Se connecterSuasana malam di Lembah Val-Eldoria terasa sangat dingin. Angin malam yang berembus dari arah perbukitan es membawa hawa menggigit yang menusuk kulit. Namun, di dalam salah satu tenda medis yang agak terpencil, suasana justru terasa hangat oleh pendar porselen lentera yang redup. Roselline duduk bersila di depan sebuah meja kayu kecil. Di atas meja itu, terdapat sebotol cairan bening yang memancarkan pendar kebiruan yang sangat tipis. Dengan sangat hati-hati, Roselline meneteskan sari dari jamur Nero-Glacis yang tadi sore ia petik di tepi hutan. Di balik sudut pandangnya, layar transparan berwarna biru dari Sistem terus mengapung, memberikan petunjuk langkah demi langkah. Ting! [ PROSES EKSTRAKSI SELESAI ] [ TAKARAN: DOSIS RINGAN (MENGATUR SARAF SPIRITUAL TANPA MERUSAK TUBUH) ] Roselline tersenyum lebar. Matanya berbinar riang saat melihat botol kecil di tangannya. "Sempurna!" bisik Roselline pada dirinya sendiri. Di dalam pikirannya, Roselline sudah membayangkan hasil yang sa
"Suatu kehormatan melihat Anda di sini, Sepupu," tegur Cedric seraya mengangguk sopan. Ia menjaga etika kebangsawanan meski nada suaranya mengeras tipis. "Saya tidak menyangka Grand Duke Azrael Drachenfeld memiliki waktu luang untuk mengunjungi wilayah bencana sepi seperti Val-Eldoria." Azrael meletakkan satu tangannya di gagang pedang yang menggantung di pinggangnya. Iris mata kekuningannya menatap dingin ke arah Cedric. "Tugas militer dan keamanan kekaisaran berada di bawah pengawasan saya, Yang Mulia Putra Mahkota," sahut Azrael dengan suara berat yang menggema. "Melindungi wilayah perbatasan dari serangan tersembunyi adalah kewajiban mutlak Faksi Barat." Kata 'serangan tersembunyi' diucapkan Azrael dengan penekanan yang teramat dalam. Pandangan sang Naga sempat melirik tajam ke arah Roselline sebelum kembali menatap Cedric. Di balik punggung Cedric, Evelyn yang berdiri agak jauh ketakutan setengah mati. ‘Atmosfer di antara dua sepupu ini benar-benar bisa membunuh orang!’ batin
Roselline refleks menyembunyikan tangannya yang memegang bungkusan sapu tangan ke balik lipatan gaun indahnya. Ia memasang senyum paling manis dan paling polos yang bisa ia tampilkan di wajah Evelyn. "A-Ah ... Yang Mulia Grand Duke!" sahut Roselline dengan nada suara yang sengaja dibuat agak kaget namun diusahakan tetap tenang. "Kami hanya ... sedang menikmati udara segar sore hari setelah membantu penyembuhan warga desa." Azrael menyipitkan matanya di balik topeng perak. Langkah kakinya yang panjang maju satu tapak, mengikis jarak di antara mereka. Suasana di sekitar mendadak menegang dan sarat akan tekanan sihir yang berat. "Menikmati udara segar?" ulang Azrael lambat, suaranya terdengar dingin dan penuh selidik. "Dengan berlutut di tanah basah dan menyembunyikan sesuatu di balik punggungmu?" Evelyn seketika menegang kaku dengan bulu kuduk berdiri. Ia tahu betul betapa mengerikannya insting sang Grand Duke jika sudah mencurigai sesuatu. Namun, Roselline justru tidak menunjukkan
Pendar cahaya suci yang baru saja menyelimuti Lembah Val-Eldoria perlahan menyurut, meninggalkan aroma keheningan yang menenangkan di udara. Luapan es yang semula membeku kaku kini mencair menjadi aliran air jernih, mengalir tenang menyusuri parit-parit desa yang mulai bersih dari lumpur beracun. Warga desa menyeka air mata haru, membungkuk dalam-dalam memberi penghormatan kepada sosok yang mereka yakini sebagai Sang Putri Bulan. "Terima kasih, Lady Evelyn! Kebaikan Anda tidak akan pernah kami lupakan!" seru seorang tetua desa dengan suara bergetar. Roselline menyunggingkan senyum anggun, mengangguk pelan seraya membalas salam warga. Namun, begitu melangkah agak jauh dari kerumunan, ia segera menyikut lengan Evelyn yang berjalan mengekor di sampingnya. "Eve, ayo kita jalan-jalan menyusuri sudut desa," bisik Roselline pelan, matanya melirik ke sekeliling. "Kita harus memastikan tidak ada sisa-sisa sihir hitam atau anomali lain yang tertinggal di daerah ini." Evelyn mengangguk setu
Dekapan di pinggangnya terasa begitu erat, protektif, dan sarat akan kekuatan yang amat dahsyat. Aroma wangi kayu cendana yang bersatu dengan pendar sihir kegelapan seketika menyengat indra penciuman Roselline. Namun, begitu pandangannya beradu dengan pria bertopeng perak yang memeluknya—Sang Pria Tertinggi di militer Kekaisaran, Grand Duke Azrael Drachenfeld—pikiran Roselline justru berputar ke arah yang sepenuhnya salah. ‘Tunggu dulu ... kenapa Grand Duke Azrael menyelamatkanku seerat ini?!’ batin Roselline panik sekaligus jengkel setengah mati. Sebab di matanya saat ini, ia hanyalah Lady Evelyn Celestia—seorang wanita mantan tunangan dengan sang Grand Duke! ‘Apa-apaan pria bertopeng ini?! Apakah dia sebenarnya jatuh pada pesona Evelyn?! Tapi ... tunangannya dengan Evelyn sudah dibatalkan oleh Kaisar dan terpaksa diserahkan pada Cedric.; Roselline mendorong dada tegap Azrael secara kasar. "Lepaskan saya, Yang Mulia Grand Duke!" desis Roselline dengan nada dingin dan tidak bersa
Pintu kamar pribadi Evelyn terkunci rapat. Begitu memastikan tidak ada pelayan yang menguping di luar, mereka langsung melangkah cepat menuju lemari pakaian. "Eve, di mana kau menyimpan kalung Lachryma milikmu?" tanya Roselline terburu-buru. Evelyn membuka laci rahasia berbahan beludru di sudut lemari. Ia mengeluarkan sebuah kotak perak berukir rumit dan membukanya. Di dalamnya, terbaring sebuah kalung dengan batu kristal yang ukiran serta ukurannya sama persis seperti milik Roselline. Bedanya, batu milik Evelyn memancarkan pendar biru-keemasan yang tenang. Evelyn melepaskan kalung Lachryma merah di lehernya (pada tubuh Roselline), lalu menyandingkan kedua benda itu di atas meja. Kening Roselline berkerut dalam. "Bentuk ukirannya ... pola bingkainya ... semuanya identik. Dari mana kau mendapatkan kalung ini, Eve?" "Ayah yang memberikannya saat upacara kedewasaanku setahun yang lalu," jawab Evelyn jujur. "Kata Ayah, itu adalah peninggalan almarhumah ibuku." Mata Roselline membel







