แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Jule
Firasat buruk mendadak menyelimuti benak Vivian.

Hingga akhirnya, seorang siswi tak dikenal menghentikan langkahnya di koridor sekolah.

"Masih punya muka kamu datang ke sekolah? Orang nggak tahu malu seperti kamu ini harusnya dikeluarkan!"

Vivian tertegun. "Apa maksudmu? Ngomong yang jelas."

"Pura-pura polos lagi. Pantas saja Yesika dari dulu bilang kamu nggak bisa hidup tanpa pria. Ternyata ibumu sendiri bukan wanita baik, masalah kalian berdua sudah tersebar di forum sekolah!"

"Coba katakan sekali lagi tentang ibuku kalau kamu berani!"

Gadis itu terkejut melihat gertakannya, hingga akhirnya tak berani membalas lagi.

Vivian menahan amarah lalu membuka forum sekolah.

Sebuah unggahan berjudul, [Rahasia Tersembunyi Kembang Sekolah Vivian dan Ibunya!] disematkan di halaman utama.

Unggahan itu tidak hanya memfitnah ibunya yang dituduh main belakang demi merusak rumah tangga orang tua Yesika, tetapi juga menyebut status kelahirannya tak jelas sebagai anak haram yang merampas jalan hidup Yesika.

Bahkan, ada beberapa video tak senonoh yang merekam ibunya.

Padahal, video-video itu hanyalah buatan AI.

Ibunya tersiksa oleh penyakit berat, jauh lebih kurus daripada sosok di video, dan rambutnya sudah habis akibat kemoterapi!

Sementara pada video yang paling vulgar, pemeran wanitanya telah diganti. Walau gambarnya agak buram, wajah di dalamnya terlihat sangat mirip dengan Vivian.

Napas Vivian memburu, tetapi dia berusaha keras untuk tetap tenang.

"Aku akan menyewa ahli untuk membuktikan video ini rekayasa, aku juga bakal melapor ke polisi demi membersihkan namaku dan ibuku!"

Karena tidak bersalah, dia tak perlu takut. Walau tangannya gemetaran menahan amarah, dia langsung mencari lembaga profesional yang bisa menguji keaslian video tersebut.

Namun pada detik berikutnya, ponsel di tangannya mendadak direbut.

Dirly berdiri merintangi jalannya dengan santai.

"Awalnya aku kira kamu cuma takut status anak harammu tersebar makanya melarang Om Soni membawa Yesika pulang. Nggak kusangka, ternyata di belakang ... kamu semurahan ini!"

Hampir seluruh murid di sekolah tahu bahwa dia dan Dirly adalah sahabat yang saling mengenal luar dalam.

Kata-kata Dirly barusan seolah membenarkan isi unggahan fitnah tersebut.

Vivian tak percaya. "Kamu ini lagi ngomong kosong apa? Kembalikan HP-ku."

Dia menggapai untuk merebutnya kembali, tetapi Dirly yang jauh lebih tinggi membuat usahanya sia-sia.

Dalam pergelutan itu, kancing kemejanya terlepas. Luka-luka besar dan kecil di tubuhnya mendadak terekspos di hadapan semua orang.

Sudut bibir Dirly terangkat, mengukir senyum penuh arti.

"Masih mau mengelak kalau video itu palsu? Lalu luka-luka di tubuhmu ini mau kamu jelaskan gimana?"

Suara Dirly yang sengaja dikencangkan seketika menjadikan Vivian sasaran empuk pandangan semua orang.

Caci maki dan hinaan yang kian menyakitkan telinga langsung mengeroyoknya dari segala arah.

"Kamu jelas-jelas tahu kalau luka ini ...." Vivian mendadak membeku. Menatap tatapan dingin penuh ejekan dari pemuda di hadapannya, dia seketika paham segalanya.

"Kamu yang melakukannya?"

Suaranya bergetar, tetapi Dirly hanya tertawa acuh tak acuh. Kemudian, dia merunduk dan berbisik tepat di telinganya.

"Benar, aku yang membuat unggahan itu, video rekayasa itu juga buatanku. Ibumu sudah menindas ibu Yesika, dan kamu membuat Yesika terluka. Aku harus membalas dendam untuknya."

Vivian mundur beberapa langkah dengan tubuh gemetar.

Hanya demi membalas dendam untuk Yesika, Dirly tega mengarang cerita bodoh demi menancapkan dirinya dan ibunya dihina?

"Dirly, kamu benar-benar keparat!"

Dengan mata memerah, dia melayangkan tamparan keras ke wajah pemuda itu.

Namun, pergelangan tangannya ditahan dengan mudah.

Raut wajah Dirly mendadak dingin dan hendak melontarkan kata-kata.

Tiba-tiba, ponsel Vivian berdering.

Melihat nama rumah sakit tertera di layar, dia menginjak kaki Dirly sekuat tenaga. Saat Dirly meringis kesakitan dan membungkuk, dia merebut kembali ponselnya.

Baru saja panggilan diangkat, kabar buruk langsung menyapa telinganya.

"Nona Vivian, kondisi ibumu mendadak kritis karena syok hebat. Pertolongan darurat membutuhkan persetujuan keluarga, tetapi kami tidak bisa menghubungi ayahmu!"

Vivian seketika panik setengah mati.

Tanpa memedulikan hal lain, dia langsung berlari secepat mungkin menuju rumah sakit.

Namun tepat di gerbang rumah sakit, jalannya diadang oleh Yesika yang membawa beberapa preman.

Para preman itu tak memberinya kesempatan untuk melawan atau berteriak. Mereka langsung menerjang, membekap mulutnya, lalu menyeretnya paksa ke dalam sebuah mobil van.

Dia didorong masuk ke atas panggung di sebuah gedung pertunjukan seni, kedua tangannya ditahan erat oleh para preman hingga tak bisa bergerak.

Suasana gelap gulita di sekelilingnya seketika berubah terang benderang pada detik berikutnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 17

    Vivian selalu merasa akhir-akhir ini ada sepasang mata yang terus menempel pada tubuhnya, membuatnya merasa sangat tidak nyaman.Hingga pada suatu hari, saat sedang menghadiri pesta ulang tahun teman sekelasnya, Vivian menerima telepon dari Profesor John yang memintanya segera kembali ke laboratorium.Setelah meminta maaf pada pemilik acara, dia pulang lebih awal.Namun saat berjalan di jalanan yang tinggal berjarak satu blok dari kampus, Vivian mendadak diseret paksa ke dalam sebuah mobil pribadi yang tiba-tiba berhenti di sampingnya.Di dalam mobil itu, terdapat dua pria berbadan tinggi dan kekar.Di hadapan Vivian, kedua pria itu secara terang-terangan berdiskusi tentang bagaimana cara membuatnya menangis memohon ampun nanti.Dia gemetaran ketakutan dari kepala hingga kaki, tetapi karena melihat senjata api di tangan mereka, wanita itu tidak berani bertindak gegabah.Mobil melaju makin jauh ke daerah terpencil, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah gubuk kayu tua yang lapuk di te

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 16

    Dirly melangkah maju, hendak memaksakan buket bunga itu ke dalam pelukan Vivian.Namun, Vivian langsung mundur satu langkah ke belakang.Gerakan refleks itu menusuk tepat di ulu hati Dirly.Meskipun begitu, dia memaksakan diri menyunggingkan senyum tegar."Nggak apa-apa, aku bakal nunggu sampai kamu mau memberiku kesempatan lagi."Sejak hari itu, Dirly selalu muncul di jalan yang pasti dilalui Vivian setiap hari. Kadang dia membawa sebuket bunga matahari, kadang membawa tumpukan kue-kue manis yang lezat.Setiap Senin malam, langit di atas kampus akan dihiasi oleh pesta kembang api selama beberapa jam.Dirly teringat, Vivian dulu sering berkata bahwa hari Senin adalah hari favoritnya. Karena hari itu menandai mulainya minggu baru dan dia bisa menempel pada Dirly selama seminggu penuh.Demi bisa bebas keluar masuk area kampus, Dirly meminta keluarganya untuk mengurus status mahasiswa exchange untuknya.Pria itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk berbuat baik pada Vivian, meskipun dia

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 15

    Vivian tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap Dirly dengan pandangan datar.Tidak ada gejolak emosi sedikit pun di matanya, seolah-olah dia sedang menatap orang asing yang tak sengaja berpapasan di jalan.Jakun Dirly naik turun, binar di matanya meredup.Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Suasana kamar rawat inap seketika hening mencekam bagaikan kuburan, bahkan suara jarum jatuh pun bisa terdengar jelas.Setelah lama terdiam, Vivian akhirnya berbicara pelan. Nadanya terdengar tenang, tetapi menyimpan rasa asing yang tak pernah didengar Dirly sebelumnya."Gimana kamu bisa tahu aku ada di sini?""Aku ...."Baru saja Dirly hendak menjawab, Vivian kembali menyela."Lupakan saja, aku juga nggak mau tahu urusanmu.""Keluar sana, aku mau istirahat."Nadanya sangat dingin dan hampa, begitu hampa hingga membuat dada Dirly mendadak terasa sangat sesak dan perih.Mereka tumbuh bersama sejak kecil, selalu bertemu setiap hari sejak masih bisa mengingat.Selama tiga tahun di SM

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 14

    Vivian dan Mateo saling berpandangan.Mereka segera meletakkan semua barang di tangan dan berlari ke arah pintu keluar.Bagaimanapun juga, di dalam laboratorium terdapat terlalu banyak bahan yang mudah terbakar dan meledak. Potensi terjadinya ledakan susulan yang lebih besar bisa terjadi kapan saja.Benar saja, tepat saat mereka hampir mencapai pintu keluar, ledakan kedua menghantam."Vivian, awas!"Tanpa sempat berpikir, Mateo melompat dan menerjang Vivian untuk melindunginya.Duar!Cairan kimia bertemperatur tinggi dan pecahan kaca menyembur ke segala arah.Mateo menggeram menahan sakit sambil menggertakkan gigi, darah segar mengucur deras dari punggungnya.Vivian dilindungi dengan sangat rapat di bawah tubuhnya tanpa luka sedikit pun, tetapi telinga wanita itu berdenging hebat.Setelah lama terdiam, Vivian menyadari bahwa orang di atas tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Baru saat itulah, dia menyadari sesuatu, matanya membelalak panik."Kak Mateo!"Bereaksinya berbagai zat kimia,

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 13

    Menyadari suasana yang berubah aneh, Vivian baru tersadar. Demi menyembuhkan depresi Dirly, dia menjadi gadis humoris selama tiga tahun, hingga beberapa kebiasaan sulit dihilangkan dalam waktu singkat.Dan Mateo, kemungkinan besar tidak menyukai hal-hal seperti itu.Namun, tepat saat dia hendak meminta maaf, Mateo yang biasanya dingin dan irit bicara, justru terkekeh pelan setelah terdiam beberapa detik.Pada saat itu, seluruh isi laboratorium dibuat terperanjat."Mataku yang kemasukan zat kimia atau gimana ya? Masa aku lihat kulkas 10 pintu tersenyum?""Aku juga lihat! Apa otakku rusak gara-gara kebanyakan eksperimen?""Kak Mateo kalau tersenyum ... benar-benar bikin melayang! Kalau sampai dilihat fans rahasianya yang agresif seperti serigala di luar sana, apa laboratorium ini bakal nggak dikepung?"Vivian dibuat tertawa geli sampai perutnya sakit melihat tingkah berlebihan teman-temannya.Setelah hari itu, setiap dia melontarkan lelucon garing, seberapa aneh pun itu, atau bahkan ket

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 12

    Demi mencegah Yesika melarikan diri, Dirly langsung menelepon polisi dan menyerahkan bukti-bukti di tangannya untuk mengurung wanita itu lebih dulu.Saat borgol dikunci di pergelangan tangannya, Yesika akhirnya panik setengah mati.Dia memohon ampun dengan panik.Ketika tidak mendapatkan respons, dia mulai mengumpat pada Dirly seperti orang gila."Ibuku akan segera menikah dengan ayahku, mereka pasti akan menyelamatkanku!""Dirly! Kamu pikir kalau memasukkanku ke penjara, Vivian bakal memaafkanmu? Mimpi kamu!""Dia sudah tahu kalau kamu pernah tidur denganku! Kamu kasih dia obat pencahar demi aku, menghinanya berkali-kali, dan membuat video-video menjijikkan itu pakai tanganmu sendiri! Sebenarnya kamu juga punya tanggung jawab atas kematian ibunya! Vivian nggak akan pernah memaafkanmu selamanya!"Kepalan tangan Dirly mendadak terkunci erat, buku-buku jarinya memutih.Ya, atas kematian ibu Vivian, dia juga memiliki tanggung jawab.Kalau saja dia tidak dibutakan oleh kebohongan Yesika hi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status