Share

Bab 2

Author: Wangsa
Aku melihat gurat permohonan di matanya. Dia sedang merendahkan diri.

Aku melirik ke arah bros itu. Batu rubi sebesar telur merpati tersemat di sana, memancarkan cahaya merah yang lembut. Sekali lihat pun orang tahu harganya sangat mahal.

"Apa hanya aku yang punya, atau kamu juga berikan ke orang lain?"

Bobby tersenyum lembut.

"Ini adalah hadiah permintaan maafku, tentu saja hanya kamu yang punya."

Dia berbohong.

Aku pernah melihat Lina memakai bros yang persis sama.

Hatiku masih terasa sakit, tetapi tidak lagi sesak seperti dulu.

Dengan lembut, dia menyematkan bros itu di bajuku. Aku melihat kasih sayang di matanya mengalir seperti air, sama seperti biasanya.

Namun tiba-tiba, aku merasa dia sangat asing.

Sepuluh tahun yang lalu, Bobby adalah pianis genius yang terkenal sejak remaja. Dia berasal dari keluarga terpandang, orang tuanya tidak menyetujui hubungannya denganku yang hanya seorang yatim piatu. Namun, demi menikahiku, dia dengan teguh memutuskan hubungan dengan keluarganya.

Kini, dia telah menjadi maestro piano yang sangat dihormati, sosok yang serius dan disegani banyak orang.

Namun, setiap kali pulang ke rumah, dia akan bermanja-manja di sampingku.

Orang-orang bilang, dia mencintaiku setengah mati.

Dia tampak masih sangat mencintaiku, tetapi aku tak lagi bisa melihat lubuk hatinya.

Melihatku diam saja, Bobby mencubit pipiku dengan gemas. "Nggak mau ke Taman Sakura? Kalau begitu apa kita ganti tempat lain saja?"

Aku menatap matanya, ada sedikit kegelisahan di sana.

"Ke Taman Sakura saja."

Tiga hari lagi aku akan pergi. Aku dan dia jatuh cinta di Taman Sakura, kuharap tempat itu juga bisa menjadi kenangan indah terakhir kami.

Keesokan harinya, kami sekeluarga memulai perjalanan ke Taman Sakura.

Aku baru saja sembuh dari flu berat, tenagaku belum pulih sepenuhnya. Jadi aku bersandar pada kursi mobil untuk beristirahat.

Tak lama setelah mobil melaju, Samuel berkata dengan bersemangat, "Ayah, cuaca hari ini sangat bagus. Apa boleh kita mengajak Tante Lina? Dia nggak membosankan seperti Ibu yang diam saja. Ibu nggak bicara dan nggak mau lari-larian. Aku jadi bosan."

Wajah Bobby langsung menegang. Dia menatap Samuel dengan tegas.

"Samuel, jangan bicara sembarangan! Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Ayah dan Ibu."

Setelah ditegur, Samuel sadar telah salah bicara. Dia memanyunkan bibir, menyusutkan lehernya, lalu menatapku dengan hati-hati. "Ibu, jangan marah ya."

Dia pasti sudah sering bertemu dengan Lina.

Aku tidak berusaha mencairkan suasana seperti biasanya, hanya diam menatap keluar jendela.

Bobby merangkul bahuku. "Samuel masih anak-anak, dia belum mengerti apa-apa. Jangan kamu masukkan hati."

Begitu dia menyentuhku, rasa sakit yang hebat menjalar dari bahu. Tubuhku sedikit gemetar. Aku pun menggeser tangannya dengan lembut lalu berbisik, "Oke."

Setibanya di Taman Sakura, kami turun dari mobil.

Taman Sakura terkenal dengan pemandangan alamnya. Pohon sakura ada di mana-mana, daun-daunnya yang rimbun menutupi langit.

Bobby yang khawatir dengan kondisi fisikku, bersikeras merangkul bahuku saat berjalan.

Tiba-tiba, terdengar teriakan melengking "Tolong!" dari arah depan. Aku mengikuti arah suara itu, dan melihat seorang wanita sedang berjuang keras di tengah danau yang tak jauh dari sana.

Aku mengenali suara itu sebagai suara Lina, istri dari mendiang adik Bobby.

Secara refleks Bobby mendorongku, lalu berlari dengan panik ke arah Lina.

"Jangan takut, aku datang!"

Tubuhku sangat lemah dan hampir sepenuhnya bersandar padanya. Begitu didorong, aku jatuh tersungkur dengan keras ke tanah.

Ranting pohon menggores kakiku, meninggalkan luka yang dalam dengan darah yang terus mengalir. Lenganku juga tergores bebatuan hingga berdarah-darah.

Keringat dingin langsung membanjiri dahiku. Rasa sakit yang luar biasa membuatku tak tahan untuk tidak mengerang pelan.

Aku berjuang untuk bangkit, tepat saat itu aku melihat Bobby berhasil menyelamatkan Lina ke tepi danau.

"Kak Bobby, kupikir hari ini aku akan tenggelam di sini dan nggak akan pernah bertemu denganmu lagi ...." Wajah Lina pucat pasi, dia memeluk Bobby dengan erat sambil menangis tersedu-sedu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 10

    Suara David berteriak minta tolong dengan keras menarik kami keluar dari suasana aneh tersebut. Aku segera menoleh dan melihat David, yang entah sejak kapan telah terjatuh ke dalam danau. Dia sedang berjuang agar tidak tenggelam sambil berteriak, "Ibu!"Insting bertindak mengalahkan pikiran. Dengan cemas aku terjun ke danau, menarik David ke tepi, dan memeriksanya dengan teliti.Aku menoleh dan baru menyadari bahwa Samuel juga sedang berjuang di dalam danau. Namun, tadi mataku hanya tertuju pada David, hingga aku sama sekali tidak menyadari bahwa Samuel juga memanggilku.Bobby saat ini telah menyelamatkan Samuel ke darat.David menarik ujung bajuku dengan takut, dia meminta maaf dengan perasaan bersalah, "Ibu, maafkan aku." Lalu dia menambahkan, "Ibu hebat sekali bisa berenang."Aku mengusap air matanya dengan lembut dan tersenyum. "Nggak apa-apa, kamu ‘kan anak Ibu, sudah seharusnya Ibu melindungimu. Nanti setelah kita pergi dari sini, Ibu akan mengajarimu berenang, oke?"Mata David b

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 9

    "Dea, aku alergi alkohol. Saat itu negosiasi bisnis yang kualami sangat penting, kamu bilang ingin membantuku. Jadi kamu sendirian menghabiskan semua minuman dalam pertemuan itu dan membuat tujuh atau delapan bos di pihak lawan tumbang. Saat aku membawamu pulang, baru kusadari seluruh tubuhmu bengkak kemerahan. Kamu demam dan muntah-muntah. Dalam kondisi seperti itu pun, kamu masih bilang kamu sanggup minum lagi. Saat itu, aku baru tahu kalau kamu juga punya alergi ringan.""Dulu kamu begitu mencintaiku."Dia bicara sambil menatapku penuh harap. Seolah-olah melalui tindakan menyiksa diri ini, dia bisa membuatku ingat kembali.Jika begitu, dia pasti akan sangat kecewa. Karena pembersihan ingatan yang dilakukan Sistem sangat menyeluruh. Aku tidak bisa mengingat apa pun, aku juga malas untuk mengingatnya."Kamu juga sendiri yang bilang, itu 'dulu'. Sekarang aku jelas-jelas nggak mencintaimu lagi, bahkan nggak mengingatmu."Mendengar itu, air matanya jatuh mengalir semakin deras, bercampur

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 8

    Sepertinya kata-kataku memicu emosinya. Dia menjadi sangat gelisah, menggelengkan kepala sambil mencengkeram bahuku kuat-kuat. Bibirnya sampai berdarah karena dia gigit sendiri lantaran rasa takut yang amat sangat."Kamu benar-benar nggak ingat padaku?""Kamu bilang aku adalah tokoh pemeran pria kedua yang penuh kasih sayang di dalam novel. Kamu menjalankan misi untuk menaklukkanku, tapi kamu akhirnya benar-benar jatuh cinta padaku. Karena itulah kamu memohon kepada Sistem agar diizinkan tetap tinggal di sini untuk menemaniku.""Kita sudah menikah. Demi kamu, aku melepaskan hak waris atas perusahaan keluargaku. Demi pekerjaanku, kamu bernegosiasi dengan pihak lawan. Kamu minum alkohol sampai seluruh tubuhmu bengkak dan kemerahan. Kamu bahkan menderita demi melahirkan Samuel untukku. Kamu bilang kita akan menua bersama, aku pun menanamkan taman mawar itu untukmu.""Kita jelas-jelas saling mencintai. Ingatan-ingatan ini terus kupikirkan siang dan malam tanpa henti. Kamu begitu mencintaik

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 7

    Anak itu menerjang ke arahku, tetapi David menghalanginya dengan kokoh.David menatapnya dengan tajam dan bertanya, "Ini ibuku, kamu mau apa?"Menghadapi pertanyaan David, anak itu tidak peduli. Dia justru melompat-lompat di belakang David sambil melambai padaku dan berteriak keras, "Ibu, Samuel tahu Ibu belum mati! Ibu pasti kembali karena nggak tega meninggalkan Samuel!"David tetap menghalanginya, tidak membiarkannya mendekatiku. Wajah anak yang mengaku sebagai Samuel itu memerah karena marah. Dengan kalut, dia mendorong David dengan keras."Siapa kamu? Kenapa kamu menghalangiku memeluk Ibu?"David terhuyung karena dorongan itu. Aku segera memeganginya dan menariknya ke belakangku. Melihat tindakanku, anak di depanku itu gemetar dengan air mata yang mengalir deras. Dia berkata, "Ibu, bagaimana bisa Ibu melindungi dia? Aku yang anak kandung Ibu!"Aku mengernyitkan dahi. Anak yang aneh sekali, kenapa tiba-tiba memanggilku ibu? Aku bahkan tidak mengenalnya."Nak, kalau ibumu tahu kamu

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 6

    Setelah kematianku, Sistem tidak langsung membawaku pulang, melainkan membiarkanku melayang di udara untuk menonton kelanjutannya.Tak lama setelah aku tiada, Bibi Nirma memanggil Bobby dan Samuel.Bobby masih mengenakan setelan tuxedo yang mewah, tetapi dia tidak lagi memedulikan citranya. Dia langsung jatuh berlutut di hadapanku, tangannya gemetar saat mencoba memeriksa napasku. Kemudian dia mendekap jasadku dan menangis sejadi-jadinya."Sayang! Bagaimana mungkin kamu mati seperti ini? Ternyata kamu nggak bohong padaku ...."Samuel juga ketakutan hingga menangis kencang. Dia berlutut di sampingku sambil mengguncang-guncang tubuhku, berteriak-teriak, "Ibu, Bibi Nirma bilang Ibu sudah mati, aku nggak percaya! Bangun, Bu, Samuel takut!"Suara tangisan dan teriakan itu bercampur aduk, sungguh bising. Pikiranku perlahan melayang menjauh bersama sisa-sisa ingatan yang ada, hingga akhirnya semuanya menjadi kosong.Saat aku membuka mata kembali, yang kulihat adalah dinding rumah sakit yang p

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 5

    Bobby melangkah ke hadapanku, menatapku dari atas dan berkata dengan nada dingin, "Bukannya ini hanya bunga mawar? Kalau habis terbakar, tinggal tanam lagi. Apa perlu kamu membesar-besarkan masalah seperti ini?"Hatiku bergetar sedikit. Setelah beberapa saat, aku memaksakan tubuhku yang sakit luar biasa untuk bicara dengan suara serak."Mawar-mawar ini kamu datangkan khusus dari luar negeri dan kamu tanam sendiri satu per satu. Walaupun tanganmu sebagai pianis yang berharga itu tertusuk duri hingga berdarah, kamu tetap tersenyum dan bilang nggak apa-apa, karena dengan begitu kamu bisa mengekspresikan cintamu padaku.""Bobby yang dulu nggak akan menganggap bunga-bunga ini sebagai barang sepele, dan nggak akan bilang 'tinggal tanam lagi' kalau mawar-mawar ini hilang."Bobby tampak terusik oleh perkataanku. Wajahnya seketika pucat pasi, matanya menghindari tatapanku."Tapi bunganya sudah terlanjur terbakar. Apa kamu benar-benar ingin Lina berlutut menebus dosa hanya demi beberapa kuntum b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status