Share

Bab 3

Author: Jule
Hembusan napas di seberang telepon terdengar kian berat.

"Benarkah? Vivian, kamu memiliki bakat yang sangat tinggi dalam penelitian medis. Asalkan kamu bersedia masuk, semua syarat bisa dibicarakan!"

Setelah menutup telepon, sebuah surat penerimaan jalur khusus dari Fakultas Kedokteran Avicena University dikirimkan ke kotak masuk email Vivian.

Pada saat yang sama, juga terlampir sebuah surat pengantar rumah sakit swasta.

Mempelajari ilmu kedokteran adalah impiannya. Namun, dulu dia pernah menolak undangan dari sekolah kedokteran papan atas ini demi tidak berpisah dari Dirly.

Namun sekarang ....

Dia memutuskan untuk pergi membawa ibunya.

Luka besar dan kecil di tubuhnya terus mengucurkan darah, hingga akhirnya dia tetap pergi ke rumah sakit.

Namun, baru saja selesai mengobati luka di kepalanya, sebuah tangan besar mencengkeram erat luka di lengannya, membuat pandangannya menggelap karena rasa sakit.

Dirly seolah tidak menyadarinya. Dia menarik dan menyeret Vivian ke lantai atas.

"Kamu membuat Yesika terluka. Dia kehilangan banyak darah sekarang, sana, donorkan darahmu!"

"Aku nggak mau!"

Vivian tidak bisa melepaskan diri, jadi dia langsung menggigit lengan Dirly keras-keras. Dirly meringis kesakitan dan mendadak melepaskan genggamannya.

Namun pada detik berikutnya, bagian belakang kepalanya ditahan, dan bibir Dirly mendarat di atas bibirnya.

"Bukankah kamu suka padaku? Asalkan kamu menyelamatkannya, setelah lulus nanti aku bisa tidur denganmu ...."

Vivian membeku, tetapi segera menyadari maksud ucapan Dirly.

Dia menggunakan seluruh tenaganya untuk mendorong pria itu kuat-kuat, lalu melayangkan sebuah tamparan keras dengan penuh amarah.

"Apa cuma gara-gara aku suka padamu, kamu bisa mengabaikan perasaanku dan menghinaku sesukamu?"

Suaranya terdengar pecah, tetapi setiap kata terucap dengan sangat jelas, "Biar kuberitahu, Dirly, mulai hari ini dan seterusnya, aku ... nggak akan pernah suka padamu lagi!"

Gerakan Dirly terhenti sejenak, lalu seolah-olah baru mendengar lelucon paling lucu.

"Nggak akan suka padaku lagi? Bagus, kalau kamu bisa melakukannya, aku nggak peduli. Tapi sekarang, kamu harus donorkan darah untuk Yesika!"

"Siapa pun yang punya pengetahuan medis dasar tahu bahwa donor darah antar-kerabat kandung rawan menyebabkan penyakit reaksi penolakan kekebalan tubuh, dengan tingkat kematian di atas 90%!"

Namun, Dirly tidak percaya sama sekali. Dia menarik Vivian secara paksa ke ruang pengambilan darah.

Baru setelah dokter mengonfirmasi bahwa Vivian tidak berbohong, Dirly membiarkannya pergi dengan wajah dingin.

Berbaring di ruang perawatan, Vivian memejamkan matanya dengan getir.

Luka di tubuhnya jelas berkali-kali lipat lebih banyak daripada Yesika, tetapi saat berhadapan dengannya, Dirly seolah buta.

Dia merasa konyol atas ketulusan hatinya selama delapan belas tahun dan kehilangan dirinya sendiri selama tiga tahun. Di saat yang sama, dia juga merasa iba pada ibunya yang telah bekerja keras separuh hidupnya tanpa hasil yang setimpal.

Beruntung, setelah didiagnosis mengidap kanker, ibunya takut jika meninggal mendadak, Vivian akan tertindas oleh ibu tiri di masa depan.

Karena itu, ibunya secara diam-diam telah mengalihkan seluruh aset pribadinya, yang disembunyikan dari Soni kepada Vivian.

Dia tidak kekurangan uang.

Vivian membuka matanya perlahan, lalu memesan tiket pesawat untuk keberangkatan pada hari Ujian Nasional nanti.

Selesai mengobati lukanya, tanpa membuang waktu dia bergegas pergi ke rumah sakit kanker tempat ibunya dirawat untuk menyelesaikan detail teknis pemindahan rumah sakit antarnegara.

Demi tidak memperlihatkan tubuhnya yang penuh luka kepada ibunya, dia hanya berani bersembunyi di balik pintu kamar rawat, membekap mulutnya sendiri sembari meneteskan air mata tanpa suara.

Malam itu, Soni dan Yesika beserta ibunya tidak pulang. Vivian pun merasa lega bisa menikmati ketenangan.

Hari kedua, dia mengajukan izin tidak masuk sekolah, lalu mengemas barang-barang pribadinya dan ibunya untuk dikirimkan ke luar negeri.

Hari ketiga, dia mengenakan kemeja lengan panjang untuk menutupi luka-luka di tubuhnya sebelum kembali ke sekolah.

Namun, baru saja melangkahkan kaki ke dalam sekolah, dia menyadari bahwa pandangan teman-teman sekolah yang tertuju padanya terasa sangat aneh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 17

    Vivian selalu merasa akhir-akhir ini ada sepasang mata yang terus menempel pada tubuhnya, membuatnya merasa sangat tidak nyaman.Hingga pada suatu hari, saat sedang menghadiri pesta ulang tahun teman sekelasnya, Vivian menerima telepon dari Profesor John yang memintanya segera kembali ke laboratorium.Setelah meminta maaf pada pemilik acara, dia pulang lebih awal.Namun saat berjalan di jalanan yang tinggal berjarak satu blok dari kampus, Vivian mendadak diseret paksa ke dalam sebuah mobil pribadi yang tiba-tiba berhenti di sampingnya.Di dalam mobil itu, terdapat dua pria berbadan tinggi dan kekar.Di hadapan Vivian, kedua pria itu secara terang-terangan berdiskusi tentang bagaimana cara membuatnya menangis memohon ampun nanti.Dia gemetaran ketakutan dari kepala hingga kaki, tetapi karena melihat senjata api di tangan mereka, wanita itu tidak berani bertindak gegabah.Mobil melaju makin jauh ke daerah terpencil, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah gubuk kayu tua yang lapuk di te

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 16

    Dirly melangkah maju, hendak memaksakan buket bunga itu ke dalam pelukan Vivian.Namun, Vivian langsung mundur satu langkah ke belakang.Gerakan refleks itu menusuk tepat di ulu hati Dirly.Meskipun begitu, dia memaksakan diri menyunggingkan senyum tegar."Nggak apa-apa, aku bakal nunggu sampai kamu mau memberiku kesempatan lagi."Sejak hari itu, Dirly selalu muncul di jalan yang pasti dilalui Vivian setiap hari. Kadang dia membawa sebuket bunga matahari, kadang membawa tumpukan kue-kue manis yang lezat.Setiap Senin malam, langit di atas kampus akan dihiasi oleh pesta kembang api selama beberapa jam.Dirly teringat, Vivian dulu sering berkata bahwa hari Senin adalah hari favoritnya. Karena hari itu menandai mulainya minggu baru dan dia bisa menempel pada Dirly selama seminggu penuh.Demi bisa bebas keluar masuk area kampus, Dirly meminta keluarganya untuk mengurus status mahasiswa exchange untuknya.Pria itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk berbuat baik pada Vivian, meskipun dia

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 15

    Vivian tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap Dirly dengan pandangan datar.Tidak ada gejolak emosi sedikit pun di matanya, seolah-olah dia sedang menatap orang asing yang tak sengaja berpapasan di jalan.Jakun Dirly naik turun, binar di matanya meredup.Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Suasana kamar rawat inap seketika hening mencekam bagaikan kuburan, bahkan suara jarum jatuh pun bisa terdengar jelas.Setelah lama terdiam, Vivian akhirnya berbicara pelan. Nadanya terdengar tenang, tetapi menyimpan rasa asing yang tak pernah didengar Dirly sebelumnya."Gimana kamu bisa tahu aku ada di sini?""Aku ...."Baru saja Dirly hendak menjawab, Vivian kembali menyela."Lupakan saja, aku juga nggak mau tahu urusanmu.""Keluar sana, aku mau istirahat."Nadanya sangat dingin dan hampa, begitu hampa hingga membuat dada Dirly mendadak terasa sangat sesak dan perih.Mereka tumbuh bersama sejak kecil, selalu bertemu setiap hari sejak masih bisa mengingat.Selama tiga tahun di SM

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 14

    Vivian dan Mateo saling berpandangan.Mereka segera meletakkan semua barang di tangan dan berlari ke arah pintu keluar.Bagaimanapun juga, di dalam laboratorium terdapat terlalu banyak bahan yang mudah terbakar dan meledak. Potensi terjadinya ledakan susulan yang lebih besar bisa terjadi kapan saja.Benar saja, tepat saat mereka hampir mencapai pintu keluar, ledakan kedua menghantam."Vivian, awas!"Tanpa sempat berpikir, Mateo melompat dan menerjang Vivian untuk melindunginya.Duar!Cairan kimia bertemperatur tinggi dan pecahan kaca menyembur ke segala arah.Mateo menggeram menahan sakit sambil menggertakkan gigi, darah segar mengucur deras dari punggungnya.Vivian dilindungi dengan sangat rapat di bawah tubuhnya tanpa luka sedikit pun, tetapi telinga wanita itu berdenging hebat.Setelah lama terdiam, Vivian menyadari bahwa orang di atas tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Baru saat itulah, dia menyadari sesuatu, matanya membelalak panik."Kak Mateo!"Bereaksinya berbagai zat kimia,

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 13

    Menyadari suasana yang berubah aneh, Vivian baru tersadar. Demi menyembuhkan depresi Dirly, dia menjadi gadis humoris selama tiga tahun, hingga beberapa kebiasaan sulit dihilangkan dalam waktu singkat.Dan Mateo, kemungkinan besar tidak menyukai hal-hal seperti itu.Namun, tepat saat dia hendak meminta maaf, Mateo yang biasanya dingin dan irit bicara, justru terkekeh pelan setelah terdiam beberapa detik.Pada saat itu, seluruh isi laboratorium dibuat terperanjat."Mataku yang kemasukan zat kimia atau gimana ya? Masa aku lihat kulkas 10 pintu tersenyum?""Aku juga lihat! Apa otakku rusak gara-gara kebanyakan eksperimen?""Kak Mateo kalau tersenyum ... benar-benar bikin melayang! Kalau sampai dilihat fans rahasianya yang agresif seperti serigala di luar sana, apa laboratorium ini bakal nggak dikepung?"Vivian dibuat tertawa geli sampai perutnya sakit melihat tingkah berlebihan teman-temannya.Setelah hari itu, setiap dia melontarkan lelucon garing, seberapa aneh pun itu, atau bahkan ket

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 12

    Demi mencegah Yesika melarikan diri, Dirly langsung menelepon polisi dan menyerahkan bukti-bukti di tangannya untuk mengurung wanita itu lebih dulu.Saat borgol dikunci di pergelangan tangannya, Yesika akhirnya panik setengah mati.Dia memohon ampun dengan panik.Ketika tidak mendapatkan respons, dia mulai mengumpat pada Dirly seperti orang gila."Ibuku akan segera menikah dengan ayahku, mereka pasti akan menyelamatkanku!""Dirly! Kamu pikir kalau memasukkanku ke penjara, Vivian bakal memaafkanmu? Mimpi kamu!""Dia sudah tahu kalau kamu pernah tidur denganku! Kamu kasih dia obat pencahar demi aku, menghinanya berkali-kali, dan membuat video-video menjijikkan itu pakai tanganmu sendiri! Sebenarnya kamu juga punya tanggung jawab atas kematian ibunya! Vivian nggak akan pernah memaafkanmu selamanya!"Kepalan tangan Dirly mendadak terkunci erat, buku-buku jarinya memutih.Ya, atas kematian ibu Vivian, dia juga memiliki tanggung jawab.Kalau saja dia tidak dibutakan oleh kebohongan Yesika hi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status