Short
Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam

Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam

Por:  JuleCompleto
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
17Capítulos
1.7Kvisualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

H-7 menjelang Ujian Nasional. Saat istirahat pelajaran, pengeras suara sekolah mendadak berbunyi. "Saya, Dirly Baram, dari kelas XII-9. Sebelum lulus, saya ingin menyatakan cinta secara terbuka pada gadis yang saya sukai." Di dalam kelas, para siswa serentak menatap Vivian Halim. Suara riuh bersahut-sahutan. Wajahnya seketika merona merah, jantungnya berdebar kencang. Bagaimanapun juga, demi membantu teman kecilnya itu keluar dari siksaan depresi, Vivian berakting menjadi gadis konyol yang selalu tertawa riang selama tiga tahun penuh. Dirly pun pernah mencium bibirnya pada ulang tahun ke-18 mereka. "Kamulah yang membuatku melihat seberkas cahaya di dalam kegelapan," kata Dirly dengan suara jernih melalui pengeras suara. "Aku berharap bisa mendapatkan jawabanmu setelah Ujian Nasional selesai." "Aku suka kamu, Yesika." Vivian membeku. Tangannya yang menggenggam seragam sekolah mendadak lemas. Orang yang ditambak cinta oleh Dirly bukanlah dirinya. Melainkan Yesika Glen. Gadis bermasalah yang sejak pindah sekolah semester ini sudah tidak menyukainya. Bahkan menyebarkan fitnah bahwa dia terlihat merangkul beberapa pria tua yang berbeda.

Ver mais

Capítulo 1

Bab 1

Ruang kelas seketika senyap tanpa suara.

Hanya terdengar teguran dari guru BK melalui pengeras suara.

Beberapa detik kemudian, sorakan dan jeritan yang lebih riuh membahana, hampir merobohkan atap ruang kelas.

Yesika mendadak membanting pulpennya dan berdiri. Dengan wajah tegang, dia berjalan ke hadapan Vivian.

"Vivian, kamu sudah lama banget bucin Dirly, masa nggak bisa ngelarang? Nyatain cinta pakai mic begitu, kekanak-kanakan sekali!"

Namun, Vivian jelas melihat binar kepuasan di mata Yesika.

Bisik-bisik bernada ejekan dari teman-teman sekelas bagaikan percikan api kecil yang membakar wajahnya.

Vivian mengepalkan telapak tangannya erat-erat. Tepat saat dia hendak berbicara, guru BK datang dengan raut wajah serius dan memanggil Yesika pergi.

Sepanjang jam pelajaran berikutnya, Yesika dan Dirly tidak kembali ke kelas.

Pikiran Vivian kosong. Begitu bel istirahat akhirnya berbunyi, dialah orang pertama yang melesat keluar kelas.

Dia ingin menemui Dirly untuk meminta penjelasan.

Namun, saat berlari ke lapangan olahraga, dia melihat Dirly sedang menjalani hukuman berdiri sambil menaruh buku di atas kepala, sekaligus tersenyum sembari menceritakan lelucon kepada Yesika yang juga sedang dihukum di sampingnya.

Pemuda itu mendongak, menyambut tatapannya.

Tidak ada rasa bersalah atau panik sedikit pun. Dirly bahkan seolah mendapat inspirasi mendadak. Dia menunduk lagi dan menatap Yesika.

"Kamu tahu kenapa Vivian jadi gadis humoris? Karena ... kalau nggak bisa dapat pacar yang benar, dia cuma bisa jadi bahan lelucon."

Pfft!

Yesika tertawa terbahak-bahak.

Sementara itu, Vivian merasa seolah disiram air dingin dari ujung kepala sampai kaki.

Tiga tahun lalu, setelah menyaksikan ibunya sendiri tewas melompat dari gedung, Dirly mengidap depresi berat.

Setelah mencegah tindakan nekatnya untuk kelima kali, Vivian memeluk Dirly yang bermata kuyu sambil menangis histeris.

"Dirly, aku akan menemanimu. Aku akan menjadi penghiburmu. Percayalah padaku, aku akan membantumu sembuh!"

Vivian berhasil melakukannya.

Selama tiga tahun penuh, dia memaksa dirinya sendiri. Dia bertransformasi dari kembang sekolah yang dingin menjadi gadis humoris yang selalu melontarkan lelucon.

Dia memeras otak, menceritakan ribuan lelucon, bahkan menjadikan dirinya sendiri bahan olokan. Hingga akhirnya senyuman di wajah Dirly makin sering terlihat.

Namun, dia tidak menyangka bahwa pada akhirnya, di mulut Dirly, dirinya justru berubah menjadi sebuah lelucon!

Kalimat "nggak bisa dapat pacar yang benar" itu bahkan seolah membenarkan rumor jahat yang disebarkan Yesika sebelumnya tentang dirinya!

Vivian berjalan mendekat dengan tubuh kaku. Suaranya terdengar serak dan kering.

"Kamu nggak berniat menjelaskan apa pun?"

Raut wajah Dirly menunjukkan rasa tidak sabar. "Menjelaskan apa?"

"Yang membantumu sembuh dari depresi itu jelas-jelas aku, kamu juga pernah menciumku ...."

"Jangan kepedeaan!"

Dirly menyela dengan suara dingin dan nada mencemooh.

"Kamu berakting gila tiap hari, apa kamu benar-benar menganggap dirimu sebagai pahlawan?"

"Soal ciuman waktu itu, aku cuma main-main saja. Kamu juga bukan gadis alim, kenapa harus berlebihan?"

Sambil berkata demikian, dia berbalik ke arah Yesika dan bersumpah. "Yesika, orang yang kusuka itu cuma kamu."

Vivian menggigit bibirnya erat-erat, sudut matanya memerah.

Namun, Dirly tidak memberinya kesempatan untuk bertanya lagi.

Dengan sangat alami, Dirly menggandeng tangan Yesika, dan tidak marah sedikit pun saat tangannya ditepis.

Melihat punggung mereka berdua yang menjauh, Vivian berdiri di bawah terik matahari, tetapi seluruh tubuhnya terasa dingin membeku.

Di sisa jam pelajaran, tak ada satu kata pun yang masuk ke otaknya. Pandangannya terus-menerus teralih ke arah Dirly.

Namun, pandangan Dirly justru tertuju pada Yesika yang tertidur telungkup di meja.

Satu kali pun, Dirly tidak pernah mendongak menatapnya.

Hingga saat istirahat makan siang, Vivian menahan sakit perut dan tertelungkup di meja tanpa pergi ke kantin.

Dirly mendadak berjalan ke kursi di depan mejanya, lalu duduk menghadapnya.

Seolah tak terjadi apa-apa, Dirly mengambil satu sendok bubur yang dibungkusnya, lalu meniupnya pelan.

"Sakit perut?"

"Makan bubur sedikit akan membuatmu mendingan. Aku suapi."

Vivian menatap linglung pada bubur yang disodorkan ke bibirnya.

Ini adalah kali kedua Dirly menyuapinya.

Kali pertama adalah saat dia menerjang hujan lebat demi menari untuk memberi semangat kepada Dirly. Keesokan harinya, demamnya mencapai 40 derajat hingga hampir kehilangan kesadaran.

Dirly membolos sekolah dan berlari ke rumahnya. Walaupun Dirly marah-marah bahwa Vivian menanggung akibat dari perbuatannya sendiri, sudut mata Dirly memerah sembari menyuapinya lebih dari setengah mangkuk bubur, sendok demi sendok.

Air mata jatuh tanpa peringatan ke dalam bubur. Vivian berkata dengan suara gemetar,

"Dirly, kamu ...."

"Habiskan dulu buburnya."

Dirly menyela, nadanya jarang-jarang terdengar agak lembut.

Pelupuk mata Vivian terasa panas, tetapi dia tetap menahan rasa sakit hatinya dan menurut dengan patuh.

Ketika mangkuk bubur hampir kosong dan dia benar-benar tidak sanggup makan lagi, barulah Dirly meletakkan sendoknya.

"Vivian, di dalam bubur ini, aku menambahkan sesuatu."

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

avaliações

Strawberry
Strawberry
Lelah sekali, ga bs lanjut baca siksaannya ga da henti berbab-bab ga dikasih istirahat.....
2026-08-26 07:37:30
0
0
17 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status