Share

Bab 5

Author: Jule
Sorot lampu panggung membakar mata Vivian hingga sulit terbuka.

"Vivian, kamu membuatku harus dirawat di rumah sakit selama dua hari sampai ganggu belajarku. Sekarang tekanan Ujian Nasional membuatku stres berat."

Yesika bersedekap dada, berlagak seperti ketua geng sambil duduk di barisan depan kursi penonton.

"Kudengar ibumu yang sakit-sakitan itu butuh tanda tangan keluarga buat tindakan darurat? Begini saja, kamu ‘kan gadis humoris yang terkenal di sekolah. Asalkan kamu bisa membuatku tertawa, aku bakal melepaskanmu. Bagaimana?"

"Kamu sudah gila? Ibuku sedang kritis, dan kamu menyuruhku buat lelucon demi menghiburmu?"

Vivian sangat cemas. Matanya yang mulai terbiasa dengan cahaya menatap Yesika dengan tajam.

Saat itulah, sebuah bayangan muncul di ambang pintu membelakangi cahaya.

Vivian seketika melihatnya sebagai titik terang penyelamat.

"Dirly, ibuku kritis! Ibuku butuh tanda tangan keluarga, cepat suruh mereka melepaskanku! Ibuku sudah nggak punya waktu lagi!"

Dia hampir menangis histeris dengan mata memerah.

Dirly bungkam sejenak. Kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis. "Itu ‘kan ibumu, apa urusannya denganku?"

Napas Vivian tertahan.

"Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu? Apa kamu lupa waktu kita kecil dulu, ibuku sering memasakkan makanan enak dan memberimu hadiah ...?"

"Cukup!" Dirly mendadak mengamuk. "Waktu kamu menyebarkan cerita ibuku yang lompat dari gedung sebagai lelucon di internet, apa kamu pernah berpikir kalau ibuku juga pernah menyayangimu seperti anaknya sendiri?"

Dadanya naik turun menahan napas, suara teriakannya bergema di gedung pertunjukan yang lengang itu.

Vivian tertegun.

Dia mendadak teringat ucapan Yesika hari itu yang mengaku menggunakan akun palsu untuk menyamar sebagai dirinya.

Namun, tak peduli bagaimana dia menjelaskan, Dirly sama sekali tak mau percaya. Pria itu malah duduk santai di samping Yesika sambil bermesraan.

"Bukannya aku sudah membantumu melampiaskan amarah? Masih belum puas?"

"Dendam tentu saja harus dibalas sendiri baru terasa puas. Kenapa, kamu nggak tega?"

"Kamu cemburu?"

"Bukan urusanmu!"

Pada detik berikutnya, Dirly mencengkeram tengkuk Yesika lalu mendaratkan ciuman di bibirnya!

Wajah Vivian pucat pasi.

Di saat ibunya bertaruh antara hidup dan mati, Dirly tidak hanya menolak menolongnya, tetapi malah ....

Jantungnya serasa dilubangi secara paksa, rasa sakitnya membuat napasnya terasa sangat sesak.

Saat itu, ponselnya kembali berdering dari rumah sakit. Belum sempat diangkat, preman di sampingnya sudah merebut ponsel itu.

Dia berteriak histeris hingga histeris, tetapi tak seorang pun memedulikannya.

Demi keselamatan ibunya, pada akhirnya dia terpaksa menyerah.

Dia berdiri di atas panggung, menelan bulat-bulat rasa malu dan kecemasan yang membakar dadanya demi menceritakan lelucon-lelucon itu.

Namun, Yesika jelas-jelas berniat menyiksanya, tak ada satu pun yang memuaskan hatinya.

Dia bahkan menyuruh orang membawa beberapa pakaian berbau menyengat dan tumpukan kosmetik murah.

"Pernah dengar tren dandan aneh? Asalkan kamu dandan sampai terlihat cukup menjijikkan, aku anggap kamu lolos."

Tidak ada jam dinding di dalam gedung itu. Vivian tak tahu sudah berapa lama waktu berlalu, yang dia tahu hanyalah ibunya masih menunggu pertolongannya!

Tanpa berpikir panjang, dia langsung mengenakan pakaian-pakaian itu ke tubuhnya hingga terbatuk mual akibat baunya.

Perona mata dengan berbagai warna diusapkan secara acak-acakan ke wajahnya.

Sementara Dirly hanya duduk di sana, menikmati pemandangan mengenaskan itu dengan tatapan dingin.

Hingga akhirnya, setelah entah berapa lapis baju yang dia kenakan, Yesika merogoh ponselnya untuk merekamnya cukup lama, lalu tertawa sambil mencibir bahwa itu benar-benar menjijikkan.

Setelah itu, dengan bangga dia menggandeng lengan Dirly dan pergi bersama rombongan preman tersebut.

Vivian tak berani membuang waktu sedetik pun. Dia memungut ponselnya di lantai lalu berlari seperti orang gila menuju rumah sakit.

Dia bahkan tidak sempat melepas pakaian-pakaian aneh itu.

Dia berlari sekuat tenaga, berdoa dalam hati berulang kali agar ibunya bisa bertahan!

Namun saat Vivian akhirnya sampai di kamar pasien rumah sakit, dia menyaksikan seorang perawat sedang menarik kain linen putih untuk menutupi seluruh wajah ibunya.

Dunia seolah mendadak di-heningkan.

Di telinganya, hanya terdengar suara napasnya sendiri yang memburu dan berat.

Kaki-kakinya serasa ditancapkan timah.

Dengan tangan gemetaran, Vivian perlahan membuka kain putih itu. Ibunya memejamkan mata, terlihat seolah hanya sedang tertidur lelap.

Namun saat telapak tangannya menyentuh wajah sang ibu, rasanya sangat dingin.

Dia ... tidak punya ibu lagi.

"Ibu ...!"

Jeritan keputusasaan yang memilukan meluncur deras merobek tenggorokannya.

Dia duduk mematung di depan kamar jenazah hingga fajar menyingsing.

Pada pantulan kaca di hadapannya, berbagai warna di wajahnya bercampur aduk. Dipadukan dengan tatapan matanya yang kosong, penampilannya terlihat sangat mengerikan.

Dia sudah menelepon Soni puluhan kali, tetapi tak pernah diangkat.

Hingga saat panggilannya ditolak sekali lagi, sebuah pesan singkat dari Soni masuk.

[Bukannya ibumu memang sudah meninggal? Bukan masalah besar ini. Mayatnya tinggal kamu urus sendiri buat dikubur. Kebetulan Ayah dan Tante Rasta mau liburan berdua dulu sebelum pulang untuk mengurus surat nikah, jangan bikin acara kami jadi ketiban sial.]

Vivian memandangi pesan itu.

Ibunya telah meninggal, tetapi ayahnya berkata itu bukan masalah besar dan menyuruhnya mengurus pemakaman sendiri.

Ibunya baru meninggal, tetapi ayahnya sudah tak sabar ingin mendaftarkan pernikahan dengan wanita lain.

Tangannya yang menggenggam erat ponsel seketika kehilangan seluruh tenaga.

Dalam diam, dia pulang ke rumah untuk membersihkan seluruh tubuhnya.

Vivian menghabiskan waktu seharian untuk mengurus seluruh proses pemakaman ibunya.

Sambil mengelus batu nisan sang ibu, dia teringat bahwa sebenarnya hanya tinggal tiga hari lagi sampai dia bisa membawa ibunya pergi dari tempat ini.

Namun sekarang, yang tersisa hanyalah dirinya seorang.

Dia duduk bersandar di batu nisan itu cukup lama, hingga menerima pesan dari wali kelasnya yang memintanya untuk datang ke sekolah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 17

    Vivian selalu merasa akhir-akhir ini ada sepasang mata yang terus menempel pada tubuhnya, membuatnya merasa sangat tidak nyaman.Hingga pada suatu hari, saat sedang menghadiri pesta ulang tahun teman sekelasnya, Vivian menerima telepon dari Profesor John yang memintanya segera kembali ke laboratorium.Setelah meminta maaf pada pemilik acara, dia pulang lebih awal.Namun saat berjalan di jalanan yang tinggal berjarak satu blok dari kampus, Vivian mendadak diseret paksa ke dalam sebuah mobil pribadi yang tiba-tiba berhenti di sampingnya.Di dalam mobil itu, terdapat dua pria berbadan tinggi dan kekar.Di hadapan Vivian, kedua pria itu secara terang-terangan berdiskusi tentang bagaimana cara membuatnya menangis memohon ampun nanti.Dia gemetaran ketakutan dari kepala hingga kaki, tetapi karena melihat senjata api di tangan mereka, wanita itu tidak berani bertindak gegabah.Mobil melaju makin jauh ke daerah terpencil, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah gubuk kayu tua yang lapuk di te

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 16

    Dirly melangkah maju, hendak memaksakan buket bunga itu ke dalam pelukan Vivian.Namun, Vivian langsung mundur satu langkah ke belakang.Gerakan refleks itu menusuk tepat di ulu hati Dirly.Meskipun begitu, dia memaksakan diri menyunggingkan senyum tegar."Nggak apa-apa, aku bakal nunggu sampai kamu mau memberiku kesempatan lagi."Sejak hari itu, Dirly selalu muncul di jalan yang pasti dilalui Vivian setiap hari. Kadang dia membawa sebuket bunga matahari, kadang membawa tumpukan kue-kue manis yang lezat.Setiap Senin malam, langit di atas kampus akan dihiasi oleh pesta kembang api selama beberapa jam.Dirly teringat, Vivian dulu sering berkata bahwa hari Senin adalah hari favoritnya. Karena hari itu menandai mulainya minggu baru dan dia bisa menempel pada Dirly selama seminggu penuh.Demi bisa bebas keluar masuk area kampus, Dirly meminta keluarganya untuk mengurus status mahasiswa exchange untuknya.Pria itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk berbuat baik pada Vivian, meskipun dia

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 15

    Vivian tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap Dirly dengan pandangan datar.Tidak ada gejolak emosi sedikit pun di matanya, seolah-olah dia sedang menatap orang asing yang tak sengaja berpapasan di jalan.Jakun Dirly naik turun, binar di matanya meredup.Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Suasana kamar rawat inap seketika hening mencekam bagaikan kuburan, bahkan suara jarum jatuh pun bisa terdengar jelas.Setelah lama terdiam, Vivian akhirnya berbicara pelan. Nadanya terdengar tenang, tetapi menyimpan rasa asing yang tak pernah didengar Dirly sebelumnya."Gimana kamu bisa tahu aku ada di sini?""Aku ...."Baru saja Dirly hendak menjawab, Vivian kembali menyela."Lupakan saja, aku juga nggak mau tahu urusanmu.""Keluar sana, aku mau istirahat."Nadanya sangat dingin dan hampa, begitu hampa hingga membuat dada Dirly mendadak terasa sangat sesak dan perih.Mereka tumbuh bersama sejak kecil, selalu bertemu setiap hari sejak masih bisa mengingat.Selama tiga tahun di SM

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 14

    Vivian dan Mateo saling berpandangan.Mereka segera meletakkan semua barang di tangan dan berlari ke arah pintu keluar.Bagaimanapun juga, di dalam laboratorium terdapat terlalu banyak bahan yang mudah terbakar dan meledak. Potensi terjadinya ledakan susulan yang lebih besar bisa terjadi kapan saja.Benar saja, tepat saat mereka hampir mencapai pintu keluar, ledakan kedua menghantam."Vivian, awas!"Tanpa sempat berpikir, Mateo melompat dan menerjang Vivian untuk melindunginya.Duar!Cairan kimia bertemperatur tinggi dan pecahan kaca menyembur ke segala arah.Mateo menggeram menahan sakit sambil menggertakkan gigi, darah segar mengucur deras dari punggungnya.Vivian dilindungi dengan sangat rapat di bawah tubuhnya tanpa luka sedikit pun, tetapi telinga wanita itu berdenging hebat.Setelah lama terdiam, Vivian menyadari bahwa orang di atas tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Baru saat itulah, dia menyadari sesuatu, matanya membelalak panik."Kak Mateo!"Bereaksinya berbagai zat kimia,

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 13

    Menyadari suasana yang berubah aneh, Vivian baru tersadar. Demi menyembuhkan depresi Dirly, dia menjadi gadis humoris selama tiga tahun, hingga beberapa kebiasaan sulit dihilangkan dalam waktu singkat.Dan Mateo, kemungkinan besar tidak menyukai hal-hal seperti itu.Namun, tepat saat dia hendak meminta maaf, Mateo yang biasanya dingin dan irit bicara, justru terkekeh pelan setelah terdiam beberapa detik.Pada saat itu, seluruh isi laboratorium dibuat terperanjat."Mataku yang kemasukan zat kimia atau gimana ya? Masa aku lihat kulkas 10 pintu tersenyum?""Aku juga lihat! Apa otakku rusak gara-gara kebanyakan eksperimen?""Kak Mateo kalau tersenyum ... benar-benar bikin melayang! Kalau sampai dilihat fans rahasianya yang agresif seperti serigala di luar sana, apa laboratorium ini bakal nggak dikepung?"Vivian dibuat tertawa geli sampai perutnya sakit melihat tingkah berlebihan teman-temannya.Setelah hari itu, setiap dia melontarkan lelucon garing, seberapa aneh pun itu, atau bahkan ket

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 12

    Demi mencegah Yesika melarikan diri, Dirly langsung menelepon polisi dan menyerahkan bukti-bukti di tangannya untuk mengurung wanita itu lebih dulu.Saat borgol dikunci di pergelangan tangannya, Yesika akhirnya panik setengah mati.Dia memohon ampun dengan panik.Ketika tidak mendapatkan respons, dia mulai mengumpat pada Dirly seperti orang gila."Ibuku akan segera menikah dengan ayahku, mereka pasti akan menyelamatkanku!""Dirly! Kamu pikir kalau memasukkanku ke penjara, Vivian bakal memaafkanmu? Mimpi kamu!""Dia sudah tahu kalau kamu pernah tidur denganku! Kamu kasih dia obat pencahar demi aku, menghinanya berkali-kali, dan membuat video-video menjijikkan itu pakai tanganmu sendiri! Sebenarnya kamu juga punya tanggung jawab atas kematian ibunya! Vivian nggak akan pernah memaafkanmu selamanya!"Kepalan tangan Dirly mendadak terkunci erat, buku-buku jarinya memutih.Ya, atas kematian ibu Vivian, dia juga memiliki tanggung jawab.Kalau saja dia tidak dibutakan oleh kebohongan Yesika hi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status