek dengan tawa menggoda. Namanya Karina, salah satu teman dekat Elma yang terkenal blak-blakan. "Jangan bilang dia sopir mu. Wajahnya terlalu tampan untuk itu." Elma tersenyum kecil, mengaduk kopinya dengan tenang. "Dia memang sopirku." "Ah, jangan bercanda," sahut wanita lain di meja itu. Nita, salah satu rekan bisnis Elma. "Serius, Elma," Karina melanjutkan. "Suamimu, Aditya, bahkan nggak setampan itu. Kamu punya selera bagus." Elma mengangkat alisnya, berpura-pura tidak terganggu dengan pembicaraan itu. Namun, dalam hatinya, ia sedikit senang. Fakta bahwa teman-temannya lebih terkesan dengan Revan adalah sesuatu yang memuaskan baginya. Elma meneguk kopinya perlahan sebelum menjawab. "Kalian terlalu berlebihan. Dia hanya sopir." "Tapi lihat caranya memandangmu, kayaknya dia bukan cuma sopir, deh," sela Nita. Elma tertawa kecil, tapi tidak memberikan konfirmasi. Biarkan saja mereka berpikir apa yang mereka mau, pikirnya. Elma akhirnya menoleh sekilas ke arah Revan, matanya dingin namun penuh perhitungan. Dalam hatinya, ia merasa puas. Jika teman-temannya saja sudah terkesan dengan Revan, maka Aditya juga harus tahu bagaimana rasanya diabaikan dan direndahkan. "Aku rasa aku harus membawa dia ke lebih banyak acara," gumam Elma, nyaris tak terdengar oleh teman-temannya. "Kenapa tidak?" sahut Karina dengan tawa kecil. Dia aset yang bagus, Elma. Suamimu harus tahu bahwa dia tidak bisa semena-mena padamu. Bangkit dan balas perbuatan dia padamu." Elma hanya tersenyum. Ia menatap Nita dan Karina dengan pandangan penuh rahasia, sementara pikirannya berputar dengan rencana yang semakin matang.liishhh jangan dibahas dong Sayang." Wajah Bunga kembali bersemu merah. la malu sekali karena Bimo membicarakan hal itu lagi.Terus terang ia sangat menikmatinya tadi. Dan sepertinya ia juga akan ketagihan melakukannya lagi dengan Bimo.Drrrtt...Ponsel Bunga berbunyi. la melihat ibunya menelpon."Mama?!" Bunga terkejut dan segera menjawab panggilan ibunya."Bunga, kenapa kamu masih belum pulang? Sudah hampir jam tujuh malam nih, kamu kemana saja Bunga?" Suara Bu Rasti terdengar dipenuhi kekhawatiran."Iya Ma, sebentar lagi aku pulang. Aku lembur Ma dan ini masih kerja. Jam tujuh nanti baru selesai." Bunga mencari alasan agar ibunya percaya."Ya sudah, langsung pulang ya jangan kelayapan lagi.""Iya Ma," pungkas Bunga menutup panggilan telepon ibunya.Bimo terkekeh saat mendengar Bunga terpaksa berbohong pada ibunya."Semua ini gara-gara kamu Mas. Padahal aku tidak pernah berbohong sama Mama se
"Kalau begitu bersiaplah Sayang Bimo pun merangkak naik ke atas tempat tidur. Sepertinya sore ini akan menjadi hari keberuntungannya.Bimo mengecup lembut bibir Bunga lalu merambat turun dengan mengecupi leher jenjang gadis cantik itu dan tak lupa meninggalkan jejak di sana."Jangan Mas...!" Bunga teriak."Kenapa?" tanya Bimo menghentikan gerakannya seketika."Aku nggak mau membuat Mama curiga jika melihatnya." Bunga menggigit bibirnya malu.Bimo tersenyum dan mengusap bibir itu dengan lembut."Maaf aku lupa Sayang. Baiklah aku akan buat tanda di tempat lain saja. Bimo mengangguk.Aksi selanjutnya membuah dada Bunga kembali berdebar karena Bimo perlahan tapi pasti melepas pakaiannya dan memainkan melon segarnya lagi seperti di dalam mobil tadi."Aaahhh....!" Bunga kembali mele nguh pelan sambil menggigit bibirnya yang seksi.Bimo pun membuat beberapa tanda kepemilikannya di sana.Keduanya semak
"Kamu membuatku gila Bunga..." ucap Bimo di sela kecupan bibirnya.Tatapan keduanya saling bertemu. Jantung keduanya berdetak kencang. Mata Bimo terlihat sayu. Wajah cantik Bunga terlihat sangat gugup dengan rona merah yang menghiasi pipi tirusnya.Bimo kembali tak kuasa menahan hasratnya. Kali ini ia mencium bibir Bunga dengan lebih lembut namun begitu dalam hingga beberapa kali lidah mereka saling membelit dan saling menyesap.Tangan nakal Bimo kembali tak bisa diam. la menyentuh dua melon mengkal yang tersembul di balik kemeja yang Bunga pakai.Bunga tidak menolak, otaknya seolah sudah membeku hingga tak peduli lagi sedang berasa dimana mereka sekarang.Tangan Bimo perlahan melepaskan kancing baju Bunga tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Beruntung kaca mobil Bimo sudah dilapisi kaca film hingga apa yang mereka lakukan di dalam tidak akan terlihat dari luar."Aaahh...!" Bunga mende sah saat tangan Bimo mulai memainkan melon
"Shit! Bagaimana aku bisa konsentrasi kerja kalau bayangan Bunga terus menari dipikiraku?" Bimo mendesah kesal.Seharian ini konsentrasinya buyar. Bayangan wajah Bungal yang sedang mendesah terekam jelas diingatannya.Ditambah lagi masih terasa di telapak tangannya saat benda kenyal itu ada dalam genggamannya. Rasanya sungguh kenyal dan hangat.Bimo tersenyum sendiri sambil melihat kedua telapak tangannya yang begitu nakal kemarin malam."Ah, Bunga... kamu terlalu indah untuk dilupakan Sayang. Rasanya aku bakal kecanduan untuk menyentuhmu." Bimo memejamkan matanya.Membayangkan kembali saat ia berada di atas tubuh wanita itu. Menyesap melonnya yang segar dan memabukkan. Otaknya berpikir keras untuk membawa Bunga kembali ke apartemennya sore itu.Bimo menghela napas berat, melepas dasinya yang terasa mencekik. Tubuhnya terasa gerah, bukan karena suhu ruangan yang panas, melainkan karena debaran di dadanya yang sulit ia kendalikan.
Hari itu, setelah jam kerja selesai, Bimo berdiri di lobi kantor, menunggu Bunga yang tampak sibuk membereskan dokumen di meja kerjanya. la bersandar di dinding sambil tersenyum, menunggu waktu yang tepat untuk mengajaknya keluar."Bunga, aku antar pulang ya," ujar Bimo dengan nada santai saat Bunga berjalan mendekat."Iya Mas..." Bunga tersenyum senang dan seperti biasamereka akan mengendap-endap berjalan ke arah parkiran tanpa seorang pun yang tahu."Bunga, kita mampir dulu ke apartemenku ya," ajak Bimo setelah mobilnya keluar dari area kantor."Mau ngapain Mas?" Bunga melirik ke arah kekasihnya itu."Nggak ada apa-apa sih cuma pengen ajak kamu keapartemen saja kita santai dulu sejenak, ngobrol-ngobrol gitu.""Baiklah kalau gitu." Akhirnya Bunga mengangguk setuju.itu. Bimo tampak senang dan mempercepat laju kuda besinyaSesampainya di apartemen Bimo, Bunga segera memperhatikan ruangan itu.
Hari itu Revan sedang duduk di ruangannya, tenggelam dalam laporan keuangan yang harus ia review. Pikirannya penuh dengan pekerjaan, mencoba memastikan semuanya berjalan lancar untuk presentasi minggu depan. Tiba-tiba, suara ketukan di pintu ruangannya memecah konsentrasinya. "Masuk," ujar Revan, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Pintu terbuka, dan Citra melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Wanita itu mengenakan gaun merah elegan yang mempertegas pesonanya. Revan langsung mengangkat wajahnya, sedikit terkejut dengan kedatangan Citra tanpa pemberitahuan. "Bu Citra, ada yang bisa saya bantu?" tanya Revan dengan nada sopan, meski merasa sedikit tidak nyaman. Citra tersenyum manis. "Pak Revan, saya datang untuk membahas lanjutan dari meeting kita kemarin." Revan tertegun. Membicarakan bisnis, tapi pakaian yang digunakan oleh Citra seperti seseorang yang mau datang ke pesta. Pakaian wanita itu sedikit terbuka bahkan menampakkan belahan dadanya yang cukup menantan







