LOGINBisik-bisik yang sedari tadi tertahan di antara para bangsawan Faksi Celestia seketika pecah begitu ucapan tajam Azrael mengudara di pelataran utama. Suasana yang awalnya dipenuhi kebanggaan atas kepulangan sang Putri Bulan mendadak berubah menjadi panggung gosip yang panas.
Count Celestia terlihat salah tingkah, buru-buru maju beberapa langkah untuk meredakan situasi yang kian memanas di hadapan calon menantunya. "Y-Yang Mulia Grand Duke, mari kita bicarakan ini di dalamUdara malam di distrik bangsawan Faksi Lunaria terasa begitu lembap dan menusuk tulang. Di bawah naungan jubah hitam bertudung, Roselline dan Evelyn bergerak lincah menyusup melewati tembok belakang kediaman Marquess Lunaria. Berbekal pengetahuan sang penulis tentang denah rahasia bangunan tersebut, mereka berhasil menghindari para penjaga tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Begitu tiba di depan pintu besi tua yang berkarat di sudut halaman belakang, bau anyir darah dan kelembapan langsung menguap keluar dari balik celahnya. Pintu itu menuju ke ruang bawah tanah—tempat di mana Valentina Lunaria dikurung. "Roselline, apa kau benar-benar yakin ingin masuk ke sini?" bisik Evelyn cemas, menarik pelan ujung jubah Roselline saat mereka menuruni anak tangga batu yang gelap dan berlumut. "Kalau ketahuan oleh keluarga Lunaria, kita bisa dianggap bersekongkol dengan musuh politik." Roselline tidak langsung menjawab. Langkah kakinya terhenti sejenak ketika sebuah layar transparan berwar
Bisik-bisik yang sedari tadi tertahan di antara para bangsawan Faksi Celestia seketika pecah begitu ucapan tajam Azrael mengudara di pelataran utama. Suasana yang awalnya dipenuhi kebanggaan atas kepulangan sang Putri Bulan mendadak berubah menjadi panggung gosip yang panas. Count Celestia terlihat salah tingkah, buru-buru maju beberapa langkah untuk meredakan situasi yang kian memanas di hadapan calon menantunya. "Y-Yang Mulia Grand Duke, mari kita bicarakan ini di dalam ruang tamu secara baik-baik," ujar Count Celestia canggung, berusaha merangkul suasana dengan senyum dipaksakan. "Putri saya tentu kelelahan setelah perjalanan panjang dari Val-Eldoria." Azrael melirik Count Celestia sekilas dengan tatapan dingin yang sanggup membekukan darah siapa pun. Namun, sebelum situasi menjadi semakin tak terkendali, Roselline dengan cepat mengambil alih kendali situasi. Sebagai penulis asli, ia tahu betul bagaimana cara meredam konflik sosial di depan
Langit di atas ibu kota Kekaisaran tampak kelabu, menyambut kepulangan rombongan ekspedisi kemanusiaan dari Lembah Val-Eldoria dengan udara dingin yang menggigit. Sepanjang gerbang utama, kerumunan rakyat tumpah ruah ke jalanan, bersorak-sorai dan memanggil nama Lady Evelyn dengan penuh pemujaan. Berita tentang keajaiban sihir suci yang memulihkan desa bencana itu telah menyebar seperti kobaran api di musim kering. Di atas kereta kuda mewah Faksi Celestia, Roselline menarik tirai beludru sedikit untuk melihat lautan manusia di luar. Kepalanya mendadak pening. "Rakyat benar-benar memuja tubuhmu sekarang, Eve," gumam Roselline pelan, menoleh ke arah Evelyn yang duduk di depannya. Evelyn, yang kini berwajah Roselline dan mengenakan seragam pengawal Faksi Callen, hanya bisa menghela napas pasrah. Gadis itu merapikan kerah bajunya dengan canggung. "Aku bahkan merasa asing dengan namaku sendiri saat mereka berteriak memanggilnya," balas Evelyn jujur, nada suaranya terdengar cemas. "Lagi
"Uhuk! Uhuk!" Batuk keras Azrael bergema nyaring memecahkan keheningan tenda utama. Suara deritan kayu tebal yang mengerak di bawah cengkeraman tangannya membuat udara malam yang dingin seketika mendadak tegang. Roselline membelalak sempurna. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat pendar sihir hitam bercampur merah membara meluap liar dari sela-sela jemari Azrael. Pria itu menunduk dalam, menopang tubuhnya yang mendadak gemetar hebat di atas meja. "Yang Mulia Grand Duke?!" panggil Roselline panik, raut wajah sok anggunnya sirna digantikan oleh kepanikan murni. "A-Ada apa dengan Anda? Apakah tehnya terlalu panas?" Cedric yang duduk di kursi utama secepat kilat berdiri dari tempatnya. Wajah sang Putra Mahkota berubah sangat dingin dan penuh selidik. Tangannya menyentuh gagang pedang di pinggang. "Azrael? Ada apa denganmu?" tanya Cedric curiga, matanya berganti menatap cangkir teh yang sudah kosong dan raut wajah 'Evelyn' yang pucat. "Apakah ada yang salah dengan minuman i
Suasana malam di Lembah Val-Eldoria terasa sangat dingin. Angin malam yang berembus dari arah perbukitan es membawa hawa menggigit yang menusuk kulit. Namun, di dalam salah satu tenda medis yang agak terpencil, suasana justru terasa hangat oleh pendar porselen lentera yang redup. Roselline duduk bersila di depan sebuah meja kayu kecil. Di atas meja itu, terdapat sebotol cairan bening yang memancarkan pendar kebiruan yang sangat tipis. Dengan sangat hati-hati, Roselline meneteskan sari dari jamur Nero-Glacis yang tadi sore ia petik di tepi hutan. Di balik sudut pandangnya, layar transparan berwarna biru dari Sistem terus mengapung, memberikan petunjuk langkah demi langkah. Ting! [ PROSES EKSTRAKSI SELESAI ] [ TAKARAN: DOSIS RINGAN (MENGATUR SARAF SPIRITUAL TANPA MERUSAK TUBUH) ] Roselline tersenyum lebar. Matanya berbinar riang saat melihat botol kecil di tangannya. "Sempurna!" bisik Roselline pada dirinya sendiri. Di dalam pikirannya, Roselline sudah membayangkan hasil yang sa
"Suatu kehormatan melihat Anda di sini, Sepupu," tegur Cedric seraya mengangguk sopan. Ia menjaga etika kebangsawanan meski nada suaranya mengeras tipis. "Saya tidak menyangka Grand Duke Azrael Drachenfeld memiliki waktu luang untuk mengunjungi wilayah bencana sepi seperti Val-Eldoria." Azrael meletakkan satu tangannya di gagang pedang yang menggantung di pinggangnya. Iris mata kekuningannya menatap dingin ke arah Cedric. "Tugas militer dan keamanan kekaisaran berada di bawah pengawasan saya, Yang Mulia Putra Mahkota," sahut Azrael dengan suara berat yang menggema. "Melindungi wilayah perbatasan dari serangan tersembunyi adalah kewajiban mutlak Faksi Barat." Kata 'serangan tersembunyi' diucapkan Azrael dengan penekanan yang teramat dalam. Pandangan sang Naga sempat melirik tajam ke arah Roselline sebelum kembali menatap Cedric. Di balik punggung Cedric, Evelyn yang berdiri agak jauh ketakutan setengah mati. ‘Atmosfer di antara dua sepupu ini benar-benar bisa membunuh orang!’ batin







