Share

Bab 6

Author: Jule
Di dalam ruang guru, wali kelas menatap Vivian dengan raut wajah serius.

"Belakangan ini ada rumor nggak enak tentang dirimu di sekolah. Video-video itu jelas direkayasa, jadi kita biarkan dulu masalah itu. Walaupun kamu biasanya suka bercanda, nilaimu selalu sangat bagus. Ibu nggak mengerti, kenapa kamu malah menghancurkan masa depanmu sendiri?"

Sambil berkata demikian, wali kelas membuka lembar pilihan perguruan tinggi milik Vivian di komputer.

"Ibu ingat pilihanmu sebelumnya adalah universitas-universitas papan atas, kenapa sekarang semuanya diubah ke kampus-kampus nggak jelas? Sekarang batas waktu perubahannya sudah lewat, ini bukan main-main!"

Vivian menatap layar itu dengan pandangan datar.

Kata sandi akunnya adalah tanggal lahir Dirly, dan hanya Dirly yang mengetahuinya.

Ini pasti cara lain Dirly untuk menyenangkan hati Yesika.

Vivian memaksa dirinya menjadi gadis humoris demi menghibur Dirly selama tiga tahun.

Namun, hanya karena dia pergi selama tujuh hari, Dirly langsung menjadikannya bahan tontonan demi menghibur orang lain.

Tetapi, Vivian sudah tidak peduli lagi.

Wali kelasnya masih bersusah payah memikirkan cara untuk memperbaiki pilihan tersebut.

"Bu," potongnya mendadak. Suaranya terdengar sangat serak dan parau. "Saya nggak akan ikut Ujian Nasional."

Pada detik berikutnya, suara yang sangat familier terdengar dari arah pintu.

"Kamu nggak ikut Ujian Nasional, memangnya mau jadi kuli?"

Dirly tersenyum sinis, menyerahkan buku latihan kepada wali kelas, lalu berlalu pergi begitu saja.

Sepuluh menit kemudian, Vivian juga melangkahkan kaki keluar dari ruang guru.

Di mana pun dia lewat, bisik-bisik dan ejekan masih terus mengiringi langkahnya. Namun, Vivian pura-pura tidak mendengar sama sekali.

Dia bagaikan mayat hidup yang kehilangan jiwa. Tatapannya mati, tanpa emosi sedikit pun.

Bahkan saat Yesika sengaja berdiri menghadang di depannya, dia hanya berjalan memutar melewatinya.

Rencananya, dia hanya ingin mengambil seluruh barang-barangnya di kelas. Lalu menunggu hari keberangkatan ke luar negeri tanpa perlu masuk sekolah lagi.

Namun, sikap acuh tak acuhnya justru memancing amarah Yesika.

"Vivian, kamu sok suci apa sih? Aku ‘kan cuma suruh kamu kasih gelang kayu yang samaan dengan milik Dirly itu padaku, kamu tuli ya?"

Yesika yang terlanjur emosi, langsung menyambar gelas air di atas meja dan melemparkannya dengan keras ke arah kepala Vivian.

Luka di kepala Vivian yang baru saja mengering akibat terbentur saat didorong Dirly kembali robek.

Darah segar mengalir menyusuri wajahnya yang pucat, menetes ke atas pakaian hitam yang dikenakannya.

Ruang kelas seketika senyap bagaikan kuburan.

Dirly yang sedang memegang bola basket berjalan ke pintu kelas. Menyadari atmosfer yang tidak beres, dia langsung menerobos masuk dan berdiri di hadapan Yesika. Tanpa mencari tahu sebab akibat, dia langsung menuduh Vivian.

"Vivian, kamu mau bikin keributan apa lagi?"

Keributan?

Dia bahkan sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk membuat keributan.

Vivian mengusap darah di wajahnya dengan tenang.

Kemudian dari dalam saku, dia mengeluarkan sepasang gelang tasbih itu dan meletakkannya di atas meja.

Gelang ini adalah buah tangan yang dibelikan keluarga mereka saat dia dan Dirly berumur 8 tahun.

Bahkan jika Yesika tidak memintanya, Vivian memang sudah tidak berniat menyimpan gelang itu lagi.

Setelah memasukkan buku terakhir miliknya ke dalam tas, dia berjalan memutar melewati orang-orang di hadapannya dan melangkah pergi begitu saja.

Sepanjang proses itu, tak sepatah kata pun terucap dari mulutnya.

Dirly justru dibuat tertegun.

Di hadapannya, Vivian selalu punya lelucon yang tak pernah habis dan wajah yang selalu dihiasi senyuman.

Sejak kapan gadis itu menjadi begitu ... begitu pendiam seperti ini?

Namun tak lama kemudian, dia menganggap ini hanyalah taktik jual mahal dari Vivian. Sayangnya, dia tidak mempan dengan permainan seperti itu.

48 jam menjelang Ujian Nasional, grup obrolan kelas terus berdering tanpa henti.

Acara kumpul-kumpul yang diadakan Yesika telah dimulai.

Vivian tidak datang. Dia justru sibuk membersihkan seluruh jejak peninggalannya dan ibunya di rumah hingga tak bersisa.

Selama proses itu, Yesika berkali-kali mengirimkan pesan bernada provokasi, bahkan memamerkan foto saat Vivian dipaksa berdandan aneh yang ditayangkan di layar besar restoran. Vivian hanya meliriknya sekilas lalu langsung menghapusnya.

Dirly juga mengirimkan sebuah pesan singkat.

[Vivian, satu kelas datang ke acara kumpul-kumpul ini, kamu nggak usah sok spesial. Cepat datang ke sini sekarang!]

Vivian tidak membalasnya, dan memang tidak bisa membalasnya.

Dirly sepertinya lupa bahwa dirinya sendiri yang telah memasukkan nomor Vivian ke dalam daftar blokir.

24 jam menjelang Ujian Nasional.

Vivian berbaring di atas tempat tidur.

Layar media sosialnya hampir dipenuhi oleh unggahan Yesika. Setiap unggahan berisi sembilan foto, dan di setiap foto selalu ada Dirly.

Vivian mendadak teringat bahwa dia juga pernah mengambil foto Dirly menggunakan kamera polaroid.

Saat itu, dia menyerahkan foto itu kepada Dirly sambil tertawa riang.

"Mumpung masih muda harus rajin foto-foto, jadi waktu umur delapan puluh tahun nanti masih bisa dipakai buat cari pacar di internet!"

Waktu itu, Dirly dengan tidak sabar merobek foto tersebut lalu membuangnya ke tong sampah.

"Aku nggak suka difoto."

Ternyata, bukan tidak suka difoto, melainkan hanya tidak suka dengannya.

Perjuangan sepihak yang tak tahu dimulai sejak usia berapa ini, berakhir dengan kekalahannya yang telak.

Pada hari Ujian Nasional berlangsung, Vivian menerima sebuah rekaman video beserta dokumen berkas yang sangat panjang.

Mata yang telah kosong dan mati selama beberapa hari itu, akhirnya kembali menunjukkan gejolak emosi.

Napasnya tertahan, pelupuk matanya terasa panas, dan tangannya yang memegang ponsel gemetaran hebat.

Setelan menekan emosi yang bergejolak di dadanya, Vivian segera membalas nomor tersebut dengan cepat.

[Hubungi pengacara, segera ajukan gugatan hukum.]

Dia akan membuat pelaku yang menyebabkan kematian ibunya membayar harga yang setimpal.

Pesawat akhirnya lepas landas. Vivian menyandarkan punggungnya ke kursi lalu memejamkan mata, tanpa sudi menoleh lagi ke kota tersebut walau hanya sekilas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 17

    Vivian selalu merasa akhir-akhir ini ada sepasang mata yang terus menempel pada tubuhnya, membuatnya merasa sangat tidak nyaman.Hingga pada suatu hari, saat sedang menghadiri pesta ulang tahun teman sekelasnya, Vivian menerima telepon dari Profesor John yang memintanya segera kembali ke laboratorium.Setelah meminta maaf pada pemilik acara, dia pulang lebih awal.Namun saat berjalan di jalanan yang tinggal berjarak satu blok dari kampus, Vivian mendadak diseret paksa ke dalam sebuah mobil pribadi yang tiba-tiba berhenti di sampingnya.Di dalam mobil itu, terdapat dua pria berbadan tinggi dan kekar.Di hadapan Vivian, kedua pria itu secara terang-terangan berdiskusi tentang bagaimana cara membuatnya menangis memohon ampun nanti.Dia gemetaran ketakutan dari kepala hingga kaki, tetapi karena melihat senjata api di tangan mereka, wanita itu tidak berani bertindak gegabah.Mobil melaju makin jauh ke daerah terpencil, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah gubuk kayu tua yang lapuk di te

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 16

    Dirly melangkah maju, hendak memaksakan buket bunga itu ke dalam pelukan Vivian.Namun, Vivian langsung mundur satu langkah ke belakang.Gerakan refleks itu menusuk tepat di ulu hati Dirly.Meskipun begitu, dia memaksakan diri menyunggingkan senyum tegar."Nggak apa-apa, aku bakal nunggu sampai kamu mau memberiku kesempatan lagi."Sejak hari itu, Dirly selalu muncul di jalan yang pasti dilalui Vivian setiap hari. Kadang dia membawa sebuket bunga matahari, kadang membawa tumpukan kue-kue manis yang lezat.Setiap Senin malam, langit di atas kampus akan dihiasi oleh pesta kembang api selama beberapa jam.Dirly teringat, Vivian dulu sering berkata bahwa hari Senin adalah hari favoritnya. Karena hari itu menandai mulainya minggu baru dan dia bisa menempel pada Dirly selama seminggu penuh.Demi bisa bebas keluar masuk area kampus, Dirly meminta keluarganya untuk mengurus status mahasiswa exchange untuknya.Pria itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk berbuat baik pada Vivian, meskipun dia

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 15

    Vivian tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap Dirly dengan pandangan datar.Tidak ada gejolak emosi sedikit pun di matanya, seolah-olah dia sedang menatap orang asing yang tak sengaja berpapasan di jalan.Jakun Dirly naik turun, binar di matanya meredup.Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Suasana kamar rawat inap seketika hening mencekam bagaikan kuburan, bahkan suara jarum jatuh pun bisa terdengar jelas.Setelah lama terdiam, Vivian akhirnya berbicara pelan. Nadanya terdengar tenang, tetapi menyimpan rasa asing yang tak pernah didengar Dirly sebelumnya."Gimana kamu bisa tahu aku ada di sini?""Aku ...."Baru saja Dirly hendak menjawab, Vivian kembali menyela."Lupakan saja, aku juga nggak mau tahu urusanmu.""Keluar sana, aku mau istirahat."Nadanya sangat dingin dan hampa, begitu hampa hingga membuat dada Dirly mendadak terasa sangat sesak dan perih.Mereka tumbuh bersama sejak kecil, selalu bertemu setiap hari sejak masih bisa mengingat.Selama tiga tahun di SM

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 14

    Vivian dan Mateo saling berpandangan.Mereka segera meletakkan semua barang di tangan dan berlari ke arah pintu keluar.Bagaimanapun juga, di dalam laboratorium terdapat terlalu banyak bahan yang mudah terbakar dan meledak. Potensi terjadinya ledakan susulan yang lebih besar bisa terjadi kapan saja.Benar saja, tepat saat mereka hampir mencapai pintu keluar, ledakan kedua menghantam."Vivian, awas!"Tanpa sempat berpikir, Mateo melompat dan menerjang Vivian untuk melindunginya.Duar!Cairan kimia bertemperatur tinggi dan pecahan kaca menyembur ke segala arah.Mateo menggeram menahan sakit sambil menggertakkan gigi, darah segar mengucur deras dari punggungnya.Vivian dilindungi dengan sangat rapat di bawah tubuhnya tanpa luka sedikit pun, tetapi telinga wanita itu berdenging hebat.Setelah lama terdiam, Vivian menyadari bahwa orang di atas tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Baru saat itulah, dia menyadari sesuatu, matanya membelalak panik."Kak Mateo!"Bereaksinya berbagai zat kimia,

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 13

    Menyadari suasana yang berubah aneh, Vivian baru tersadar. Demi menyembuhkan depresi Dirly, dia menjadi gadis humoris selama tiga tahun, hingga beberapa kebiasaan sulit dihilangkan dalam waktu singkat.Dan Mateo, kemungkinan besar tidak menyukai hal-hal seperti itu.Namun, tepat saat dia hendak meminta maaf, Mateo yang biasanya dingin dan irit bicara, justru terkekeh pelan setelah terdiam beberapa detik.Pada saat itu, seluruh isi laboratorium dibuat terperanjat."Mataku yang kemasukan zat kimia atau gimana ya? Masa aku lihat kulkas 10 pintu tersenyum?""Aku juga lihat! Apa otakku rusak gara-gara kebanyakan eksperimen?""Kak Mateo kalau tersenyum ... benar-benar bikin melayang! Kalau sampai dilihat fans rahasianya yang agresif seperti serigala di luar sana, apa laboratorium ini bakal nggak dikepung?"Vivian dibuat tertawa geli sampai perutnya sakit melihat tingkah berlebihan teman-temannya.Setelah hari itu, setiap dia melontarkan lelucon garing, seberapa aneh pun itu, atau bahkan ket

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 12

    Demi mencegah Yesika melarikan diri, Dirly langsung menelepon polisi dan menyerahkan bukti-bukti di tangannya untuk mengurung wanita itu lebih dulu.Saat borgol dikunci di pergelangan tangannya, Yesika akhirnya panik setengah mati.Dia memohon ampun dengan panik.Ketika tidak mendapatkan respons, dia mulai mengumpat pada Dirly seperti orang gila."Ibuku akan segera menikah dengan ayahku, mereka pasti akan menyelamatkanku!""Dirly! Kamu pikir kalau memasukkanku ke penjara, Vivian bakal memaafkanmu? Mimpi kamu!""Dia sudah tahu kalau kamu pernah tidur denganku! Kamu kasih dia obat pencahar demi aku, menghinanya berkali-kali, dan membuat video-video menjijikkan itu pakai tanganmu sendiri! Sebenarnya kamu juga punya tanggung jawab atas kematian ibunya! Vivian nggak akan pernah memaafkanmu selamanya!"Kepalan tangan Dirly mendadak terkunci erat, buku-buku jarinya memutih.Ya, atas kematian ibu Vivian, dia juga memiliki tanggung jawab.Kalau saja dia tidak dibutakan oleh kebohongan Yesika hi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status